Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
100. Panik


__ADS_3

Dalam keadaan apapun, ketenangan dalam bertindak akan membuatmu melihat bahwa masalah sebesar apapun bisa diselesaikan. Jangan pernah panik atau tergesa-gesa dalam memutuskan sesuatu karena sikap bijakmu terletak pada tindakanmu yang tenang, dan bukan karena kecerobohan. Eda Sally


*****


Setelah selesai mandi, sekretaris Bram segera keluar dari kamarnya untuk mengajak Yuana makan. Ia memutar gagang pintu sambil tersenyum. Walaupun kaku, ia sebenarnya sangat menyayangi Yuana. Ia senang melihat Yuana yang imut, lembut dan tentu saja cerdas.


Begitu pintu terbuka, senyumnya langsung memudar karena ia tidak menemukan Yuana. Ia segera menengok ke kamar mandi yang tidak tertutup.


Karena tidak menemukan Yuana, sekretaris Bram memilih pergi ke bagian keamanan hotel untuk memeriksa cctv. Ia benar-benar takut telah terjadi sesuatu pada Yuana.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya petugas keamanan dengan sopan.


"Tolong periksa rekaman cctv lantai 5, kamar 107. Adik saya hilang. Saya takut terjadi sesuatu padanya." Kata sekretaris Bram sopan.


"Silahkan duduk dulu tuan."


Sekretaris Bram segera duduk, sementara si petugas terlihat sibuk memeriksa dan tampak mengerutkan keningnya.


"Apakah ini adik tuan?" Tanya petugas.


"Benar sekali. Itu dia. Mohon dilihat secara keseluruhan dia kemana dan apa yang dia lakukan."


"Baik tuan." Kata petugas tersebut kemudian langsung menjalankan mouse yang ada di tangannya.


Sekretaris Bram mengamati dengan teliti semua yang dilakukan Yuana. Ia kaget ketika melihat Yuana ada di lantai satu dan memandang hotel kemudian menangis.


Sebenarnya dia kenapa? Apa yang dia pikirkan? Kenapa tidak bercerita padaku kalau ada masalah? Apa tadi aku yang salah berbicara padanya?


"Terima kasih tuan. Aku mau mencarinya dulu." Kata sekretaris Bram tanpa menunggu jawaban petugas dan segera ke kamar.


Ia meraih tasnya dan beberapa surat penting lalu memesan taksi dan berjalan ke rumah Erik.


Setelah sampai, ia turun dan melihat bahwa tidak ada orang di rumah. Ia segera ke rumah Agatha dan menanyakan tentang keberadaan Erik.


"Tuan muda sementara dirawat di rumah sakit X bersama Habib dan Alika." Kata Agatha.


"Ok! Kalau begitu aku akan berangkat sekarang." Kata sekretaris Bram langsung berbalik dan hendak pergi.


"Tunggu tuan. Kita bawa mobil saya. Saya juga kebetulan mau jenguk tuan muda. Arthur sementara di jalan dan akan langsung ke rumah sakit jadi kami akan bertemu di sana." Kata Agatha menjelaskan.


"Terima kasih nona Agatha."

__ADS_1


Agatha segera mengeluarkan mobilnya dan langsung pergi bersama sekretaris Bram.


Sekretaris Bram dan Agatha turun dengan tergesa-gesa setelah sampai karena sepanjang jalan sekretaris Bram sudah menceritakan apa yang terjadi.


Mereka berlari memasuki kamar Erik dengan napas terengah-engah. Pengawal yang menjaga Erik segera meraba pinggangnya dan tangannya memegang senjata yang terselip di pinggangnya.


"Siapa kalian!" Tanya pengawal itu dengan membentak.


"Saya adiknya, dan ini teman saya. Rasanya aku mengenalmu, tetapi kamu tidak mengenalku." Kata sekretaris Bram dengan senyum penuh arti.


Pengawal itu terkejut mendengar apa yang dikatakan sekretaris Bram.


Rasanya aku pernah mendengar suara ini, tapi dimana ya?


Sebagai agen yang terlatih di badan inteligen, ia harus pandai dalam segala hal termasuk mengingat siapa saja yang pernah ia temui walau hanya mendengarkan suaranya.


"Kamu?" Tanya pengawal itu dengan sedikit gagap.


"Iya! Aku kakak kandung dari tuanmu itu." Jawab sekretaris Bram berjalan ke arah tempat tidur dan langsung duduk kemudian meraba kening Erik.


Erik yang sementara tertidur dan merasa ada yang meraba keningnya, segera membuka mata dan langsung kaget melihat siapa yang ada di sampingnya.


"Kakak?" Katanya heran sambil bangkit dan langsung memeluk sekretaris Bram.


"Kelihatannya penting. Baik kak! Kita pulang sekarang." Kata Erik sambil mencabut infus dan segera keluar diikuti oleh Agatha dan pengawal tersebut.


"Mulai saat ini kamu saya bebastugaskan. Nanti kalau saya butuh, saya akan menghubungi seperti biasanya. Saya ada urusan penting yang harus saya selesaikan." Kata Erik kepada pengawal yang mengekor di belakang mereka.


"Baik tuan! Terima kasih atas kepercayaannya. Kata pengawal tersebut kemudian langsung meninggalkan mereka.


"Tunggu! Dimana istriku?" Tanya Erik kepada pengawal yang sudah berjalan beberapa langkah.


"Tenang saja. Dia sedang bersamaku. Itu yang mau aku bicarakan denganmu sekarang." Jawan sekretaris Bram.


Pengawal tersebut nampak tidak terkejut karena ia melihat dengan jelas malam itu Yuana dibawa oleh sekretaris Bram walaupun sedang memakai ninja. Dan ia tahu sejak tadi sekretaris Bram menyapa mereka.


"Ok! Kita langsung berangkat. Aku tidak mau dia khwatir. Agatha, titip Habib dan Alika ya?" Kata Erik langsung pergi bersama sekretaris Bram.


Mereka kemudian memesan taksi dan segera menuju ke hotel. Sepanjang jalan, Erik hanya diam. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Yuana.


Ah! Dia pasti khawatir. Aku harus segera bertemu dan menenangkannya. Gadisku tidak boleh mengeluarkan air mata hanya gara-gara aku.

__ADS_1


"Kenapa kita ke hotel kak?" Tanya Erik heran ketika taksi memasuki hotel.


"Karena kamu harus melihat sesuatu sebelum bertemu dengan Yuana." Jawab sekretaris Bram tanpa menoleh sama sekali.


Sebenarnya ia juga bingung bagaimana harus menjelaskan ini semua kepada Erik.


Sekretaris Bram langsung menuju ke ruangan keamanan. Erik hanya mengekor dari belakang tanpa mengatakan apapun.


"Mohon maaf tuan. Aku mau minta tolong lagi." Kata sekretaris Bram dengan sopan.


"Iya tuan! Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu tuan?" Tanya petugas tersebut.


"Tolong putarkan lagi rekaman yang tadi dengan perlahan. Jangan melewatkan satu pun. Adikku perlu melihat semuanya. Dan kamu bisa mulai memutar rekaman setelah aku memberikan kode" Kata sekretaris Bram.


"Baik tuan!" Jawab petugas tersebut dengan singkat.


"Duduklah di sini, dan jangan melakukan hal yang konyol. Jika kamu marah, kamu bisa memukulku. Aku siap menerima konsekuensinya." Kata sekretaris Bram sambil menunjuk kursi yang ada di samping.


Erik segera duduk. Ia bingung, namun ia menurut dengan apa yang dikatakan sekretaris Bram. Hatinya mulai tidak tenang dan pikirannya mulai kacau.


"Ayo! Kenapa belum diputar juga rekamannya? Aku ingin tahu apa yang terjadi." Kata Erik tidak sabar.


Sekretaris Bram menganggukkan kepalanya kepada si petugas, dan petugas tersebut mulai memutarkan rekamannya.


Erik mengamati dari pertama, dan ketika ia melihat semua yang dilakukannya Yuana, badannya mulai bergetar dan tanpa sadar menggenggam tangan sekretaris Bram dengan sangat kuat.


Ia langsung berdiri ketika Yuana memandang hotel dari loby dan meneteskan air mata kemudian pergi.


"Tidak mungkin. A..ap yang kau katakan Bram sampai dia bisa seperti itu? Kau membuatku benar-benar gila saat ini Bram?" Kata Erik dan perlahan-lahan tubuhnya mulai melorot ke bawah dan kemudian jatuh tak sadarkan diri.


Bersambung


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍


__ADS_2