Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
76. Bertolak dari Tristan ke Edinburgh (Part 2)


__ADS_3

Berjalan maju akan membuatmu sadar bahwa masa depanmu jauh lebih penting dari masa lalumu, dan mengayunkan langkah untuk berjalan jauh lebih penting daripada berdiam di tempat.


Berjalan majulah dengan penuh keyakinan meski perjalananmu berat, karena dengan semakin engkau melangkah ayunan langkahmu akan semakin berkurang. Eda Sally


*****


Erik menarik napas sebentar sebelum menjawab pertanyaan Habib. Sejujurnya ia sangat menyukai kedua kakak beradik ini, dan ia tidak ingin mengecewakan mereka. Namun, ia takut tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka.


"Baiklah! Aku bersedia. Bangunlah!" Jawab Erik mantap.


"Terima kasih tuan muda."


Hanya itu yang dikatakan Habib, karena di detik selanjutnya ia sudah bangun dan memeluk adiknya Alika. Alika menangis haru di pelukan kakaknya. Ia tahu dan percaya sepenuhnya pada keputusan kakaknya bahwa apapun langkah yang diambil kakaknya, itu yang terbaik untuk mereka.


"Ayo segera berangkat!" Arthur berkata demikian untuk mengalihkan perhatian keempat orang itu karena ia sendiri pun sudah terbawa suasana haru.


"Oh, baiklah! Terima kasih sudah mengingatkan." Jawab Erik sambil menepuk bahu Arthur.


Mereka segera menuruni tangga dermaga untuk naik ke speed boat. Saat sudah masuk ke dalam speed boat, Yuana baru teringat sesuatu.


"Kakak tidak bawa surat-surat penting milik kakak?" Tanya Yuana kepada Habib.


"Semuanya sudah ada di sini." Jawab Habib sambil menunjuk sebuah tas kecil yang dibawa Alika.


"Jadi?"


"Aku berubah pikiran saat kita akan keluar dari rumah, jadi aku kembali masuk dan mengambil semuanya kemudian memberikannya pada Alika. Alika sendiri tidak tahu bahwa tas itu berisi surat-surat penting kami berdua. Aku menyembunyikannya karena takut jika tuan muda akan menolak kami untuk ikut."


"Kalau begitu boleh aku meminta handphone pemberian dari tuan Zain?" Pinta Yuana.


"Boleh adikku. Kamu ambil saja. Aku tidak membutuhkannya lagi." Kata Habib sambil menyodorkan handphone kepada Yuana tanpa curiga.


Setelah handphone itu berada di tangannya, Yuana segera melemparkan hanpdhone itu ke luar dan langsung hilang ditelan air laut, seiring melajunya speed boat yang dikemudikan oleh Arthur. Semua yang melihat kelakuan Yuana kaget, tidak terkecuali Erik dan Arthur.


"Kenapa kamu membuang handphone itu, sayang?" Tanya Erik sambil memandang Yuana dengan penuh kasih.

__ADS_1


"Handphone itu disadap oleh tuan Zain. Jadi nona melakukan hal yang tepat." Habib yang menjawab.


"Wanitaku memang cerdas dari dulu." Kata Erik sambil mencubit hidung Yuana.


Nona muda benar-benar sangat cantik. Pantas saja tuan muda rela mengikutinya sampai ke sini. Ditambah lagi cara berbicaranya juga lemah lembut, dan tidak dibuat-buat. Aku yang melihatnya saja sudah gemas. Arthur.


Sepanjang jalan, mereka bercerita sambil tertawa seolah tidak akan pernah ada kesusahan di hari esok. Arthur yang fokus mengemudi jarang menimpali pembicaraan keempat orang itu. Namun, ia merasa sangat terhibur dengan apa yang mereka bicarakan, apalagi perdebatan antara Habib dan Alika.


Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan dan dengan jangka waktu yang cukup lama, mereka akhirnya tiba di Edinburgh. Mereka benar-benar disuguhi dengan pemandangan yang sangat indah ketika turun dari speed boat dan menuju ke rumah sewaan yang sudah disediakan.


"Benar-benar kota kecil yang indah. Kalau dulu aku tahu keindahannya dari membaca, sekarang aku bisa langsung melihat kenyataan dari keindahan kota tua yang luar biasa ini." Kata Yuana penuh kagum.


"Terima kasih jika kamu menyukai kota ini." Jawab Erik dengan tatapan penuh kasih kepada Yuana.


"Hallo. Namaku Agatha. Mulai sekarang kita akan menjadi sahabat di sini. Kata Agatha sambil memeluk Yuana.


"Terima kasih atas sambutannya, Agatha." Balas Yuana.


"Ok. Kita akan membagi tim dalam dua kelompok. Sebelum tuan muda dan nona Yuana menikah, untuk sementara Habib dan tuan muda akan tinggal di rumah yang sudah kita sewa. Sedangkan nona muda dan Alika akan tinggal di rumah Agatha. Kamu tidak keberatan kan sayang?" Arthur menjelaskan kepada mereka semua setelah mereka memasuki rumah yang telah disewa.


"Aku sama sekali tidak keberatan, karena di rumah aku juga sendiri. Kedua orang tuaku mengurusi bisnis keluarga di luar kota dan jarang pulang. Setiap hari aku hanya ditemani pelayan." Jawab Agatha dengan antusias. Ia senang karena mulai sekarang akan memiliki teman.


"Oya! Waktu liburan kita masih satu minggu lagi. Jadi, aku ingin kita menghabiskan waktu bersama di sini selama seminggu sebelum aku kembali ke rumah. Dan tentu saja aku akan tinggal bertiga dengan tuan muda dan Habib di sini." Kata Arthur.


"Iya. Untuk hari ini istirahat saja dulu. Nanti besok baru kita pikirkan mau melakukan apa dan kemana. Rasanya badanku sakit semua." Kata Alika.


"Oya. Tadi sebelum kalian datang, pelayanku sudah menyiapkan makanan di sini. Mari kita makan bersama." Kata Agatha.


"Wah! Aku juga sudah sangat lapar. Kata Habib.


"Iya. Yang ada di pikiran kakak memang hanya makanan, bukan aku." Alika pura-pura marah.


"Memangnya kamu mau ada di pikiranku sehingga aku bisa memakanmu saat lapar?" Kata Habib sambil mengejar Alika dengan membentuk tangannya seperti singa yang hendak mencakar.


"Ayo, makan! Jangan pedulikan mereka. Biarkan mereka bersenang-senang. Nanti cacing di perut mereka yang akan memerintah mereka ke meja makan." Kata Yuana yang sudah terbiasa dengan kelakuan kakak beradik itu.

__ADS_1


Mereka kemudian makan tanpa mempedulikan Habib dan Alika yang masih kejar-kejaran.


"Cukup kak. Aku sudah lapar." Kata Alika mengangkat tangan tanda menyerah dengan wajah yang memelas.


"Ayo, makan." Habib berkata sambil merangkul adiknya dan berjalan menuju meja makan, sementara yang lain sudah menghabiskan separuh dari makanannya.


Selesai makan, Yuana, Alika, dan Agatha langsung berjalan menuju rumah Agatha yang hanya berjarak 100 meter dari rumah sewaan Erik. Mereka ingin segera mandi dan beristirahat.


"Tuan, sebaiknya tuan segera mengurus pernikahan dengan nona Yuana. Saya sudah tidak sabar ingin melihat nona Yuana memakai gaun pengantin. Pasti sangat cantik." Usul Habib.


"Aku sedang memikirkan itu, Habib. Mungkin dalam waktu dekat. Aku juga sudah bosan hidup sendiri seperti ini." Kata Erik.


"Tapi saya salut karena tuan benar-benar menjaga nona dengan baik." Kata Habib.


"Maksudnya?"


"Mohon maaf jika lancang. Tetapi sejauh ini, saya hanya melihat tuan muda memeluk nona tanpa pernah mengecup keningnya atau menciumnya."


"Hei! Kamu pikir aku tidak punya harga diri? Di dalam hatiku aku sangat ingin, Habib. Tetapi aku juga tidak mau menjadi pria yang dikuasai nafsu. Aku ingin melakukannya di saat kami sudah sah sebagai suami istri, karena aku sangat menghormatinya sebagai seorang wanita. Lagi Pula aku sudah berjanji pada kakaknya untuk tidak melakukan hal seperti itu sampai kami menikah." Kata Erik panjang lebar.


" Jadi, tuan belum pernah mencium nona muda?" Tanya Arthur heran.


Erik segera menjitak kepala Arthur untuk menyadarkannya karena wajahnya yang melongo terlihat sangat lucu.


Bersambung


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading ya reader's tersayang, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍


__ADS_2