Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
118. Ketahuan


__ADS_3

Jangan pernah menutupi apapun dalam hidup, karena semua perbuatan kita akan nyata dengan sendirinya bila sudah waktunya. Sepandai-pandainya kita menyembunyikan sesuatu yang jahat, suatu saat akan ketahuan juga. Hiduplah apa adanya tanpa perlu mencari perhatian agar disukai orang lain karena kepalsuan yang kita tunjukan. Eda Sally


*****


Sore ini, setelah pulang kantor sekretaris Bram menemani tuan Andre Wiliam ke salah satu club milik Angkasa Grup untuk bertemu dengan klien sesuai dengan janjinya.


Sekretaris Bram dan tuan Andre tiba di club sekitar pukul delapan belas. Mereka langsung menuju ke ruang VIP yang sudah disiapkan dan merupakan ruang pribadi tuan Andre jika ingin melakukan pertemuan di sana.


"Tuan, jika tuan ingin minum sesuatu, saya akan memanggilkan pelayan untuk mengantarkannya." Kata sekreraris Bram.


"Tidak usah Bram. Pesankan saja untuk klien kita." Jawab tuan Andre singkat.


Setelah pertemuan, mereka segera keluar dan turun ke lantai satu. Mata Andre Wiliam yang selalu tajam langsung menangkap sosok yang sangat dikenalnya.


Sejenak ia memegang pundak sekretaris Bram dan menekannya, yang membuat mata sekretaris Bram yang juga sudah terlatih langsung terarah pada apa yang dilihat oleh tuan Andre.


"Ada apa tuan?" Tanya sekretaris Bram.


"Apa kamu tidak melihat apa yang aku lihat, Bram?" Tanya Andre Wiliam dengan badan yang sudah bergetar.


"Tenang tuan! Harap dikontrol agar paparazi jangan sampai membawa-bawa tuan ke publik. Ini hal yang sensitif dan menyangkut nama baik keluarga." Kata sektetarus Bram menenangkan tuan Andre.


"Telpon Fadly untuk menjemputku. Kau urus manusia tidak tahu diri itu. Darahku mendidih melihatnya. Jangan sampai aku tidak bisa mengontrol diri dan kemudian melakukan hal yang buruk padanya." Kata tuan Andre.


"Baik tuan. Fadly sudah dalam perjalanan ke sini." Jawab sekretaris Bram.


"Ok! Kamu tetap berdiri di sini dan awasi dia. Tidak usah temani aku keluar." Andre Wiliam berkata sambil tetap keluar.


Andre Wiliam langsung keluar dari club tanpa menoleh. Badannya bergetar hebat dengan apa yang dilihatnya di dalam. Ia tidak habis pikir tentang apa yang dilihatnya.


Sekretaris Bram sejak tadi sudah memerintahkan orangnya untuk mengambil foto dan video. Ia tidak ingin apa yang ia kerjakan selama ini sia-sia.


Dengan langkah santai ia berjalan mengikuti target yang sudah memasuki kamar khusus. Setelah berdiri beberapa saat di luar kamar, ia langsung menendang pintu kamar tersebut yang langsung terbuka karena besarnya tenaga sekretaris Bram.


Sekretaris Bram dan dua orang yang ada di belakangnya dengan sigap mengambil gambar dan video sesuai dengan instruksi sekretaris Bram.


"Jadi ini yang kamu lakukan di belakang adikku? Apa kamu pikir kamu akan bebas begitu saja?" Kata sekretaris Bram sambil menghajar pria yang bersama dengan Celine.


"Bukan urusanmu. Lagi pula, papa tidak akan mempercayaimu." Jawab Celine sambil terburu-buru mengenakan pakaiannya.

__ADS_1


"Siapa kamu. Berani sekali mengganggu acaraku dengan kekasihku." Kata pria itu dengan kasar walaupun masih merasakan sakit karena baru habis dihajar sekretaris Bram.


"Cepat pakai bajumu pria bodoh. Aku jijik melihat tubuh kotormu. Jangan sampai kesabaranku hilang dan aku melakukan hal yang buruk padamu."


Orang itu cepat-cepat mengenakan pakaiannya. Ia tanpa dosa akan keluar dari kamar yang di pesan.


"Mau kemana kamu!" Hardik sekretaris Bram.


"Aku mau melaporkan kekurang ajaranmu kepada pemilik club ini." Kata orang itu.


"Oya? Apa kau tahu siapa aku? Atau mungkin Celine juga tidak tahu bahwa club ini milik Angkasa Grup?" Kata sekretaris Bram yang membuat orang itu langsung mematung di tempatnya.


"Memangnya kamu boss Angkasa Grup?" Tanya orang itu.


"Lalu menurutmu aku ini siapa? Kamu pikir aku bawahanmu yang suka menjilat? Jawab sekretaris Bram dengan kasar


Celine yang tidak menyangka bahwa ia salah masuk kandang langsung pucat wajahnya. Ia menundukkan kepala dan tidak berani menatap sekretaris Bram.


"Sudah puas sekarang? Memang selama ini tidak ada yang tahu kalau club ini milik Angkasa Grup karena tuan besar ingin agar orang masuk kesini karena melihat kualitas, bukan nama besar Angkasa Grup."


"Maafkan saya tuan. Saya tidak mengenali anda. Tetapi apa hubungan tuan dengan Celine."


"Kau pikir papa mertuaku akan percaya padamu?" Kata Celine dengan senyum licik.


"Kita lihat saja. Ayo jalan!"


Dua orang yang sejak tadi mengambil gambar dan video segera menghentikan aktifitas mereka dan menyeret Celine dan pria itu keluar melalui pintu belakang.


Mereka segera memasuki mobil dan menuju ke rumah. Sepanjang jalan tidak ada yang berbicara. Pikiran Celine sedang mengarah kepada apa yang akan dijawab jika sudah sampai rumah.


Setelah beberapa saat, mereka sudah sampai di rumah utama. Mereka segera turun. Beberapa pengawal yang sejak tadi ditelepon sudah siaga. Dengan sigap mereka membuka pintu dan langsung menurunkan orang itu.


"Jangan diseret! Biarkan dia berjalan sendiri." Kata sekretaris Bram ketika seorang pengawal akan memegang Celine.


Mereka memasuki rumah utama dan langsung menuju ke ruang rapat keluarga yang tidak terlalu besar. Ketika masuk, mereka kaget karena di sana sudah ada tuan Andre, nyonya Jessy, dan Erik.


Erik pura-pura tidak melihat mereka dan sibuk memainkan handphonenya.


"Pa! Sekretaris Bram menuduhkan hal yang tidak aku lakukan. Dia sangat kurang ajar denganku dan memperlakukanku dengan buruk." Kata Celine sambil menangis dan berlutut di kaki tuan Andre.

__ADS_1


"Siapa bilang aku kurang ajar? Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan karena aku tidak ingin adikku menjadi korban." Jawab sekretaris Bram sambil duduk.


"Siapa pria itu?" Tanya tuan Andre kepada Celine.


"Dia temanku pa! Aku hanya sedang melakukan pertemuan dengannya di club dan kak Bram malah menuduhkan hal yang tidak-tidak kepadaku." Kata Celine masih terus menangis.


"Duduklah dulu baru bicara. Kenapa kau menangis seperti ini? Kalau kau merasa tidak bersalah kenapa harus menangis? Aku percaya kau wanita yang baik dan memiliki banyak teman pria."


"Terima kasih pa!"


Celine langsung tersenyum mendengar apa yang dikatakan tuan Andre dan dengan reflek tersenyum penuh kemenangan ke arah sekretaris Bram.


Kau tak akan pernah bisa menjatuhkanku karena ayahmu yang bodoh itu sudah sangat mempercayaiku. Dan air mata palsu ini akan selalu memenangkan hati ayahmu di depan matamu sendiri. Jadi jangan coba-coba melawanku. Celine


"Celine!" Panggil tuan Andre dengan suara tegas.


"Iya pa!" Jawab Celine dengan suara manja yang dibuat-buat.


"Apa kau yakin tadi kau sedang melakukan pertemuan dengan temanmu? Lalu kenapa kau dengan temanmu berciuman layaknya sepasang kekasih?"


Deg!


Celine langsung mematung mendengar apa yang dikatakan tuan Andre.


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2