
Cara terbaik untuk segera bangkit dari masalah yang kita hadapi adalah fokus pada apa yang harus kita jalani, bukan pada masalah yang sedang kita hadapi.
Karena ada saat dimana kita merasa sudah maksimal dalam berusaha, namun semesta seolah diam dan membiarkan kita bergumul sendiri tanpa jawaban.
Jika menangis adalah cara terbaik untuk melepaskan semua lara, maka menangislah! Eda Sally
*****
Yuana walaupun telah melewati waktu bersama Erik kemarin dan diyakinkan oleh Erik, namun masih ada sedikit ragu yang terus mengganjal dalam hati Yuana.
Yuana tidak yakin bahwa tuan Andre akan membiarkannya lolos begitu saja. Entah apa yang akan terjadi, Yuana sudah pasrah dengan kenyataan yang harus ia hadapi.
Pagi ini, Yuana masuk kantor seperti biasanya dimana ia akan mendahului sekretaris Bram sampai ke kantor.
Setelah memeriksa kembali beberapa dokumen yang sudah dikerjakan semalam dan merasa yakin bahwa tidak ada lagi kesalahan, Yuana menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menarik napas panjang seolah masih terlalu banyak beban yang mengganjal di hatinya.
"Apakah semua file yang aku kirim sudah kamu kerjakan?" Tanya sekretaris Bram yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Yuana.
"A....Su..sudah tuan."
Yuana menjawab dengan terbata karena kaget seperti maling yang tertangkap basah saat mencuri. Ia sendiri bingung harus mengatakan apa. Baru kali ini sekretaris Bram mendapatinya sedang melamun dan tidak kerja.
"Baiklah! Oya.! Tuan besar hari ini tidak masuk kantor dan memintamu untuk datang ke kediamannya. Katanya ada yang ingin dibicarakan denganmu."
"Datang ke rumah?"
Yuana tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengar. Ia menduga-duga kira-kira apa yang sangat penting sehingga tuan besar memintanya datang ke rumah.
"Iya! Tuan besar tidak menjelaskan kepadaku tentang apa yang akan dibicarakan."
"Baik tuan. Apa aku harus pergi sekarang?"
"Pergilah! Aku akan menghandle semuanya. Jika sudah selesai, kamu boleh langsung pulang ke apartemenmu. Nanti aku kirimkan file yang harus kamu kerjakan lewat email, jadi kamu bisa mengerjakannya di apartemenmu."
"Terima kasih tuan atas pengertiannya."
"Sama-sama. Oya! Ini hadiah kecil dariku karena prestasimu yang luar biasa. Aku harap kamu senang memakainya."
Yuana membelalakan mata melihat apa yang baru saja diberikan sekretaris Bram. Sebuah jam tangan yang sangat mewah dengan merk Cartier La Dona Watch.
Ini jam tangan yang sering dipakai di kalangan selebriti dan wanita konglomerat. Bagaimana mungkin tuan Bram memberikannya kepadaku sebagai hadiah?
"Tuan! Ini benar untukku?"
"Iya! Apa kau pikir aku sedang bercanda?"
__ADS_1
"Bukan begitu tuan. Aku hanya kaget karena ini terlalu mahal."
"Mahal menurutmu? Prestasimu lebih mahal dari itu. Cepat pergilah! Tuan besar sudah menunggumu."
"Baik tuan! Terima kasih. Aku mohon pamit tuan."
"Hmmmm."
Hanya itu jawaban yang terdengar dari mulut sekretaris Bram.
Yuana bergegas pergi dengan diantarkan oleh Fadly. Ia tidak mau terlambat sampai di depan manusia yang senyumnya sangat mahal dan langka itu.
Sepanjang perjalanan, Yuana menerka apa yang ingin dibicarakan tuan besar sehingga mengharuskannya datang ke rumah. Fadly hanya diam melirik Yuana dari kaca mobil yang memegang kepalanya seperti memikirkan sesuatu.
Kira-kira apa yang ingin dibicarakan tuan besar ya? Kenapa sampai aku disuruh datang ke rumahnya?
"Kita sudah sampai nona. Silahkan turun. Aku akan menunggu di mobil." Perkataan Fadly membuyarkan lamunan Yuana.
"Ahmmmm Terima kasih Fad."
Yuana segera turun dan menuju ke rumah utama. Disana sudah ada pelayan yang menunggunya. Pelayan tersebut mengarahkan Yuana menuju ke ruang kerja tuan besar, yang di depan pintu ada satu orang pengawal yang sedang berjaga.
"Ini tamu tuan besar. Tuan besar yang memintanya datang kesini, karena ingin membicarakan hal yang penting dengannya." Kata pelayan tersebut menjelaskan.
Yuana masuk dengan langkah lunglai karena tidak pernah dipanggil mendadak seperti itu. Firasatnya mengatakan bahwa akan ada sesuatu yang terjadi. Namun ia mencoba menguatkan hatinya untuk masuk dan bertemu dengan sang tuan.
"Permisi tuan. Mohon maaf mengganggu." Kata Yuana dengan sopan.
"Hmmm! Duduklah! Aku sudah menunggumu. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan.
"Terima kasih tuan." Hanya itu yang mampu diucapkan Yuana. Ia kemudian duduk dengan sopan menanti sang tuan bertitah.
"Aku akan menanyakan beberapa hal padamu. Jawab semuanya dengan jujur, karena tidak ada hal yang bisa disembunyikan orang dariku. Aku adalah penguasa di negeri ini, dan mataku ada dimana-mana. Jadi aku mengingatkanmu terlebih dahulu agar kau memikirkan jawabanmu baik-baik sebelum kau mengatakannya kepadaku."
Yuana terlihat meremas jarinya pertanda menahan rasa gugup yang sedang menyerangnya
"Baik tuan!" Suaranya bergetar ketika mengatakan itu.
"Apakah kau mencintai putraku?"
"I...iya tuan!" Andai bisa menghilang ke dasar bumi, Yuana akan melakukan itu
"Apakah kau bertemu dengannya di belakangku padahal aku sudah melarangmu?"
Yuana menarik napas dan menguatkan hatinya sebelum menjawab.
__ADS_1
"Iya! Benar tuan!"
"Bagus. Aku akan bertanya untuk yang terakhir karena kau sudah menjawab dengan jujur."
"Bisakah kau melakukan permintaanku sebagai rasa cintamu pada putraku?"
Yuana bingung dengan apa yang baru saja ditanyakan tuan Andre. Namun ia memberanikan diri untuk menjawab
"Permintaan apa yang harus aku lakukan tuan?"
"Ini hanya permintaan sederhana dan tidak susah. Kau hanya perlu pergi dari hadapanku dan putraku, dan jangan pernah muncul lagi."
Deg!
Jantung Yuana berpacu dalam irama yang tak beraturan. Bagaimana ia bisa pergi sementara ia sudah berjanji pada Erik untuk tetap setia? Yuana bingung harus menjawab apa. Ia hanya diam dengan menunduk tanpa berani menatap wajah sang tuan.
"Cepat jawab. Jangan membuatku menunggu."
"Oya! Dan satu lagi. Jika kau tidak pergi, maka kau, kakakmu, dan ibumu akan menjadi gembel karena aku akan menyita semua aset yang dimiliki kakakmu. Tidak ada yang akan menghalangiku karena aku adalah penguasa di negeri ini. Tapi jika kau pergi, maka karir kakakmu akan tetap aman, dan apartemen yang telah aku berikan padamu pun tidak akan aku ambil."
Yuana bingung langkah apa yang harus diambil. Ia tidak ingin kakaknya kehilangan pekerjaannya.
Jika aku pergi, setidaknya kakak masih tetap kerja dan menjamin kebutuhan ibu di masa tua. Maafkan aku bu!
"Baik tuan. Aku akan pergi!" Yuana berkata dengan airmata yang sudah mengalir seperti dua anak sungai yang berlomba untuk saling mendahului.
"Bagus. pilihan yang tepat. Kau tentu tidak ingin kakakmu menjadi gembel kan?"
"Ambil ini, dan pergilah! Semua yang harus engkau lakukan sudah tertulis dengan jelas di dalam kotak ini."
Kira-kira apa ya yang diberikan tuan Andre?
Jangan lupa ikuti terus kisahnya!
.
.
.
.
.
Happy reading ya guys? Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya๐๐๐๐๐
__ADS_1