Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
56. Mengelilingi Kota Mungil Tristan (Part 1)


__ADS_3

Belajar menikmati suatu hal yang tidak menyenangkan dan yang tidak kita sukai memang akan sulit dan menyakitkan. Tidak semua orang akan berbesar hati untuk menerima kenyataan pahit dalam hidupnya. Namun, ada sebagian orang yang menganggapnya sebagai ujian dari semesta untuk semakin kuat dan tegar dalam menghadapi tantangan hidup yang seolah tidak ada habisnya. Eda Sally


*****


Hari ini merupakan hari kedua Yuana berada di pulau paling terpencil di ujung dunia. Ia merasa sangat jauh dari keluarganya, apalagi dari orang yang sangat mencintainya.


Ketika membayangkan tentang Erik, tanpa sadar airmatanya menetes. Ini sangat menyakitkan baginya dan sulit untuk ia jalani.


Alika yang melihat ada dua butir bening membasahi pipi Yuana, segera mengambil tissue dan tanpa permisi, langsung mendaratkan tissue tersebut di pipi Yuana sehingga mencegah airmata tersebut untuk tidak jatuh.


"Boleh aku memelukmu nona?"


Yuana hanya mengangguk. Ketika ia sudah berada dalam pelukan Alika, bahunya berguncang dan semakin banyak airmatanya yang menetes.


"Maafkan kami jika kami menyakitimu."


Yuana hanya menggeleng dengan masih terus sesenggukan. Habib yang melihat hal itu tidak tega. Ingin ia memeluk Yuana untuk menenangkannya, namun ia bukan tipe orang yang sok romantis. Ia bingung bagaimana harus menghadapi wanita yang sedang menangis.


"Kita batalkan saja jalan-jalannya. Aku tidak ingin nona menangis lagi. Lebih baik nona istirahat saja." Akhirnya Habib membuka suara.


"Tidak! Kita tetap harus jalan. Aku penasaran dengan pulau kecil ini." Katanya dengan senyum yang dipaksakan sambil menyeka airmatanya.


"Syukurlah. Akhirnya aku nanti bisa melihat dokter Kim." Alika malah menghayal.


"Bawa karung saja dan isi dokter Kim di dalamnya agar kamu jangan terlalu mengkhayal tentangnya." Habib mengolok Alika.


"Mengurus perawat Olive saja tidak becus kenapa malah sibuk mengurusku?" Alika balas mengolok


Yuana akhirnya tertawa mendengar pertengkaran Alika dan kakaknya.


"Ayo! Kita jalan sekarang. Jangan bertengkar di jalan ya? Malu kalau dilihat orang."


Yuana yang merasa tidak enak. Pasalnya ia dan kakaknya hampir tidak pernah seperti itu. Malah kalau bertemu, mereka sangat mesra.


"Yuk!" Alika yang menjawab sambil menggandeng tangan Yuana.


Sepanjang jalan orang-orang yang baru melihat Yuana tersenyum dan menganggukkan kepala. Yuana pun membalas dengan melalukan hal yang sama.


"Mana yang harus kita kunjungi lebih dulu?" Habib bertanya.


"Aku ikut saja! Terserah mau dibawa kemana." Jawab Yuana sambil tersenyum.


"Bagaimana kalau kita mengunjungi pusat perbelanjaan lebih dulu?" Alika menawarkan


"Boleh. Sekalian aku mau lihat apa saja yang dijual disana."

__ADS_1


Mereka kemudian berjalan dan memasuki pusat perbelanjaan satu-satunya di Tristan dan melihat-lihat barang-barang yang terjual disana.


"Apakah nona ingin membeli sesuatu?" Tanya Habib


"Untuk sekarang belum ada yang ingin aku beli. Mungkin nanti kalau aku butuh."


"Baik nona. Jika nona membutuhkan sesuatu, jangan sungkan. Katakan saja!"


"Terima kasih Beb! Pasti aku bilang."


"Kalau tidak ada yang ingin dibeli, kita mengunjungi museum dulu ya?" Alika menawarkan.


"Ok! Boleh."


Mereka keluar meninggalkan pusat perbelanjaan dan berjalan menuju museum. Yuana benar-benar dibuat kagum dengan museum mini yang unik bentuknya dan terlihat sangat bagus karena gaya arsiteknya membuat seni bangunannya benar-benar hidup walaupun kecil.


"Wah! Tak ku sangka museumnya sebagus ini walaupun kecil. Rasanya aku betah jika berlama-lama di sini."


"Jika nona ingin berlama-lama tidak apa-apa. Akan saya temani." Habib berkata sambil tersenyum.


Sejak pertama melihat Yuana, ia merasa sangat menyayangi Yuana karena manis sikapnya dan terlihat imut.


"Terima kasih Beb." Kata Yuana dengan senyum manisnya.


Yuana memanfaatkan kesempatan itu dan membeli beberapa kerajinan lokal buatan penduduk yang dijual di situ.


"Beb! Kita ke rumah sakit ya? Nanti setelah dari rumah sakit baru ke kolam renang, dan langsung pulang."


"Baik nona. Boleh aku memanggilmu adik?" Habib bertanya dengan penuh harap.


"Boleh kak."


Habib terlalu senang karena Yuana langsung memanggil kakak padanya. Ia sampai lupa dan tanpa sadar sudah memeluk Yuana. Alika yang melihat hal itu langsung menjewer telinga kakaknya.


"Hei! Jangan sembarang peluk. Tahu dirilah."


"Ah! Maaf. Aku gemas, karena nona Yuana itu imut. Bukan seperti kamu yang kelihatan amit-amit."


"Masih mending amit. Daripada kamu? Bukan amit lagi, tapi asam-asam kecut." Balas Alika tak mau kalah.


"Pokoknya mulai sekarang nona Yuana itu adikku. Kamu jadi pelayanku aja."


Tanpa kata Alika langsung menghujani kakaknya dengan cubitan di beberapa bagian tubuh. Mereka sampai kejar-kejaran di dalam museum mini tersebut. Yuana hanya menggelengkan kepala menyaksikan kekonyolan kakak adik tersebut. Ia sampai tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah mereka.


Habib walaupun kata-katanya pada Alika kasar, namun ia sangat menyayangi adik satu-satunya itu dan merupakan keluarga satu-satunya. Sejak kedua orang tuanya meninggal, Habib yang menjadi kepala keluarga. Karena itu ia sangat menyayangi adiknya.

__ADS_1


Namun, karena mereka berdua sama-sama suka usil, akhirnya kalau sudah berdebat, benar-benar tidak akan pernah bertemu.


"Ayo! Kita ke rumah sakit sekarang. Aku ingin lihat apa saja yang unik disana." Kata Yuana menghampiri kakak beradik yang sedang ngos-ngosan akibat kejar-kejaran.


Mereka berjalan keluar meninggalkan museum dan menuju ke rumah sakit yang tidak jauh dari situ.


Saat sampai di rumah sakit, kebetulan tidak ada pasien sehingga dokter Kim dan perawat Olive serta empat temannya sementara duduk santai.


"Wah! Ada penghuni baru rupanya." Kata dokter Kim sebelum Yuana, Alika, dan Habib menyapa.


"Iya dokter. Ini adik saya yang baru datang." Habib menjawab dengan bangga.


"Adikmu? Kenapa beda jauh ya? Tanya perawat Olive dengan heran sambil menatap mereka bertiga.


"Hehehehee. Maksudnya adik angkat sejak ia tinggal bersama kami." Alika menjelaskan.


"Oh!" Ujar dokter Kim singkat sambil terus menatap Yuana.


Ya ampun! Cantik sekali gadis ini. Mana imut lagi. Waduh! Kenapa hatiku berdebar-debar saat menatapnya


"Boleh kita lihat-lihat sebentar ke dalam? Adikku ingin melihat suasana rumah sakit di sini." Habib membuka pembicaraan karena ia melihat bahwa mereka semua terpesona dengan kecantikan Yuana, terutama dokter Kim.


"Oh, boleh. Mari, silahkan masuk." Suster Reta yang menjawab dan mempersilahkan karena yang lain mulutnya masih terbuka lebar memandang gadis cantik di depan mereka yang terlihat seperti bidadari.


"Terima kasih."


Yuana menjawab dengan sopan sambil menganggukkan kepala dan tersenyum. Jangan lupa senyum manisnya yang membuat mulut keenam orang tersebut semakin terbuka lebar.


Dokter Kim hampir saja kecolongan karena ilernya yang sudah mendesak keluar. Untung ia segera insyaf dan menutup mulutnya sehingga cairan tak terhormat itu tidak sampai keluar.


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya guys? Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2