Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
21. Tawaran Pekerjaan


__ADS_3

Hidup adalah roda yang terus berputar. Kita tidak mungkin terus berdiam di tempat. Kita akan terus berjalan karena seperti itulah yang terjadi dalam hidup.


Kadang kita mungkin berpikir untuk berhenti, tapi hal yang perlu kita sadari adalah ketika kita berhenti kita telah mundur selangkah dari jalan yang harus kita tempuh. Karena itu teruslah maju, sampai kita benar-benar sudah tidak bisa bergerak lagi. Eda Sally


*****


Yuana yang sudah menyelesaikan wisudanya tidak langsung bekerja. Ia lebih memilih menghabiskan waktu satu bulan di rumah untuk beristirahat total dengan tidak beraktifitas sama sekali. Yuana pun hanya pulang ke rumah orang tuanya selama seminggu. Setelah itu sudah kembali ke rumah paman dan tante-nya karena janjinya pada mereka untuk menemani mereka.


Setiap hari ia menghabiskan waktu di rumah dengan tidak melakukan apapun. Yuana terlihat sangat menikmati masa istirahatnya.


Terkadang Erik datang mengunjunginya. Erik sudah tahu bahwa Yuana hanya menganggapnya sebagai kakak. Karena itu walaupun ia sangat menyukai Yuana, ia berusaha memendam perasaannya agar Yuana tidak menjauh darinya. Bagi Erik, bisa melihat wajah Yuana saja itu sudah cukup baginya.


Seperti biasa, setelah selesai berolahraga dan mandi, Yuana duduk di taman samping sambil menikmati udara pagi. Papa dan mami sudah berangkat ke tempat kerjanya masing-masing sehingga Yuana tidak ada teman bercerita.


"Non! Maaf mengganggu. Ini ada surat." Seorang pelayan membawa sebuah amplop cokelat dan menyerahkannya pada Yuana.


"Terima kasih." Jawab Yuana pendek sambil menerima surat tersebut.


Awalnya Yuana berpikir bahwa surat tersebut mungkin untuk mami atau papa. Namun, ketika ia melihat tujuan surat itu untuknya, Yuana mulai menerka kira-kira apa isi surat itu. Dan Yuana lebih kaget lagi ketika melihat nama pengirim surat tersebut.


"Angkasa Grup." Yuana berbicara pada dirinya sendiri.


Bukannya Angkasa Grup itu perusahaan terbesar ya. Dari mana mereka mengenalku dan mengirim surat ini. Baiklah, waktu istirahat di rumah juga masih satu minggu lagi untuk mempertimbangkan dan mengambil keputusan. Yuana


"Hallo cantik. Melamun pagi-pagi." Sapa Erik yang baru datang.


"Lho, kakak tidak ada kelas di kampus hari ini?" Malah balik bertanya.


"Ada sih, tapi aku ingin melihat adikku. Tidak boleh ya!" Membela diri sebetulnya.


"Bolehlah. Lagi pula, aku juga bosan kak."


Sebenarnya senang juga dia kalau Erik datang, karena dia jadi punya teman mengobrol.


"Eh, surat apa tuh. Sini aku lihat."


Erik mengalihkan pembicaraan dan mengambil surat tanpa permisi. Begitulah kebiasaannya kalau berhadapan dengan Yuana. Ia akan salah tingkah dan terkadang agak celingukan menjawab pertanyaan Yuana, walaupun pertanyaan seperti itu bisa di jawab anak usia tiga tahun juga.


Setelah membaca alamat pengirim surat tersebut Erik nampak kaget. Namun ia pura-pura terlihat biasa dan membuka surat tersebut untuk membacanya karena dari tadi hatinya sudah digelitik rasa penasaran.


Selesai membaca surat tersebut, Erik terlihat diam tanpa ekpresi.


Rupanya papa tidak tahu kalau mahasiswa dengan predikat cumlaude yang di incar untuk bekerja di perusahaan papa adalah Yuana. Hmmm sepertinya sebentar lagi akan ada drama menarik. Aku ingin melihat ekspresi kaget papa saat bertemu dengan Yuana. Sepertinya aku harus segera resign dari kampus dan bekerja di perusahaan papa. Ah tidak boleh-boleh lama. Besok aku akan mengajukan surat pengunduran diri dan mulai bekerja sebelum Yuana masuk kerja. Hmmm, pasti seru kalau dia jadi sekretarisku. Erik.

__ADS_1


Setiap tahun memang perusahaan Angkasa Grup langsung meminta mahasiswa lulusan terbaik dari kampus tempat Yuana kuliah untuk bekerja di Angkasa Grup karena kampus tersebut milik Angkasa Grup jadi mereka otomatis mendapat laporan tentang mahasiswa yang berprestasi sehingga memudahkan mereka untuk merekrut.


Erik yang bekerja di kampus tersebut juga tidak memberitahukan kepada siapa pun kalau dia adalah anak pemilik kampus tersebut. Ia hanya ingin melihat secara langsung kampus milik Angkasa Grup kualitasnya seperti apa.


"Kak,! Kenapa senyum-senyum sendiri dari tadi?"


Yuana merasa perlu bertanya karena dari tadi manusia aneh di sampingnya hanyut dalam senyum yang menurutnya tidak enak di pandang mata.


"Memangnya kamu baru melihatku tersenyum?"


Erik membalikkan pertanyaan seolah dia tidak punya kewajiban untuk menjawab.


"Ih,! Kakak benar-benar menjengkelkan."


Yuana berkata demikian sambil mengangkat tinjunya tinggi-tinggi layaknya petinju yang berada di ring tinju.


"Hahahahha begitu saja marah."


Nah,! Balik menggoda kan,,?


Ingin ku jawab siapa juga yang marah. Tapi buktinya aku memang marah. Bagaimana tidak,! Setiap pertanyaanku selalu di ubah menjadi pertanyaan yang di arahkan kembali kepadaku. Memangnya mulutku hanya diciptakan untuk menjawab dan mulutnya di ciptakan untuk bertanya,! Yuana


"Oya keputusanmu dengan surat itu bagaimana?" Memulai percakapan serius.


Yuana menjawab tanpa menoleh. Ceritanya masih kesal.


"Ok, kalau kamu sudah mengambil keputusan jangan lupa info ke aku ya?"


Erik memberi penekanan seolah itu keharusan yang tidak boleh dilanggar jika tidak menyampaikan info.


"Pasti aku info. Tapi jangan marah kalau aku lupa dan tidak memberikan informasi."


Yuana menjawab demikian dengan maksud ingin membuat Erik kesal juga


"Oh tidak kasih info juga tidak apa-apa, Aku pasti tahu sendiri kok." Katanya dengan penuh rasa bangga dan percaya diri.


Wajar dan pasti tahu. Dia kan anak kandung pemilik Angkasa Grup


"Aku pamit dulu ya? Nanti kapan-kapan aku ke sini lagi. Titip salam buat om dan tante.


Erik berkata dengan menebarkan pesona senyum yang membuat para gadis mengalami sakit mata dadakan.


Nah, harusnya pamit dari tadi. Kenapa baru sekarang. Jadinya energiku terkuras untuk marah-marah. Yuana

__ADS_1


"Eh, iya kak. Terima kasih sudah mampir. Nanti aku sampaikan salamnya."


Yuana berusaha tersenyum semanis mungkin agar tidak ada yang namanya kecurigaan lokal.


"Ah kenapa kalau ada hal yang mau di diskusikan waktu itu berjalan sangat lambat."


"Aku ingin mengetahui respon mami dan papa." Yuana berkata pada dirinya sendiri sambil memandang camilannya yang sudah habis.


Semoga ini adalah jalan yang harus aku lalui. Semoga juga Angkasa Grup merupakan pekerjaan yang Tuhan siapkan untukku. Berada sampai sejauh ini sudah luar biasa. Kalau dulu aku menolak mengikuti mami dan papa, aku tidak tahu nasibku sekarang sudah seperti apa. Aku benar-benar bersyukur memiliki mereka yang banyak menolongku dalam segala perjuangan yang telah aku lalui. Yuana


"Kenapa air mata ini harus pakai drama lolos dari mataku." Yuana berkata pada diri sendiri sambil mengutuki kebodohannya sendiri


"Kira-kira pemilik Angkasa Grup itu orangnya seperti apa ya?"


Semoga tidak menakutkan seperti Erik waktu pertama kali bertemu.


Membayangkan manusia aneh itu aku benar-benar berdoa sungguh-sungguh agar di perusahaan Angkasa Grup tidak ada manusia aneh seperti itu. Yuana


"Non, sarapannya sudah siap. Nona mau sarapan di sini atau di dalam." Tanpa ba bi bu sang pelayan tiba-tiba berkata dan mengagetkan Yuana dari lamunannya.


"Di dalam saja. Terima kasih ya?" Menjawab sambil berdiri dan segera ke dalam.


Kasian kan kalau dia harus balik lagi untuk mengambilkan sarapanku. Lagian ini juga sudah jam 09. Mungkin tadi mau bilang tapi sungkan karena ada kak Erik.


.


.


.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Happy reading ya guys? Semoga Terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2