
Seorang pria akan melakukan apa saja demi wanitanya. Dan Cinta seorang pria mungkin terlihat kaku di beberapa kesempatan. Hal ini bukan karena ia tidak mencintai wanitanya, tetapi karena pria memang tidak sepeka wanita dalam soal perasaan. Eda Sally
*****
Erik tidak memejamkan matanya sama sekali karena Yuana tertidur di pangkuannya. Ia terus membelai rambut sang istri. Ia juga memilih duduk di bekas bercak merah di sprei tanda kesucian sang istri.
Yuana yang sudah sadar dari tidurnya kaget dan menatap bingung kepada Erik yang memangkunya. Erik langsung mendaratkan satu kecupan di kening dan bibir Yuana dengan sangat lembut.
"Ka..kamu sedang apa?" Tanya Yuana terbata dan baru sadar bahwa ia dan Erik masih dalam keadaan tanpa busana.
"Sedang memandang istriku yang lagi tidur dan sekarang sudah bangun." Jawab Erik dengan senyumnya yang membuat wajah tampannya semakin tampan.
"Ini sudah jam berapa?" Tanya Yuana.
Erik melihat jam di tangannya yang memang belum dilepas. Ia sendiri juga kaget karena belum tidur sama sekali.
"Baru pukul 03.00 pagi."
"Pukul 03 pagi? Aku tidur lama sekali." Kata Yuana pelan.
"Iya! Tetapi aku senang melihatmu tidur dalam keadaan seperti ini." Kata Erik menggoda Yuana.
Yuana langsung sadar dan tangannya reflek menutupi bagian dadanya.
"Tidak usah ditutup. Aku sudah melihatnya dari pukul 08.00 waktu kamu tertidur di pangkuanku."
Yuana reflek memukul dada Erik. Wajahnya sudah sangat merah menahan malu.
"Aku lapar kak. Tapi aku mau pakai baju dulu." Kata Yuana lemah.
"Tidak usah pakai baju. Duduklah di sini. Aku akan mengambilkan makanan untukmu. Kita belum makan malam. Aku juga lapar." Kata Erik kemudian dengan perlahan mendudukkan Yuana diatas tempat tidur.
Erik membawa makanan yang telah diambilnya dan menyuapi Yuana. Ia juga makan menggunakan sendok yang dipakainya untuk menyuapi Yuana. Yuana heran melihat apa yang dilakukan Erik, namun ia memilih untuk diam.
Yuana hanya diam dengan perlakuan suaminya. Setelah selesai makan, Yuana beringsut untuk tidur lagi, namun ia merasakan semua badannya sakit.
"Masih sakit?" Tanya Erik dengan lembut.
Yuana hanya mengangguk kemudian menundukkan kepala. Erik kemudian mengangkat tubuh Yuana dan memindahkannya.
__ADS_1
Yuana kaget melihat bercak berwarna merah di sprei bekas Erik duduk tadi waktu memangkunya sebelum ia bangun.
"Kak. Ini apa?" Tanya Yuana bingung.
"Yang mana?" Erik balik bertanya
"Ini!" Tunjuk Yuana pada bercak merah yang dilihatnya.
Erik tidak mengatakan apapun. Ia hanya tersenyum kemudian mendekati Yuana dan mengecup bibirnya dengan lembut kemudian berkata:
"Aku mencintaimu. Sekarang, selalu, dan sepanjang usiaku."
"Terima kasih telah mencintaiku." Jawab Yuana.
"Aku yang seharusnya berterima kasih karena telah mendapatkan wanita yang baik, cantik, pandai, dan luar biasa." Kata Erik dengan masih mencium sang istri. Sementara tangannya sudah tidak bisa dikondisikan lagi.
"Jangan kak. Masih sakit." Pinta Yuana dengan nada memelas.
"Aku akan melakukannya dengan pelan. ok?" Bisik Erik di telingan Yuana.
"Tapi aku masih takut kak." Kata Yuana memelas.
Yuana terdiam dan tidak mengatakan apapun. Ia tidak ingin menolak suaminya. Ia masih ingat pesan kakaknya dengan jelas untuk tidak membantah suaminya dalam hal apapun.
"Boleh ya sayang?" Kata Erik lagi.
Yuana hanya menganggukkan kepala menanggapi perkataan Erik. Erik segera melanjutkan aktifitasnya yang hampir tertunda.
Erik kembali ******* bibir mungil sang istri, sementara dua tangannya sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Yuana menahan napas karena perlakuan Erik. Ia sama sekali tidak paham dengan apa yang dilakukan sang suami.
Ingin rasanya ia menolak karena rasa sakit yang masih menyerang tubuhnya, namun tubuhnya juga seolah menginginkan apa yang dilakukan suaminya. Ia menggigit bibirnya dengan sangat kuat dan menahan rasa perih ketika Erik melanjutkan aktifitasnya.
Erik tahu Yuana kesakitan, dilihat dari raut wajahnya. Karena itu ******* bibir Yuana dengan lembut. Erik akhirnya mengakhiri aktifitasnya dengan napas yang memburu.
"Terima kasih sayang." Kata Erik sambil memeluk tubuh Yuana dengan erat.
Air mata Yuana terlihat menetes dari sudut matanya. Erik segera menyeka air mata istri kecilnya dengan tangannya.
"Jangan menangis lagi, please! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku sangat bahagia malam ini, dan aku tidak ingin melihatmu bersedih." Kata Erik sambil mendaratkan ciuman di kening Yuana.
__ADS_1
"Aku takut jika sudah seperti ini, dan tiba-tiba kamu pergi karena tuan besar menemukan kita. Apa yang harus aku lakukan? Aku akan menjadi wanita terbuang yang tidak akan dipilih lagi oleh siapa pun." Kata Yuana dengan air mata yang semakin deras membanjiri pipinya.
"Jangan berbicara seperti itu lagi. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Jika aku ingin meninggalkanmu, aku tidak akan nekat untuk datang sejauh ini hanya untuk menikahimu. Tolong percaya padaku." Kata Erik mencoba menenangkan Yuana.
"Aku percaya padamu. Sangat percaya! Tetapi aku juga takut. Aku tidak mau kehilangan dirimu lagi." Kata Yuana.
"Tidak! Aku yang paling takut jika harus kehilangan dirimu. Tolong jangan membicarakan hal-hal yang akan membuatmu takut pada bayangan pikiranmu sendiri. Aku tidal ingin melihatmu bersedih." Kata Erik sambil mengecup kening Yuana berulang kali.
"Apakah kamu berjanji akan membela dan memilihku jika suatu saat kamu disuruh untuk memilih antara diriku atau keluarga?" Tanya Yuana meminta kepastian.
"Apapun yang terjadi, aku saat ini sudah bersama denganmu, dan aku akan tetap memilihmu. Jika memang aku harus menukar nyawaku demi kebahagiaanmu dan demi dirimu, maka aku akan melakukannya demi janji setia dan cintaku padamu. Ini janjiku padamu."
"Aku akan memegang janjimu." Kata Yuana setelah mendengar semua yang dikatakan Erik padanya.
Erik semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Yuana dengan berulang kali mendaratkan ciuman di seluruh wajah sang istri. Ia benar-benar memanfaatkan kesempatan ini dan melepaskan semua hasrat yang sudah ia tahan selama ini.
Jika selama ini ia tidak berani mengecup kening sang istri karena ingin menjaga kesucian mereka hingga benar-benar menikah, maka malam ini ia bebas melakukan apa saja yang sudah ia ingini untuk dilakukan selama ini.
"Kak! Aku ingin mandi. Badanku rasanya lengket semua." Kata Yuana yang membuat aktifitas ciuman sang suami berhenti seketika.
"Nanti saja mandinya. Ini masih terlalu pagi. Lagi pula kamu belum boleh terlalu bergerak. Aku tahu kamu kesakitan. Jadi, jangan dipaksakan untuk bergerak. Aku yang akan memandikanmu. Tidurlah!" Kata Erik sambil terus membelai rambut istri kecilnya sementara bibirnya terus bergerak mengecup wajah istrinya.
"Kalau kamu seperti itu terus nanti aku tidak bisa tidur." Kata Yuana pada akhirnya karena suaminya masih saja beraktifitas di wajahnya.
"Ok! Tidurlah. Aku tidak akan melakukannya lagi." Kata Erik sambil mengeratkan pelukannya dan memejamkan matanya.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
__ADS_1
😍😍😍😍😍