
Memberikan pertolongan kepada orang lain bukan hal yang mudah. Dan tidak semua orang mau untuk memberikan pertolongan dengan cuma-cuma.
Terkadang, ada harga yang harus dibayar atas pertolongan yang diterima dari orang atau golongan tertentu. Sementara itu, pihak yang tertolong hanya akan mampu menerima apa yang diberikan si penolong meski penuh tanda tanya. Memberilah tanpa menuntut imbalan, karena hal itu akan memberikan kebahagiaan tersendiri. Eda Sally
*****
Suster Reta segera melaksanakan perintah perawat Olive sebagai seniornya. Ia mengambil handphonenya dan segera menghubungi dokter Kim.
"Saya sudah menghubungi ketiga teman kita, dan beberapa menit lagi mereka akan sampai kesini. Sedangkan nomor handphone dokter Kim berada diluar jangkauan." Suster Reta melaporkan apa yang baru saja dilakukan kepada perawat Olive.
"Hah? Diluar jangkauan? Setahu saya dokter Kim tidak pernah menonaktifkan handphonenya. Ada apa ya?" Perawat Olive bingung sekaligus heran.
"Saya pikir lebih baik meminta tolong security untuk mengecek di rumah dinas. Siapa tahu dokter Kim lupa mengecas handphonenya sehingga tidak dicas atau beliau sedang beristirahat."
"Usul yang bagus. Cepat lakukan seperti yang baru saja kamu katakan."
Suster Reta segera menyuruh security untuk memanggil dokter Kim. Setelah security pergi, ia kembali mengecek kondisi ketiga pasien. Sementara itu, perawat Olive tengah memeriksa darah mereka yang sudah diambil. Ia kaget dengan apa yang diketahuinya.
Sebagai orang yang benar-benar paham dengan ilmu farmakologi, ia tidak menyangka bahwa hasil pemeriksaannya akan seperti itu.
"Ini tidak mungkin. Siapa yang bisa melakukan ini?" Kata perawat Olive pada dirinya sendiri. Pasalnya tenaga medis di pulau itu hanya ia dan keempat temannya selain dokter Kim.
"Kamu pasti tidak akan percaya dengan hasil darah yang aku ambil dari ketiga orang ini."
"Ada apa kak Olive?"
"Mereka keracunan. Dan jenis racun ini adalah campuran beberapa obat bubuk dengan dosis tinggi, ditambah lagi dengan cairan suntikan yang saya temukan dalam tubuh pasien. Untung mereka cepat kesini. Jika tidak, saya pesimis mereka akan tertolong. Ditambah lagi, kondisi fisik mereka benar-benar kuat."
"Siapa yang sudah tega melakukan hal seperti itu, ya? Hanya orang yang paham tentang obat-obatan yang bisa melakukan hal seperti itu. Apa di pulau ini ada orang medis yang diam-diam menyamar?
"Saya sudah cari ke rumah dinas tapi dokter Kim tidak ada di rumah. pintu rumah juga dalam keadaam tidak terkunci, dan saya menanyakannya kepada beberapa warga tetapi mereka tidak ada yang tahu."
Pak Afram, sang security menjelaskan panjang lebar bersamaan dengan ketiga perawat yang baru saja masuk dengan tergesa-gesa dan napas terengah-engah.
"Tidak biasanya dokter Kim seperti itu. Ada apa ya?" Perawat Olive seolah berkata seperti itu.
"Ada apa kak Olive?" Tanya salah suster yang bernama Melly.
"Tolong bantu saya dan suster Reta untuk mengurus tiga orang pasien yang keracunan."
"Ok, kak Olive."
__ADS_1
Baru saja Melly menghampiri ranjang Habib, ia melihat Habib perlahan membuka mata, dan langsung berusaha untuk bangun dan duduk.
"Syukurlah kak Beb sudah siuman."
"Kak Olive...! Kak Habib sudah sadar."
Suster Olive dan teman-temannya segera berlari ke tempat dimana ketiga orang itu dirawat. Mereka terlihat tersenyum bahagia ketika melihat pasien yang sempat membuat mereka khawatir sudah siuman, dan wajah mereka tidak pucat lagi.
Rupanya teriakan suster Melly membangunkan Erik dan Alika. Erik yang membuka mata, langsung duduk dan melihat ke arah Habib dan Alika. Jantungnya berdegup kencang ketika tidak menemukan Yuana.
"Yuana dimana, Habib?"
"Dimana adik kami?" Tanya Habib dengan memandang ke arah perawat Olive.
"Maafkan kami. Tadi hanya kalian bertiga yang kami temukan tergeletak di jalan, dan tidak ada siapa-siapa disana selain kalian bertiga."
Erik, Habib, dan Alika kaget mendengar penjelasan perawat Olive. Erik segera mencabut selang infusnya dengan kasar, yang membuat darah merembes keluar dari tempat jarum infus tertancap tadi.
"Dimana dokter sialan itu?" Tanya Erik dengan wajah penuh amarah.
"Ma..maksudnya dokter Kim?" Suster Reta yang balik bertanya dengan wajah pucat dan gugup karena takut dan juga salah tingkah dengan pria tampan di depannya.
"Sejak tadi kami hubungi tetapi nomor handphonenya tidak aktif."
"Maksud tuan muda?" Alika yang bertanya.
Tuan muda? Jadi pria tampan ini siapa?
Begitu pertanyaan orang-orang yang berada dalam ruangan itu, kecuali Habib dan Alika.
"Tidak ada waktu lagi untuk menjelaskan. Ayo!"
Erik berkata sambil menarik tangan Habib. Alika segera melompat turun dan mencabut infusnya kemudian berdiri berdampingan dengan kedua pria itu.
"Biaya rumah sakitnya nanti akan diselesaikan oleh Alika. Ada hal genting yang harus kami urus sekarang. Kata Habih mewakili.
Alika hanya bengong mendengar keputusan kakaknya. Ia juga ingin ikut dalam pencarian itu. Ia sangat mencemaskan Yuana. Namun, ia juga ingat bahwa biaya rumah sakit mereka belum dibayar, dan itu tugasnya.
Habib tidak khawatir soal uang, karena selama ini tuan Zain selalu memberikan uang yang cukup besar jika datang, ditambah dengan Yuana yang selalu memberikan tip bagi mereka.
Setelah mengatakan hal seperti itu, Habib dan Erik segera meninggalkan rumah sakit dengan setengah berlari.
__ADS_1
"Kita harus cari kemana, Habib? Aku belum menguasai tempat ini."
"Aku tahu setiap sudut tempat ini dengan sangat baik. Ditambah lagi pulau ini tidak terlalu luas jadi kita bisa mencarinya dengan cepat. Kita akan mencarinya ke tempat-tempat yang dicurigai.
"Akan ku bunuh dokter sialan itu."
"Tenang tuan muda. Aku yang akan mengurusinya, asalkan bisa ditemukan."
"Benar-benar dokter tidak bermartabat. Harga dirinya terlalu rendah karena melakukan perbuatan tak terpuji seperti ini."
"Maafkan saya yang tidak bisa menjaga nona muda dengan baik."
"Ini bukan salahmu, Habib. Dokter sialan itu yang terlalu terobsesi dengan Yuana, sehingga dengan ambisinya ia ingin merebut Yuana dengan cara yang licik."
"Tak ku sangka dokter Kim nekat melakukan perbuatan tak terpuji seperti itu, tuan muda."
"Aku juga tak habis pikir, Habib. Sebenarnya maksud dia apa?"
"Kita berhenti sejenak dan tenangkan pikiran dulu, tuan muda. Pasti ada jalan untuk menemukan nona muda.
Mereka sudah cukup lelah karena mencari dan menyisiri semua tempat dan berakhir di taman yang terletak di ujung barat pulau itu.
Habib dan Erik duduk dengan jalan pikiran masing-masing. Mereka bingung harus mencari kemana lagi. Erik nampak frustasi dan meremas rambutnya dengan sangat kuat.
Tiba-tiba, mereka berdua terlonjak kaget dan berdiri dengan bersamaan kemudian saling menudingkan telunjuk dan berkata secara serempak :
"Dermaga."
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya guys, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
__ADS_1
😍😍😍😍😍