Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
65. Sikap Hormat seorang Arthur Walker


__ADS_3

Dalam hidup ini, sikap hormat kita kepada orang lain membuktikan bahwa kita sedang menjunjung tinggi harga diri kita. Karena mereka yang mampu memberikan sikap hormat dan penghargaan kepada orang lain adalah mereka yang mampu mengenal dirinya sendiri dengan sangat baik.


Sementara orang yang tidak mampu menghormati dan menghargai orang lain, membuktikan bahwa ia belum mengenal dirinya sendiri dengan baik. Eda Sally


*****


Setelah tiba di mansion mewah milik keluarga Wiliam, Arthur segera turun dan membukakan pintu untuk Erik. Erik sendiri membiarkan Arthur membukakan pintu karena Arthur akan kecewa bila perlakuan hormatnya diabaikan oleh Erik.


"Selamat datang kembali tuan muda." Kata Arthur dengan hormat setelah selesai membukakan pintu untuk Erik.


"Terima kasih atas sambutannya, Arthur!"


"Jangan terlalu sungkan tuan. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan."


"Hmm! Semoga kamu tidak bosan melihat wajahku, karena dalam beberapa hari ini, aku akan sangat membutuhkan bantuanmu."


"Aku sama sekali tidak bosan tuan. Malah aku senang karena tuan datang lagi. Dan aku siap membantu tuan melakukan apa yang tuan kehendaki."


"Baik Arthur. Apakah kau tidak mempersilahkan aku masuk untuk menemui pelayan di dalam mansionku?" Erik pura-pura marah.


"Oh! Mari masuk tuan. Aku akan mengantar tuan ke dalam."


"Terima kasih Ar."


Erik langsung berjalan masuk tanpa mempedulikan Arthur yang melongo karena kaget dengan sikap Erik yang langsung berjalan begitu saja. Begitu Erik tiba di depan pintu utama, semua pelayan langsung berbaris menyambut kedatangannya.


"Selamat datang kembali tuan." Sapa para pelayan serentak.


"Terima kasih." Jawab Erik sambil menganggukkan kepala kemudian berjalan masuk, yang langsung diikuti oleh seorang pelayan khusus yang biasanya melayani segala kebutuhannya jika ia datang.


Arthur yang sudah menyerahkan koper Erik kepada seorang pelayan, langsung berlari seperti seekor anak ayam dan mengekor di belakang Erik.


"Kenapa kau terus mengikutiku?"


"Karena aku akan membantu melayani tuan muda selama di sini."


"Tumben."


"Mandi dulu tuan. Setelah itu makan, baru kita berbincang-bincang." Arthur tidak mau berdebat, karena ia tahu Erik pasti sangat lelah.


"Hmmmm!"


"Kenapa kalau bicara selalu irit kata dan suara." Arthur berkata dengan volume suara yang paling kecil, tapi mampu di dengar oleh Erik yang sementara menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Karena aku sadar, suaraku sangat mahal..Tidak sepertimu yang memiliki suara yang fals level dewa tetapi selalu dipamerkan." Erik cepat-cepat menutup pintu menuju kamar mandi karena tidak mau mendengar jawaban Arthur.


Hmmmm! Tuan muda itu kata-katanya selalu kasar, tetapi hatinya sangat baik. Jika kelak tuan besar sudah tiada dan diganti oleh tuan muda, aku yakin Angkasa Grup akan semakin disegani orang. Tapi kira-kira tuan muda sudah memiliki cewek apa belum ya? Wanita seperti apa yang cocok untuk tuan muda.


Begitu Erik keluar dari kamar mandi, ia melihat Arthur duduk di sofa dan menopang dagu dengan tatapan kosong.


"Kamu sedang memikirkan siapa? Pacarmu?"


"Eh! Maaf tuan. Aku sedang memikirkan tuan."


"Memikirkanku? Ih! Jangan macam-macam ya? Kita hanya berdua di dalam kamar, dan kau memikirkanku? Kau membuatku semakin takut padamu, Ar!"


"Hahahahahha! Tuan, tuan! Walaupun aku gagal PDKT dengan Lucy, tapi aku masih normal tuan. Lagi pula, aku tidak tertarik sama sekali dengannya."


"Aku hanya mengingatkan, Ar! Kalau kau tidak tertarik dengannya, hati- hati saja agar jangan sampai Lucy yang tertarik olehmu." Erik tidak dapat menahan tawa karena mampu menggoda Arthur.


"Tuan! Aku mau bicara serius, tapi tuan harus makan dulu."


"Makannya nanti saja, Ar. Sebelum turun dari pesawat tadi, aku sempat makan. Jadi masih kenyang. Kamu mau bicara apa?"


"Begini tuan. Dady menugaskanku untuk menemani tuan selama tuan di sini. Apa tuan keberatan?"


"Tadinya keberatan. Tapi begitu melihat wajah memelasmu, aku tidak jadi keberatan."


"Aku bicara serius tuan."


"Oya! Kalau kamu benar-benar niat mau membantuku di sini, aku akan sangat senang karena aku akan memiliki teman untuk kantor dan juga saat di rumah." Erik berkata seperti itu karena Arthur juga bekerja di kantor cabang milik keluarga Wiliam.


"Iya tuan. Aku akan selalu ada di sini tuan. Aku akan melayani tuan sampai tugas tuan selesai dan pulang. Aku berjanji bahwa aku tidak akan mengecewakan tuan."


"Aku percaya padamu, Ar!"


"Terima kasih tuan muda telah mempercayaiku. Jika tuan menginginkan sesuatu, tuan tinggal mengatakannya kepadaku, dan aku akan mengurusnya bersama para pelayan."


"Tidak usah terlalu berlebihan, Ar! Aku hanya datang untuk melihat kepincangan apa yang dialami oleh perusahaan."


"Aku merasa tidak berlebihan tuan. Aku hanya menunjukkan sikap hormat yang tulus dari hatiku, untuk tuan muda Erik Wiliam yang sudi dan mau berteman dengan diriku yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tuan."


"Siapa yang menyuruhmu terlalu membuat perbedaan diantara kita? Aku memang memiliki sikap yang cuek karena penanaman karakter sejak kecil dalam keluarga. Tapi itu tidak berarti bahwa aku tidak baik, apalagi tidak peduli pada orang lain."


"Itu yang aku suka dari tuan muda. Dan karena itu, terimalah hormatku, dengan mengizinkan aku melayani tuan selama di sini. Aku akan sangat terhormat jika melakukan sesuatu yang berarti untuk tuan."


"Artinya kau mau melakukan apa saja demi aku, Ar?"

__ADS_1


"Iya tuan! Aku akan melakukan apa saja demi tuan."


"Kalau begitu, jadikan Lucy cewekmu demi aku." Erik langsung melepas tawanya karena ia merasa sangat lucu melihat wajah serius dari Arthur.


"Kalau untuk yang itu, mohon maaf tuan. Aku tidak sanggup melakukannya."


"Kenapa tidak sanggup?"


"Karena wanita yang bernama Lucy itu menyeramkan tuan."


"Hahahhaa. Apanya yang menyeramkan, Ar?"


"Keberaniannya yang terlalu menyeramkan."


"Ah! Kamu terlalu berlebihan. Oya! Aku ingin meminta tolong padamu, Ar!"


"Katakan saja tuan! Aku akan melakukannya."


"Ah! Nanti saja. Untuk sekarang, aku ingin beristirahat."


"Baik tuan. Kalau begitu, aku akan ke kamar yang sudah disediakan pelayan untukku. Jika tuan membutuhkanku, suruhlah seorang pelayan untuk memanggilku. Aku akan segera datang."


"Baik Ar. Jangan kuatir. Aku akan memanggilmu jika perlu. Kamu juga harus beristirahat karena akan ada banyak hal yang nanti akan aku lakukan bersamamu."


"Siap tuan. Kalau begitu aku akan ke kamar yang sudah disediakan untukku."


"Terima kasih, Ar!"


"Sama-sama tuan muda. Selamat beristirahat."


Arthur meninggalkan Erik sendirian di kamarnya. Erik bingung harus melakukan apa. Akhirnya ia beranjak dari sofa dan menuju ke tempat tidurnya untuk beristirahat.


Aku harus menceritakan semua pada Arthur, agar dia bisa menolongku sehingga aku bisa pergi ke Tristan tanpa ada halangan. Aku tidak ingin rencana ini gagal. Aku juga sudah sangat rindu dengan gadis kecilku.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading ya guys, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍


__ADS_2