
Kita mungkin tidak cermat dalam mengawasi sekeliling kita, tetapi sepandai-pandainya maling melakukan aksinya, pasti ada jejak yang ia tinggalkan. Mulailah peka dengan sekelilingmu, dan temukan hal-hal yang akan membantumu mengungkap apa yang mungkin akan membahayakanmu dan orang-orang di sekitarmu. Eda Sally
*****
Erik tergesa-gesa membersihkan badan Yuana dan tempat tidur yang sudah kotor. Yuana yang masih lemas digendong Erik dan dibaringkan di sofa. Erik juga tidak lupa memanggil pelayan pribadi mereka untuk membersihkan tempat tidur dan mengganti sprei.
Erik dengan gesit mengangkat handphonenya dan segera menelpon dokter Stevi. Selesai menelpon, Erik mengangkat kepala Yuana dan meletakkannya di pangkuannya sambil memijat badan Yuana.
"Aku tidak ingin kamu sakit. Jika sejak tadi kita memanggil dokter, kamu tidak akan muntah seperti ini." Ujar Erik sambil mengelus rambut Yuana dengan lembut.
"Aku tidak ingin berdebat. Jangan mengajak aku berbicara terlalu banyak. Nanti aku muntah lagi." Jawab Yuana dengan suara yang sangat lemah.
"Ok! Aku mengerti. Aku hanya terlalu khawatir. Tidurlah. Aku akan membangunkanmu jika dokter Stevi telah sampai." Erik menimpali.
Beberapa saat kemudian, dokter Stevi telah memasuki mansion mewah keluarga Wiliam. Pelayan yang bertugas segera menyambut dan mengarahkan dokter Stevi menuju kamar tuan mereka.
Pintu yang telah terbuka tidak menghalangi pelayan dan dokter Stevi untuk masuk. Dokter Stevi memamerkan senyum manisnya kemudian menyapa pasangan suami istri itu.
"Selamat siang tuan dan nona Wiliam. Senang bisa bertemu lagi. Apa yang terjadi dengan nona Wiliam?" Tanya dokter Stevi langsung pada inti.
"Gejalanya hanya pusing dan muntah dokter." Erik yang menjawab karena Yuana memejamkan matanya menahan rasa pusing di kepalanya.
Dokter Stevi tersenyum mendengar penjelasan Erik. Ia lalu meminta Erik membaringkan Yuana di tempat tidur.
Erik segera melakukan permintaan dokter Stevi. Ia dengan sangat hati-hati menggendong dan memindahkan Yuana.
Dokter Stevi memeriksa Yuana dengan hati-hati sekali. Erik memberikan isyarat agar jangan mengajak Yuana berbicara, karena sejak tadi, Yuana tidak membuka mata sama sekali.
Setelah selesai, dokter Stevi tersenyum dan menganggukkan kepala kepada Erik kemudian duduk di sofa. Erik membiarkan Yuana tidur, sedangkan ia mengikuti dokter Stevi duduk di sofa.
"Istri saya kenapa dok?" Tanya Erik setelah duduk di samping dokter Stevi.
"Ahmmm, aku bingung harus memulainya dari mana. Tetapi aku berharap tuan dan nona tidak kaget dengan apa yang akan saya katakan." Jawab dokter Stevi.
"Katakan saja dokter. Jika ada penyakit serius pada istri saya, tolong katakan agar saya segera mengambil tindakan. Saya tidak ingin terjadi sesuatu pada istri saya." Balas Erik dengan nada serius. Terlihat kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya.
"Ini sesuatu yang serius, tapi bisakah kita bicara berdua saja di luar? Saya tidak ingin nona muda terganggu. Biarkan ia beristirahat." Ujar dokter Stevi.
__ADS_1
Erik segera bangkit begitu mendengar apa yang dikatakan dokter Stevi. Rasa penasaran untuk mengetahui apa yang terjadi pada Yuana membuatnya tergesa-gesa keluar. Ia sempat menoleh pada Yuana yang masih memejamkan mata.
"Jadi, apa yang terjadi dok?" Tanya Erik tidak sabar.
"Ahmmm, selamat tuan. Istri tuan hamil. Usia kandungannya sudah tiga minggu." Jawab dokter Stevi menjelaskan.
"Hah? Hamil dok?" Tanya Erik tidak percaya sambil mengangakan mulutnya.
"Apa tuan keberatan?" Tanya dokter Stevi dengan mimik sedih.
"Saya tidak keberatan dokter. Saya terlalu senang karena kehamilan istri saya kali ini, saya orang pertama yang tahu dan saya bisa ada di sampingnya jadi bisa lebih memperhatikan istri saya." Erik menjelaskan.
"Terima kasih banyak dokter. Tolong bantuannya agar saya bisa merawat istri saya dengan baik." Lanjut Erik.
"Saya akan memberikan beberapa catatan tentang beberapa jenis makanan dan hal-hal yang harus dilakukan agar pertumbuhan bayi dalam kandungan nona muda sesuai dengan yang diharapkan." Dokter Stevi menjelaskan.
"Baik dokter. Terima kasih atas bantuannya." Jawab Erik.
"Saya akan mengirimkan semuanya melalui whatsapp. Saya harus pulang sekarang karena ada pasien yang sangat membutuhkan saya saat ini."
"Tetapi karena yang menelpon adalah tuan, maka saya memilih untuk ke sini." Ujar dokter Stevi.
"Tidak apa-apa! Tuan sudah saya anggap seperti keluarga saya sendiri. Saya akan pamit sekarang" Dokter Stevi berkata sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak dokter. Mohon bimbingannya." Ujar Erik dengan sungguh-sungguh.
Dokter Stevi lalu turun meninggalkan Erik diantar oleh seorang pelayan. Erik bingung antara harus berkata jujur atau tidak kepada istrinya.
Jika aku mengatakannya, apakah Yuana akan menerima kehamilannya? Aku takut ia masih trauma dengan kehamilan pertama.
Erik memilih untuk masuk melihat keadaan istrinya. Ketika ia melihat bahwa Yuana sudah tidur, Erik kembali keluar dan berjalan menuju tempat aktifitas Garrick untuk melihat keadaan anaknya.
Dari jauh Erik melihat Garrick bermain sendirian. Ia tidak melihat suster Esy. Karena itu, ia mempercepat langkahnya menuju ke arah Garrick.
Ketika Erik sudah dekat, samar-samar ia mendengar suara Esy yang sedang berbicara. Ia memasangkan telinganya untuk mendengar apa saja yang dibicarakan pengasuh anaknya itu.
Harusnya tidak boleh memegang handphone di saat jam kerja. Kenapa ia malah asyik menerima telepon tanpa mempedulikan anakku dan membiarkannya bermain sendirian. Aku harus tahu apa yang dia bicarakan. Erik
__ADS_1
Erik tersenyum ketika sekilas ia mendengar beberapa penggal kalimat. Ia pura-pura tidak mendengar dan berjalan menuju Garrick.
Bayi itu terlalu senang dengan kehadiran dadynya dan berjalan dengan tertatih ke arah Erik kemudian memeluknya.
"Kamu akan memiliki seorang adik. Apakah kamu senang?" Tanya Erik kepada Garrick.
Bayi itu berceloteh menanggapi perkataan dadynya. Ia terus memeluk Erik dan tidak mau melepaskannya. Karena itu Erik segera menggendong Garrick dan menciumnya berulang kali.
"Kesayangan dady. Love you my son." Ujar Erik sambil terus menciumi bayi itu.
Garrick terlihat senang ketika Erik menciuminya. Ia terlihat tertawa-tawa. Esy segera berlari keluar saat mendengar tawa Garrick yang sangat keras.
"Maafkan saya tuan." Kata Esy dengan tangan gemetar ketika ia melihat Erik sedang bersama Garrick.
Erik menatap tajam ke arah Esy tanpa senyum sama sekali. Tatapan Erik yang penuh intimidasi itu membuat Esy salah tingkah.
"Tolong jaga anakku dengan baik. Jangan pernah meninggalkannya lagi." Tegas Erik.
"Kamu boleh istirahat. Aku ingin membawa Garrick ke kamar. Nanti malam, kamu harus bertemu dengan aku di ruang keluarga. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan." Ujar Erik.
"Baik tuan. Terima kasih tuan." Ujar Esy sambil membungkuk memberi hormat kemudian pergi.
Di saat ia berbalik dan pergi, sesuatu jatuh dari saku bajunya yang tidak disadarinya ketika ia berjalan sambil merogoh dan mengambil handphonenya.
"Apa yang kau sembunyikan? Apa kau pikir kau bisa melakukan sesuatu tanpa aku ketahui?" Erik berbicara pada dirinya sendiri kemudian berjalan meraih benda yang terjatuh itu.
Bersambung
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
😍😍😍😍😍