Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
98. Kebenaran


__ADS_3

Kebenaran sering dikaitkan dengan orang-orang yang berbuat baik. Karena hanya orang baik yang sering mewujudkan sebuah kebenaran melalui sikap dan tindakan nyata.


Kita mungkin bertanya :"Kenapa kebenaran tidak diidentikkan dengan orang jahat? Bukankah orang jahat juga terkadang melakukan hal yang benar?" Jawabannya terletak pada identitas diri dan tingkah kita ditengah-tengah komunitas dimana pun kita berada. Eda Sally


*****


"Iya! Ini aku." Kata orang itu sambil melepaskan kunciannya pada tangan Yuana.


Tangan Yuana gemetar dan badannya melemas dengan sendirinya mendengar suara yang sangat familiar itu. Ia merasa sangat takut dan tidak percaya dengan orang yang kini ada di depannya.


"Maafkan saya tuan karena sudah lancang." Kata Yuana.


"Tidak apa-apa. Kamu hanya membela diri. Aku salut dengan keberanianmu. Pantas saja Erik mati-matian mempertahankan dan mengejarmu walaupun kamu sudah disuruh pergi jauh."


"Ahmmm! Terima kasih tuan."


"Kenapa kamu masih saja memanggil tuan? Bukankah aku sudah melarangmu untuk tidak lagi memanggil tuan kepadaku?"


"Iya kak Bram. Terima kasih." Jawab Yuana sedikit kikuk.


"Maafkan aku yang sudah lancang membawamu pergi. Jika aku tidak melakukan itu, tentu saja kamu tidak akan selamat. Karena mereka hanya akan melumpuhkan Erik dan membawanya hidup-hidup, tetapi tidak denganmu. Aku yakin mereka akan melakukan sesuatu yang akan menyusahkanmu." Kata Bram.


Yuana terkejut mendengar penjelasan sekretaris Bram. Ia tidak menyangka ada orang yang tega dan ingin menyulitkan hidupnya. Ia merasa tidak memiliki musuh.


"Siapa yang hendak melakukan kejahatan seperti itu kepada saya kak?" Tanya Yuana penasaran.


"Maafkan aku untuk hal ini. Belum saatnya kamu tahu, dan ini sangat privat. Yang penting saat ini kamu baik-baik saja. Itu sudah membuatku tenang."


"Boleh saya tanya, kak?"


"Boleh saja. Ada apa?"


"Kenapa kakak bisa datang lagi ke sini? Bukankah baru dua minggu lalu kakak datang dan menikahkan kami?"


"Duduklah. Aku akan mengatakan semuanya kepadamu. Aku harap kamu tidak marah dan membenci aku, Erik, atau siapa pun." Kata sekretaris Bram sungguh-sungguh.


"Katakanlah kak. Aku sudah siap mendengar dan menerima kenyataan apa yang kakak dan Erik sembunyikan dariku."


*****

__ADS_1


Flashback


Sekretaris Bram memasuki ruangan sang tuan besar dengan tergesa-gesa. Ia tidak ingin terlambat sedetik pun karena ia sangat mengenal sang tuan besar yang tidak suka dengan orang yang tidak disiplin sama sekali, apalagi yang berhubungan dengan masalah waktu.


Ia terlihat menarik napas lega ketika ia sudah berdiri beberapa detik dan bom hidup itu tidak meledak sama sekali. Itu pertanda bahwa ia lolos dari angkara bom hidup yang bisa meledak kapan saja.


Sektetaris Bram melihat aura hangat di wajah sang tuan, pertanda suasana sedang baik, dan ia sedang berada di posisi aman.


"Apa kamu sudah siap, Bram?


"Sudah tuan."


"Bagus! Ingat! Tidak ada siapapun yang boleh tahu tentang apa yang aku perintahkan saat ini kepadamu. Jangan kecewakan aku dengan tugas yang aku berikan saat ini kepadamu."


"Baik tuan! Saya mengerti."


"Ingat! Kamu sudah satu kali gagal, dan aku tidak akan pernah melupakan kegagalan pertamamu itu. Jadi, jangan gagal untuk yang kedua kalinya. Apa kamu mengerti?" Tanya sang tuan besar tanpa menoleh sama sekali ke arah orang yang sedang berbicara dengannya.


"Saya akan selalu ingat, tuan."


"Bagus! Lakukanlah dengan benar, dan jangan sampai ada kesalahan sedikit pun. Aku sangat mempercayaimu dalam segala hal. Jadi, jangan membuat rasa percayaku padamu hilang."


"Kamu boleh pergi sekarang. Jangan lupa untuk memberi kabar jika kamu menemukan informasi yang penting. Selidiki semua tempat, dan berikan laporan kepadaku jika ada sesuatu yang kamu curigai."


"Baik tuan! Kalau begitu, saya akan pergi sekarang." Kata sekretaris Bram dengan sopan.


"Pergilah! Aku tidak membutuhkanmu lagi." Katanya dengan nada mengusir karena ia sudah tidak membutuhkan orang yang di depannya lagi. Kejam kan?


Sekretaris Bram yang merasa diusir, sangat tahu diri dan segera keluar meninggalkan ruangan yang bermartabat itu. Ia hanya mampir sebentar ke ruangannya dan mengambil tasnya, kemudian mengalungkannya di lengan dan segera memasuki lift khusus.


Stylenya kali ini tidak terlihat seperti seorang sekretaris yang selalu familiar dengan setelan jas. Ia lebih mirip mantan preman yang tidak pernah lupa dengan cara berpakaian yang membuat bulu kuduk orang yang memandangnya merinding.


Sekretaris Bram yang sudah terbiasa menempuh perjalanan berjam-jam, tidak merasa asing dan aneh dengan apa yang akan dialaminya beberapa jam ke depan. Ia bahkan terlihat tenang dengan wajah coolnya dan berjejal dengan penumpang lainnya untuk melakukan chek in.


Matanya yang tajam selalu mengawasi setiap sudut ruangan untuk meyakinkan diri sendiri bahwa tidak ada orang yang ia curigai, apalagi yang mengenalnya dan kemudian membuntutinya.


Perjalanan yang ditempuhnya selama hampir tiga puluh jam tanpa istirahat sama sekali, tidak membuat semangatnya kendor. Ia tetap pada pendiriannya untuk lebih cepat sampai. Karena itu, ketika sudah turun dari kereta api, ia mencari restorat terdekat untuk makan, dan di saat itulah ia bertemu dengan orang-orang yang akan menyerang Erik, dan secara tak sengaja mendengar percakapan mereka.


*****

__ADS_1


Flashback Off


"Jadi, kakak sudah mengikuti mereka sejak dari restorant?" Tanya Yuana.


"Bukan hanya itu saja. Waktu naik kereta, aku merasa curiga dengan sekumpulan pria yang penampilannya tidak biasa. Kami sama-sama menumpang di satu kereta."


"Begitu turun, aku tidak terlalu peduli, tetapi begitu melihat dua orang di restorant dan mendengar percakapan mereka, aku langsung curiga, dan pikiranku tertuju kepada kamu dan Erik."


"Kenapa kakak yakin bahwa mereka akan menyerang kami?"


"Karena aku sudah mendengar informasi sebelum aku datang ke sini. Itulah sebabnya, aku mempercepat kedatanganku untuk menyelamatkan kalian."


"Apakah ini bagian dari rencana tuan besar?" Tanya Yuana.


"Tuan besar tidak akan gegabah dengan menyuruh banyak orang untuk menyerang kalian. Ia selalu menggunakan cara yang halus tetapi mematikan lawannya."


"Artinya pernikahan saya dan Erik sementara tidak aman. Aku takut kak karena kami sudah menikah, dan aku tidak mau kami berpisah lagi."


"Itu yang ingin aku bicarakan denganmu dan Erik sekarang. Tetapi Erik masih di rumah sakit dan kamu tidak mungkin terang-terangan pergi ke rumah sakit, karena itu berbahaya buat keselamatanmu. Jadi untuk sementara, kamu menginap di sini sampai Erik sembuh."


"Tolong jangan sembunyikan sesuatu dariku kak. Aku ingin bertanya, dan aku harap kakak menjawabnya dengan jujur." Kata Yuana dengan suara gemetar.


"Apakah Erik sudah menikah dengan Celine? Karena tidak mungkin tuan besar menyuruh kakak untuk mencari Erik sampai sejauh ini jika belum terjadi sesuatu dengan mereka."


"Pertanyaan itu akan aku jawab jika Erik sudah sembuh. Aku berjanji tidak akan menyembunyikan apapun darimu." Sekretaris Bram menjawab sambil tersenyum dan kemudian berjalan keluar meninggalkan Yuana sendirian.


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.

__ADS_1


😍😍😍😍😍


__ADS_2