Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
72. DatangTepat Waktu


__ADS_3

Ketepatan dalam bertindak adalah langkah pasti yang memberikan dampak positif bagi kita dan orang lain. Seringkali tindakan yang tepat dapat menyelamatkan kita dalam situasi yang tersulit sekalipun.


Kita harus percaya dengan setiap langkah yang kita ambil, karena keragu-raguan akan membuat langkah kita semakin lamban sehingga kita bisa saja kehilangan kesempatan untuk melakukan sesuatu yang bisa menolong orang lain. Eda Sally


*****


Setelah mengatakan "dermaga", Habib dan Erik langsung berlari sekuat tenaga menembus kegelapan malam agar bisa cepat sampai ke tempat itu.


Pikiran Erik mulai kacau dan sudah mulai pesimis. Ia sudah mulai membayangkan hal-hal yang membuatnya semakin gelisah.


"Kenapa dari tadi kita sama sekali tidak memikirkan dermaga ya?" Kata Erik sambil terus berlari.


"Saya juga tidak sempat memikirkan hal itu, tuan muda? Saya sungguh menyesal." Kata Habib menyesali diri.


"Tidak-apa-apa, Habib. Semoga kita belum terlambat. Saya takut terjadi sesuatu dengan Yuana. Jika itu sampai terjadi, saya tidak akan memaafkan diri saya sendiri."


"Jangan katakan seperti itu, tuan muda. Saya juga tidak mau dan tidak rela manusia tidak tahu diri itu melakukan sesuatu hal yang buruk pada adikku."


"Apa? Adikmu?"


"Maaf, tuan muda. Sejak nona Yuana ada di sini, saya sudah menganggapnya seperti adik saya sendiri dan sangat menyayanginya serta sering memanggil adik padanya."


"Oh! Syukurlah. Terima kasih sudah menyayanginya selama saya tidak ada."


"Sama-sama. Tentu saja tuan. Setiap orang yang bertemu dengan nona Yuana pasti langsung menyukainya, karena sikap nona sangat manis dan lembut."


"Termasuk dokter sampah itu?"


Habib sudah tidak menjawab lagi. Ia sudah sangat marah ketika membayangkan apa yang dilakukan dokter Kim kepada mereka, terlebih kepada Yuana dengan menculiknya secara licik.


Tak lama kemudian, mereka telah sampai di dermaga. Mereka celingukan mencari ke sana kemari di gelap malam yang hanya diterangi oleh lampu-lampu dermaga yang menyorot keseluruhan tempat itu. Mata mereka nampak liar menyisiri setiap sudut tempat itu.


"Kita harus cari kemana lagi, Habib?" Erik sudah merengek seperti anak kecil karena putus asa dan frustasi.


"Sebentar tuan. Saya sedang memikirkan caranya." Habib mencoba menenangkan Erik.


"Saya sudah jauh-jauh sampai ke sini hanya untuk bertemu dengannya. Jika sampai harus kehilangan ketika sudah bertemu dengannya, saya lebih baik mati saja."


Erik sudah putus asa dan dan sudah tidak memiliki harapan lagi. Ia bingung harus melakukan apa lagi. Habib memejamkan mata pertanda sedang memikirkan cara apa lagi yang harus mereka lakukan untuk menemukan Yuana.

__ADS_1


Saat membuka mata, mata tajamnya yang seperti elang menangkap sesosok pria yang menggendong seorang wanita dan menuju ke speed boat yang terlihat sudah siap. Kakinya sudah menuruni tangga ke arah speedboat itu. Habib kaget dengan apa yang dilihatnya.


"Tuan muda!"


Hanya itu yang bisa Habib katakan sambil tangan kanannya menarik Erik untuk berlari, sedangkan tangan kirinya menunjuk apa yang dilihatnya. Erik melihat ke arah yang ditunjuk oleh Habib. Ia sendiri juga kaget dengan apa yang dilihatnya.


"Berani sekali dia mau membawa pergi wanitaku dengan cara yang licik." Erik sudah merasa sangat geram dan mulai mengepalkan kedua tangannya.


"Cepat tuan muda sebelum dia membawa nona pergi."


Keduanya berlari dengan sekuat tenaga. Mereka sampai tepat pada saat dokter Kim membaringkan tubuh Yuana yang masih pingsan dan segera beralih untuk menghidupkan speed boat.


Tanpa pikir panjang lagi, Habib dan Erik tidak menuruni tangga seperti yang dilakukan oleh dokter Kim. Keduanya langsung dengan kompaknya melompat dari atas ke dalam speed boat.


Dokter Kim kaget karena sedang serius untuk menghidupkan speed boat sehingga tidak sadar ketika kedua orang itu melompat. Wajahnya pucat pasi ketika mengetahui siapa dua orang yang sudah melompat masuk ke dalam speed boat yang otomatis membuat speed boat oleng ke sana kemari.


Erik langsung menghajar dokter Kim tepat pada saat speed boat terbalik dengan mereka.


"Selamatkan nona muda dan bawa ke rumah sakit, tuan! Manusia licik ini biar aku yang mengurusnya." Teriak Habib pada Erik saat sudah menguasai diri di dalam air dan sudah menangkap tubuh dokter Kim dan langsung menghajarnya.


Erik walaupun sangat marah dan ingin menghajar dokter Kim, namun ia lebih memikirkan keselamatan Yuana. Tanpa diperintah dua kali, ia langsung berenang dan membawa Yuana ke pinggir, kemudian mengendong Yuana dan menaiki tangga.


"Ada yang bisa saya bantu, tuan?"


"Tolong bawa saya dan nona ini ke rumah sakit secepatnya. Ia harus diselamatkan."


"Naiklah."


Hanya kata itu yang dikatakan petugas. Selanjutnya ia melarikan motornya dengan kecepatan tinggi. Hanya butuh lima menit, mereka sudah sampai di rumah sakit.


"Terima kasih."


Erik langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit. Para perawat dan suster yang melihat keadaan Erik, segera berdiri dan dengan gesit hendak memberikan pertolongan pada Yuana.


"Nona Yuana?" Kata Reta kaget melihat siapa yang ada di gendongan Erik.


"Tuan diharapkan keluar sebentar. Kami akan mengganti baju nona dulu karena basah, dan setelah itu langsung memberikan pertolongan."


"Tidak ada pria yang boleh melihat tubuh wanitaku. Dan hanya satu perawat yang diperbolehkan mengganti dan melihatnya."

__ADS_1


"Kami mengerti tuan." Kata perawat Olive sambil tersenyum ke arah Erik


Erik segera keluar, namun matanya terus melihat ke dalam, apakah proses mengganti baju sudah selesai atau belum.


Tolong selamatkan dia, ya Tuhan. Aku mohon. Jangan pisahkan kami lagi.


"Tuan sudah boleh melihat nona sekarang. Nona sudah di dalam kamar perawatan." Suster Reta berkata dengan sangat sopan kepada Erik, mengingat ucapan Habib yang menyebut pria tampan di depannya dengan gelar tuan muda.


"Terima kasih banyak suster."


Erik langsung bangun dan berlari menuju ke dalam ruangan dimana Yuana dirawat, setelah ditunjukkan oleh suster Reta.


Setelah sampai, Erik menarik kursi dan duduk di tepi tempat tidur. Ia langsung mengambil tangan Yuana yang tidak terinfus dan mengecupnya kemudian menaruhnya di pipinya sambil memejamkan mata.


Perawat Olive dan keempat temannya yang melihat hal itu saling pandang dan kemudian saling mencubit karena gemas dengan sikap romantis Erik. Mereka lebih memilih ke depan untuk agar tidak mengganggu, dan juga karena hati mereka tidak tahan melihat pemandangan mesra di depan mereka.


"Ya ampun. Sudah tampan, romantis lagi. Jiwa jombloku meronta-ronta melihat kelakuannya pada kekasihnya." Kata suster Melly sambil menaruh tangan di dada sambil memejamkan mata.


Suster Reta segera mencubit suster Melly dengan sangat kuat untuk menyadarkannya.


"Jangan terlalu banyak mengkhayal, biar tidak halu."


"Sakit! Siapa yang sedang halu? Dadaku hanya terbakar melihat perilaku romantis pria tampan itu."


Mereka semua tertawa mendengar apa yang dikatakan suster Melly yang tidak merasa bersalah sedikit pun.


Bersambung.


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.

__ADS_1


😍😍😍😍😍


__ADS_2