
Ketika pikiran orang tertuju kepada kita, maka hal pertama yang muncul dalam pikiran mereka adalah sesuatu yang baik atau buruk. Sehebat apapun kita, orang tidak akan menceritakan kehebatan kita, tetapi kesan yang kita berikanlah yang akan selalu mereka ingat. Karena itu, berikanlah kesan yang baik agar kita selalu dikenang karena kebaikan yang kita lakukan. Eda Sally
*****
"Dari mana kamu tahu Esy memakai wig?" Tanya Yuana penasaran.
"Aku memeriksa data pribadinya dan berhasil masuk ke dalam beberapa akunnya. Yang kedua, aku lebih yakin lagi waktu kami bertubrukan saat kamu sedang pusing dan aku hendak ke ruang kerja."
"Apa kamu menyentuh rambutnya?"Tanya Yuana penuh selidik karena rasa cemburu yang sudah menjalar dalam hatinya.
"Tidak. Tetapi ada sehelai rambut yang menempel di bajuku dan aku memeriksanya, dan yakinlah aku bahwa ia memakai wig." Jawab Erik.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Yuana khawatir.
"Setelah selesai makan malam, kamu temani aku untuk bertemu dengannya dan menyampaikan keinginan kita untuk memberhentikannya sebagai pengasuh Garrick." Jawab Erik.
Yuana hanya mengangguk mendengar perkataan Erik. Baginya tidak ada yang lebih baik daripada percaya dan serahkan semua kepada sang suami.
Setelah selesai makan malam, Erik dan Yuana memanggil Esy dan berbicara dengannya.
"Esy, kami hanya perlu menginformasikan bahwa pekerjaanmu sebagai pengasuh Garrick akan berakhir dua minggu lagi."
"Kami sangat senang dan berterima kasih karena kamu sudah merawat Garrick dengan sangat baik. Tetapi menurut pengamatan kami, sudah saatnya Garrick belajar mandiri, dan karena itu ia lebih baik tanpa pengasuh." Erik menjelaskan dengan wajah datar. Sementara Yuana memilih diam menahan kekesalan hatinya.
"Hah? Saya dipecat tuan? Apa salah saya?" Protes Esy.
"Oh, bukan dipecat. Lebih tepatnya diberhentikan dengan hormat, karena sudah saatnya anak kami belajar mandiri. Aku juga sudah menelpon ke perusahaanmu, dan mereka tidak keberatan." Erik menjelaskan.
"Tetapi saya sudah nyaman bekerja di sini, tuan!" Jawab Esy dengan suara lemah.
Lebih tepatnya saya nyaman di sini karena tiap hari bisa melihat wajah tampanmu. Kenapa saya tidak buru-buru menjalankan rencana nona Celine, karena saya sudah terlanjur menyukaimu tuan. Karena itu saya ingin tetap berada di sini sampai saya bisa memilikimu. Esy.
"Berhentilah membicarakan rasa nyaman. Ini keputusan kami, dan demi kebaikan anak kami. Kami tidak ingin putra kami menjadi orang yang manja." Jawab Yuana menahan kesal.
"Baiklah! Mohon maaf nona. Saya akan bekerja dengan lebih giat lagi untuk dua minggu ini. Mohon maaf jika ada kesalahan saya terhadap tuan dan nona." Ujar Esy dengan mata yang melirik ke arah Erik.
Erik menahan emosi melihat lirikan Esy yang penuh keinginan itu. Erik dan Yuana segera meninggalkan Esy setelah selesai berbicara.
Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus menelpon bos untuk meminta jalan. Aku akan memanfaatkan akal licik bos untuk memiliki pria tampan ini. Esy.
*****
Erik membawa Garrick dan mengantarkannya pada Esy. Untuk kali ini, ia tersenyum saat Esy menatapnya.
__ADS_1
"Tolong bermain dengam Garrick. Aku dan istriku tidak bisa menemani Garrick karena istriku sedang pusing." Ujar Erik sambil menyerahkan Garrick yang terlihat tertawa-tawa melihat Esy.
"Baik, tuan!" Jawab Esy dengan senyum manisnya.
Erik berjalan meninggalkan Esy yang masih menatap punggungnya dengan penuh kagum. Sementara yang ditatap tersenyum licik sambil berjalan.
Esy membawa Garrick jalan-jalan di taman samping rumah sambil berjemur matahari pagi. Itu rutinitas yang diperintahkan Yuana agar Garrick tetap mendapat asupan vitamin D.
Tiba-tiba handphonenya bergetar.
"Selamat pagi bos. Ada apa?" Tanya Esy.
"Cepat bunuh bayi itu" Jawab si penelpon.
"Bagaimana caranya?" Tanya Esy bingung.
"Pakai otak. Kamu benar-benar tidak berguna. Sudah berapa bulan kamu bekerja di situ dan kamu tidak melakukan apapun?"
"Maaf bos, tetapi semua area dipasangi cctv, jadi saya kesulitan untuk bergerak." Jawab Esy
"Jika kamu tidak melakukannya hari ini juga, aku akan menyuruh orangku untuk membunuhmu."
Tut tut tut.
Setelah berada di dekat kolam, Esy segera menurunkan Garrick dari stroller dan membiarkan bayi itu jalan-jalan sendiri.
"Apa kamu ingin bermain air baby?" Ujar Esy pada Garrick.
Garrick yang diajak bicara seperti itu hanya berceloteh tanpa henti seolah paham dengan apa yang dikatakan Esy.
"Kamu tahu aku sangat menyukai dadymu. Aku ingin kamu berenang di kolam itu selama-lamanya dan aku akan segera pergi." Ujar Esy sambil menarik bayi itu berjalan ke sisi kolam.
Garrick yang melihat air, terlalu senang, namun ia belum bergerak untuk masuk. Karena sudah biasa berenang seminggu sekali sehingga ia tidak asing lagi ketika melihat air.
"Saatnya beraksi. Selamat bersenang-senang baby." Kata Esy sambil melihat kiri kanan kemudian berlari sekuat tenaga menuju pintu gerbang.
Pintu yang terbuka karena masuknya sebuah mobil memudahkan Esy untuk berlari keluar. Sementara si pengendara turun dengan tergesa-gesa ketika melihat pengasuh Garrick berlari dengan tergesa-gesa.
"Ada apa? Kenapa pengasuh Garrick berlari seperti dikejar?" Tanya Gail yang barusan turun dari mobil.
"Saya tidak mengerti tuan." Jawab security dengan bingung.
Gail segera berlari mengejar Esy, namun baru beberapa langkah ia kembali.
__ADS_1
"Pak, cepat kejar perempuan itu. Jangan biarkan ia lolos. Cepat pak." Perintah Gail kepada security.
"Ia berlari ke arah mana pak?" Tanya security.
Setelah Gail menunjukkan arah larinya Esy, security itu langsung meraih sepeda motor dan langsung pergi.
Gail berlari dengan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah utama tanpa mempedulikan beberapa pelayan yang menatapnya dengan bingung.
Mereka sudah tidak asing dengan kehadiran Gail. Karena itu mereka terus bekerja walaupun merasa aneh melihat Gail berlari dengan panik seperti itu.
Tanpa mempedulikan sopan santun lagi, Gail memencet bel kamar Erik dan Yuana berulang kali sambil terus menggedor pintu.
"Kenapa lama sekali? Cepat keluar! Jika terjadi apa-apa dengan anakku aku akan membunuh ka..." Kalimat Gail terhenti karena pintu terbuka.
"Siapa yang mau kamu bunuh, hah?" Tanya Erik dengan emosi melihat wajah Gail yang nongol.
"Hei! Aku tidak ingin berdebat. Dimana anakku?" Tanya Gail.
"Sedang bersama pengasuhnya. Apa kau sudah jatuh cinta dengan Esy?" Goda Erik.
"Hah? Anakku sedang dalam bahaya. Terakhir mereka bermain dimana?" Tanya Gail sambil mencengkram kerah baju Erik.
"Di taman samping rumah." Jawab Erik.
Tanpa mempedulikan Erik yang tidak paham dengan maksudnya, Gail berlari sekuat tenaga menuju taman samping rumah. Erik yang tidak mengerti dan penasaran, turut berlari menyusul Gail.
Gail memelototkan matanya ketika dari jauh dan menatap ke sisi kolam.
"Tidak......!" Teriak Gail dengan sangat kencang.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
__ADS_1
😍😍😍😍😍