
Ada saat dimana hidup seolah tak memberikan pilihan, tetapi memaksa kita untuk menerima takdir dan mengikuti alurnya. Kita mungkin akan berpikir bahwa itu adalah akhir dari segalanya. Namun, satu hal yang pasti kita harus ingat bahwa jalan masih terlalu panjang untuk di lalui, dan hidup itu seperti jalan yang tak pernah ada ujungnya. Eda Sally
*****
Yuana menerima kotak itu dengan tangan gemetar. Ia tidak sanggup membayangkan apa isi kotak yang diterimanya. Sementara sang pemberi kotak tersenyum licik dengan penuh kemenangan.
Karena tangannya gemetar, Yuana memilih meletakkan kotak itu di sampingnya. Ia takut kotak itu akan terjatuh akibat tangannya yang gemetar, dan kemudian akan menimbulkan murka yang lebih besar dari sang tuan yang ada di hadapannya yang duduk dengan angkuh seolah tak memiliki salah dan dosa terhadap siapapun. Karena dengan kuasanya, ia bisa mengangkat atau memberhentikan siapapun dari jabatannya, dimana dan kapan pun jika ia menghendaki.
"Sekarang kau boleh pergi. Jangan coba-coba mengatakan apapun tentang pembicaraan kita kepada siapapun terutama Erik. Karena saat kau mengatakannya, maka konsekuensi dari apa yang telah aku katakan akan diterima oleh kakakmu dan ibumu."
Yuana tetap terdiam karena tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Ia tidak percaya dengan kenyataan yang dihadapinya sekarang. Bahkan untuk menelan sliva pun itu terasa mencekat di kerongkongannya.
"Kau sudah boleh pergi."
Andre Wiliam mengulangi kalimat perintahnya untuk menyuruh Yuana pergi karena sudah sepuluh menit berlalu dan Yuana sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Dan dengan entengnya, sang tuan memberi perintah kepadanya untuk pergi dengan nada mengusir yang menyesakkan dada.
"Ba...baik tuan. Permisi."
Yuana menjawab dengan masih diselimuti rasa gugup. Ia kemudian menaruh kotak yang sebesar buku tulis itu ke dalam tasnya.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Yuana langsung keluar dengan menahan airmatanya. Ia tidak ingin menangis di depan para pelayan keluarga Erik. Ia juga tidak ingin harga dirinya terinjak jika harus memelas dengan mengatasnamakan cinta. Baginya harga dirinya terlalu tinggi untuk melakukan itu, dan demi cinta ia akan melakukannya meski akan berujung sakit.
Setelah sampai tempat dimana Fadly menunggu, Yuana segera naik ke mobil karena Fadly sudah membukakan pintu. Yuana duduk dengan menundukkan kepala dan memejamkan mata untuk mencegah airmatanya yang mendesak untuk keluar sejak tadi.
"Mau diantar kemana non?"
"Langsung ke apartemen saja. Kalau sudah sampai tolong bangunkan aku."
Yuana berkata demikian untuk menghindari obrolan dengan Fadly dan agar jangan sampai menangis di hadapan Fadly.
__ADS_1
Fadly yang mengemudikan mobil, merasakam gelagat yang aneh dari sikap Yuana. Namun ia berusaha untuk tetap berpikir positif.
Ah! Mungkin saja nona Yuana benar-benar kelelahan. Aku tidak boleh mengganggu. Aku akan menjalankan mobil dengan santai sehingga nona bisa istirahat diatas mobil.
Fadly yang menyangka bahwa Yuana kelelahan, segera menjalankan mobilnya dengan perlahan dan santai. Waktu tempuh yang harusnya dua puluh menit, berubah menjadi tiga puluh menit.
Setelah sampai, Fadly tidak membangunkan Yuana. Ia menyangka bahwa Yuana benar-benar tidur dan karena itu ia memilih mematikan mesin mobil tanpa membangunkan Yuana.
Yuana yang tidak tidur kaget karena Fadly mematikan mesin mobil dan dengan reflek ia membuka matanya. Fadly yang menatap Yuana dari kaca, melihat bahwa Yuana sudah bangun.
"Maafkan aku karena tidak membangunkan nona. Aku pikir nona tertidur, jadi aku mematikan mesin mobil agar nona bisa istirahat."
"Tidak apa-apa Fad. Aku juga tidak bisa tidur."
"Ada yang perlu bantu aku untuk mengantar nona masuk ke dalam?"
"Tidak usah Fad. Aku bisa sendiri. Terima kasih."
Yuana hanya tersenyum dan mengangguk mendengar apa yang dikatakan Fadly, kemudian langsung masuk ke dalam. Ia tidak sanggup lagi untuk berbicara. Ia ingin segera masuk ke kamar dan tidur untuk melepaskan semua beban yang baru saja dipikulkan sang tuan kepadanya.
Ketika sudah sampai di dalam, Yuana tidak ke kamarnya karena rasanya kakinya tidak kuat lagi untuk digerakkan. Yuana langsung menjatuhkan dirinya diatas sofa yang ada di ruang tamu.
Dan di saat yang bersamaan, airmatanya yang membentuk anak sungai, segera merembes keluar seperti banjir yang mencari celah untuk lewat. Ia menangis tanpa suara dan dengan kuat menekan rasa sakit yang seperti menusuk-nusuk di dadanya membayangkan semua penghinaan yang diterimanya tadi.
Masih tergiang dengan jelas kalimat-kalimat kasar bernada merendahkan yang ditujukan kepadanya. Perkataan sang tuan seolah tidak pernah menerima sedikit pun kebaikan dari Yuana yang selalu setia berada di belakangnya yang sudah bekerja setahun lebih padanya.
Begitukah cara para pembesar membalas kebaikan orang? Apakah mereka sebegitu egoisnya sehingga tidak sedikit pun melihat sisi baik dari orang lain? Apakah hanya orang yang berstatus sosial tinggi yang boleh jatuh cinta? Jika demikian lalu kenapa yang lahir dalam kesahajaan harus terlahir dari rasa cinta? Apa yang salah dengan cinta seorang wanita yang bersahaja?
Pertanyaan-pertanyaan ini mengusik pikiran Yuana di dalam tangisnya yang belum mereda. Tiba-tiba pikirannya kembali melayang mengingat kotak yang ada di dalam tas.
__ADS_1
Yuana pun bangkit, mencoba menguatkan hatinya dan mengamati kotak yang ada di tasnya. Ia kemudian perlahan mengeluarkan kotak tersebut dan belum berani membukanya. Untuk sesaat ia masih menarik napasnya sebelum membuka kotak tersebut.
Setelah merasa bahwa ia sudah dapat menguasai hatinya, Yuana perlahan membuka kotak tersebut. Namun matanya tidak mau bekerja sama dan seolah takut untuk melihat apa isi dari kotak tersebut.
Matanya terpejam secara reflek seolah memberikan kesempatan pada Yuana untuk mengumpulkan kekuatan dalam tubuhnya dan kesiapan hatinya untuk bisa menerima kejutan dan kenyataan dari apa yang akan dilihatnya nanti dan yang harus dijalaninya.
Setelah hatinya benar-benar siap, Yuana menurunkan matanya untuk melihat isi kotak tersebut. Ia bingung melihat isinya yang berisi banyak surat yang ia sendiri tidak mengerti karena ia belum membacanya.
Yuana menumpahkan semua surat-surat yang ada dalam kotak tersebut ke atas sofa, dan matanya serta otak encernya bekerja sama untuk memahami apa yang diberikan sang tuan dan apa maksudnya.
Yuana memeriksa satu persatu, namun karena panik dan gugup ia tidak detail dalam melihat. Ia hanya melihat sampul dari surat-surat tersebut, dan kemudian matanya tertuju pada sebuah kertas panjang yang dilipat. Ia memilih membaca tulisan itu karena mungkin informasi yang ia inginkan ada di situ.
Yuana mulai membaca dan badannya mulai merinding dengan setiap kalimat, dan tangannya langsung melemah dan kertas yang ada di tangannya terlepas ketika ia membaca tulisan "Edinburgh, Tristan da Cunha."
Sebagai seorang yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata, ia tahu seperti apa nama tempat diatas
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya guys? Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
__ADS_1
Tekan like dan hati yang ada di akhir bab, terutama tanda hati di setiap akhir bab agar teman-teman mendapatkan notifikasi jika saya update. Saya update setiap hari, kecuali ada kerja di dunia nyata yang sangat mendesak. Terima kasih atas semua dukungan readers tercintaπππππ