
Berlalunya waktu dapat membuat segala sesuatu berubah, karena perubahan itu terjadi setiap hari. Jangan pernah melawan arus perubahan, karena jika tidak, engkau sendiri yang akan terseret oleh perubahan itu sendiri. Eda Sally
*****
Pagi harinya, Bram dan Nita disambut oleh semua keluarga dengan berbagai gurauan dan ejekan, terutama oleh Erik.
"Kakak terlalu semangat untuk melakukan ritual pengantin baru hingga tidak mempedulikan kami semua yang menguping di pintu."
"Siapa juga yang menyuruh kalian untuk menguping aktifitas rahasia orang?" Bram balik bertanya dengan ketus.
Semua yang mendengar hanya tertawa. Sementara Nita terlihat malu dan menyembunyikan wajahnya di punggung sekretaris Bram.
Sekretaris Bram hanya tersenyum menanggapi kelakuan Nita yang masih malu-malu itu.
*****
Pernikahan sekretaris Bram dan Nita sudah berlangsung sejak satu bulan yang lalu.
Kini, Andre Wiliam sedang mempersiapkan sebuah acara yang besar tanpa se-pengetahuan Erik, dan hanya diketahui oleh sekretaris Bram.
Yuana dan Erik yang tidak tahu tentang apa yang dilakukan oleh pria yang sangat mereka hormati itu, bingung melihat gelagat aneh sang ayah, dimana ia terlihat bolak balik dan berulang kali keluar bersama sekretaris Bram.
Erik merasa aneh karena ia tidak dilibatkan sama sekali. Entah apa yang diurus kedua orang itu.
Tepat pukul 15.00, sekretaris Bram mendekati Yuana dan Erik yang sementara menemani Garrick bermain di taman.
"Papa mengundangmu bersama Yuana untuk hadir dalam acara keluarga di hotel X tepat pukul 18.00." Ujar sekretaris Bram.
"Hah? Kenapa mendadak sekali? Aku dan Yuana belum memilih busana yang sesuai." Ujar Erik beralasan.
"Soal busana sudah aku siapkan dan sudah diantar pelayan ke kamar kalian! Kalian hanya perlu hadir saja."
"Jangan sampai terlambat, karena aku tidak bisa menjemput kalian." Jawab sekretaris Bram.
"Ok! Tidak perlu menjemput kami. Apa kau ingin menjadi obat nyamuk diantara kami?" Ujar Erik menggoda Bram.
"Aku rasa aku tidak akan menjadi obat nyamuk lagi, karena sudah ada Nita, jadi aku tidak akan baper lagi melihat kalian." Bram meladeni gurauan Erik.
"Hahahahaa kakakku sudah merasakan bagaimana indahnya menikah."
"Aku ingin tahu, apakah kakak sudah melakukan apa yang aku bilang?" Tanya Erik penasaran.
"Oh, kalau itu jangan ditanya lagi, karena sepertinya sudah ada hasil." Jawab Bram dengan yakin.
"Aku tunggu hasilnya, agar Garrick dan kedua adiknya ada teman bermain." Goda Erik.
"Aku menunggu kalian di hotel tepat pukul 17.30."
"Aku juga sudah menelpon tukang rias untuk merias Yuana. Katanya sepuluh menit lagi sampai." Ujar sekretaris Bram sambil melangkah pergi meninggalkan mereka.
"Ayo masuk! Sebentar lagi kau akan dirias." Ajak Erik pada Yuana.
Benar saja dugaan Erik, karena begitu mereka memasuki rumah utama, terlihat tukang rias langganan mereka tiba.
Mereka beriringan masuk ke dalam. Yuana segera mandi dan kemudian dirias. Alika yang paham segera mengambil alih Garrick.
Yuana yang bentuk tubuhnya telah kembali seperti semula, terlihat sangat cantik dengan gaun pilihan sekretaris Bram yang diambil dari butik mereka.
Erik tidak henti-hentinya menatap sang istri. Bagi Erik, kecantikan istrinya semakin bertambah setiap hari. Karena itu, ia tidak pernah bosan memandang wajah sang istri.
"Aku tidak pernah salah memilih. Andaikan waktu itu aku tidak pernah bertemu denganmu, itu mungkin akan menjadi penyesalan terbesarku." Ujar Erik sambil memeluk Yuana dari belakang dan mengecup pundak Yuana yang terbuka karena model gaun itu.
"Hentikan perbuatanmu itu. Kita bisa terlambat." Tegur Yuana pada Erik, karena ia tahu, jika sudah seperti itu, terkadang suaminya meminta lebih.
__ADS_1
"Jangan khawatir. Aku tidak akan melakukannya sekarang."
"Nanti malam saja, agar aku juga jangan terburu-buru untuk menghentikan aktifitasku, sementara aku masih ingin." Goda Erik pada Yuana.
Yuana hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan Erik. Erik dengan lembut memegang tangan Yuana dan menuntunnya keluar.
Tepat pukul 17.30, mereka sudah tiba di tempat berlangsungnya acara. Erik dan Yuana kaget melihat dekorasi mewah dan para undangan yang notabene adalah rekan bisnis papanya.
Tak lama kemudian, terlihat MC sudah tampil di depan dan memandu acara.
Semua keluarga Wiliam duduk satu area dengan beberapa undangan khusus di area VIP.
MC mempersilahkan Andre Wiliam untuk maju ke depan.
"Hari ini, selain mengadakan acara syukuran atas berdirinya Angkasa Grup yang sudah melegenda, kami juga mau mengadakan syukuran atas pernikahan kedua putra kami."
"Mungkin pada waktu lalu, kami tidak mengadakan acara semewah ini, karena berbagai pertimbangan dan alasan."
"Karena itu, di hari yang berbahagia ini, saya mewakili keluarga Wiliam, mengucapkan selamat datang di keluarga Wiliam, untuk kedua menantu kami."
"Selain itu juga, karena acara pernikahan putra saya, Erik Wiliam yang tidak sempat dirayakan karena satu dan lain hal, maka kami baru bisa merayakannya malam ini juga."
Yuana dan Erik kaget. Ternyata orang tua itu diam-diam melakukan sesuatu untuk mereka.
"Kami tidak hanya mengadakan resepsi pernikahan, tetapi juga ada hal lain yang ingin saya sampaikan kepada Bapak/Ibu sekalian.
"Bahwa saya, Andre Wiliam, pada hari ini, secara sadar dan penuh ketulusan, mengangkat putra saya, Erik Wiliam, sebagai CEO Utama Angkasa Grup, untuk menggantikan posisi saya."
"Saya merasa bahwa sudah waktunya saya memberikan kesempatan kepada putra saya, untuk melanjutkan apa yang memang menjadi haknya."
"Karena itu, saya mengundang putra saya, Erik Wiliam, untuk maju ke depan." Ujar Andre Wiliam sambil tersenyum lembut ke arah Yuana dan Erik yang masih bengong.
Erik dan Yuana saling berpandangan dan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar dengan telinga mereka.
"Saya juga menginformasikan bahwa menantu saya, Yuana Samantha Wiliam, akan kembali menjadi asisten sekretaris agar semua pekerjaan dapat berjalan dengan baik."
"Karena CEO Utama dan asisten Sekretari sudah ada si samping saya, maka saya memberikan kesempatan kepada mereka untuk berbicara."
Erik melirik Yuana sebentar, kemudian maju ke depan mikrophon.
"Saat saya berdiri di sini, saya sadar bahwa suatu saat saya harus mengemban tanggung jawab ini."
"Terus terang saya masih ingin menikmati kebebasan, tetapi saya sadar bahwa saya juga tidak bisa melawan takdir sebagai putra pewaris Angkasa Grup."
"Karena itu, mohon dukungan dan kerjasama yang baik, agar Angkasa Grup semakin maju."
"Dengan penuh kesadaran, saya memberikan penghormatan khusus kepada ayah saya, Andre Wiliam, yang telah menjadi pemimpin yang sangat luar biasa dan dibanggakan."
"Saya tidak akan mengubah apa yang telah dikembangkan ayah. Saya akan mendukung hal-hal itu, agar perkembangan Angkasa Grup semakin baik."
"Jika seorang Andre Wiliam terkenal karena wajah angkernya, maka saya juga akan terkenal dengan hal yang sama."
"Saya hanya bisa tersenyum jika memandang wajah istri saya." Ujar Erik mengakhiri sambutannya, dan mempersilakan Yuana untuk berbicara.
"Terpilih sebagai seorang asisten sekretaris bukan hal yang mudah."
"Saya pernah mendampingi sekretaris Bram selama satu tahu lebih, dan saya tahu persis lelahnya seperti apa."
"Tetapi karena yang menjadi CEO Utama adalah suami saya sendiri, maka saya percaya bahwa semua pasti berjalan dengan baik."
"Terima kasih, ayah atas kesempatan yang ayah berikan bagi kami."
"Kami tentunya sangat mengharapkan dukungan dari Bapak/Ibu sekalian. Terima kasih."
__ADS_1
Yuana mengakhiri sambutannya dan mundur dari depan mic.
Acara demi acara berlangsung, dan mereka semua memberikan selamat kepada Erik dan Yuana.
"Kenapa kak Bram tidak memberitahuku tentang rencana ini?" Protes Erik.
"Apa kau ingin membangkitkan amarah papamu?"
"Papa sendiri yang melarang agar merahasiakan hal ini darimu." Jawab Bram. Erik hanya menarik napas mendengar penjelasan kakaknya.
Mereka terlihat bergurau dengan penuh kebahagiaan. Jessy Larina terlihat mengucap syukur berulang kali.
Sementara Gail dan Yosua terlihat memilih meja sendiri, karena mereka datang dengan pasangannya masing-masing."
Hari ini, aku sungguh melihat bahwa tidak ada yang sia-sia dari sebuah kesabaran. Dulu aku berpikir bahwa aku tidak akan ada di posisi ini. Tetapi hari ini, aku melihat dengan mataku sendiri, tentang apa yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidupku. Yuana.
"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya Erik ketika melihat airmata Yuana menetes.
"Aku hanya terharu." Jawab Yuana singkat.
Nita yang masih bergelayut manja di lengan Bram, segera berjalan menuju Yuana dan memeluknya.
Begitu melepaskan pelukannya, ia nampak menutup mulut dengan kedua tangannya, dan wajahnya terlihat pucat.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Yuana dengan khawatir.
Nita hanya menggelengkan kepala dan segera berlari diikuti oleh Bram. Ternyata ia memuntahkan semua makanan yang baru saja di makannya.
"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Bram dengan khawatir.
"Sepertinya aku hamil. Aku sudah mengeceknya kemarin." Jawab Nita jujur.
Tanpa komando, Bram langsung menggendong Nita dan membawanya ke ruangan privat tempat keluarga mereka sedang menikmati makan bersama.
"Istriku hamil." Teriak Bram begitu sampai.
Mereka semua berdiri dengan mulut terbuka mendengar apa yang baru saja dikatakan Bram.
"Terima kasih, Tuhan!" Hanya itu yang terdengar dari mulut Andre Wiliam dan Jessy Larina.
Sementara Erik memeluk tubuh Yuana dengan erat sambil berbisik.
"Sampai bumi berhenti berputar, aku hanya akan mencintaimu, karena di dalam setiap desahan napasku hanya ada namamu." Ujarnya dengan kecupan bertubi-tubi di wajah Yuana.
Di kehidupan selanjutnya, mereka sangat bahagia, karena tidak ada apapun lagi yang menghalangi mereka di dalam hubungan dan cinta mereka.
Jika engkau ingin merasakan betapa pentingnya meniti sebuah tangga, maka engkau harus memulainya dari tangga pertama. Semakin engkau meniti, semakin engkau tahu, betapa lelahnya sebuah perjuangan untuk mencapai tangga akhir. Dan hal yang paling menakjubkan adalah ketika engkau mencapai puncak, dan engkau segera melupakan lelahmu. Eda Sally
T A M A T
.
.
Terima kasih buat pembaca setia saya dan kakak-kakak Author, yang telah dengan sabar mengikuti cerita ini dari awal hingga tamat. Saya sadar bahwa banyak keterbatasan di dalam penulisan Novel ini.
Mohon agar semua pembaca meninggalkan komentar berupa kritik dan saran, agar saya lebih berefleksi lagi untuk karya-karya saya ke depan.
Diharapkan kesediaannya untuk mampir di karya saya yang satunya dan tetap dukung saya di sana.
Mohon dukungannya untuk karya saya yang ini juga ya. Terima kasih.
__ADS_1
Yang ingin berteman, bisa add saya di IG dan FB. Nama akun saya masih sama "Eda Sally"
Love You allπππππ