
Kebenaran akan terbukti dengan sendirinya tanpa perlu diteriakkan dan diceritakan kepada orang lain. Berhentilah berbicara dan membela diri, karena jika kita ada di pihak yang benar, maka kebenaran yang akan membela kita, bukan mulut kita, atau siapapun. Eda Sally
*****
Erik yang pada awalnya ingin beristirahat, tidak jadi beristirahat karena pikirannya tidak tenang mengenai perjalanannya nanti malam.
Ketika sedang termenung sambil menunggu sekretaris Bram yang akan datang mengantar identitas dan segala keperluannya untuk perjalanannya, Celine datang dengan membawa segelas susu.
"Sayang, di minum dulu susunya. Kamu pasti kecapean karena banyak aktifitas di kantor dan di luar kota. Lagi pula malam kamu akan berangkat ke UK, dan kamu membutuhkan nutrisi agar menjaga stamina tubuhmu sehingga tetap stabil." Celine berkata dengan suara yang dibuat semanis mungkin.
"Oh! Terima kasih. Tapi aku ingin kita minum susunya bersama. Kamu menyicipinya terlebih dahulu."
Hah? Dia suruh aku menyicipi susunya? Bagaimana kalau reaksi obatnya malah kena di aku? Celine
Kamu pikir aku bodoh? Akal bulusmu tak akan mempan.
"A...maaf sayang. Aku tidak suka susu." Celine menolak tawaran Erik.
"Kalau begitu kamu berikan kepada salah satu pelayan kita. Aku tidak suka minum susu yang ada obat perangsangnya." Kata Erik langsung pada tujuannya.
"O...obat perangsang?"
"Iya! Kenapa kamu kaget? Aku tidak bisa kamu bodohi."
"Cukup! Kenapa kau tidak mau menyentuhku sama sekali."
"Karena aku tidak menyukaimu dan tidak menginginkanmu sejak awal. Doakan aku agar aku berubah dan menyukaimu setelah aku pulang dari UK." Erik berkata dengan senyum penuh arti.
"Tentu saja aku akan berdoa untuk itu. Sepulangnya dari UK, aku harap tidak ada lagi jarak diantara kita." Kata Celine dengan antusias.
Hahahhahahhaa! Aku tidak akan pernah pulang. Tunggulah sampai rambutmu beruban. Erik.
Hmmmmm! Aku akan sangat bahagia jika Erik benar-benar berubah setelah pulang dari UK. Bukankah ia sendiri yang mengatakannya? Ah! Sepertinya dia sudah mulai menyukaiku. Hmmmm! Aku akan merebut hatinya agar dia segera melupakan perempuan sialan itu.
Bunyi bel kamar mereka mengagetkan mereka. Celine bergegas dan membukakan pintu.
"Keluarlah! Aku ingin membicarakan urusan pekerjaan di UK dengan tuan muda." Sekretaris Bram berbicara dengan wajah datar dan nada mengusir serta melihat Celine dengan tatapan tajam.
Hmmmm! Anak angkat saja belagu. Akan ku buat perhitungan dengannya. Lihat saja nanti.
__ADS_1
Sekretaris Bram menutup pintu dan kemudian menguncinya setelah Celine keluar. Ia berjalan ke arah Erik dengan senyum penuh kebahagiaan seperti orang yang baru saja selesai memenangkan sebuah pertandingan.
"Semua yang tuan butuhkan sudah ada di dalam tas kecil ini. Simpan baik-baik agar selirmu jangan sampai melihatnya dan kemudian perjalananmu gagal." Sekretaris Bram sangat serius mengatakan itu.
"Hmmm! Terima kasih Bram. Aku ingin mengetahui apa nama yang diberikan di identiras palsuku."
Erik penasaran dan mengutak atik isi tas kecil yang diberikan sekretaris Bram. Setelah menemukan yang dicarinya, ia tersenyum dengan ekspresi bahagia yang sudah hilang dari wajahnya sejak menikah dengan Celine.
Saat menemukan apa yang ia cari, ia tersenyum ke arah sekretaris Bram dan kemudian memeluk dua buah kartu identitas palsu yang bertuliskan nama baru dirinya dan Yuana sambil memejamkan mata dan tersenyum.
Senyum ini baru terlihat lagi sore ini. Semoga senyum ini jangan hilang lagi. Aku tidak ingin adikku menderita karena keegoisan tuan besar.
"Apakah kau yang mengusulkan kedua nama ini, Bram?"
"Maaf tuan muda. Aku hanya sekedar memilihkan nama yang mirip, agar tuan muda dan nona Yuana walaupun jauh dari kami tapi tetap saling menyayangi dan mencintai."
"Terima kasih, Bram! Dari dulu kau memang paling bisa diandalkan."
"Ah! Tuan muda terlalu melebihkan. Aku hanya melakukan hal kecil yang tidak sebanding dengan apa yang tuan muda buat untukku sejak kecil."
"Jangan terlalu melebihkan sesuatu yang sudah lewat Bram!"
"Aku hanya menyebutnya agar aku terus mengingatnya selama hidupku."
"Baik tuan! Aku mengerti."
"Apakah pakaianku sudah dimasukkan semuanya?"
"Sudah tuan. Aku melakukannya sesuai dengan perintah tuan. Dan aku berpikir bahwa pemikiran tuan muda tepat untuk membawa pakaian hanya untuk dua minggu."
"Tepat bagaimana, Bram?"
"Kalau hanya bawa pakaian untuk dua minggu, tuan besar tidak akan curiga."
"Iya. Ada benarnya juga. Aku memang hanya mengatakannya dengan asal tanpa memikirkan ke arah sana."
"Oya! Apakah tuan muda sudah mengalihkan semua tabungan atas namaku?"
"Sudah, Bram! Aku sudah memindahkan sejak siang begitu aku pulang dari rumahmu. Aku tidak mau nanti tergesa-gesa untuk jalan dan kemudian lupa."
__ADS_1
"Baik tuan."
"Sudah waktunya aku bersiap-siap, Bram. Kau tetap di sini. Aku tidak ingin wanita siluman itu masuk kesini selagi aku mandi."
"Apakah dia semenakutkan itu tuan?"
"Sangat menakutkan Bram! Aku seperti sedang tinggal dengan singa betina yang tak berperasaan."
"Hahahhaha! Cukup tuan. Jangan membuatku tertawa seperti ini. Oya! Apakah tuan nanti tidak berpamitan dengan tuan besar dan nyonya?"
"Kamu ini bagaimana, Bram? Kalau aku berpamitan pada papa dan mami, tentu saja papa akan curiga, dan aku tidak ingin hal itu terjadi. Lagi pula aku sudah sering tugas ke luar pulau dengan tidak berpamitan. Kalau tiba-tiba aku berpamitan, itu akan menimbulkan tanda tanya bagi papa."
"Benar juga apa yang tuan katakan. Aku hanya kasihan pada nyonya yang akan merasa kehilangan dirimu, tuan!"
"Aku juga akan merindukan mami, Bram. Jaga mamiku dengan baik. Aku percayakan mereka padamu. Sekalipun papa memperlakukanku seperti ini, beliau masih orang tuaku. Aku tidak bermaksud tidak menghormatinya, tapi aku harus memilih jalan ini demi masa depanku sendiri."
"Iya tuan! Aku mendukung apa yang tuan lakukan."
"Apakah tindakan yang aku ambil ini salah, Bram?"
"Tidak salah menurutku. Ini pelajaran berharga, agar kelak jika Tuhan mempercayakan buah hati kepada tuan muda dan nona Yuana, tuan dan nona jangan memaksakan kehendak kepada mereka. Biarkan mereka memilih dan menentukan jalan hidupnya sendiri."
"Wah! Semakin hari kau semakin bijak, Bram! Lama-lama aku merasa seperti berhadapan dengan ayah yang sesungguhnya ketika berbicara denganmu."
"Jangan terlalu memuji tuan. Aku hanya mengatakan apa yang sering orang-orang katakan."
"Ok! Tetap di sini ya? Aku mau mandi." Erik berkata sambil berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan badannya dan bersiap-siap untuk berangkat.
Senang rasanya memiliki adik. Kapan aku bisa memanggilnya adik tanpa harus memanggil tuan? Sejak kecil dia selalu memperlakukanku dengan baik, dan tidak pernah merasa terancam dengan kasih sayang yang diberikan orang tuanya kepadaku. Sek. Bram.
Bersambung
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading ya guys, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya. 😍😍😍😍😍