Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
145. Markas Miliki BI


__ADS_3

Seringkali kita jatuh bukan karena keadaan yang menjatuhkan kita, tetapi karena ambisi dan keinginan kita sendiri yang tidak sesuai dengan yang seharusnya. Tidaklah salah untuk memiliki sesuatu. Yang salah adalah jika apa yang ingin kita miliki itu sudah bertuan, dan kita sendiri sedang berperan sebagai perampok. Eda Sally


*****


Celine langsung turun dari pangkuan Gerald. Ia menatap orang-orang itu dengan tatapan bingung dan juga heran.


"Tidak mungkin." Ujar Celine dengan pelan.


"Apa yang tidak mungkin?" Gerald balik bertanya sambil memberikan kode kepada dua temannya agar medekati suami gadungan alias teman tidur Celine. Sementara yang tiga orang tetap berjaga-jaga di pintu.


"Ini lebih banyak dari yang saya bayangkan!" Tegas Celine.


"Bukankah itu yang kamu inginkan?" Gerald balik bertanya.


"Saya hanya menginginkan tuan dan salah satu. Jika lebih aku tidak bisa." Jawab Celine dengan suara lemah.


"Tentu saja kami hanya akan berdua. Tetapi supaya lebih aman dalam melakukan apa yang nona inginkan, kita ke tempat saya saja."


"Di sana ruangannya tertutup dan orang tidak akan tahu apa yang kita lakukan. Kalau di sini saya tidak merasa nyaman juga." Jawab Gerald beralasan.


"Apakah di sana saya bisa tinggal sesuka hati di rumah tuan? Karena rumah ini juga rumah kontrakan." Balas Celine balik bertanya.


"Tentu saja! Itu yang saya inginkan. Bahkan jika perlu, nona tinggal di rumah saya saja. Saya jamin nona akan senang." Jawab Gerald.


"Terima kasih tuan. Saya rasa, saya sudah mulai jatuh cinta kepadamu, Tuan." Ujar Celine sambil mengecup pipi Gerald dengan mesra.


"Bagaimana kalau kita cepat pergi dari sini? Saya tidak ingin ada yang mencurigai kita dan melaporkan kita. Apalagi di sini ada obat terlarang." Ujar Gerald mengingatkan.


"Baik sayang! Saya akan mengambil beberapa pakaian dulu." Ujar Celine sambil beranjak dari tempatnya.


"Tidak usah nona. Saya sudah mempersiapkan banyak pakaian di sana. Lalu, bagaimana dengan suamimu, maksudnya teman tidurmu itu?" Tanya Gerald pura-pura membuang umpan.


"Dibawa saja tuan. Siapa tahu jika tuan-tuan berhalangan, dia bisa menemani saya." Jawab Celine dengan senyum licik.


"Baiklah! Ayo kita berangkat." Ajak Gerald.


Dua orang anak buah Gerald segera mengawal Edwin dan langsung keluar. Celine bergelayut manja di lengan Gerald sambil terus mengusik wajah Gerald. Sedangkan yang seorang langsung berlari ke arah mobil dan langsung duduk di belakang kemudi. Dua lainnya memilih jadi pengiring di belakang sekaligus sebagai pengawal.

__ADS_1


Mobil yang cukup besar tidak sulit untuk menerima tambahan penumpang dua orang, yaitu Celine dan Edwin.


Mobil segera melaju dengan kencang ketika semua penumpang telah duduk dengan manis. Satu-satunya yang tidak bisa duduk dengan manis adalah Celine. Ia terus menghujani Gerald dengan kecupan di seluruh wajahnya.


Seorang anak buah Gerald berniat untuk mengikat tangan Celine, namun Gerald memberikan kode agar tetap tenang, karena permainan yang sesungguhnya belum dimulai.


Sementara mobil yang terparkir agak jauh mengikuti mobil yang ditumpangi Gerald dan Celine.


Kedua mobil itu terus beriringan selama kurang lebih satu jam. Akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang cukup besar dengan halaman yang cukup luas.


Penumpang mobil pertama segera turun, kecuali Celine yang masih menjepit tubuh Gerald dan menahan bibirnya agar jangan segera turun.


Wajar saja Celine tergila-gila dengan Gerald. Pria itu memiliki wajah tampan dengan tubuh yang sangat terawat, namun senyumnya yang penuh misteri selalu memikat hati wanita yang menatapnya.


Gerald dengan lembut mendorong tubuh Celine, yang langsung menghentikan ciumannya.


Gerald menuntun tangan Celine dan segera turun kemudian mengarahkan salah satu anak buahnya agar membawa Celine ke dalam dan menyuruhnya mengganti pakaian.


Sementara Gerald berjalan ke arah mobil Erik dan Gail, dan meminta mereka agar segera turun. Kedua pria tampan itu segera turun begitu mendapat kode dari Gerald.


"Wanita itu benar-benar gila tuan. Saya di serangnya habis-habisan sampai kehabisan napas. Saya tidak bisa membayangkan andai saja ia masih menjadi istri sah tuan muda."


"Terima kasih telah melakukan yang terbaik. Tuan sudah lihat sendiri bagaimana kelakuan wanita itu. Jangan biarkan ia bebas. Saya tidak ingin dia merusak keharmonisan rumah tangga saya lagi." Jawab Erik.


"Sekarang saya ingin tuan memberikan ultimatum yang tepat untuk wanita itu." Ujar Gerald.


"Serahkan dia ke pihak berwajib setelah saya menyiksanya." Saran Gail.


"Tidak, Gail! Jika kita serahkan ke polisi, akan ada orang yang mengeluarkannya dan ia pasti nekat melakukan hal yang lebih besar lagi. Nyawa Yuana akan terancam juga." Jawab Erik.


"Sebenarnya saya punya hukuman yang akan saya tawarkan. Jika tuan tidak keberatan, biar saya dan tim saya yang memberikan hukuman padanya." Tawar Gerald.


"Hukuman apa yang akan tuan tawarkan?" Tanya Erik penasaran.


"Masuklah dulu! Saya akan menunjukkannya kepada tuan." Jawab Gerald sambil berjalan masuk.


Erik dan Gail mengikuti langkah Gerald dari belakang. Setelah sampai di dalam, mereka terus berjalan ke belakang, dan memasuki sebuah lorong, kemudian menuruni tangga menuju ke sebuah ruangan.

__ADS_1


Gerald mengambil kunci yang berada di gantungan dekat pintu dan membuka pintu besi itu. Setalah dibuka, Erik dan Gail menatap tak percaya dengan apa yang mereka lihat di depan mereka.


"Tuan, apa ini markas organisasi tuan?" Tanya Erik dengan suara yang lemah karena tidak sanggup melihat apa yang ada di depannya.


"Betul tuan! Di sinilah kami menegakkan keadilan dengan membantu orang-orang yang mungkin diabaikan pihak kepolisian dan tidak mendapatkan keadilan dalam hukum."


"Kami tidak pernah berkompromi dengan kejahatan. Dan kami memilih jalan kami sendiri untuk menghukum mereka yang bertindak sewenang-wenang dengan maksud menyusahkan atau mencelakai orang lain." Tuan Gerald menjelaskan dengan panjang lebar.


"Jadi, apakah kami juga akan mendapatkan keadilan karena rencana Celine?" Tanya Erik.


"Tentu saja tuan! Apalagi Saya masih ingat dengan jelas waktu ia membayar orang untuk menyerang tuan waktu tuan masih berada di Edinburgh."


"Mungkin tuan sudah lupa, tetapi tidak dengan saya. Saya selalu dendam dengan yang namanya kejahatan, dan saya akan membalaskan dendam tuan sejak di Edinburgh hingga sekarang."


"Izinkan saya memberikan pemanasan dengan sedikit bermain dengannya sebelum ia jatuh ke dalam permainan tuan yang sesungguhnya." Pinta Gail pada Gerald.


"Gail! Stop!" Tegur Erik.


"Saya akan mengabulkan permintaan tuan karena musuh sudah ada dalam tangan kita." Jawab Gerald.


"Terima kasih tuan! Saya rasa saya perlu mencium kaki tuan karena telah berkenan memberikan kesempatan untuk sekedar melakukan pemanasan dengan wanita siluman itu."


"Gail! Jangan melakukan hal yang konyol." Tegur Erik sekali lagi.


"Apakah melakukan pemanasan dengan seorang wanita, apalagi wanita seperti Celine, apakah itu termasuk hal yang konyol? Tolong tunjukkan kepada saya letak kekonyolan yang tuan maksudkan." Jawab Gail.


Bersambung


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍


__ADS_2