Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
38. Kepergian Ayah untuk Selamanya


__ADS_3

Di dunia ini tidak ada yang abadi. Kehidupan manusia bagaikan bunga yang mekar pada pagi hari, dan akan layu ketika senja datang. Sebagai manusia, kita hanya sedang berziarah di bumi. Dan bila tiba saatnya, kita akan kembali kepada Tuhan, Sang Pemilik hidup ini. Karena itu, jangan pernah menunda apapun yang harus engkau lakukan. Karena engkau tidak tahu sampai mana batas umurmu ditentukan.


Selagi masih bernapas dan diberi kesempatan, lakukanlah bagianmu dengan sukacita tanpa sungut. Karena akan datang masanya, engkau ingin melakukan banyak hal, namun engkau sudah dibatasi dengan kondisi yang tidak akan memungkinkanmu untuk melakukan apa yang ingin engkau lakukan. Eda Sally


*****


Pagi ini, Yuana melakukan aktififasnya seperti biasa tanpa firasat apapun. Ia selalu setia menemani sekretaris Bram mengawal sang tuan dan mengatur semua jadwalnya. Mereka selesai metting tepat pukul 11.00 siang.


Yuana memanfaatkan waktu satu jam sebelum makan siang untuk memeriksa beberapa dokumen. Saat ia sibuk memeriksa dokumen-dokumen tersebut, handphonenya berbunyi. Alisnya terangkat ketika melihat siapa yang menelpon.


Kenapa kak Yosua menelpon di jam kerja. Tidak biasanya kak Yosua begini.


Ia mengacuhkannya dan kembali fokus memeriksa dokumen yang ada di depannya. Namun Yosua melakukan panggilan lagi.


"Hallo kak? Ada apa?".


"Dek? Kamu baik-baik saja kan?"


"Iya, aku baik-baik saja kak. Tumben kakak telpon di saat jam kerja. Ada apa kak?" Perasaan Yuana mulai tidak enak.


"Kakak kirim pesan aja ya? Ini penting sekali." Kata Yosua kemudian mematikan telepon.


"Dek? Maafkan kakak ya? Kakak harap kamu jangan kaget ya?". Yosua


"Iya. Ada apa kak? Cepat bilang. Jangan berbelit. Kakak membuatku takut." Yuana.


"Ayah sakit dan koma dek. Tadi pagi kata ibu baik-baik saja. Tapi waktu di kantor, kata orang-orang kantor ayah tiba-tiba jatuh dan langsung koma. Kamu segera kesini ya? Kakak tidak bisa jemput karena lagi temani ibu jaga ayah di RS." Yosua


"Hah? Kok bisa? Padahal dua minggu lalu aku pulang ke rumah dan ayah baik-baik saja kak. Ok kak. Aku segera kesana." Yuana


Setelah membalas pesan Yosua, Yuana segera menghentikan pekerjaannya dan menghampiri sekretaris Bram.


"Maaf tuan. Aku mau izin pulang ke rumah. Ayah lagi sakit dan sementara koma." Yuana berkata dengan airmata yang sudah menetes.


"Ok kamu segera berangkat. Aku yang akan meminta izin untukmu kepada tuan besar. Kamu bawa mobil perusahaan saja. Nanti Fadly yang akan menyetir biar kamu cepat sampai.


"Terima kasih tuan." Kata Yuana kemudian memberi hormat dan langsung keluar.

__ADS_1


Sementara sekretaris Bram sudah menelpon Fadly dan sudah menunggu di parkiran. Begitu sampai, Fadly segera membukakan pintu untuk Yuana. Ia sangat menghormati Yuana karena Yuana adalah tangan kanan sekretaris Bram. Dan ia tahu bahwa tidak sembarang bisa dipercaya untuk berada di belakang tuan Bram.


*****


Setelah mengetahui bahwa Yuana sudah pergi. Sekretaris Bram segera menelpon Erik.


"Ada apa Bram?" Tanyanya tanpa basa basi. Begitulah kebiasaan Erik kalau menerima telpon dari sekretaris Bram.


"Maaf telah mengganggu waktu anda tuan muda."


"Tidak apa-apa Bram. Katakan saja. Ada apa?"


"Maaf tuan muda. Ayah nona Yuana masuk rumah sakit dan kondisinya koma."


"Kenapa kau baru memberikan informasi ini. Cepat pesankan aku tiket. Aku akan pulang malam ini. Jangan bilang pada papa tentang kepulanganku, dan juga kepada Yuana atau siapapun. Tolong pesankan hotel untuk menginap dekat rumah Yuana. Aku tidak mungkin terang-terangan pergi ke rumahnya. Karena jika papa sampai tahu, maka kau sudah tahu apa yang akan terjadi."


"Baik tuan muda. Akan aku lakukan seperti yang tuan katakan."


"Ok. Cepat pesankan tiket, dan jika sudah segera kirimkan.


"Baik tuan muda."


*****


Begitu Yuana masuk, ia tidak menahan tangisnya. Ia langsung memeluk ayahnya.


"Ayah, bangun. Aku datang yah!" Kata Yuana dengan airmata yang tidak bisa ditahan.


Beberapa menit kemudian, terlihat ayahnya menggerakkan tangan dan membuka mata. Ia langsung melihat ke arah Yuana dan tersenyum.


"Kamu datang, nak?" Katanya dengan suara lemah.


"Ia yah! Yuana datang. Yuana nggak mau ayah sakit." Berkata dengan suara yang bergetar menahan tangis


"Yosua, jaga ibu dan adikmu baik-baik nak!"


Setelah berkata demikian, matanya tertutup kembali dan genggaman tangannya pada Yuana mulai melemah kemudian terlepas. Yuana kaget dengan apa yang baru saja terjadi.

__ADS_1


"Kak...Ibu.! Tubuh Yuana bergetar dan langsung jatuh. Yosua dengan sigap menangkap tubuh adiknya dan berteriak memanggil dokter.


Tim medis segera berlarian dan memeriksa kondisi pasien, lalu memompa jantungnya dan melakukan beberapa upaya, namun tidak ada hasil.


"Maafkan kami. Kami sudah berusaha, tapi Tuhan berkehendak lain." Kata dokter.


"Terima kasih dokter atas semua upayanya." Jawab Yosua mewakili ibunya.


Ibu hanya tertunduk dengan airmata yang terus menetes tanpa suara ketika para dokter membawa jenazah ayah ke ruang jenazah untuk dimandikan.


Yosua bingung dengan apa yang harus dilakukan. Ia memeluk ibunya dan tanpa sadar airmatanya menetes. Yuana yang masih dalam pelukannya mulai membuka mata.


"Ayah kak." Katanya dengan suara yang sangat pilu jika di dengar. Ia menangis tanpa mempedulikan orang-orang yang sedang melihatnya.


"Sabar dek. Ini semua kehendak Tuhan. Kita harus bisa terima kenyataan ini. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk ayah."


Setelah pihak rumah sakit selesai mengurus jenazah ayahnya dan dengan dibantu oleh keluarga, mereka segera membawa jenazah ayah ke rumah. Yuana yang masih shock terlihat lemas dalam pelukan kakaknya sepanjang perjalanan pulang.


Ibu terlihat lebih bisa mengerti. Walaupun menangis tapi masih bisa menguasai hatinya. Sementara Fadly yang mengemudikan mobil, terlihat sedih namun ia hanya diam.


Kini ada dua wanita yang harus aku jaga sesuai amanah dari ayah. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti mereka. Mereka adalah hidupku, dan aku akan menjaga mereka sejauh kuatku dan sepanjang umurku. Tuhan, aku ingin menangis sekencang-kencangnya. Tapi jika aku lemah, kedua wanitaku akan lebih lemah. Aku harus kuat demi mereka.


Begitu mereka sampai di rumah, sudah banyak keluarga dan tetangga yang berdatangan. Rekan kerja ayah di kantor juga sudah datang semuanya.


Ketika jenazah diturunkan dari mobil ambulance, banyak yang meneteskan airmata karena pak Fino adalah sosok yang sangat baik. Ia tidak pernah berselisih dengan siapapun. Ia juga tidak segan membantu jika ada yang membutuhkan bantuannya. Walaupun ia hanya seorang pegawai kecil di kantor kecamatan, namun semua orang bisa merasakan kebaikannya.


Bersambung


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading ya guys? Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2