Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
155. Permohonan Bram untuk Sang Tuan


__ADS_3

Untuk bermanfaat bagi orang lain, kita tidak harus menjadi yang terutama. Cukup menjadi penengah yang baik ditengah sebuah situasi sulit diantara orang-orang yang kita sayangi, demi sebuah hubungan yang akan menjadi lebih baik. Karena mereka yang berkenan kepada Sang Pencipta adalah mereka yang selalu membawa damai dan mempersatukan kepingan puzzle yang pernah terpisah. Eda Sally


*****


Sekretaris Bram berlari dengan tergesa-gesa saat menelpon Arthur untuk yang kesekian kali dan mendengar kabar yang tidak ia inginkan. Hatinya tidak tenang karena memikirkan adiknya itu. Ia sangat paham bagaimana isi hati sang adik terhadap sang istri.


Karena itu, untuk kali ini ia tidak ingin bermain kucing kaleng alias drama lagi dengan sang tuan besar. Apapun yang terjadi, ia sudah siap menerima segala konsekuensinya.


"Ada apa, Bram?" Tanya Andre Wiliam ketika ia melihat sekretaris Bram masuk dengan wajah panik.


"Saya harus ke London sekarang, Tuan! Tuan muda sangat membutuhkan saya." Jawab sekretaris Bram dengan wajah tegang.


"Berapa lama waktu yang kamu butuhkan di sana, Bram?" Tanya Andre Wiliam dengan penuh selidik.


"Jika tuan mengizinkan, saya akan tinggal di sana sampai keadaan membaik. Saya akan mengerjakan semuanya dari sana seperti biasanya." Jawab sekretaris Bram dengan wajah tegang.


"Katakan ada apa, Bram! Jangan sembunyikan apapun dariku." Ujar Andre Wiliam dengan nada intimidasi.


"Tuan muda sedang tidak baik-baik saja, Tuan." Jawab sekretaris Bram dengan suara lemah.


"Putraku kenapa, Bram? Apa yang kau sembunyikan dariku?" Tanya Andre Wiliam dengan bertubi-tubi.


"Ada sesuatu dalam diri tuan muda yang membuatnya lemah dan tidak baik-baik saja."


"Jika tuan ingin melihatnya secara langsung, saya harap tuan berkenan datang sendiri ke sana."


"Mungkin dengan tuan langsung datang ke sana, tuan akan mengerti keadaan yang sebenarnya. Saya harap apapun yang nanti tuan lihat disana, jangan pernah salahkan tuan muda."


"Jika tuan ingin menjatuhkan hukuman atau apapun kepada tuan muda, biarlah saya yang menanggung semuanya." Ujar sekretaris Bram.


"Hmmmmm! Aku mengerti sekarang. Ada hal besar yang tidak aku ketahui. Aku tahu kau menyayangi adikmu itu. Tetapi cara kalian dalam bertindak itu salah."


"Pergilah dan bantulah adikmu sebisa mungkin. Aku akan datang kesana bersama mami kalian." Ujar Andre Wiliam sambil menganggukkan kepala dan memainkan jarinya diatas meja.


"Terima kasih, Tuan! Saya akan pamit sekarang, karena beberapa jam lagi saya harus berangkat." Ujar sekretaris Bram.


"Pergilah! Lakukan yang terbaik, dan bersiaplah untuk menerima konsekuensi atas kelancangan kalian berdua." Jawab Andre Wiliam.


"Terima kasih, Tuan!" Ujar sekretaris Bram sambil membungkuk dan memberi hormat kemudian keluar dari ruangan sang tuan besar.


Setelah keluar dari ruangan sang tuan, sekretaris Bram langsung menuju ke Rumah Sakit tempat sang mami bekerja. Ia ingin bertemu dengan wanita yang sudah ia anggap seperti ibu kandung sebelum ia berangkat.

__ADS_1


Sekretaris Bram yang sudah mengetahui ruangan sang mami langsung masuk tanpa mengetuk. Ia masuk dengan tergesa-gesa seperti dikejar seseorang.


Bu Jessy yang baru saja masuk ke ruangannya setelah rapat kaget ketika ada yang membuka pintu tanpa mengetuk. Namun rasa kagetnya hilang ketika ia melihat siapa yang datang.


"Ada apa putraku?" Tanya Bu Jessy dengan lembut.


Walaupun sekretaris Bram bukan anak kandungnya, namun ia menyangi keduanya tanpa membedakan mereka sama sekali.


"Saya harus ke London sekarang, Nyonya!" Jawab sekretaris Bram.


"Ada apa, Bram? Jangan bilang sesuatu yang buruk terjadi pada putraku." Ujar nyonya Jessy dengan nada khawatir.


"Maafkan saya yang selama ini menyembunyikan sesuatu dari nyonya. Semuanya saya lakukan demi kebahagiaan adik saya."


"Saya tidak ingin adik saya satu-satunya tertekan karena keegoisan kita." Jawab sekretaris Bram.


"Duduklah dan katakan ada apa. Jangan membuatku takut, Bram! Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada putraku." Ujar nyonya Jessy.


Sekretaris Bram segera duduk sesuai perintah sang nyonya. Ia mengatur napasnya berkali-kali dan mengumpulkan keberaniannya untuk bercerita.


"Istri tuan muda sedang koma karena melahirkan. Saya harap nyonya berkenan datang, karena komanya istri tuan muda sangat berpengaruh pada kondisi tuan muda."


"Kabar terbaru yang saya terima dari Arthur sungguh membuat saya takut, Nyonya!"


"Ceritakan secara detail sejak kapan putraku menikah, dan siapa wanita yang telah membuatnya jatuh cinta."


"Aku kecewa padamu, Bram! Karena kau tidak mengizinkan aku memberikan doa restu kepada putraku di hari bahagianya." Ujar nyonya Jessy sambil menarik napas panjang.


"Maafkan saya nyonya! Saya tidak bermaksud seperti itu, tetapi kondisi pada saat itu benar-benar tidak memungkinkan." Jawab sekretaris Bram.


"Ceritakanlah!" Pinta nyonya Jessy.


Lalu dengan ringkas sekretaris Bram menceritakan semuanya tanpa mengurangi atau menambahkan. Ia menceritakannnya dengan sangat detail.


Nyonya Jessy yang mendengar cerita itu, sesekali menarik napas dan mengusap wajahnya tak percaya. Tak terasa airmatanya menetes mendengar cerita pilu anaknya.


"Apa papamu tahu cerita ini?" Tanya nyonya Jessy.


"Tuan besar sama sekali tidak tahu, Nyonya! Saya hanya berani menceritakannya kepada nyonya karena hanya nyonya yang bisa mengerti." Jawab sekretaris Bram.


"Kasihan putraku! Pergilah sekrang! Jangan menunda lagi perjalananmu!"

__ADS_1


"Aku tidak ingin putraku berjuang sendirian seolah tidak ada ayah ibu atau saudara."


"Aku paling tahu putraku. Ia pasti sangat sedih saat ini."


"Jika papa kalian ada waktu dalam waktu satu dua hari, kami akan menyusul! Jika tidak, aku akan membujuknya agar kami bisa ke sana." Ujar Bu Jessy dengan bijak.


"Terima kasih, Nyonya!" Jawab sekretaris Bram dengan sopan.


"Sampai kapan kau akan memanggilku nyonya?" Protes nyonya Jessy.


"Maafkan saya nyonya! Saya tahu nyonya sangat menyayangi saya, tetapi saya merasa lebih nyaman dengan panggilan ini." Jawab sekretaris Bram dengan sopan.


"Ok! Pergilah! Jangan membuang-buang waktu lagi. Adikmu sangat membutuhkanmu saat ini."


"Telpon kakaknya Yuana dan ibunya! Bawa mereka kesana juga. Aku tidak ingin putraku bersedih. Pergilah, Bram!"


"Katakan pada putraku, aku selalu mencintainya dan aku akan selalu mendukung setiap keputusannya."


"Tentang wanita yang ia telah pilih, aku merestui hubungannya dengan wanita itu, asalkan wanita itu membuatnya bahagia."


"Jika kamu sudah sampai di sana, jangan lupa lakukan panggilan video. Aku ingin melihat wajah putraku yang telah menjadi seorang ayah." Ujar Bu Jessy sambil menyeka airmatanya yang sudah mengalir sejak tadi.


"Terima kasih, Nyonya! Saya akan berangkat sekarang. Pesawat tinggal beberapa jam lagi." Ujar sekretaris Bram sambil menunduk memberi hormat kemudian keluar meninggalkan wanita yang telah melimpahkan seluruh kasih sayang dan merawatnya sejak kecil.


sementara sang wanita yang dianggap seperti ibu kandungnya sedang menangis meratapi nasib anaknya.


Ah Tuhan! Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi pada adikku. Aku menyayanginya melebihi apapun. Bram


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.

__ADS_1


😍😍😍😍😍


__ADS_2