
Mengawali kehidupan baru dengan tempat yang baru, kebiasaan yang baru, dan orang-orang yang baru dikenal tentu susah dan membutuhkan kesiapan mental. Ketika berhadapan dengan hal-hal itu, kita hanya perlu menerima keadaan baru dan menjalaninya, karena tidak selamanya sesuatu yang baru itu menakutkan. Eda Sally
*****
Ketika pesawat mendarat dengan sempurna di Bandar Udara Internasional Or Tambo, kota Johannesburg, Yuana menarik napas dengan sangat panjang karena merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Untuk sesaat, ia hanya duduk dan membiarkan orang-orang turun.
"Oya! Sejak tadi kita mengobrol dan belum saling berkenalan. Namaku Yuana." Kata Yuana pada pria yang duduk di sampingnya.
Pria tersebut nampak tersenyum dan menatap Yuana kemudian mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Yuana.
"Dion." Katanya singkat sambil terus menatap Yuana.
Dion berpikir bahwa Yuana juga seorang mahasiswa karena wajah Yuana sangat imut, dan itu membuatnya gemas. Sejak mengobrol tadi di perjalanan, Yuana memang bercerita bahwa ia hanya ingin berlibur. Ia tidak menceritakan dengan detail kenapa ia sampai harus terdampar di negara ini.
Yuana tidak terlalu memperhatikan ketika Dion menatap dan tersenyum dengan penuh kagum ke arahnya.
Saat sudah turun dan masuk ke dalam ruangan bandara, Yuana segera menuju ke tempat kedatangan penumpang. Ia sedang mencari-cari orang yang akan menjemputnya.
Karena sudah dijelaskan dalam surat bahwa di Johannesburg sudah ada jet pribadi yang akan membawa Yuana ke Edinburgh, khususnya ke pulau Tristan dan Cunha. Yuana berdiri dan mengamati setiap orang yang berdiri di situ.
Tiba-tiba matanya menatap tulisan Yuana Samantha yang dipegang oleh seorang pria Afrika yang tampan dengan postur tubuh yang sangat sempurna. Pria tersebut selain tinggi, badannya juga berisi dan sangat serasi dengan tinggi badannya.
Yuana kemudian berjalan ke arah orang tersebut untuk memperkenalkan diri.
"Maaf, namaku Yuana Samantha." Kata Yuana memperkenalkan diri.
"Oh, syukurlah. Aku Zain. Aku yang akan membawa nona dengan dua anak buahku ke Tristan. Kita akan menggunakan jet karena kalau menggunakan kapal laut akan memakan waktu lima hari untuk sampai kesana."
"Baik. Terima kasih atas bantuannya."
"Oya Kita akan ke landasan jet milik tuan Andre Wiliam yang ada dekat sini. Dari sana kita akan langsung berangkat."
Yuana hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Zain dengan sigap segera meraih koper dan tas ransel milik Yuana.
Di Afrika selatan, Andre Wiliam memiliki sebuah perusahaan yang cukup maju dibawah naungan Angkasa Grup. Karena itu, ia memerintahkan orang kepercayaannya untuk menjemput dan mengantar Yuana.
__ADS_1
Yuana hanya mengikuti Zain, dan tidak berbicara karena kelelahan. Saat sudah berada di mobil, Yuana langsung memejamkan mata karena tidak bisa menahan kantuknya.
Setelah beberapa menit perjalanan, mereka sudah sampai di landasan jet di maksud. Zain segera turun dan membukakan pintu untuk Yuana.
Yuana kemudian turun dan langsung menuju ke jet yang sudah ready dengan dituntun oleh seorang pria sementara seorang lagi membantu Zain membawa koper dan tas Yuana. Setelah semuanya sudah diatas Jet, mereka segera berangkat menuju Tristan.
"Apakah nona ingin makan sesuatu? Akan aku ambilkan." Salah satu anak buah Zain bertanya kepada Yuana
"Terima kasih. Aku belum lapar. Aku ingin istirahat saja."
"Baik nona. Jika nona membutuhkan sesuatu, nona bisa mengatakannya kepadaku."
"Terima kasih."
Hanya itu yang dikatakan Yuana sambil tersenyum dan kemudian memejamkan mata. Yuana benar-benar tertidur tanpa mempedukikan tiga orang yang entah melakukan apa sepanjang perjalanan. Ia hanya bangun ketika seseroang memegang pundaknya. Yuana kaget dan matanya terbuka dengan cepat.
"Maafkan ketidaksopananku. Aku terus memanggil nama nona tapi tidak bangun. Jadi aku mengguncang bahu nona agar cepat bangun."
"Ahmm! Tidak apa-apa. Ada apa?"
"Oh! Maafkan aku. Aku benar-benar kelelahan sehingga tertidur."
"Tidak apa-apa nona. Aku mengerti."
"Terima kasih Zain."
Setelah berkata demikian, Yuana segera turun diikuti oleh Zain. Yuana tersenyum kepada dua pria yang sudah turun terlebih dahulu.
"Maafkan aku. Aku benar-benar kelelahan." Kata Yuana meminta maaf kepada dua orang anak buah Zain yang sudah menunggu entah sejak kapan.
"Kita juga baru saja turun nona." Salah seorang yang bernama Ariando menjawab Yuana dengan ramah.
"Oya! Kami akan langsung mengantarkan nona ke rumah yang sudah disediakan karena setelah ini kami akan langsung pulang."
"Baiklah." Jawab Yuana pendek, karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
__ADS_1
Mereka berjalan kaki sejauh empat ratus meter. Yuana tidak heran ketika mereka tidak menemukan mobil dan berjalan kaki, karena ia sendiri sudah tahu kenyataan yang sebenarnya sebelum datang ke tempat ini.
Sepanjang jalan, mereka berpapasan dengan beberapa orang yang melihat mereka sambil tersenyum dan menganggukkan kepala. Orang-orang itu sepertinya tidak asing lagi dengan Zain dan anak buahnya karena mereka sering kesini.
Mereka tersenyum dengan wajah yang ceria ke arah Yuana karena sebentar lagi mereka akan memiliki penghuni baru. Yuana hanya menarik ujung bibirnya membalas senyum orang-orang itu yang kelihatan terlalu lebar untuk ukuran sebuah senyum.
Tempat ini dipilih oleh tuan Andre dan dijadikan tempat pengasingan untuk orang-orang kepercayaannya yang membangkang. Hanya Zain dan beberapa anak buahnya yang mengetahui tempat itu karena mereka ada di negara yang sama, dan mereka juga yang sering mengantar orang-orang yang diasingkan kesana.
Sementara hampir semua karyawan dari semua perusahaan tidak ada yang tahu tentang tempat itu. Hanya tuan Andre Wiliam yang mengetahuinya. Ia sendiri tidak pernah bercerita tentang tempat ini, bahkan kepada Erik dan sekretaris Bram. Itulah yang menyebabkan orang-orang sangat takut ketika berhadapan dengannya, karena ia bisa melakukan apa saja.
"Kita sudah sampai nona. Nona akan tinggal di rumah ini bersama dua orang anak buah kami, jadi nona tidak akan sendirian."
"Terima kasih tuan atas bantuannya sampai sejauh ini."
"Tidak usah sungkan nona. Kami hanya melakukan tugas. Setiap bulan kami akan datang untuk mengantarkan sembako dan kebutuhan lainnya. Jika nona membutuhkan sesuatu, nona tinggal memberikan listnya dan kami akan membelikannya untuk nona."
"Ahmmm! Untuk sekarang belum ada. Mungkin bulan depan ketika tuan-tuan datang kesini lagi."
"Baik nona. Kalau begitu kami akan langsung pulang. Maafkan kami jika pelayanan kami sepanjang perjalanan tidak memuaskan."
"Semua pelayanan yang tuan-tuan berikan sudah sangat memuaskan. Aku sangat berterima kasih untuk itu. Hati-hati di jalan tuan."
Zain menganggukan kepala kemudian memberi kode pada kedua anak buahnya untuk segera kembali ke jet. Mereka segera berbalik dan berjalan menuju tempat Jet berada. Yuana hanya menatap mereka tanpa bergerak.
.
.
.
.
.
Happy reading ya? Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya๐๐๐๐๐
__ADS_1