Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
162. Sambutan Meriah


__ADS_3

Jika restu telah berpihak kepadamu, maka sekuat apapun dunia mencoba untuk menjauhkanmu dari restu, tetap saja engkau akan mendapatkannya. Karena restu selalu tahu kepada siapa ia harus berpihak, untuk mendatangkan cinta dan kebaikan kepada orang yang berhak menerimanya. Eda Sally


*****


Setelah sampai di mansion mewah milik mereka, nampak wajah yang penuh ceria dari Habib dan Alika beserta semua pelayan yang bersukacita menyambut kedatangan tuan mereka.


Apalagi tuan besar yang sangat mereka hormati juga datang. Para pelayan itu walaupun tersenyum tetapi lutut mereka sedang bergerak tanpa irama yang jelas karena mereka benar-benar sangat takut dengan sosok seorang Andre Wiliam.


Sekretaris Bram yang tidak ingin kehilangan moment penyambutan di rumah, melajukan mobil dengan sangat kencang agar dapat menyusul rombongan Erik dan yang lainnya setelah ia dan papanya menyelesaikan administrasi di Rumah Sakit.


Sejak melihat kondisi Yuana yang sudah membaik, sekretaris Bram sudah memerintahkan para pelayan untuk mempersiapkan acara penyambutan kepulangan Yuana ke rumah.


Begitu mobil terparkir, Erik langsung menarik tangan Yuana agar cepat-cepat turun, karena sudah sangat merindukan putranya.


Yuana menurut saja dengan kelakuan Erik, karena ia juga sudah sangat merindukan putranya itu.


Garrick yang melihat kedua orang tuannya, langsung turun dari gendongan Alika dan berlari ke arah Erik dan Yuana.


Erik dengan sigap menangkap tubuh bayi itu dan membawanya dalam pelukannya. Lama sekali ia memeluk Garrick, karena sudah sangat rindu dengan putranya itu.


Garrick juga sepertinya sangat rindu dengan kedua orang tuannya. Ia menyodorkan tangannya ke arah Yuana dengan terus memanggil mommy.


Yuana tidak tahan dan ingin menggendong putranya, tetapi ia sadar kalau dirinya belum terlalu kuat untuk menggendong putranya. Karena itu ia memilih untuk memeluk tubuh Erik yang sementara menggendong Garrick sambil berulang kali mencium putranya.


"Mari, silahkan masuk tuan-tuan dan nyonya-nyonya." Ujar kepala pelayan rumah dengan sopan sambil mempersilahkan semuanya untuk masuk.


"Terima kasih." Jawab sekretaris Bram pendek dan segera maju mendahului yang lainnya dan memimpin mereka semua untuk masuk ke dalam rumah.


Semua melangkah masuk tanpa menyadari kejutan yang disiapkan para pelayan atas perintah sekretaris Bram.


Erik menggendong Garrick dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya tetap merangkul Yuana. Ia tanpa henti memandang wajah cantik istrinya sambil berjalan.


Begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan tengah yang memang sengaja dibuat luas untuk tempat acara, Yuana dan Erik kaget karena puluhan balon melayang ke arah mereka, dan bunyi letusan balon di sana sini yang sengaja dibuat oleh para pelayan.


Bu Santy dan bu Jessy yang belum sempat masuk, saat mendengar bunyi letusan, langsung berbalik dan menuju ke lantai dua untuk mengamankan kedua bayi itu.


Alika dan seorang pelayan langsung menyusul untuk mengurus kedua bayi itu, agar kedua wanita paruh baya itu bisa turun untuk bergabung dalam acara yang sedang berlangsung.


Yuana yang melihat sambutan yang luar biasa itu, langsung menyandarkan kepalanya di lengan Erik dan tanpa sadar airmatanya tumpah begitu saja.

__ADS_1


Andre Wiliam yang melihat Yuana menangis, langsung mengambil inisiatif dan menerima Garrick agar Erik bisa menenangkan Yuana.


Erik menurunkan matanya dan melihat Yuana yang menangis, segera membenamkan wajah mungil itu di dadanya. Ia sengaja membiarkan istrinya melepaskan semua rasa harunya.


"Angkat kepalamu dan lihat tulisan itu. Entah siapa yang melakukan itu." Ujar Erik sambil berulang kali mengecup kepala Yuana.


Yuana yang mendengar apa yang dikatakan Erik, langsung mengangkat wajahnya. Erik dengan reflek menghapus sisa-sisa airmata di wajah cantik istrinya.


"Selamat datang kembali ke istanamu, nona muda Yuana Samantha. Selamat menikmati kembali cinta yang utuh dari serpihan cinta yang pernah terlepas, dan kini telah tersambung kembali. Dari kami semua yang mencintaimu."


Airmata Yuana kembali menderas saat membaca tulisan itu. Ia tidak tahu harus berbicara apa. Ia kembali membenamkan wajahnya di dada Erik dan menangis karena rasa haru yang sangat memusuk hatinya.


Andre Wiliam yang masih menggendomg Garrick, berjalan ke arah mimbar dan menempelkan mulutnya pada mic yang telah disediakan.


"Selamat datang dan selamat bergabung di keluarga Wiliam. Mulai hari ini, namamu bukan lagi Yuana Samantha, tetapi akan lebih dikenal dengan Yuana Samantha Wiliam."


"Mungkin penyambutan untuk masuk dalam keluarga Wiliam sudah terlambat, tetapi sebagai manusia yang tidak sempurna, saya mau mengatakan bahwa belum ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik."


"Karena itu, jangan lagi ada dinding pemisah diantara kita. Dinding yang pernah coba saya bangun, saya sendiri yang akan meruntuhkannya demi cinta putra saya kepadamu."


"Terimalah putra saya, dan buatlah ia terus berbahagia, karena saya sendiri telah melihat ketulusan cintamu kepada putra saya."


"Karena itu, saya mohon agar putra dan menantu saya mengambil tempat di depan untuk pemakaian cincin meterai kepada menantu kami."


Yuana memandangi Erik dengan tatapan bingung. Sementara Erik hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.


Erik dan Yuana langsung maju ke depan setelah mendengar instruksi dari sang tuan besar. Mereka berdiri saling berhadapan dengan saling memegang tangan.


Andre Wiliam mendekati mereka, dan memasangkan dua buah cincin kembar beda ukuran. Yang besar untuk Erik, dan yang kecil untuk Yuana.


Setelah berhasil memasangkan kedua cincin itu di jari manis putra dan menantunya, Andre Wiliam memeluk dan mencium mereka berdua diikuti oleh yang lain.


Setelah selesai, Erik dan Yuana berpelukan dengan sangat lama karena restu yang mendatangi mereka dengan tiba-tiba itu.


Tak lama kemudian, Yuana melepaskan pelukannya dan memandang wajah Erik dengan lekat. Ingin ia menanyakan sesuatu, tetapi takut pertanyaan itu menyakiti Erik.


Karena itu, ia menarik napas dan mengurungkan pertanyaan yang hendak ia ajukan.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Ada yang ingin kamu sampaikan? Kamu seperti menyimpan sesuatu, tetapi takut mengungkapkannya." Ujar Erik.


Yuana tidak mengatakan apapun dan hanya mengangkat tangannya dan menunjukkan cincin yang sudah terpasang di jari manisnya kemudian kembali menunduk.


Erik tersenyum memahami maksud Yuana, kemudian meraih tubuh Yuana dan langsung mendekapnya dengan sangat erat.


"Maaf, sayang! Celine tidak pernah memakai cincin ini."


"Karena cincin meterai ini hanya boleh disematkan di jari pasangan yang menikah jika usia pernikahan mereka sudah mencapai dua tahun."


"Dan tepat dua tahun juga setelah penyematan cincin meterai, ditandai dengan penambahan nama Wiliam di belakang nama perempuan yang menjadi menantu keluarga Wiliam."


"Aku bersyukur karena usia pernikahanku dan Celine belum mencapai waktu dua tahun."


"Karena jika cincin ini sudah terpasang, maka apapun yang terjadi, tidak boleh ada perpisahan di dalam pernikahan yang telah termeterai dengan cincin ini."


"Cinta atau tidak, cincin ini menjadi harga mati sebuah pernikahan."


"Hmmmmm! Tuhan baik! Karena tidak membiarkan aku jatuh ke tangan perempuan yang salah." Erik menjelaskan dengan panjang lebar.


Yuana bernapas lega mendengar penjelasan Erik. Ia langsung mengangkat wajahnya dan perlahan mengecup pipi Erik. Erik yang mendapat kecupan tiba-tiba dari Yuana menjadi salah tingkah dan panas dingin.


"Awas saja kalau kamu sudah pulih! Aku akan mengurungmu di kamar terus." Ujar Erik dengan gemas sambil mencubit kedua pipi Yuana.


"Aaaaaaaaaaa!" Teriakan Yuana membuat semua mata tertuju kepada mereka berdua.


Bersambung




Jangan lupa mampir ya reader's tersayang dan kakak-kakak Author. Love you all😍😍


.


.


.

__ADS_1


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.😍😍😍😍😍


__ADS_2