Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
97. Saling Mencari


__ADS_3

Hubungan batin mungkin merupakan hal yang sepele bagi sebagian orang. Tetapi bagi mereka yang sudah memiliki ikatan batin, akan sulit dipisahkan walau dalam kondisi yang tidak memungkinkan sama sekali. Karena kekuatan cinta tidak dapat diremehkan, dan hanya mereka yang memiliki cintalah yang dapat merasakan betapa indahnya ikatan batin diantara orang-orang yang bercinta. Eda Sally


*****


Erik, Habib dan Alika masih dalam perawatan tim medis karena terluka cukup parah. Sampai saat ini bahkan mereka tidak sadarkan diri sama sekali.


Para medis merawat mereka dengan telaten, bahkan memberikan pengawasan ekstra sesuai dengan perintah si penjaga taman. Ia sendiri bahkan tidak beranjak dari samping Erik. Ia takut orang-orang itu nekat dan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan pada Erik.


Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya Erik perlahan-lahan menggerakkan tangannya dan kemudian membuka mata. Namun, ia bingung dengan sekelilingnya karena masih merasa pusing. Karena itu ia memilih untuk kembali memejamkan mata sampai rasa pusingnya benar-benar hilang.


Setelah sadar, ia memalingkan kepala dan memandang penjaga taman yang merupakan pengawal mereka.


"Dimana istriku?" Tanya Erik.


Pengawal tersebut terlihat bingung, namun sebagai orang yang sudah terbiasa di badan intelijen, ia berusaha menguasai diri agar Erik tidak curiga.


"Nona muda baik-baik saja. Jadi, tuan tidak perlu khawatir. Ia sementara di tempat yang aman." Jawab pengawal tersebut mengarang indah agar Erik tidak panik.


"Kenapa tidak kau bawa istriku kesini?"


"Kalau aku membawanya kesini, apa tuan muda mau agar orang-orang itu datang dan menculiknya di saat aku lengah?" Jawab orang itu balik bertanya dengan sedikit penekanan agar Erik tidak perlu khawatir.


"Tolong pastikan bahwa istriku baik-baik saja."


"Tenang saja tuan. Istri tuan muda baik-baik saja."


"Tolong panggilkan dokter agar segera memeriksaku. Aku ingin tahu kondisiku. Aku harus segera pulang agar bertemu dengan istriku. Aku tidak ingin dia khawatir." Kata Erik memberi perintah kepada pengawalnya


Pengawal yang memang tidak pernah menyampaikan identitasnya karena itu aturan yang sudah berlaku di organisasi mereka, segera keluar untuk melakukan perintah Erik.


"Maafkan saya jika mengganggu dokter. Tolong beri alasan yang masuk akal kepada tuan Gavin untuk tidak diperbolehkan keluar dari rumah sakit dan masih harus dalam masa perawatan."


"Kenapa harus seperti itu? Punya hak apa kamu mengatur pihak rumah sakit?" Tanya dokter itu heran karena merasa sedikit marah.


"Maafkan saya jika sudah lancang. Saya tidak bermaksud untuk mengatur pihak rumah sakit. Tetapi dalam peristiwa perampokan yang terjadi di rumah tuan Gavin, istri tuan Gavin dibawa pergi oleh orang tak dikenal. Jadi, jika dokter mengatakan bahwa ia sudah diperbolehkan pulang, maka itu akan membahayakan keselamatan tuan Gavin juga karena ia akan melakukan tindakan bodoh guna mencari istrinya." Kata pengawal itu menjelaskan.


"Oh! Maaf. Saya paham sekarang. Terima kasih sudah memberikan informasi yang penting ini." Kata dokter itu berterima kasih dan menepuk bahu si pengawal.


Mereka kemudian berjalan beriringan masuk ke ruang perawatan Erik. Erik yang melihat kedatangan dokter dan dua orang suster serta pengawalnya, berusaha untuk duduk.

__ADS_1


"Jangan dipaksakan untuk bangun tuan Gavin. Anda harus banyak istirahat. Sesuai hasil pemeriksaan kami, anda belum boleh terlalu banyak bergerak." Kata dokter mengingatkan.


"Tetapi saya merasa sudah sehat dokter." Kata Erik protes.


"Iya! Pikiran tuan Gavin memang sangat sehat tetapi tidak dengan fisik tuan Gavin."


"Kalau saya tidak diperbolehkan untuk bergerak, lalu saya harus terbaring berapa lama di sini? Saya harus segera pulang, dok! Istri saya sangat membutuhkan saya." Kata Erik dengan nada protes.


"Saya paham tuan. Tetapi kesehatan tuan juga penting. Jika kesehatan tuan terganggu, tuan tidak akan mampu menjaga istri tuan walaupun tuan ada di dekatnya."


Perkataan dokter itu membuat Erik langsung bungkam. Ia tidak mengatakan apapun lagi. Dokter itu memeriksa Erik dengan telaten dan hati-hati sekali.


"Sampai berapa lama saya harus berada di sini, dok?" Tanya Erik dengan nada lemah. Ia sudah pasrah dengan keputusan dokter.


"Kira-kira 4-5 hari tuan." Jawab dokter itu enteng sambil melihat kepada pengawal Erik yang menganggukkan kepala.


Aku masih punya waktu untuk mencari dan menemukan nona muda. Semoga orang yang membawanya adalah orang baik yang bisa menjaganya.


"4-5 hari? Tolong dok! Kalau bisa dipercepat. Saya bayar mahal tidak apa-apa. Yang penting jangan terlalu lama di sini. Istri saya pasti panik jika saya terlalu lama di rumah sakit dan tidak pulang-pulang." Erik seakan protes dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Kita lihat saja. Jika tuan ingin cepat pulih, tuan harus mendengarkan apa kata tim medis. Selamat beristirahat tuan." Kata dokter itu langsung keluar diikuti oleh dua susternya.


"Aku paham tuan."


*****


Yuana membuka mata dengan perlahan kemudian mengamati ruangan dimana ia tidur. Ia mencubit pipinya untuk meyakinkan diri bahwa ia tidak sedang bermimpi.


"Ini rumah siapa ya? Kenapa aku bisa ada di sini?"


Memikirkan hal itu membuat kepalanya pusing. Karena itu ia memejamkam mata sebentar untuk memulihkan rasa pusing yang menyerangnya.


Tiba-tiba, ia langsung bangun dan duduk. Ia mulai ingat dengan jelas kejadian di rumah mereka.


"Ini sudah jam berapa?"


Yuana bertanya pada dirinya sendiri sambil matanya berkeliaran mencari jam dinding. Setelah menemukannya, ia kaget dan memukul dahinya.


"Hah? pukul 03 sore? Kenapa aku bisa tidur sampai sore? Seingatku kejadian di rumah itu subuh."

__ADS_1


"Erik."


Setelah mengucapkan nama suaminya, Yuana segera turun dan berlari ke arah pintu yang ternyata dikunci dari luar.


"Tolong......"


Yuana berteriak dengan sangat kencang, namun tidak ada yang mendengarnya, karena ruangan itu kedap suara.


Karena lelah berteriak, Yuana akhirnya jatuh terduduk dengan lemas sambil bersandar di pintu. Ia menangis memikirkan kejadian tadi pagi dan juga khawatir dengan keberadaan Erik.


"Dimana suamiku Tuhan? Dimana?" Kata Yuana sambil terus menangis.


Tak lama kemudian, Yuana merasakan bunyi kunci pada pintu. Ia mulai waspada. Takut jika itu adalah orang yang akan melakukan sesuatu yang jahat.


Yuana bangun dan mengambil posisi kemudian matanya melihat dengan tajam ke arah gagang pintu pertanda orang yang di luar belum membuka pintu.


Apapun yang terjadi, aku tidak boleh lemah. Aku harus melawan walau pada akhirnya harus kalah daripada dibawa pergi oleh orang tak bertanggung jawab.


Tiba-tiba, ia melihat gagang pintu mulai pelan-pelan diputar. Yuana mulai memasang kuda-kuda menanti orang yang akan masuk. Ia bahkan sudah siap menghadapi apa yang akan terjadi.


Ketika pintu terbuka, Yuana tak lagi memperhatikan siapa yang membuka pintu. Ia langsung menyerang orang tersebut, yang dengan gesit menangkis, dan tak lama kemudian sudah mengunci kedua tangan Yuana.


"Ternyata kamu hebat beladiri juga." Kata orang itu.


"Hah? Kamu?"


Bersambung


.


.


.


.


.


Happi reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.

__ADS_1


😍😍😍😍😍


__ADS_2