
Cinta itu kuat seperti maut. Orang yang menjalaninya dengan hati yang tulus, tidak akan digoyahkan oleh apapun sekalipun banyak rintangan yang harus dihadapi dalam cinta. Karena cinta walaupun tidak dapat dinyatakan, namun dapat dirasakan. Eda Sally
*****
Erik yang sudah dua minggu berada di negeri orang dan sudah mulai mengikuti kegiatan kampus selama satu minggu, sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya dan suasana kampus. Ia terlihat bisa mengikuti semuanya dengan baik karena pada dasarnya Erik memang sangat cerdas.
Selama itu pula, Erik hanya berteman dengan satu orang saja, yaitu Arthur yang menurutnya sesuai dengan karakternya, dan itupun karena ia adalah anak CEO, pemimpin perusahaan Angkasa Grup di UK. Sifat pemilihnya dalam berteman tidak pernah berubah. Ia tidak ingin menghabiskan waktunya dengan orang yang tidak bisa diandalkan.
Walaupun baru satu minggu di kampus, Banyak wanita yang tergila-gila padanya karena wajah tampannya yang membuat para wanita mengalami penyakit iler. Namun tidak ada satu pun yang ia tanggapi. Baginya mereka hanyalah lalat pengganggu yang tidak perlu di tanggapi.
"Hai! Boleh aku menumpang dengan mobilmu?" Tanya Lucy dengan suara dibuat-buat karena ingin dekat dengan Erik.
Erik memberikan kode kepada Arthur untuk mengatasi hal tersebut.
"Maaf! Ini mobilku. Jadi jika kamu ingin menumpang, aku yang berhak memberi izin, bukan dia." Arthur berkata dengan ketus.
"Tidak apa-apa kalau memang bukan mobilnya. Aku tetap mau menumpang."
Erik tidak mempedulikan Lucy dan segera masuk dan duduk di belakang, Lucy pun tergesa-gesa untuk duduk di belakang. Ketika Lucy sudah duduk dan memasang sabuk pengaman, Erik segera keluar dan menuju ke bagian depan.
"Pindah ke belakang. Hari ini aku yang akan menyetir. Kamu boleh duduk manis dengan vampir yang ada di belakang." Kata Erik kepada Arthur dengan ketus.
"Baik tua... Arthur tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena sudah dipelototi oleh Erik.
"Apakah kamu tidak mendengar bahwa aku akan menyetir?"
Arthur segera turun tanpa bicara dan langsung pindah ke belakang kemudian duduk di sebelah Lucy. Lucy memelototi Arthur karena Arthur pura-pura jatuh kearahnya. Ia segera mendorong tubuh Arthur dengan kasar.
"Makanya duduk yang benar." Lucy menghardik Arthur yang tersenyum penuh kemenangan ke arah Lucy.
Erik yang menyetir, merasa mendapatkan kesempatan untuk mengerjai Lucy yang mengejarnya dan selalu mencari perhatian padanya. Tanpa pemberitahuan, ia segera melajukan mobil dengan sangat kencang. Badan Lucy dan Arthur sampai miring kiri kanan. Mereka malah sering berbenturan.
"Kenapa kau memelukku!" Hardik Lucy dengan kesal karena Arthur reflek memeluknya ketika ia sudah tidak memiliki pegangan lagi.
"Aku tidak punya pegangan, jadi aku harus memel,,,,, Arthur tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena wajah mereka berbenturan dan bibir mereka saling bersentuhan.
__ADS_1
"Menyebalkan!" Teriak Lucy dengan kencang
Erik tidak peduli dengan teriakan Lucy. Ia malah semakin gila melajukan mobil.
Arhur yang sedang memeluk Lucy terlihat mulai pusing karena mobil yang dilarikan Erik dengan kencang. Ia semakin kuat memeluk Lucy. Sementara Lucy berusaha melepaskan pelukan Arthur. Dan pada saat yang bersamaan, Arthur muntah tepat di pangkuan Lucy.
Lucy berteriak histeris ketika melihat pangkuannya penuh dengan muntah, hasil karya dari Arthur.
Erik tidak dapat menahan tawanya. Ia mulai memelankan mobil karena mereka sudah sampai mansion mewah milik keluarganya yang ada di UK. Mansion itu sering digunakan papanya ketika ada pekerjaan yang harus diselesaikan di UK. Ada banyak pelayan yang bekerja di situ dan mengurus mansion tersebut.
"Nah, sekarang tugasmu untuk mengantar wanitamu. Kalian terlihat mesra sekali dari tadi dan aku merasa kalian sangat cocok. Karena itu, aku tidak mau mengganggu waktu kalian. Selamat bersenang-senang."
"Oya! Tapi, lain kali kalau mau bermesraan hati-hati. Lihatlah wajah kalian. Kenapa sampai benjol-benjol begitu? Tak ku sangka kalian bermesraan dengan cara yang ekstrim sampai wajah kalian juga benjol-benjol."
Setelah berkata, Erik turun tanpa dosa dari mobil dan segera masuk ke dalam mansionnya tanpa menoleh sedikit pun ke arah mereka.
Lucy segera mengambil cermin di tasnya dan melihat wajahnya. Ia sangat terkejut karena dahinya ada tiga benjolan. Wajahnya langsung memerah menahan amarah dan juga malu.
Awas saja. Akan ku balas perbuatanmu pria gila. Kamu pikir kamu siapa sehingga tidak bisa aku taklukan. Lucy
Sambil membersihkan celananya, matanya terus memperhatikan mansion mewah di depannya.
Wah, mewah sekali mansionnya. Apakah itu miliknya? Aku akan bertanya pada Arthur.
"Jangan coba-coba jalan sebelum celanaku bersih. Ini semua gara-gara kau. Harusnya aku berpelukan dengan pria tampan itu, bukan kau!" Lucy berkata dengan penuh amarah ke arah Arthur.
Arthur yang sudah pindah dan duduk di belakang kemudi tidak mempedulikan ocehan Lucy.
Itu akibatnya kalau kamu terlalu cari perhatian dengan tuan muda. Manusia es itu tidak bisa kau sentuh sembarangan. Rasakan. Arthur.
Arthur tersenyum sendiri membayangkan saat ia memeluk Lucy dan bibir mereka bersentuhan. Tanpa sadar jari telunjuknya menyentuh bibirnya. Namun itu tidak berlangsung lama karena jarinya langsung pindah ke dahinya dan menyentuh tiga buah benjolan yang masih bertahan dengan gagah disana.
Ah, dahi benjol-benjol tidak apa-apa. Yang penting bibirku sempat bertamu di bibir wanita gila itu dan memberikan pelajaran. Tuan muda memang pintar. Aku harus berterima kasih padanya atas hadiah yang luar biasa siang ini. Arthur
"Kenapa senyum-senyum sendiri. Ayo jalan. Aku tidak mau lama-lama ada di mobil sial ini." Kata Lucy dengan ketus.
__ADS_1
"Kau bilang mobil sial? Lalu siapa yang menyuruhmu menumpang. Kau yang meminta sendiri kan? Harusnya berterima kasih. Mana sopan santunmu?" Balas Arthur dengan tidak kalah ketusnya.
"Iya cepat jalan. Aku bosan melihat wajahmu yang menyebalkan itu."
"Kalau wajahku menyebalkan, kamu bisa turun dan cari taksi. Aku lagi tidak mood untuk mengantarmu.
"Bagaimana kau dengan tanpa dosa menyuruhku menggunakan taksi sementara badanku bau gara-gara muntahmu?"
"Yah, anggap itu kecelakaan, dan kau bisa jelaskan pada driver taksi nanti."
"Aku tidak mau tahu. Pokoknya kau harus mengantarku."
"Kalau kau ingin diantar, kau harus memohon padaku karena ini mobilku. Bukan mobilmu. Jadi kau tidak bisa memerintahku dengan seenaknya. Memohonlah dengan benar dan aku akan mengantarmu."
Lucy sangat kesal dengan jawaban Arthur, namun ia juga tidak mungkin naik taksi dengan kondisinya yang seperti ini.
"Baiklah. Tolong antarkan aku. Puas!" Katanya dengan nada ketus.
"Oh! Itu masih terdengar sangat kasar baby. Katakan dengan lembut." Arthur tidak dapat menahan tawanya karena mendapat kesempatan untuk mengerjai Lucy.
"Tolong antarkan aku." Kata Lucy dengan suara yang mulai melemah.
"Nah! Jadi pintar kalau begitu." Kata Arthur sambil melajukan mobil dengan kencang menuju rumah Lucy.
.
.
.
.
.
Happy reading ya guys? Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.😍😍😍😍😍
__ADS_1