Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
53. Persiapan Pernikahan (Part 2)


__ADS_3

Celine sedang bingung sendiri dengan apa yang harus dilakukan. Pasalnya, pria yang diharapkan untuk bersamanya malah sangat dingin dan sedang tidur santai di sofa tanpa peduli sedikit pun dengannya.


Darimana dia tau tentang apa yang aku lakukan di luar ya? Bukannya selama ini dia sangat sibuk dan tidak sembarang keluar malam? Siapa yang telah menyampaikan info itu padanya? Ah, aku lupa. Dia punya banyak mata-mata dimana-mana, dan pasti mengawasiku. Tapi aku tidak peduli. Apapun caranya aku harus menikahinya, agar bisa mengangkat derajat keluargaku. Siapa yang tidak bangga bersuamikan seorang Erik Wiliam, Putra Tunggal dan satu-satunya pewaris Angkasa Grup?


Senyum Celine langsung merekah membayangkan kalimat terakhir yang baru saja dipikirkannya.


"Nona?"


"Eh! Maaf."


Celine kaget karena pegawai di butik itu memperhatikannya yang sementara melamun. Ia tentu saja malu. Namun pada dasarnya ia memang memasang wajah cuek berkulit tebal pada wajahnya, sehingga kedapatan seperti itupun dia tidak peduli


"Mari nona. Di sini ada beberapa gaun yang sudah saya pilihkan untuk nona. Silahkan nona memilih mana yang sesuai dengan selera dan keinginan nona."


"Baiklah."


Celine lalu mencoba semua gaun yang ditunjuk oleh pegawai itu kepadanya. Ia tidak puas hanya mencoba satu saja. Karena itu ia mencoba semuanya dan malah menginginkan semuanya.


Ah, andaikan dia tidak tahu tentangku. Tentu saat ini aku akan berputar di depannya dan menunjukkan betapa cantiknya diriku dengan gaun putih ini. Aku harus melakukan berbagai cara agar ia bisa mencintaiku dan melupakan perempuan kampung itu.


"Rik! Bagaimana penampilanku dengan gaun ini?"


Celine menyetel wajah secantik mungkin di depan Erik saat menunjukkan gaun yang sementara ia pakai.


"Kenapa kamu bertanya padaku?"


"Karena kamu calon mempelai pria, jadi kamu juga harus lihat, apakah aku cantik atau tidak."


"Apakah kamu buta dan tidak melihat cermin besar di ujung sana sehingga mengganggu tidurku?"


"Lalu untuk apa kamu mengajakku kesini kalau pada akhirnya harus membiarkan aku memilih sendiri?"


"Aku tidak pernah merasa mengajakmu. Kamu saja yang terlalu semangat melakukan hal tak berguna ini. Jangan ganggu tidurku lagi. Lakukan apa yang menurutmu baik. Jangan libatkan aku dalam permainan gilamu."


"Dasar manusia tidak punya hati."


"Apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan? Kamu saja tidak pernah mengutamakan hati dalam tindakan bodohmu."

__ADS_1


"Tindakan bodoh kamu bilang? Lalu kenapa kamu mau menikahiku?"


"Siapa yang mau menikahi wanita gila sepertimu? Kamu pikir aku kekurangan orang gila sehingga kamu membawa sifat gilamu dan menunjukkannya padaku?"


"Percuma berdebat denganmu, pria gila yang tak pernah mengenal cinta."


"Dan kamu mengaku jadi wanita waras yang mengenal cinta? Lucu! Apakah kamu bangga mengenal cinta banyak lelaki? Itu yang kamu namakan cinta? Lalu dari sekian banyak itu siapa yang telah menerima cinta seutuhnya darimu sehingga kamu memaksaku untuk menerima cintamu? Aku benar-benar heran denganmu yang sangat terobsesi dengan diriku."


Celine tidak berkata-kata lagi. Ia sangat marah. Tanpa menjawab lagi, ia segera berjalan dan membuka gaun pengantin itu serta membuangnya begitu saja, lalu mengambil tasnya dan hendak keluar.


"Se-inci saja kamu melangkahkan kaki dan keluar dari butik ini, maka kamu akan melihatku melakukan hal yang tidak pernah kamu bayangkan akan aku lakukan padamu." Kata Erik berdiri kemudian berjalan kearahnya.


Celine langsung berdiri mematung melihat kemarahan Erik. Ini pertama kalinya ia melihat Erik marah seperti ini


"Jika kamu ingin pergi, silahkan! Tapi jangan sekali-sekali mengadu pada ayahku tentang pertengkaran ini. Aku sudah bosan menghadapi siasat gila dari wanita licik sepertimu."


"Satu lagi. Aku harap kamu memikirkan kembali niatmu untuk menikah denganku. Karena jika kamu tetap bersikeras untuk menikah denganku, kamu akan menyesal seumur hidup."


Pertahanan Celine goyah sejak Erik mengancamnya untuk tidak keluar dari butik, ditambah lagi kalimat terakhir yang Erik ucapkan, membuat airmatanya tidak bisa berkompromi lagi. Ia sudah tidak peduli dengan harga diri.


"Jika kamu belum kapok, kamu boleh tetap antusias dan menggebu-gebu untuk menikah denganku. Jika tidak, cobalah untuk pikirkan lagi. Masih ada waktu satu minggu bagimu untuk berpikir."


"Apakah kamu pikir segampang itu membatalkan pernikahan ini?" Celine memberanikan diri untuk bicara setelah mampu menguasai emosinya.


"Siapa bilang tidak bisa. Kalau kamu dan aku bekerjasama, pernikahan ini bisa segera dibatalkan."


"Bagaimana caranya?"


"Kamu tinggal mengatakan pada orang tuamu bahwa kamu merasa tidak cocok denganku. Karena jika kamu yang menolak, ayahku tidak akan bisa memaksakan pernikahan ini."


"Kamu pikir gampang mengatakan batal pada orang tuaku?"


"Itu urusanmu sendiri untuk mengatakannya. Jangan libatkan aku lagi dalam permainan licikmu dan orang tuamu. Aku muak dengan semua ini."


"Cukup! Jangan menghina aku dan keluargaku lagi. Aku juga tak sudi menikahi pria gila yang tak berperasaan sepertimu."


"Dan kamu pikir aku sudi? Apa kamu juga pernah sekali saja memakai perasaanmu ketika kamu mempermainkan banyak pria di luar sana? Aku lebih tidak sudi dari yang kamu tahu. Aku tidak suka dengan wanita yang menyukaiku karena harta. Dan aku adalah Erik Wiliam, yang tidak boleh didekati dan disentuh oleh wanita yang tidak aku inginkan."

__ADS_1


"Stoooppp!!!"


"Cukup sudah dengan penghinaan ini. Aku tidak mau berurusan denganmu lagi." Celine terlalu marah dan berteriak tanpa mempedulikan para pegawai yang kaget dengan suara teriakannya.


"Jika ingin berteriak, kamu bisa masuk ke toilet. Disana kamu bebas mengekspresikan suaramu yang cempreng itu tanpa membuat telinga banyak orang sakit ketika mendengarnya."


Tanpa menunggu kalimat lanjutan lagi, Celine langsung menghentakkan kakinya dan keluar dari butik tersebut dan langsung menghentikan taksi yang kebetulan lewat. Ia melampiaskan emosinya dengan terus menggerutu.


"Dia pikir dia siapa berani menghinaku seperti ini."


Sopir taksi hanya meliriknya sekilas melalui kaca dan kembali fokus menyetir.


Sementara Erik kembali duduk di sofa dan menenangkan hatinya.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya seorang pegawai dengan sopan.


"Tidak usah! Aku merasa sudah lebih baik dan ingin pulang. Ingatkan semua untuk tidak mengatakan apapun pada tuan besar tentang semua kejadian ini. Aku tidak ingin mendengar laporan apapun yang sampai ke telinga ayah. Apa kamu mengerti?" Erik berkata tegas pada pegawai yang sejak tadi selalu ada di dekatnya.


"Baik tuan! Saya mengerti."


Erik tidak mengatakan apapun lagi. Ia langsung keluar meninggalkan butik dengan rasa puas yang tidak bisa dijelaskan. Ia berjalan sambil tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat Celine kesal.


"Sudah aku bilang. Jangan pernah coba untuk bermain-main denganku."


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya readers tersayang? Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2