Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
125. Butuh Waktu untuk Sendiri


__ADS_3

Kadang kita membutuhkan waktu untuk sendiri agar bisa berefleksi dan berusaha menerima hal yang menyakitkan bagi kita. Menyendiri bukan berarti menghindar, tetapi membutuhkan waktu sejenak untuk menenangkan hati. Karena ketenangan akan membuat kita berpikir jernih dalam menyikapi persoalan yang sedang kita hadapi. Eda Sally


*****


Erik menarik napas mendengar apa yang dikatakan Yuana. Namun, genggamannya pada tangan Yuana semakin erat.


"Maafkan aku jika aku tak jujur padamu sejak awal. Tapi aku harap kau tetap mempercayaiku. Aku sama sekali tidak mengkhianatimu." Kata Erik.


"Tapi aku belum ingin melihat wajahmu. Pergilah! Jika kamu tidak pergi aku tidak akan membuka mataku." Jawab Yuana.


"Aku tidak akan beranjak dari sini sampai aku mendapatkan maafmu. Setidaknya jika kamu ingin aku pergi, maka biarlah aku pergi dengan membawa maafmu."


"Aku belum bisa memaafkanmu. Aku ingin sendiri untuk sekarang. Kalian berdua silahkan keluar!" Kata Yuana masih menangis.


"Bagaimana aku bisa keluar jika kamu menangis terus seperti ini? Aku tidak sanggup meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Tolong jangan menangis lagi. Kasihan anak kita." Erik berkata sambil terus mengecup wajah Yuana.


"Keluarlah jika tidak ingin aku semakin membencimu."


Erik mengecup kening Yuana sangat lama, kemudian beranjak keluar meninggalkan Yuana. Gail masih bingung apakah ia akan keluar atau tidak. Ia memandang Yuana dengan penuh rasa khawatir. Ingin sekali ia mendekat, namun kondisi sekarang sudah berbeda. Karena itu ia memilih untuk ikut keluar.


Begitu Erik baru saja akan membuka pintu, Erik kaget melihat sekretaris Bram dan Arthur berada di balik pintu.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Erik langsung memeluk sekretaris Bram dengan air mata yang tidak bisa dibendung lagi.


"Kak! Tolong selamatkan hubungan kami. Aku tidak tahu apa lagi yang harus aku katakan."


"Tenangkan hatimu. Dia perlu waktu untuk sendiri agar bisa menerima semua kenyataan ini. Mungkin menurutmu kamu tidak salah, tetapi yang namanya wanita akan selalu peka dan penuh dengan rasa curiga. Mungkin ia masih belum yakin tentang hubunganmu dengan Celine." Kata Bram panjang lebar sambil menepuk bahu Erik.


"Tolong yakinkan dia bahwa aku tidak menyentuh Celine sama sekali. Aku bukan pria murahan seperti yang dia pikirkan."


Bram tersenyum dan menatap wajah Erik lekat-lekat. Gail yang berada dekat mereka sangat terharu mendengar percakapan diantara dua orang terhormat itu.


Mereka kemudian duduk sekitar dua jam di luar sambil menunggu Yuana menenangkan hatinya. Bram merasa bahwa sudah waktunya ia berbicara dengan Yuana. Karena itu ia memberanikan diri untuk masuk.


Ketika Bram masuk, ia melihat Yuana tengah duduk sambil membelai perutnya. Yuana tidak menyadari ketika sekretaris Bram masuk. Begitu mengangkat wajah, ia kaget karena Bram memandangnya dengan tersenyum.


"Kak!"


Hanya itu yang dikatakan Yuana. Ia menunduk dan kembali menangis. Bram tidak memeluknya, tapi menarik kursi dan duduk di hadapan Yuana. Ia membiarkan Yuana menangis tanpa mengatakan apapun.

__ADS_1


Setelah beberapa menit, sekretaris Bram melihat Yuana sudah mulai tenang.


"Boleh kakak bicara?" Tanya Bram.


Yuana tidak menjawab. Sebagai gantinya ia menganggukkan kepala sambil memaksa untuk tersenyum.


"Aku hanya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu. Kau hanya perlu menjawab ya atau tidak agar tidak menguras emosimu." Kata Bram dengan masih tersenyum.


"Apakah kau percaya padaku?"


"Iya."


"Apakah kau merasa sudah mengenalku dengan baik?"


"Iya."


"Jika demikian, ketika aku menikahkan kalian, apa kau berpikir bahwa aku tidak memikirkan semuanya sebelum melakukan hal itu?"


"Aku belum mengerti maksud kakak." Jawab Yuana dengan jujur.


"Begini! Aku tidak mungkin menikahkan kalian jika aku tahu bahwa telah terjadi sesuatu antara Erik dan Celine. Kamu sendiri tahu bahwa Erik sangat membenci wanita itu."


Yuana diam mendengar perkataan sekretaris Bram. Ia masih berpikir dalam kebingungan antara percaya dan tidak dengan apa yang baru saja di dengarnya.


Mereka saling diam sangat lama dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba tatapan sekretaris Bram berpindah ke perut Yuana. Ia melihat perut kecil yang sudah mulai menonjol, kemudian tersenyum ke arah Yuana.


"Keponakanku pasti akan tampan seperti papanya. Kamu ingin melihat foto Erik waktu masih kecil?" Tanya sekretaris Bram mengalihkan perhatian.


Yuana tersenyum dan menanggukkan kepala menanggapi perkataan sekretaris Bram.


Sekretaris Bram segera membuka dompetnya dan mengeluarkan sebuah foto yang selalu disimpan di dompetnya.


Ketika melihat foto masa kecil Erik, Yuana langsung tertawa lepas saking lucunya melihat foto itu. Pasalnya di foto itu, Erik terlihat berambut panjang dan lebih mirip seperti cewek.


Erik yang mengintip dari balik pintu kaca itu bertanya-tanya tentang apa yang membuat istrinya tertawa lepas seperti itu.


Sekretaris Bram yang melihat Yuana tertawa merasa memiliki peluang untuk berbicara.


"Kamu tahu, waktu sudah sekolah pun ia masih berambut panjang sampai banyak pria yang selalu ingin bermain dengannya. Banyak anak cewek yang gemas sampai sering mencubit pipinya jika pengawal kami tak memperhatikan."

__ADS_1


Tawa Yuana semakin keras. Ia sampai menutup wajahnya saking lucunya dan tidak bisa menahan tawa. Sekretaris Bram tersenyum karena berhasil membuat Yuana tertawa. Ia kembali memasukkan foto kesayangannya itu ke dalam dompetnya.


Sekretaris Bram membiarkan Yuana tertawa untuk kembali menetralkan emosinya. Setelah melihat Yuana agak tenang, sekretaris Bram kemudian menepuk pundak Yuana.


"Oya! Aku punya hadiah kecil untukmu dan juga ingin menunjukkan sesuatu kepadamu. Tetapi kamu harus ikut ke mansion untuk bisa mengambilnya."


"Jika kamu masih belum siap untuk berbicara dengan Erik, kamu boleh pergi bersamaku dengan mobil yang dibawa Arthur, sedangkan Erik akan bersama Gail." Kata sekretaris Bram menawarkan.


Yuana terlihat sedang berpikir mempertimbangkan tawaran sekretaris Bram. Ingin ia menolak tawaran itu, namun yang menawar adalah sekretaris Bram jadi ia tidak enak hati jika sampai harus menolak.


"Baik kak! Aku akan ikut. Tapi seperti janji kakak, aku tidak ingin se-mobil dengan Erik. Aku belum siap kak!" Kata Yuana dengan senyum.


"Tidak apa-apa. Aku paham dengan perasaanmu. Kamu wajar berpikir seperti itu. Dan siapa pun orangnya, pasti akan memikirkan hal yang sama sepertimu." Kata sekretaris Bram sambil tersenyum.


"Terima kasih, kak!"


Sekretaris Bram kemudian membantu Yuana turun dari tempat tidur. Mereka kemudian keluar dari ruang tempat Yuana dirawat dan berpamitan pada dokter Stevi. Erik sejak tadi sudah membereskan administrasi terkait perawatan Yuana.


Ketika mereka keluar, Yuana kaget karena Erik berdiri dibalik pintu sambil menatapnya dengan tatapan penuh cinta. Ia terlihat memamerkan senyumnya kepada Yuana yang semakin menambah ketampanannya.


Sementara Gail berdiri kaku dan menatap Yuana dengan tatapan yang sama seperti yang dilakukan Erik.


Bersambung.


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍


Maaf ya, kebetulan sempat jadi bisa up satu chapter hari ini. Terima kasih atas dukungan readers tersayang dan kakak-kakak Author.😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2