Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
25. Kehadiran Erik dan Masalah Baru.


__ADS_3

Tidak semua hal yang kita lakukan disukai orang lain. Mungkin kita berpikir bahwa kita sudah melakukan hal yang baik. Namun ada orang yang terkadang tidak melihat hal baik yang kita lakukan. Sikap kita dalam menghadapi hal seperti itu adalah terus melakukan kebaikan. Eda Sally


*****


Bersyukurlah atas sikap arogan orang lain terhadap kita, karena dari merekalah kita belajar bahwa kita tidak bisa menjadi cermin untuk diri kita sendiri.


Yuana yang sudah terbiasa dengan pekerjaan dan tantangan menghadapi tuan besar pemilik Angkasa Grup dan mulai bisa menyesuaikan diri. Ia tidak lagi kikuk dan bahkan mulai menikmati berada dekat orang-orang yang berwajah datar. Dengan sekretaris Bram pun, ia tidak akan berbicara jika tidak diajak bicara. Bahkan kini Yuana juga sudah terbiasa mengirit kata dan juga mulai terbiasa pelit kata-kata jika berada di dekat tuan Andre atau sekretaris Bram.


Pagi ini, mood Yuana benar-benar buruk dengan kedatangan Erik di kantor pusat Angkasa Grup. Bagaimana tidak, Erik juga bekerja mulai hari ini di Angkasa Grup. Orang-orang tentu tidak tahu siapa Erik. Itu atas permintaan tuan Andre. Ia tidak mau anak satu-satunya di sorot publik, apalagi ada yang berniat mencelakainya, karena Erik sendiri tidak mau jika terus dikawal. Ia lebih suka melakukan sesuatu yang menurutnya tidak mengekang dirinya.


Erik ditempatkan menjadi karyawan biasa. Bagi Erik tidak masalah! Yang penting bisa satu kantor dengan Yuana, walaupun papanya menantang hubungannya dengan Yuana. Bahkan ketika ia mengatakan niat untuk bekerja di kantor, papanya sudah mengingatkannya untuk tidak dekat dengan Yuana.


"Jika kamu masih ingin melihat dia bekerja di kantorku, maka jangan melibatkan perasaan dalam pekerjaan karena aku bisa memecatnya kapan saja."


Begitu kalimat yang keluar dari mulut tuan Andre. Erik tentu sudah tahu bahwa papanya tidak pernah main-main dengan perkataannya.


Yuana bekerja tapi pikirannya tidak ada di tempat dimana ia bekerja. Ia sudah mulai menduga kemungkinan terburuk yang akan dilakukan tuan Andre padanya.


Dia sudah ku anggap seperti kakakku, tapi aku tidak mungkin menyapanya jika berada di kantor karena pekerjaanku bisa menjadi taruhannya. Yuana


Yuana yang sementara bergelut dengan pikirannya tiba-tiba disadarkan dengan panggilan sekretaris Bram.


"Yuana, tuan besar memanggilmu untuk ke ruangannya." Kata sekretaris Bram dengan wajah khas manusia kaku.


"Baik tuan! Terima kasih." Setelah berkata Yuana tidak perlu membuang-buang waktu karena tidak mau mengambil resiko jika terlambat datang. Ia langsung berjalan menuju ruangan tuan Andre.


Yuana masuk dengan sapaan yang tentu tidak akan ada jawaban sama sekali. Yuana masih setia berdiri dan menanti kapan sang tuan besar akan bertitah.


Yuana yang sudah terbiasa dengan keadaan dimana ia akan berdiri diam sampai sang tuan berbicara, sudah mulai mengkondisikan suasana yang seperti itu. Bahkan kakinya juga sudah mulai bisa bekerjasama.


Kira-kira setelah setengah jam berdiri, akhirnya wajah yang sejak tadi terlihat terlalu mahal untuk menatapnya, mulai terangkat.


"Duduk! Ada yang ingin aku bicarakan." Berkata dengan sorot mata penguasa yang terlihat mematikan bagi yang tidak terbiasa menatap sepasang mata itu.

__ADS_1


Yuana patuh dan duduk dengan semanis mungkin.


"Apakah kamu yang meminta Erik bekerja di sini?" Tanya sang tuan dengan wajah dinginnya.


"Tidak! Bukan saya tuan!" Yuana menjawab dengan cepat untuk mengamankan posisinya.


"Aku perlu mengingatkan, dan perlu kau catat baik-baik, karena aku tidak suka mengulangi kata-kataku." Nada bicaranya mulai mengintimidasi.


"Jangan pernah dekat dengan Erik jika masih ingin bekerja di sini. Aku bisa mendapatkan orang yang lebih hebat darimu. Dan aku pastikan bahwa jika aku memecatmu, maka tidak ada perusahaan yang akan menerimamu untuk bekerja lagi, karena hampir semua perusahaan berada dibawah naungan Angkasa Grup."


"Dan satu lagi! Perusahaan tempat kakakmu bekerja adalah anak perusahaan Angkasa Grup. Jadi jangan melakukan kesalahan, karena jika tidak, bukan hanya kamu saja yang akan kehilangan pekerjaan, tetapi kakakmu juga. Sampai di sini apakah kamu mengerti?"


"Mengerti tuan." Katanya dengan nada yang bergetar, menahan air matanya yang hampir lolos, sementara lututnya sudah tidak bisa dikondisikan lagi karena sudah mulai gemetar.


"Dan jangan pernah menatap atau menyapa Erik jika bertemu. Jika kau melanggar apa yang baru saja aku katakan, maka konsekuensinya sudah bisa kau tebak."


"Ingat! Aku tidak pernah main-main dengan perkataanku." Memberikan penekanan agar lawan bicaranya paham dengan keinginannya.


Tolong bekerjasama ya air mata? Jangan sampai kau muncul di depan manusia tidak berhati ini. Cukup aku saja yang muncul di depannya.


"Kamu boleh keluar sekarang. Ingat untuk tidak melanggar apa yang sudah aku katakan."


Setelah berkata demikian matanya kembali fokus dengan pekerjaannya seolah tidak ada orang dihadapannya dan pertanda ia tidak ingin berbicara lagi.


"Terima kasih tuan. Permisi!"


Tidak ada kalimat panjang yang diucapkan. Bagi Yuana itu sudah cukup, karena sang tuan juga tidak akan membalas kata-katanya lagi jika sudah tidak menatapnya.


Yuana segera keluar dengan perasaan yang tidak menentu. Entah harus menangis atau tertawa. Dua perasaan itu bergejolak dalam dadanya.


Begitu sampai di depan pintu ruangan dirinya dengan sekretaris Bram, Yuana tidak segera masuk. Ia masih berdiri sejenak untuk menenangkan perasaannya agar terlihat biasa di depan sekretaris Bram yang mungkin juga tidak akan iba sama sekali. Cihh, mereka kan sama. Mana mungkin dia iba.


Setelah di rasa bahwa hatinya sudah mulai tenang, Yuana masuk dengan wajah yang dibuat semanis mungkin. Ia duduk dan kembali menekuni pekerjaannya. Ia berpikir bahwa sekretaris Bram tidak mengetahui apa yang terjadi. Sementara yang dia pikirkan salah karena tidak ada hal yang akan disembunyikan sang tuan dari sekretarisnya itu.

__ADS_1


Kasian anak ini! Pasti habis diancam sama tuan besar.


Yuana fokus dengan pekerjaannya tanpa menyadari bahwa sekretaris Bram menatapnya dari tadi. Merasa ditatap, Yuana segera mengangkat wajahnya dan kaget ketika sekretaris Bram menatapnya.


Tumben hari ini menatapku. Biasanya kalau bicara juga tanpa menatap sama sekali. Apakah sebentar lagi akan turun salju?


"Ini ada beberapa dokumen yang harus kamu selesaikan di apartemen. Kamu boleh pulang sekarang. Aku akan mengambilnya di apartemenmu tepat pukul 20.00 karena aku harus merangkum semuanya malam ini."


"Jadi pastikan sebelum batas waktu yang sudah aku bilang, kamu sudah harus menyelesaikannya dan menyusunnya sesuai urutan seperti biasa."


Setelah mengucapkan kalimat terakhir, ia kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa menunggu reaksi Yuana.


"Baik tuan! Akan saya kerjakan seperti yang tuan katakan." Katanya sambil beranjak mengambil tumpukan dokumen dan kemudian melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 16.00 sore.


Aku masih punya waktu tiga jam untuk menyelesaikan semuanya


Yuana segera mengemas barang-barangnya dan terlihat tergesa-gesa keluar.


Ia melewati lift khusus agar tidak bertemu dengan Erik. Bebannya terlalu berat untuk diungkapkan. Ingin ia segera sampai di apartemennya untuk menangis sekuat-kuatnya.


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya guys, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2