
Setiap orang pasti pernah mengalami kekhawatiran dalam hidupnya. Entah ia tinggal di dalam istana yang mewah, atau ia hanya tinggal di bawah atap gubuk reot, ia tidak akan pernah lepas dari rasa itu. Kegelisahan selalu memiliki ruang untuk tinggal di hati ketika kita mulai takut dan khawatir dengan bayangan kita sendiri tentang hari esok yang kita sendiri tidak bisa memprediksinya. Berhentilah dari rasa khawatir, dan jalanilah hidup dengan hati yang tulus dan tenang, maka kebahagiaan akan selalu menghampiri kita. Eda Sally
*****
Yuana sudah hampir dua bulan melakukan perannya sebagai ibu yang merawat anaknya. Walaupun ada banyak pelayan di mansion mewah keluarga Wiliam, ia selalu berusaha untuk bisa mengurus bayinya sendiri.
Garrick Wiliam, nama indah yang diberikan sang ayah, Erik Wiliam kepada putra semata wayangnya itu. Ia tidak ingin memberikan nama yang terlalu panjang. Baginya, yang penting nama anaknya mudah diingat dan memberikan makna positif.
Sebagai seorang istri, Yuana tidak mengusulkan apapun. Ia ingin agar suaminya yang menjadi pengambil keputusan.
"Sayang, Garri sudah tidur?" Tanya Erik ketika masuk kamar dan melihat istrinya sedang menata baju-baju anaknya yang baru saja dibelikan Erik dua hari yang lalu.
"Sudah kak!" Jawab Yuana pelan.
Erik segera berjalan dan duduk di samping sofa tempat Yuana duduk.
"Aku boleh bicarakan sesuatu denganmu?" Tanya Erik dengan tatapan serius.
"Boleh kak! Ada apa?" Tanya Yuana heran saat melihat tatapan serius suaminya.
"Apa aku sudah boleh melakukan ritual wajibku?" Tanya Erik dengan hati-hati sekali.
Yuana melongo mendengar pertanyaan Erik. Dalam hatinya ia tidak bisa menahan tawanya. Ia tahu suaminya sudah tidak bisa menahan diri, tetapi untuk mengerjai suaminya ia sengaja memasang wajah memelas.
"Apakah boleh?" Tanya Erik lagi ketika melihat Yuana merespon pertanyaannya dengan wajah melongo.
"Belum boleh!" Jawab Yuana dengan ketus pura-pura mengerjai Erik.
"Hmmmm!" Hanya itu yang keluar dari mulut Erik. selanjutnya ia tertunduk lesu sambil memejamkan mata dan meremas rambutnya dengan kasar.
Yuana segera duduk di samping Erik setelah pekerjaannya selesai dan dengan lembut menyandarkan kepalanya di bahu Erik.
Erik balas dengan merangkul tubuh istrinya. Sejak melahirkan badan Yuana lebih berisi, dan itu membuat Erik semakin gemas setiap kali memandang tubuh istrinya.
"Aku menginginkanmu sayang. Please!" Ujar Erik sambil menatap Yuana dengan tatapan sayu penuh cinta.
Yuana tersenyum kemudian dengan perlahan mengangkat wajah dan mengecup pipi Erik dengan lembut dan lama.
Erik mulai merasakan hasrat yang makin mendesaknya. Ia berbalik dan mengeratkan pelukannya kepada Yuana dan mengecup kening istrinya sangat lama.
__ADS_1
"Aku akan menunggu sampai kamu siap. Jika kamu tidak menginginkannya tidak apa-apa. Aku mengerti." Bisik Erik dengan terus menahan kecupannya di kening Yuana.
"Aku sudah siap! Kamu boleh melakukannya." Jawab Yuana sambil berbisik.
"Apakah yang baru saja kamu katakan itu benar?" Tanya Erik kaget dan lantas menghentikan kecupannya dan memandang wajah istrinya.
Yuana menganggukkan kepala sambil tersenyum kepada Erik. Maka tanpa ampun lagi, Erik segera melakukan semua yang sudah ditahannya selama ini. Tangan dan mulutnya seolah bekerja sama untuk mencapai tujuannya.
Yuana memejamkan mata menikmati apa yang dilakukan sang suami hingga pada akhirnya mereka sama-sama kelelahan.
Erik yang merasa belum cukup puas karena menahan diri sangat lama, segera menggendong Yuana dan membawanya ke tempat tidur. Sekali lagi ia melakukan ritualnya hingga mereka benar-benar kehabisan tenaga.
"Terima kasih sayang. Aku semakin mencintaimu. Setelah melahirkan kenapa tubuhmu semakin seksi? Apakah kamu sengaja menggodaku dengan tubuhmu, hah?" Ujar Erik sambil menggigit hidung Yuana.
"Sakit!" Rengek Yuana dengan manja.
"Itu belum seberapa sakit dibandingkan dengan aku yang harus menahan diri selama hampir empat bulan."
"Tapi itu kan bukan salahku." Jawab Yuana membela diri.
"Aku tahu sayang. Maafkan aku. Aku mencintaimu." Bisik Erik sambil mengeratkan pelukannya pada Yuana.
"Oya! Aku ingin membersihkan diri di kamar mandi. Ayo sama-sama." Pinta Erik pada Yuana.
"Apa yang kamu takutkan? Apa aku semenakutkan hantu jadi-jadian yang sering kamu tonton?" Tanya Erik sambil tertawa. Ia paham dengan ketakutan istrinya.
"Tidak mau!" Ujar Yuana sekali lagi.
Erik yang sudah turun dari tempat tidur segera menggendong tubuh Yuana tanpa permisi dan langsung membawanya ke kamar mandi.
Dengan lembut ia membersihkan tubuh istrinya. Semakin lama keinginan untuk menuntaskan hasratnya semakin bertambah. Akhirnya, tanpa izin lagi Erik menyerang dengan brutalnya dan tidak memberikan kesempatan kepada Yuana untuk menolak keinginannya.
Setelah selesai ia kembali membersihakn tubuh sang istri dan menggendongnya keluar dari kamar mandi.
"Apakah kamu akan terus menggendongku seperti ini di depan anak kita? Harusnya yang jadi prioritas sekarang untuk kamu gendong adalah anak kita, bukan aku." Ujar Yuana ketika Erik belum menurunkannya.
"Aku akan terus melakukannya. Anggap saja kamu anak pertamaku." Jawab Erik tanpa dosa.
Erik dengan bati-hati menurunkan Yuana dan membantunya memakai baju.
__ADS_1
"Terima kasih kak!" Ucap Yuana ketika Erik selesai memakaikan bajunya.
"Iya sayang!" Jawab Erik sambil mengecup bibir Yuana sangat lama.
"Oya! Jangan menambah atau mengurangi berat badanmu karena ini sudah sangat ideal dan aku menyukainya. Cukup seperti ini!" Kata Erik dengan tersenyum sambil menatap wajah istrinya dengan penuh cinta.
"Apa kamu akan berhenti mencintaiku jika berat badanku bertambah?" Tanya Yuana dengan cemberut.
"Bukan itu maksudku. Entah kamu gemuk atau tidak cintaku tidak akan pernah berubah. Aku ingin kamu sehat, karena berat badan juga bisa mempengaruhi kesehatanmu. Maafkan aku." Ucap Erik sambil memeluk tubuh mungil istrinya.
"Kak!"
"Iya! Ada apa sayang?" Jawab Erik sambil melepaskan pelukannya dan memperbaiki posisi duduknya kemudian menatap Yuana dengan serius.
"Aku takut jika suatu saat papa berkunjung kesini dan mendapati kenyataan yang sebenarnya. Aku tidak ingin berpisah lagi denganmu dan anak kita." Kata Yuana dengan wajah lesu sambil menunduk.
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Jangan pernah khawatir. Kita akan selalu bersama dengan anak kita. Tidak boleh ada yang memisahkan kita dengan alasan apapun." Jawab Erik meyakinkan Yuana.
"Bagaimana jika yang memisahkan kita adalah ayahmu sendiri? Aku masih trauma dengan kejadian sebelum menikah. Aku takut kak." Kata Yuana sambil membenamkan kepala di dada Erik.
Erik dengan lembut membelai rambut Yuana dan secara perlahan kepalanya menunduk dan dengan lembut mengecup rambut indah istrinya.
"Untuk kali ini, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kamu tahu, alasan aku pergi bersama sekretaris Bram waktu itu karena selain ingin mengumpulkan bukti, aku juga ingin mencegah orang tua Celine menyalahkan papa dan mami. Aku tidak ingin ada orang menjelekkan orang tuaku karena aku."
"Selain itu, aku juga ingin agar papa sendiri mengetahui kelakuan Celine yang sebenarnya sehingga tidak lagi menekanku soal pilihan dan teman hidup." Erik menjelaskan panjang lebar.
"Bagaimana kalau papa ternyata punya ide untuk menjodohkanmu lagi?" Tanya Yuana penuh selidik.
Bersambung
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
😍😍😍😍😍