
Keputusan yang diambil secara sepihak memang akan menyakiti pihak lain. Ketika berhadapan dengan hal ini, pihak yang tersakiti akan merasa dikhianati. Pengkhianatan bukanlah hal yang baru. Karena setiap orang, pernah mengkhianati atau dikhianti. Entah kita berada di pihak yang mana, kita tidak perlu menyalahkan diri sendiri atau orang lain. Karena suka atau tidak, jika hal yang kita takutkan sudah terjadi, maka kita tidak akan bisa melakukan apapun selain menerima kenyataan dan menjalaninya. Eda Sally
*****
Erik sejak pulang dari UK, meminta kepada sang ayah agar ia sendiri yang mengawasi beberapa anak cabang Angkasa Grup diluar kota atau luar pulau. Ia memang sengaja melakukan itu agar tidak menimbulkan kecurigaan ayahnya tentang hubungannya dengan Yuana.
Pagi ketika sang ayah memanggil Yuana, Erik sedang tugas keluar kota, dan menginap disana selama dua hari. Yuana juga mengetahui hal itu dan bahkan saat malam sebelum paginya Yuana akan berangkat ke Afrika Selatan, Erik masih sempat mengirim pesan. Karena itu ia berpikir bahwa semua baik-baik saja.
Sore itu, Erik kembali dari luar kota dengan tergesa-gesa karena sejak pagi ia menelpon Yuana dan nomornya tidak aktif. Ia takut terjadi sesuatu dengan Yuana. Karena itu ia tidak mempedulikan ayahnya ketika sampai dan bergegas ke apartemen Yuana untuk bertemu dengan Yuana.
Hatinya mulai tidak tenang ketika sejak pagi ia menelpon dan nomor Yuana tidak aktif. Ditambah lagi sikap ayahnya yang tersenyum sejak ia pulang dari luar kota. Ini kenyataan langka, karena walaupun Erik adalah anak kandungnya, Andre Wiliam tidak sembarang memberikan senyumnya.
Begitu sampai, Erik mematikan mesin mobil dan meninggalkan kunci mobil tergantung begitu saja. Ia langsung berlari masuk ke dalam lift menuju apartemen Yuana. Remot yang ada di tangannya dari jauh sudah ia tekan. Begitu pintu terbuka, Erik langsung masuk tanpa mengucapkan salam.
Yang ada di pikiran Erik saat itu adalah takut terjadi sesuatu pada Yuana. Karena itu begitu masuk ia langsung menuju ke depan kamar Yuana. Sejenak ia berdiri untuk menenangkan hatinya. Setelah agak tenang, Erik bermaksud untuk menendang pintu. Namun ia mengurungkan niatnya dan tangannya bergerak memutar gagang pintu dengan perlahan.
Erik kaget ketika tahu bahwa pintu kamar Yuana tidak terkunci.
"Yu? Maaf kalau tidak sopan. Boleh aku masuk sayang?"
Erik menunggu satu detik, dua detik, tiga detik, sampai kira-kira sepuluh detik sudah berlalu namun tidak ada respon. Akhirnya Erik kembali memutar gagang pintu dan membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, Erik tidak melihat Yuana. Ia hanya melihat bantal dan guling serta bedcover yang tertata rapi.
"Kemana dia? Kenapa tidak ada kabar sama sekali?"
Erik memeriksa semua sudut ruangan, namun hasilnya nihil karena ia tidak menemukan jejak Yuana. Akhirnya Erik memilih untuk duduk di sofa ruang tamu. Saat duduk, Erik memejamkan mata, sementara otaknya berpikir mencari tahu dimana keberadaan Yuana.
Beberapa saat kemudian, ia membasuh wajahnya dengan kedua tangannya dan membuka mata. Saat membuka mata itulah ia melihat amplop yang bertuliskan namanya.
__ADS_1
Erik tidak sabar dan langsung menyobek amplop tersebut. Ia sudah tak sabar untuk mengetahui isi amplop itu. Ketika amplop sudah terbuka, mata Erik langsung tertuju pada huruf-huruf yang tertera pada kertas tersebut.
Walaupun merasakan sakit yang sangat mendalam, Erik berusaha menguatkan hatinya dan membaca setiap tulisan itu sampai selesai. Setelah selesai membaca, terlihat dua butir airmata keluar dan jatuh di pipinya.
"Kamu tega Yu! Kamu tega! Aku sudah bilang jangan dengarkan siapapun selain aku. Mana janjimu?"
"Kalau kamu tidak bisa menepati janjimu, jangan pernah ucapkan! Karena lebih baik aku tidak pernah mendengar kamu berjanji daripada aku mendengarnya dan kemudian semua janji itu hanya kata-kata manis yang sempat singgah di telingaku."
Erik menangis meraung-raung seperti seorang anak kecil. Ia tidak tahu harus melakukan apalagi.
"Kalau papa yang menyuruhmu pergi, harusnya kamu mengatakannya padaku agar aku ikut bersamamu. Untuk apa aku hidup kalau tanpamu?"
"Kesalahan apa yang telah aku lakukan padamu sampai kamu setega ini, Yu?"
Erik menangis sambil memegang kepalanya. Ia bingung harus melakukan apa. Setelah agak tenang, Erik menatap sofa tempat ia duduk dan membayangkan saat terakhir ia memeluk Yuana hingga tertidur dipelukannya.
Erik bangun dan keluar dari apartemennya. Ia segera membawa mobilnya dan langsung berjalan. Erik tidak pulang ke rumah, tapi langsung ke luar kota lagi, ke tempat dimana Yosua dan ibunya tinggal.
Erik pernah mendatangi anak cabang perusahaan Angkasa Grup dimana Yosua bekerja, sehingga ia tahu dimana apartemennya.
Erik sudah tidak peduli lagi dengan rasa lelah yang menyerangnya. Sedapat mungkin ia harus sampai malam ini agar bersama-sama mencari jalan keluar, walaupun ia sudah tahu apa yang akan dilakukan Yosua padanya.
Sepanjang jalan, ketika memikirkan Yuana, tanpa sadar airmatanya menetes. Ia memang sangat merasa kehilangan, karena ini pertama kalinya ia jatuh cinta pada seorang wanita.
"Ah Tuhan! Kalau aku tahu pada akhirnya akan seperti ini, jangan pernah buka hatiku untuk mencintai seorang wanita. Biarkan aku tetap dalam kesendirianku dengan hati yang dingin pada semua wanita."
Karena jalan sambil memikirkan tentang Yuana, perjalanan empat jam tidak terasa baginya. Hatinya lega ketika mobilnya memasuki kota dimana Yosua dan ibunya tinggal.
Setelah beberapa menit, Erik sudah tiba di apartemen Yosua. Ia langsung berjalan ke arah pintu dan membunyikan bel.
__ADS_1
Tak lama kemudian, bu Santy terlihat membukakan pintu untuk Erik. Terlihat mata wanita tua itu bengkak karena kebanyakan menangis.
"Bu, Yuana pergi! Maafkan aku karena tidak bisa menjaga Yuana dengan baik."
Erik kembali menangis tanpa mengeluarkan suara. Bu Santy sama sekali tidak mengatakan apapun. Ia hanya diam dengan airmatanya yang terus menetes.
Kira-kira sepuluh menit kemudian, Yosua terlihat keluar dari kamarnya. Rupanya tadi ia sedang memeriksa file yang masuk untuk diperiksa.
Yosua tertegun ketika melihat Erik. Tanpa ba bi bu, Yosua langsung mencengkram kerah baju Erik dan memukulinya tanpa ampun. Erik sama sekali tidak membalas perlakuan Yosua. Setelah puas memukuli Erik, barulah Yosua melepaskannya. Terlihat darah keluar dari sudut bibir Erik dan banyak benjolan yang sudah bersarang di wajahnya.
"Sudah aku peringatkan sejak awal. Jika kau tak bisa menjaga adikku, jangan pernah memberikan cinta yang pada ujungnya akan seperti ini. Dia satu-satunya harta yang aku punya. Papamu atau kamu mau pecat aku silahkan! Aku tidak peduli! Tapi jangan pernah pisahkan aku dari adikku. Aku lebih baik hidup gembel daripada bergelimang harta tapi harus kehilangan adikku."
"Kamu tahu! Dia tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Karena sejak kecil dia hanya berkutat dengan buku, dan berbagai hal untuk pengembangan dirinya. Cepat pergi dari sini sebelum emosiku memuncak lagi."
Bersambung.
.
.
.
.
.
Happy reading ya guys? Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.😍😍😍😍😍
Oya! Difavoritkan ya? Agar kalian dapat pemberitahuan jika saya update. Saya update setiap hari.😍😍
__ADS_1