Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
173. Pertunangan Bram dan Nita


__ADS_3

Komitmen dalam sebuah hubungan adalah berjanji untuk saling setia dan mencintai hanya satu orang saja, sebagai pasangan yang akan terus bersama, baik dalam suka maupun duka. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa tantangan dalam hubungan itu pasti ada. Kita hanya perlu menerima perbedaan diantara kita, dan berusaha untuk setia meski kadang hati mungkin akan menjadi tawar. Eda Sally


******


Nita memelototkan matanya mendengar apa yang baru saja terdengar dari mulut Bu Jessy. Ia terlihat memegang tangan maminya dengan erat, karena menahan rasa gugup.


Bagaimana mungkin aku akan menikah dengan pria yang baru beberapa jam yang lalu aku sempat bersitegang dengannya? Dia pria asing yang tidak aku kenal sama sekali. Nita


Bu Grace yang melihat putrinya gugup dengan tubuh yang sudah bergetar, memegang pundaknya, untuk menguatkan putrinya.


"Terima dan jalani dulu. Mami tahu kamu belum pernah pacaran."


"Mungkin ini pria yang Tuhan titipkan buat kamu. Jadi, terima dan jalani."


"Lagi pula mami juga suka sama pria itu, karena mami sudah sangat mengenalnya."


"Ia memang terlihat dingin, tetapi dia pria yang bisa kau andalkan." Ujar Bu Grace sambil merangkul tubuh Nita.


"Tapi, aku belum pernah dekat dengan pria mana pun, dan pria itu sangat berwibawa."


"Aku jadi sangsi, apakah aku bisa mendampinginya atau tidak."


"Aku juga terkadang ceroboh, dan itu yang membuatku takut."


"Ditambah lagi, aku juga ceplas ceplos dalam berbicara."


"Aku takut tidak bisa membawa diri dengan baik di hadapan keluarga yang terhormat ini." Nita mengungkapkan alasan keraguannya dengan jujur.


"Nita Samantha, apakah kamu bersedia?" Suara Jessy Larina kembali terdengar dari mikrofon.


Nita masih bingung dan melirik maminya. Bu Grace yang paham bahwa anaknya tidak bisa mengambil keputusan, segera menganggukkan kepala.


Nita memaksakan diri untuk tersenyum, dan kemudian menganggukan kepala ke arah bu Jessy yang sementara menatapnya dengan harap-harap cemas karena khawatir lamaran putranya tidak di terima.


Setelah mendapat kode tanda setuju dari Nita, Bu Jessy tersenyum, dan terlihat mengusap wajahnya tanda rasa syukur, kemudian kembali mendekatkan mulutnya ke arah mikrofon.


"Jika ananda Nita bersedia, maka saya harap ananda Nita segera ke depan untuk proses pemasangan cincin."


"Saya tidak ingin berlama-lama, karena saya ingin melihat putra saya bahagia."


"Lagi pula, semua sudah berkumpul di sini, jadi saya ingin, agar hari ini juga, pertunangannya dilangsungkan."


"Karena itu, saya harap, ananda Nita dan ananda Bram segera maju ke depan."

__ADS_1


"Saya terpaksa harus langsung memandu acara ini, karena keinginan putra saya untuk segera menikah."


"Saya juga memastikan bahwa pernikahan Bram dan Nita, akan dilangsungkan dalam waktu tiga hari ke depan."


"Dan karena kali ini yang akan menikah adalah putraku Bram, maka yang akan mempersiapkan semuanya adalah aku sendiri dan suamiku."


Nita terlihat berjalan dengan perlahan, dan sesekali melirik Bram dengan rasa takut dan grogi.


Sekretaris Bram yang melihat tingkah Nita yang lucu, tersenyum penuh kemenangan, dan menatap Nita dengan tajam dengan maksud untuk menggoda Nita.


Nita yang ditatap seperti itu memalingkan wajahnya dan terus melangkah dengan kaku tanpa melihat sekretaris Bram sama sekali.


Setelah sampai di depan, seorang pelayan yang sudah mempersiapkan cincin pertunangan, terlihat membawa sebuah nampan dan berdiri di depan Jessy Larina.


Jessy Larina mengarahkan Bram dan Nita untuk semakin dekat, karena acara pemasangan cincin akan segera dimulai.


"Karena acara ini mendadak, maka sebelum pemasangan cincin, saya harap kesediaan putri saya, ananda Yuana Samantha Wiliam untuk menyanyikan sebuah lagu."


Yuana yang sementara berada dalam pelukan Erik sejak tadi kaget ketika mendengar ibu mertuanya memintanya untuk bernyanyi.


Ia menatap Erik dengan maksud meminta izin suaminya. Ia berharap Erik menolak, terapi Erik malah menganggukkan kepala.


Yuana akhirnya maju ke depan, memutarkan musik dari handphone-nya, dan membawakan lagu 'Restu' milik Syahrini.


Semua terpesona dan kagum mendengar suara Yuana yang sangat memanjakan telinga, dan membelai perasaan itu.


Semua bertepuk tangan melihat mereka yang selalu mesra dan saling menyayangi itu.


Yang tidak bertepuk tangan adalah Nita, karena ia sedang berhadapan dengan Bram. Pikirannya sudah mulai jalan-jalan, dan ia sudah membayangkan yang tidak-tidak.


Ketakutannya semakin bertambah ketika Jessy Larina berjalan kembali ke arah mic.


"Kini tiba saatnya, acara pemasangan cincin."


"Karena itu saya harap ananda Nita dan Bram untuk saling mendekat, dan jangan terlalu menjaga jarak."


Nita terlihat menarik napas panjang, dan tidak berani menatap wajah sekretaris Bram. Sementara sekretaris Bram terus saja menatap Nita dan tersenyum nakal ke arah Nita.


Setelah mendapat arahan dari Jessy Larina, sekretaris Bram mengalihkan pandangannya ke arah cincin yang ada di nampan. Perlahan ia mengambil cincin itu dan memegangnya.


"Tolong angkat wajahmu, karena aku sedang tidak memasangkan cincin untuk patung hidup." Ujar sekretaris Bram.


Nita perlahan mengangkat wajahnya, namun tidak berani menatap wajah sektetaris Bram.

__ADS_1


Sektetaris Bram perlahan meraih tangan Nita. Ia tidak langsung memasangkan cincin, tetapi menggenggam tangan Nita beberapa detik.


Setelah itu, perlahan ia memasangkan cincin di jari manis Nita. Nita memandang jarinya dengan tidak berkedip dan tidak percaya bahwa ia akan bertunangan secepat ini.


Sekarang Nita yang gugup karena gilirannya untuk memasangkan cincin di jari manis Bram.


Sejenak ia menarik napas, dan memberanikan diri untuk menatap mata sekretaris Bram yang tidak pernah berhenti menatapnya dengan penuh kagum.


Setelah berhasil mengambil cincin, tangan Nita terlihat gemetar, dan ia sendiri tidak berani menggenggam tangan sekretaris Bram.


Sekretaris Bram yang paham akan hal itu, segera mengangkat tangan kirinya dan mengarahkan jari-jarinya ke depan Nita.


Nita perlahan mengangkat tangannya dan mencoba memegang tangan Bram. Tangannya yang gemetar terasa saat ia memegang tangan Bram.


Sekretaris Bram yang paham dengan kegugupan Nita, membantu Nita memasukkan cincin ke jarinya dengan senyum yang terus menghiasi bibirnya.


Nita menarik napas lega saat berhasil memasangkan cincin, walau atas bantuan Bram.


Semua yang hadir bertepuk tangan setelah melihat bahwa pemasangan cincin berhasil. Erik mengeratkan pelukannya kepada Yuana dan mendaratkan kecupan berulang kali ke wajah Yuana.


Sementara Nita terlihat tegang, karena Bu Jessy memberikan kesempatan kepada Bram agar mengecup kening Nita pertanda sah sebagai tunangan setelah pemasangan cincin.


Tubuh Nita semakin bergetar, dan tanpa sadar ia menautkan jari-jarinya untuk menahan rasa gugupnya.


"Boleh aku melakukannya sekarang? Tanya Bram kepada Nita dengan setengah berbisik.


"Lakukan dengan cepat dan jangan menakutiku." Jawab Nita dengan gugup dan napas yang naik turun dan tidak beraturan.


Sekretaris Bram yang paham, makin mendekatkan tubuhnya ke arah Nita, dan dengan perlahan memegang wajah gadis itu.


Setelah menarik napas sebentar karena menahan gugup, sekretaris Bram langsung mendaratkan sebuah kecupan di kening Nita.


Nita yang gugup reflek memegang baju di bagian dada sekretaris Bram dan perlahan mendorongnya agar menghentikan kecupannya, karena sekretaris Bram ternyata menahan kecupannya lebih lama.


Sekretaris Bram sadar dan segera menarik bibirnya dari kening Nita dan tersenyum ke arah Nita.


"Maaf! Aku terlalu menikmatinya, sehingga lupa mengakhiri kecupanku." Ujar sekretaris Bram dengan acuh.


Bersambung


.


.

__ADS_1


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya. 😍😍😍😍😍


__ADS_2