
Pria terhormat adalah pria yang memperlakukan wanitanya dengan baik dan mencintainya tanpa imbalan apapun. Untuk mendapatkan pria yang benar-benar setia, mungkin akan kita temui satu diantara ribuan pria. Tetapi jangan lupa bahwa pria bereaksi dalam hal cinta sesuai dengan reaksi seorang wanita, apakah ia akan tulus atau tidak. Eda Sally
*****
Yuana sudah dipindahkan ke ruang perawatan setelah selesai dibersihkan oleh dokter dan beberapa perawat.
Gail, Athur, dan Harry Walker berlari masuk ke dalam ketika Gail mengintip dari balik kaca dan melihat Erik menangis dalan keadaan berlutut.
Tanpa mempedulikan larangan dokter, Gail langsung menyerobot masuk dan matanya langsung tertuju pada Yuana yang menutup mata seolah tidak ada beban dalam dirinya.
"Yuana kenapa dok?" Tanya Gail dengan panik. Ingin ia memeluk tubuh mungil itu, tetapi ia masih sadar diri bahwa Erik masih ada di situ.
Dokter Stevi yang sudah mengenal Gail dengan baik, segera mengangkat tangannya ketika seorang dokter hendak menegur Gail.
Arthur dan Harry Walker hanya berdiri terpaku menatap tubuh yang seolah tertidur itu tanpa mengatakan apapun.
"Bangunlah, tuan! Aku mohon! Jangan menangis seperti ini. Jika tuan lemah, tidak ada yang akan menguatkan nona muda agar segera sadar. Tuan harus senantiasa berkomunikasi dengan nona muda." Harry Walker berkata sambil berlutut dan menyentuh pundak Erik.
Erik segera berdiri setelah mendengar apa yang dikatakan Harry Walker. Ia menghapus sisa air matanya dan menatap tubuh mungil istrinya dengan tatapan iba.
Perjuanganmu sangat berat. Aku tidak akan pergi lagi dengan alasan apapun. Maafkan aku yang bodoh dan tak pernah tahu perjuanganmu agar bayi kita lahir dengan selamat. Eh! Aku malah belum tahu jenis kelamin anakku. Erik.
"Dok, apa jenis kelamin bayi kami?" Erik bertanya dengan rasa penasaran tinggi karena sejak tadi ia terlalu memperhatikan Yuana dan lupa melihat jenis kelamin bayinya.
Semua yang di dalam ruangan seolah baru tersadar saat Erik menanyakan hal itu. Sejak tadi mereka terlalu sibuk menonton drama seorang suami yang mengalami rasa frustrasi yang berat karena menyaksikan perjuangan istrinya.
"Oh ma..maaf!" Jawab dokter Stevi terbata sambil membalikkan bayi yang sementara tengkurap di perut Yuana seolah menikmati tubuh hangat ibunya.
"Selamat tuan. Bayi anda laki-laki." Jawab dokter Stevi sambil tersenyum.
"Tuan, saya harus memindahkan bayi anda ke ruang khusus bayi. Jika istri tuan sudah sadar, tuan boleh membawanya untuk menjenguk bayi anda di ruangan bayi." Kata dokter Stevi menjelaskan.
"Dok, apa saya boleh menggendong bayi saya sebentar sebelum dipindahkan?" Tanya Erik dengan penuh harap.
"Tentu saja boleh tuan." Jawab dokter Stevi sambil memberikan bayi yang sementara berada dalam gendongannya.
"Terima kasih dokter."
__ADS_1
Sebutir air mata kembali jatuh di pelupuk mata Erik ketika menatap garis-garis wajah bayinya yang benar-benar mirip dengannya.
Erik perlahan menurunkan wajahnya dan mengecup bayi mungil itu sangat lama.
"Kamu harus menyayangi mommy-mu. Ia telah mengorbankan semuanya agar aku bisa melihatmu seperti hari ini."
Aku ingin sekali menggendong bayi ini, tetapi waktu mungkin belum berpihak padaku untuk menyayangi bayi ini. Gail
Erik segera berpaling memandang wajah sang istri yang masih menikmati pingsannya tanpa sadar bahwa suaminya mengkhawatirkannya. Erik segera duduk dan membelai wajah istrinya.
Berulang kali ia mengecup wajah istrinya tanpa peduli kalau istrinya masih pingsan.
"Bangun sayang. Jangan menyiksaku seperti ini. Aku ingin kamu melihat putra kita. Ia sangat tampan, dan kamu pasti senang melihatnya."
"Putra kita sehat seperti doamu, dan wajahnya sangat mirip denganku. Ah! Aku juga tidak terlalu peduli ia mirip siapa! Yang penting kamu dan dia tetap sehat dan selalu ada bersamaku. Bangun sayang, please!" Ujar Erik sambil terus menempelkan wajahnya di wajah Yuana.
Erik terus mengoceh dengan istrinya walau dalam keadaan pingsan tanpa mempedulikan kehadiran Gail, Arthur, dan Harry Walker hingga ia akhirnya kelelahan dan tertidur dengan wajah yang masih menempel di wajah sang istri.
Gail yang melihat pemandangan itu hatinya sangat pilu. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Yuana, tetapi ia tidak berani mendekat. Ia duduk berdampingan dengan Arthur sambil menopang wajahnya dengan tangannya.
Ia begitu mencintai istrinya. Ah! Pria mana pun akan jatuh cinta dengan wanita ini, karena wajah teduhnya membuat orang yang memandangnya benar-benar merasa tentram. Andai saja waktu berpihak padaku, dan restu tidak berpaling, mungkin aku bisa merajut kasih dengannya. Gail.
Tidak ada diantara mereka yang menyadari bahwa Yuana menggerakkan jari telunjuknya. Erik yang menempelkan wajahnya pada wajah Yuana pun tidak menyadari akan hal itu.
Yuana merasakan sebuah beban seperti menindih wajahnya. Namun, ia belum berani membuka mata karena rasa pusing masih menguasainya.
Aku dimana ya? Kenapa rasanya aneh sekali seperti ini? Yuana.
Perlahan tangannya meraba beban yang menindihnya dan ia sadar bahwa itu adalah Erik. Dengan lembut ia membelai kepala suaminya, dan tiba-tiba tersadar akan keadaannya.
"Bayiku! Bayiku! Hikss..hikss.." Tangis Yuana pecah ketika ia meraba perutnya dan menyadari bahwa perutnya sudah tidak membuncit lagi.
Walaupun ia menangis dengan suara perlahan, hal itu lantas membuat Erik terbangun. Ia tidak percaya ketika menatap mata istrinya sudah terbuka.
"Kamu sudah bangun sayang? Aku takut." Kata Erik sambil memeluk tubuh mungil itu sangat lama.
Yuana tidak mengerti apa yang dikatakan Erik. Ia justru mendorong kepala Erik dengan kasar.
__ADS_1
"Mana bayiku? Mana?"
"Kamu tenang dulu dan jangan menangis seperti ini. Kamu baru saja sadar dari pingsan selama beberapa jam dan itu membuatku takut." Erik menjelaskan dengan air mata yang sudah menetes.
"Iya, dimana anakku? Dimana?" Tanya Yuana dengan masih menangis.
"Tenang sayang. Bayi kita sehat. Kamu tidak usah khawatir. Kamu harus banyak istirahat untuk memulihkan tenaga, karena bayi kita pasti sangat membutuhkanmu."
Perkataan Erik berhasil membuat Yuana sedikit tenang. Namun tiba-tiba ia menangis lagi.
"Ada apa lagi sayang? Apa ada yang sakit? Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu." Tanya Erik dengan penuh rasa khawatir.
"Biar aku saja yang memanggil dokter." Sahut Gail dengan cepat dan segera beranjak pergi.
Erik dan Yuana kaget dengan perkataan Gail, namun terlambat menyadari hal itu karena Gail sudah menghilang di balik pintu.
"Katakan padaku! Kamu kenapa?" Tanya Erik dengan khawatir.
"Aku kangen kak Yosua dan ibu. Aku sudah lama sekali tidak menghubungi mereka. Aku kangen kakakku, Rik! Ia pasti senang jika tahu kalau sudah memiliki keponakan yang lucu. Huu..huu." Tangis Yuana semakin menjadi setelah mengatakan hal itu.
"Ok! Aku paham. Kamu harus cepat sehat. Aku berjanji akan meminta Yosua ke sini. Jangan menangis lagi! Ok?" Hibur Erik sambil terus mengecup wajah istrinya dengan lembut.
Sementara itu, sepasang mata menatap mereka dari balik kaca dengan tatapan penuh kebencian.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
__ADS_1
😍😍😍😍😍