
Dalam setiap kesempatan, kadang yang dilakukan orang tua tidak sesuai dengan keinginan anak, dan sebaliknya. Namun, percayalah, bahwa setiap keputusan yang dilakukan orang tua adalah yang terbaik, karena mereka telah melewati berbagai tantangan hidup, dan telah kenyang dengan yang namanya pengalaman. Maka belajarlah untuk mendengarkan mereka walau itu mungkin tidak sesuai dengan keinginan kita. Eda Sally
*****
"Apa kau sudah berani menentangku?" Tanya Andre Wiliam dengan tatapan tajam ketika Erik berdiri dan menatapnya dengan penuh keberanian.
"Aku tidak akan berani menentang orang yang sangat aku hormati. Aku hanya sedang memperjuangkan apa yang telah membuatku bahagia." Jawab Erik dengan mantap.
Tanpa kata lagi, Andre Wiliam langsung memeluk Erik dan kemudian menepuk pundaknya.
"Papa merestuimu dengan wanita pilihanmu."
"Maafkan keegoisan papa yang telah memaksamu untuk menikahi wanita yang tidak kau cintai sama sekali." Ujar Andre Wiliam sambil melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang anak dengan senyum tulus di bibirnya.
Untuk sesaat Erik seperti tersihir dengan kalimat yang baru saja diucapkan sang ayah. Ia terpaku menatap tak percaya pada sang ayah, dan ia sendiri tidak tahu harus menangis atau tertawa.
"Hei! Apa kau tidak akan berterima kasih pada papa yang telah merestuimu?" Ujar Andre Wiliam sambil menepuk pipi Erik dengan pelan.
"Ahmmm, terima kasih pa." Ujar Erik dengan airmata yang kembali menggenang di pelupuk matanya dan tanpa sadar ia berlutut lagi dan mencium kaki sang ayah.
"Terima kasih, pa. Terima kasih." Ujar Erik sambil berulang kali mencium kaki sang ayah.
"Bangunlah!" Perintah Andre Wiliam sambil berusaha mengangkat tubuh Erik.
Erik dengan perlahan berdiri. Ia memaksakan diri untuk tersenyum kepada sang ayah.
Lalu, matanya beralih pandang kepada sang ibu yang sejak tadi hanya mematung dengan menangis tanpa henti menyaksikan perseteruan antara ayah dan anak tersebut.
"Ma!"
Hanya itu yang dikatakan Erik ketika matanya bertemu pandang dengan mata sang ibu. Ia langsung jatuh ke dalam pelukan wanita yang sangat ia hormati itu.
Erik lama menangis di pelukan sang ibu tanpa berniat melepaskan pelukannya. Setelah cukup lama menumpahkan segala rasa yang mengganjal di hatinya, Erik melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang ibu sambil tersenyum.
"Kamu sudah dewasa, Nak!"
"Kamu bebas memilih dan menentukan jalan hidupmu. Mami atau papa tidak punya hak untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupmu."
"Karena yang akan menjalani hidupmu adalah kamu sendiri, bukan mami atau papa."
"Jadi bagi mami, siapapun wanita yang kamu pilih, asalkan wanita itu membuatmu bahagia, mami akan selalu merestuimu."
"Mami hanya kecewa, karena kamu tidak mengizinkan mami untuk melihat wanitamu dalam gaun pengantinnya."
__ADS_1
"Ia pasti sangat cantik saat memakai gaun pengantin." Ujar sang ibu dengan airmata yang sudah menggenangi matanya.
"Maafkan keegoisanku, Ma! Aku tidak bermaksud mengecewakan mami atau papa."
"Aku hanya takut jika wanita yang aku pilih tidak direstui, sehingga tanpa berpikir lagi, aku bertindak di dalam kebodohanku." Jawab Erik.
"Tindakan yang kamu ambil tidak salah! Mami juga kalau ada di posisi kamu, mungkin akan melakukan hal yang sama."
"Mami paham dengan apa yang kamu alami. Mami bangga padamu yang telah menjaga diri dengan baik hanya untuk seorang wanita." Ujar sang mami sambil mengelus kepala sang putra.
"Terima kasih, ma telah mengajariku dengan baik." Jawab Erik sambil tersenyum.
Andre Wiliam kemudian mengalihkan pandangannya dan menatap tubuh kaku yang sementara tertidur tanpa mempedulikan mereka semua.
Maka tanpa mengatakan apapun, Andre Wiliam berjalan dan mendekat ke sisi tempat tidur.
Yosua yang melihat sang tuan besar mendekat ke tempat tidur adiknya, segera bangun dan memberikan kesempatan kepada sang tuan untuk memperbaiki hati yang retak selama ini karena keegoisan masing-masing.
Setelah berada di sisi tempat tidur, Andre Wiliam segera duduk di kursi yang tadi ditempati Yosua.
Dengan reflek tangannya memyentuh tangan Yuana, dan tanpa sadar ia menggenggam tangan mungil itu. Lama ia menatap wajah wanita yang telah mampu mencuri dan meluluhkan hati putranya.
"Jika aku adalah alasan kamu terus tertidur hingga sekarang, maka saat ini aku sendiri yang memohon kepadamu agar kamu segera membuka matamu."
"Apa kau akan terus menyiksa putraku seperti ini? Jika kau mencintainya, bangunlah agar ia berhenti menyiksa dirinya karena takut kehilangan dirimu."
"Saat ini dan di sini, aku, Andre Wiliam, mengaku telah melakukan kesalahan terbesar padamu. Dan karena itu, aku mohon agar kau berkenan memaafkan apa yang telah aku perbuat padamu."
"Mungkin aku tidak layak menerima maafmu, karena apa yang telah aku lakukan sangat menyakitimu."
"Tetapi demi cinta putraku padamu, aku akan memohon maaf padamu agar kau bisa tetap mendampingi putraku."
"Dan hari ini juga, aku, Andre Wiliam, menyatakan dengan setulusnya dan dari hatiku yang paling dalam, bahwa aku merestuimu sebagai menantuku."
"Aku menerimamu apa adanya dan tidak akan lagi melakukan tindakan yang akan menyakitimu lagi."
"Bangunlah! Kami semua menyayangimu, karena kau bagian dari hidup kami."
"Apa kau tega membiarkan cucu-cucuku kebingungan mencari ibunya?" Ujar Andre Wiliam dengan panjang lebar.
Sejenak ia mengamati wajah yang tadinya pucat, kini berangsur-angsur merah. Andre Wiliam kaget melihat perubahan mendadak pada wajah Yuana.
Setelah agak lama mengamati wajah sang menantu, Andre Wiliam berniat melepaskan genggaman tangannya pada tangan Yuana.
__ADS_1
Namun, baru saja ia hendak menarik tangannya, ia merasakan sesuatu yang bergerak dan menyentuh punggung tangannya.
Andre Wiliam dengan reflek menatap tangannya yang sementara menggenggam tangan sang menantu, dan benar saja, karena jari telunjuk Yuana bergerak.
"Bangunlah! Maafkan papa yang telah menyakitimu. Jangan lagi panggil aku dengan sebutan tuan. Panggil saja papa, karena kau juga adalah putriku." Ujar Andre Wiliam.
Tiba-tiba- ia merasakan semua jari Yuana yang ia genggam seperti berusaha untuk menggenggamnya, tetapi genggamannya terlalu lemah.
"Apa selama ini jarinya bergerak?" Tanya Andre Wiliam kepada Erik.
"Tidak sama sekali, pa!" Jawab Erik dengan cepat, dan wajahnya terlihat khawatir.
"Lihat! Ia berusaha menggenggam tanganku." Ujar Andre Wiliam sambil menunjuk tangannya.
Erik dan semua yang di ruangan itu tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Ini mujizat! Selama ini ia diam tanpa reaksi apapun, padahal kami semua sudah bergantian untuk berkomunikasi dengannya."
"Apa memang ia sengaja menunggu papa?" Ujar Erik tak percaya.
"Tunggu apalagi? Cepat panggilkan dokter untuk memeriksa kondisi menantuku."
"Aku ingin memastikan bahwa menantuku baik-baik saja."
"Aku tidak ingin melepaskan genggaman tanganku hingga ia benar-benar membuka matanya." Ujar Andre Wiliam.
Arthur segera berlari keluar begitu mendengar dan menyaksikan apa yang terjadi. Ia ingin agar dokter Stevi cepat menangani wanita yang telah membuat tuannya seperti kehilangan harapan untuk hidup.
Hmmmmm! Rupanya kau ingin agar papa mertuamu merestuimu. Kau wanita yang hebat! Papa mertuamu salah jika ia tidak segera merestuimu. Bangunlah dan tunjukkan padanya, bahwa kau pantas untuk mendapatkan putranya. Gail
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
__ADS_1
😍😍😍😍😍