
Cinta bisa membuat seseorang melakukan apa saja demi orang yang dicintainya. Bahkan karena cinta, kebanyakan orang rela kehilangan nyawa.
Cinta memang tidak terlihat. Namun efeknya luar biasa bagi orang yang menjalaninya, karena cinta itu kuat seperti maut. Eda Sally
*****
Yuana yang bangun pagi di rumahnya merasakan suasana yang sangat berbeda. Walaupun ia baru saja mengalami duka, namun rasa nyaman karena berada di rumahnya membuat hatinya jauh lebih tenang.
"Selamat pagi bu! Maaf Yuana kesiangan."
"Tidak apa-apa, nak! Kenapa juga kamu bangun pagi. Tidak ada yang perlu dikerjakan."
"Aku mau bantu ibu masak."
"Semuanya sudah beres tuan putri?" Terdengar suara Yosua dari dapur.
"Kak Yosua sudah bangun?"
"Iya! Kakakmu yang memasak juga. Ibu hanya melihat dari jauh karena kakakmu tidak mau dibantu."
"Lho! Kenapa masak banyak kak?"
"Jaga-jaga aja, Yu? Siapa tahu ada kerabat yang mau kesini. Ini kakak sekalian masak untuk siang."
"Terima kasih kak. Sudah jadi kakak yang paling membanggakan." Kata Yuana sambil memeluk Yuana.
"Kalau kamu drama terus seperti ini, kapan aku bisa selesai masak. Ayo sana! Temani ibu."
"Hehhehe. Terima kasih kak." Yuana melepaskan pelukannya dan kembali ke ruang makan.
Setelah selesai masak, mereka sarapan pagi bersama. Selesai sarapan, Yuana dan Yosua membersihkan rumah dan juga mandi. Setelah itu mereka duduk santai di depan rumah sambil mengobrol.
Tiba-tiba mobil yang kemarin dipakai Fadly sudah tiba di depan rumah. Yuana dan ibunya kaget, kecuali Yosua.
"Kok Fadly datang lagi? Jangan-jangan disuruh sekretaris Bram buat jemput aku."
"Mana kakak tahu? Mungkin Fadly mau melamar kamu." Kata Yosua menggoda Yuana.
"Kakak ja....."
Yuana tidak dapat menyelesaikan kalimatnya karena sosok yang sangat dirindukannya turun dari mobil dan tersenyum ke arahnya.
"E....rik?"
Yosua segera berdiri dan tersenyum. Erik kemudian berjalan ke arah mereka dan memeluk Yosua serta menyalami ibu. Setelah itu, ibu langsung masuk ke dalam untuk menyiapkan minuman hangat bagi Erik dan Fadly.
Sementara Yuana masih bengong dan tidak bergerak dari tempatnya. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Apakah kamu tidak ingin memelukku?"
__ADS_1
Yuana tidak menjawab pertanyaan Erik. Ia hanya tertunduk dan menangis. Kakinya tidak kuat untuk berdiri.
Untuk beberapa saat Yuana hanya terdiam di tempatnya dengan wajahnya yang tertunduk dan tidak berani diangkat.
"Maafkan aku Yos jika tidak sopan. Tapi aku tidak dapat menahan hatiku melihat adikmu menangis seperti ini. Ijinkan aku memeluknya."
Yosua hanya mengangguk sambil tersenyum tanda Setuju. Erik yang mendapat sinyal dari sang kakak, langsung berlutut di depan Yuana.
"Boleh aku memelukmu?"
Yuana hanya mengangguk dengan airmata yang masih berderai dan berusaha berdiri.
Erik segera membantu Yuana berdiri dan memegang tangan Yuana kemudian langsung membawanya dalam pelukannya.
"Aku merindukanmu. Maafkan aku yang menjadi pengecut dan tidak selalu ada di dekatmu." Bisik Erik di telinga Yuana yang masih ada dalam pelukannya.
"Aku juga kangen kak. Jangan pergi lagi. Aku nggak mau sendiri menanggung rindu ini."
"Ayo duduk dulu. Nanti kita bicarakan."
Erik segera membimbing Yuana untuk duduk. Ia malu kalau berpelukan terlalu lama, karena ada Yosua, Fadly, dan ibunya yang sudah datang dengan membawa wedang jahe hangat dua gelas.
"Wedang jahenya diminum dulu, nak!"
"Terima kasih bu. Sudah repot-repot."
"Bagaimana penerbanganmu?"
Setelah selesai minum, ibu mengajak mereka untuk makan siang bersama.
Mereka menikmati makan siang sambil mengobrol ringan.
Selesai makan, mereka kembali duduk di ruang tamu. Ibu dan Yosua pura-pura sibuk di belakang, dan memberikan kesempatan kepada Erik dan Yuana untuk mengobrol berdua. Sementara Fadly disuruh Yosua untuk istirahat.
"Kakak nggak istirahat dulu?"
"Nggak. Aku ingin kita bicara berdua. Rasa lelahku hilang ketika melihat wajahmu dari dekat seperti ini." Kata Erik sambil matanya memandang lekat wajah Yuana.
"Aku akan menjawab apa yang kamu katakan tadi."
"Sejujurnya aku sangat merindukanmu, dan aku yakin kamu tahu akan hal itu. Aku pergi juga demi masa depan kita. Empat bulan lagi aku akan diwisuda. Aku janji! Setelah wisuda aku akan langsung kembali, dan tidak akan meninggalkanmu lagi."
"Tapi, aku takut dengan ancaman tuan besar. Aku tidak bisa bertindak lebih karena jika itu terjadi, aku akan menyeret kak Yosua dan sama-sama jatuh jika hubungan kita diketahui oleh tuan besar."
"Aku sudah memikirkan berbagai konsekuensinya. Nanti setelah aku pulang, kemungkinan rencana pernikahan antara aku dan Celine pasti digelar. Tapi aku tidak akan diam. Aku akan membatalkan pernikahan itu, entah apapun caranya."
"Jangan pernah melakukan tindakan yang akan membuatmu harus berpisah dengan orangtuamu. Aku ikhlas dengan apapun keputusan orang tuamu."
"Jadi, kamu ingin menyerah dan membiarkan aku berjuang sendiri? Apa kamu lupa dengan janjimu?"
__ADS_1
"Maafkan aku kak. Aku tidak pernah lupa dengan janjiku. Tapi aku juga tidak mau memisahkan kamu dengan orang tuamu."
"Jika kamu tidak lupa dengan janjimu, maka pegang tanganku dan jangan pernah lepaskan. Karena jika kamu selalu ada di sampingku, maka aku akan kuat untuk melangkah, apapun caranya."
"Aku akan berusaha dengan segala kemampuanku untuk selalu ada di sampingmu, kak."
"Terima kasih sayang."
"Dan mulai hari ini, jangan pikirkan resiko atau apapun. Yang harus kamu pikirkan adalah selalu ada di sampingku untuk menghadapi rintangan yang ada di depan kita."
"Bagaimana kalau sampai pada saat itu dan kamu tidak bisa melakukan apapun? Apakah kamu berpikir bahwa aku akan kuat melihatmu bersanding dengan orang lain?"
Yuana masih mengejar Erik dengan berbagai pertanyaan karena ia takut dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
"Dan aku pastikan bahwa entah hidup atau harus mati, aku akan berjuang dengan caraku sendiri untuk tetap bersamamu. Ini janjiku padamu!"
"Dan aku juga tidak mau kamu mengucapkan kata mati di depanku. Jika kamu mati, lalu kamu hanya akan melihatku di alam lain bersanding dengan pria lain?"
"Maafkan aku sayang. Aku masih ingin bersamamu. Dan akan ku bunuh siapa saja yang berani mendekatimu."
"Jangan bicara seperti itu lagi. Aku tidak mau punya kekasih pembunuh."
"Tidak. Aku tidak akan jadi pembunuh fisik. Aku hanya akan membunuh hati dan perasaanmu sehingga mati untuk orang lain, tetapi selalu hidup untukku."
"Gombal."
"Aku tidak sedang menggombal. Aku serius dengan apa yang aku bicarakan. Jadi jangan pernah coba untuk dekat dengan pria manapun. Karena jika tidak, maka kamu akan melihat aku menggila."
"Siapa juga yang dekat dengan pria." Kata Yuana memonyongkan bibirnya.
Erik yang melihat hal itu gemas dan mengacak rambut Yuana kemudian memencet hidungnya.
"Sakit kak."
"Makanya jangan bikin aku gemas."
Yuana segera memukul Erik dengan bantal sofa yang di pegangnya. Erik reflek menangkap bantal tersebut dan langsung memeluk Yuana.
Deg!
Aku gugup. Yuana
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading ya guys? Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya๐๐๐๐๐