Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
89. Gempar di rumah Utama


__ADS_3

Dalam kehidupan ini, tidak dapat dipungkiri bahwa hukum sebab akibat selalu berlaku. Setiap orang, pasti akan menerima konsekuensi dari apa yang dilakukannya. Karena itu, pertimbangkanlah setiap langkah yang harus kita ambil, karena tidak ada seorang manusia pun yang akan lolos dari yang namanya hukum alam.


Bijaklah dalam menentukan dan melakukan segala sesuatu agar kita tidak menyesali sesuatu yang tidak bisa diulangi lagi. Eda Sally


*****


Sekretaris Bram sudah sampai sejak dua hari yang lalu, dan sibuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda selama ia tidak ada. Ia sangat teliti dalam memeriksa serta mengerjakan file-file yang sudah memenuhi email-nya.


Saat sedang sibuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang tertunda, tiba-tiba bel di ruangannya berbunyi, pertanda ia dipanggil oleh sang ayah angkat, Andre Wiliam, orang yang selama ini ia panggil dengan sebutan tuan besar.


Sekretaris Bram perlahan membuka pintu dan masuk tanpa mengucapkan salam. Karena hanya dirinya sendirilah yang akan masuk tanpa mengucapkan salam, tetapi sang tuan akan tetap mengetahui bahwa itu adalah dirinya.


"Hentikan pekerjaanmu dan kita ke rumah sekarang. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan di rumah." Kata Andre Wiliam tanpa melihat sama sekali ke arah sekretaris Bram.


"Baik tuan!" Kata sekretaris Bram dengan sopan.


Mereka lalu meninggalkan kantor untuk kembali ke rumah. Sepanjang jalan tidak ada yang berbicara. Mereka disibukkan dengan pikirannya masing-masing.


"Sejak usia berapa kau menjadi sekretarisku?" Tanya Andre Wiliam ketika mereka sudah masuk di ruang kerjanya.


"Sejak usia 16 tahun tuan." Jawab Bram.


"Artinya sudah 13 tahun kau menjadi sekretaris untuk Angkasa Grup yang bergengsi ini. Apa kau pernah gagal menjalankan tugasmu?" Tanya tuan Andre.


"Tidak pernah tuan." Jawab Bram dengan mantap.


"Siapa bilang? Kau sedang gagal Bram. Karena harusnya Erik pulang di hari yang sama denganmu tetapi sampai saat ini ia belum pulang."


"Maafkan saya tuan atas kegagalan ini." kata Bram sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Kau sangat pandai dalam segala hal, dan aku selalu mengandalkanmu. Karena itu, jika dalam waktu satu minggu ini dan Erik tidak pulang, maka itu tugasmu untuk mencarinya. Aku tidak peduli kau mau menggunakan cara apa. Asal ia bisa kembali ke rumah ini, karena statusnya sekarang sudah menikah. Jadi, dia tidak boleh seenaknya pergi tanpa memikirkan istrinya. Apa kau mengerti, Bram?" Kata tuan Andre panjang lebar.


"Baik tuan.! Saya mengerti" Kata Bram sambil menarik napas.


"Oya! Tidak boleh ada belas kasihan. Kau harus memaksanya untuk membawanya kembali ke sini. Jika perlu, gunakan kekerasan. Aku tidak suka ada orang yang berani membantahku dalam hal apapun. Tidak peduli dia putra kandungku. Karena hukuman akan tetap berlaku untuk mereka yang berani membantahku." Tuan Andre menambahkan.


"Saya mengerti tuan." Kata Bram.


"Ingat, Bram! Jangan sembunyikan sesuatu dariku. Jika ia sampai harus pergi dengan wanita itu, maka aku akan membuat wanita itu cacat di depannya dengan cara yang menyakitkan yang akan ia ingat dan ia sesali seumur hidup." Tegas tuan Andre.


Tok..tok..tok


"Masuk." Perintah tuan Andre ketika mendengar bunyi ketukan di pintu.


Terlihat Celine masuk dengan wajah sembab, dan di belakangnya, nyonya Jessy, mamanya Erik.


"Pa! Aku takut Erik akan meninggalkanku. Tolong aku pa. Aku tidak mau kehilangan Erik pa. Pasti wanita itu yang telah membujuknya agar pergi dengannya. Kata Celine sambil menangis.


"Cukup Bram! Jangan buat Celine tambah sedih seperti itu. Kata-katamu sangat kasar." Kata tuan Andre menegur Bram.


"Maafkan saya tuan. Saya hanya mengatakan kenyataan yang sebenarnya. Tuan saja tidak tahu wanita yang nona Celine maksudkan itu ada dimana sekarang. Bukankah begitu tuan?" Kata Bram pura-pura bodoh.


"Iya! Kau benar Bram. Dan untuk Celine, tugasmu adalah terus menghubungi nomor teleponnya. Siapa tahu mungkin Erik sedang ada kendala atau apa. Jika sudah ada kabar, cepat sampaikan padaku. Apa Erik tidak mengatakan apapun sebelum berangkat?"


"Tidak pa. Ia hanya menyuruhku agar menunggunya sampai ia pulang. Jika dalam beberapa hari ia belum pulang, aku akan kembali ke rumah saja. Percuma aku tinggal di rumah ini tetapi Erik malah tidak ada di rumah." Kata Celine sambil menghapus air matanya.


"Kamu harus sabar. Kamu tahu kan Erik itu seperti apa? Kalau kamu menyerah, kamu tidak akan pernah mendapatkan cintanya. Karena putraku itu sangat memegang prinsip, dan ia tidak akan pernah mempermainkan perasaannya sendiri" Tambah nyonya Jessy.


"Terima kasih ma. Aku takut Erik tidak akan pernah pulang. Bukankah dari awal ia memang tidak menyukaiku?" Kata Celine marah.

__ADS_1


"Apakah kau mencintai putraku?" Tanya tuan Andre.


"Tentu saja aku mencintainya pa." Jawab Celine.


"Jika kau mencintainya, maka kau harus tetap tinggal di rumah ini sampai Erik pulang." Kata tuan Andre tegas.


Celine terdiam mendengar perkataan tuan Andre. Ia beralasan untuk pulang karena sudah beberapa hari ia tidak bertemu dengan beberapa pria yang sering menemaninya di club. Lagi pula kalau harus terus tinggal di rumah mertuanya, ia tidak akan bebas untuk keluyuran.


"Bram! Tolong temukan anakku dan bawa dia pulang. Aku tidak ingin kehilangan kalian berdua. Mungkin aku belum merasa kehilangan sekarang. Tetapi jika dalam waktu satu sampai dua minggu dan ia tidak pulang, kau akan membuatku kehilangan semangat hidup karena putraku." Pinta nyonya Jessy pada Bram.


"Saya akan melakukan apa yang nyonya katakan. Tidak usah khawatir nyonya." Kata Bram


"Ingat untuk tidak mengatakan hal ini pada siapa pun sampai Erik pulang. Publik tidak boleh tahu tentang Erik yang tiba-tiba menghilang. Terlebih kamu. Jika kamu membocorkan kehilangan Erik ke publik, maka untuk selamanya kamu juga akan hilang dari dunia hiburan." Ancam tuan Andre pada Celine.


Aku tidak peduli dia mau pulang atau tidak. Yang penting semua yang aku butuhkan kalian belikan. Aku tidak peduli! Masih banyak pria di luar sana yang sangat mengagumiku. Dia hanyalah mesin ATM-ku. Jika bukan karena harta, aku juga tidak akan mengemis cinta seperti ini. Dan aku berharap kalian berdua cepat lenyap sehingga aku bisa menjadi nyonya yang berkuasa di rumah ini. Celine.


"Tentu saja aku tidak akan membocorkannya pa. Aku sangat mencintai Erik." Jawab Celine.


Bersambung


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍


__ADS_2