Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
139. Perubahan Rencana


__ADS_3

Dalam menghadapi berbagai hal yang mungkin mengancam keselamatan kita, diperlukan hikmat dan kecerdikan untuk mengatasi apa yang membahayakan kita. Alternatif lain sangat diperlukan agar kita tidak salah dalam mengambil tindakan. Eda Sally


*****


Erik berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke kamar karena ia takut meninggalkan Yuana terlalu lama. Lagi pula ia ingin berbicara dengan Yuana mengenai kehamilannya.


Garrick berceloteh tanpa henti karena digendong sang dady. Bayi itu terlihat sangat senang.


Setelah sampai di kamar, Erik melihat Yuana duduk di sofa sambil menaikkan kedua kakinya. Ketika melihat Erik masuk bersama Garrick, Yuana mengulurkan tangannya kepada Garrick. Bayi itu langsung bergerak turun sehingga Erik memberikannya kepada Yuana.


"I love you my son." Ucap Yuana sambil mencium Garrick berulang kali. Bayi itu hanya tertawa menanggapi perlakuan Yuana.


"Kenapa kamu turun dari tempat tidur? Apa tidak pusing lagi?" Tanya Erik khawatir.


"Aku merasa lebih baik setelah beberapa saat memejamkan mata. Aku sakit apa kak? Apa yang dikatakan dokter kepadamu?" Tanya Yuana penasaran.


"Aku harap kamu tidak marah atau kecewa jika aku mengatakannya." Ujar Erik sambil bergeser dan duduk di samping Yuana kemudian memeluk Yuana dan Garrick.


"Apa penyakitku serius? Kenapa tingkahmu seperti ini? Jangan membuatku takut, Erik!" Tanya Yuana penuh curiga.


"Iya memang serius! Dan aku ingin bicara serius juga. Apapun yang aku katakan nanti, kamu janji tidak boleh marah sama aku. Ok?" Ujar Erik sambil mencium pipi Yuana.


"Katakanlah dengan cepat. Jangan membuatku penasaran dan takut." Kata Yuana cemberut.


"Iya sayang. Aku minta maaf sebelumnya. Sebenarnya tidak ada penyakit yang serius. Hanya saja...." Erik sengaja menggantung kalimatnya karena ia masih ragu, apakah Yuana akan menerima kehamilannya atau tidak.


"Hanya saja kenapa?" Tanya Yuana dengan cepat.


"Hanya saja......kamu sedang hamil sayang." Ujar Erik pada akhirnya.


Hamil? Kasihan Garrick masih kecil. Aku tidak ingin anakku kurang perhatian. Bagaimana aku bisa membagi waktu untuk mengurus kehamilan dan anakku ini?


"Aku minta maaf sayang jika kondisi ini membuatmu terbeban dan tidak suka. Aku harap kamu tidak marah padaku." Kata Erik penuh harap.


Yuana belum menanggapi perkataan Erik. Ia bingung harus senang atau sedih.

__ADS_1


"Sayang!" Ujar Erik setelah beberapa saat dan Yuana masih belum memberikan respon soal kehamilannya.


"Tolong jangan memikirkan hal yang bukan-bukan mengenai kehamilanmu. Dia adalah darah daging kita. Aku justru senang mendengar kabar ini, karena ini pertama kalinya kamu hamil dan aku sedang berada di sampingmu." Kata Erik penuh semangat.


"Aku tidak keberatan karena semua sudah terjadi. Aku hanya memikirkan Garrick. Aku takut tidak ada waktu untuk mengurusnya jika aku hamil. Aku tidak ingin anak kita kurang perhatian dari aku." Yuana menjelaskan alasannya.


"Aku akan membantumu mengurus Garrick. Kamu tinggal mengarahkan apa saja yang harus aku lakukan, dan aku akan melakukannya sesuai keinginanmu, agar perkembangan anak kita sesuai dengan yang kamu harapkan." Jawab Erik penuh semangat.


"Kalau kamu mengurus Garrick, lalu bagaimana dengan pekerjaan kantor?" Tanya Yuana.


"Tenang saja. Masih ada tuan Walker dan Arthur. Kecuali untuk hal yang tidak bisa mereka kerjakan sama sekali baru aku akan turun tangan. Namun, aku akan tetap mengawasi mereka jika ada waktu luang."


"Garrick kan sudah bisa bermain sendiri jadi aku tidak akan terlalu repot." Jawab Erik.


"Baiklah! Aku menghormati setiap keputusanmu. Hanya saja, aku tidak ingin Esy mengasuh Garrick lagi. Garrick sudah tidak membutuhkan pengasuh lagi. Aku ingin anak kita bisa mandiri. Karena itu, ia tidak boleh terlalu tergantung dengan pengasuh" Ujar Yuana.


"Ah! Aku hampir lupa. Aku ingin kamu melihat sesuatu." Kata Erik sambil mengeluarkan benda yang tadi dipungutnya dan menyodorkannya kepada Yuana.


"Kenapa foto Celine bisa ada di kamu?" Apa kamu sangat mencintainya sehingga kamu masih menyimpan fotonya?" Tanya Yuana bertubi-tubi sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Duduklah! Kamu belum mendengar penjelasanku, jadi jangan mengambil kesimpulan sendiri." Ujar Erik sambil memeluk Yuana dengan erat.


"Hei! Dengar dulu. Foto ini jatuh dari saku baju Esy. Jadi aku pikir Esy ada hubungannya dengan Celine. Entah apa yang direncanakan perempuan sialan itu. Yang jelas, Esy adalah orang suruhannya." Jawab Erik menjelaskan.


Yuana menatap Erik dengan tatapan yang penuh tanda tanya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Berarti kita dalam bahaya. Kamu lebih baik pecat dia secepatnya. Malam ini juga kamu pecat seperti katamu. Besok dia sudah harus pergi dari sini." Balas Yuana pada akhirnya.


"Itu yang sedang aku pertimbangkan. Aku ingin tahu rencananya, jadi aku harap kamu bersabar. Jangan dipecat dulu. Aku akan menemuinya dan mengatakan bahwa ia hanya punya waktu dua minggu untuk bekerja pada kita, karena Garrick tidak membutuhkan pengasuh lagi."


"Jadi, sebagai bonus kita memberikan waktu dua minggu sebelum ia berhenti." Erik menjelaskan panjang lebar.


"Kenapa masih harus diberi kesempatan? Apa kamu ingin salah diantara kita celaka baru kamu akan memecatnya?" Protes Yuana.


"Apa kamu tidak percaya padaku? Aku ingin menangkap dia bersama perempuan sialan itu. Kali ini ia harus dilenyapkan agar ia jangan muncul lagi." Jawab Erik.

__ADS_1


"Terserah kamu saja, Rik! Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Garrick. Anakku masih terlalu kecil untuk menanggung bebanmu. Jadi kamu selesaikan masalahmu dengan perempuan itu, dan jangan libatkan aku dan anakku." Ujar Yuana menahan amarah.


"Please! Tolong jangan marah. Aku tidak ingin kita bertengkar. Ok! Jika kamu tidak ingin Celine tertangkap, aku akan memecat Esy sekarang juga. Lagi pula, di sini ada Garrick! Tolong jangan membiasakan diri bertengkar di depan anak kita" Jawab Erik.


"Pasti ada orang yang membantunya keluar dari tempat pengasingan itu sehingga ia melancarkan aksinya." Erik berkata pada dirinya sendiri.


"Jadi, itu berarti Celine tidak jaih dari sini. Aku yakin ia sedang berada di kota ini sehingga ia selalu memantau kita dan Esy." Gumam Yuana pelan.


"Aku memang sudah curiga waktu melihat penampilan Esy. Kamu masih ingat kan waktu aku meminta data Esy berupa hard file?" Tanya Erik.


Yuana hanya mengangguk mendengar penjelasan Erik.


"Waktu aku menyuruhmu mengajak Esy jalan-jalan untuk memperkenalkannya dengan keadaan rumah kita, aku buru-buru masuk ke ruang kerja membawa data Celine dan memeriksanya dengan alat yang biasanya aku pakai untuk mengecek keaslian sebuah dokumen."


"Dan ternyata data dirinya semuanya palsu. Aku juga sempat memasang beberapa kamera tersembunyi di setiap sudut ruangan yang tidak kamu ketahui."


"Apa kamu ingin mengetahui hal yang lebih mengejutkan lagi?" Tanya Erik pada Yuana.


"Katakan dengan cepat! Kenapa kamu tidak menceritakan semua itu padaku?" Kata Yuana protes.


"Karena aku tidak ingin kamu pikiran dan khawatir. Dan hal mengejutkan yang perlu kamu tahu, Esy selama ini memakai wig untuk menutupi penyamarannya." Jawab Erik.


"Hah?" Yuana


Bersambung


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍


__ADS_2