
Kasih sayang memang bisa mengubah segalanya. Raga mungkin bisa terpisah karena alasan tertentu, tetapi tidak dengan jiwa yang telah diisi dengan cinta dan kasih sayang. Jika kasih sudah menjadi dasar dalam hubungan kita dengan orang-orang terdekat kita, maka ruang dan waktu sekalipun tidak akan mampu meruntuhkan cinta dan kasih yang telah terjalin diantara kita. Eda Sally
*****
Yuana dan Erik serta semuanya beriringan turun dari pesawat yang mereka tunpangi.
Andre Wiliam berjalan paling depan sambil menggendong Garrick, diikuti oleh Bu Santy dan Bu Jessy yang menggendong kedua putri kembar Yuana dan Erik.
Nama kedua bayi kembar tersebut adalah Anabel dan Arabella.
Yuana dan Erik yang merasa tidak perlu repot karena anak-anak mereka sudah berada di tangan yang tepat, beriringan dengan yang lainnya sambil tetap berpelukan.
Saat menjejakkan kaki di tanah dan menghirup udara tanah kelahiran, Yuana seperti menemukan hidupnya kembali. Tanpa sadar, airmatanya menetes begitu saja.
Erik segera menenangkan Yuana dengan semakin mengeratkan pelukannya.
Sementara Gail, Habib, Alika, dan Olive, terkagum-kagum melihat keindahan sebuah negeri yang selama ini hanya bisa mereka saksikan lewat media. Berulang kali mereka berdecak kagum dengan apa yang kini terpampang di mata mereka.
Sekretaris Bram yang sudah mendahului yang lainnya nampak celingukan mencari Fadly dan Yosua, serta beberapa orang yang bertugas menjemput mereka.
Yosua waktu itu memilih pulang lebih dahulu agar bisa mengurus pekerjaan, dan mempersiapkan segala sesuatu untuk kepulangan adiknya nanti.
Saat celingukan mencari keberadaan Fadly dan Yosua sehingga tidak terlalu fokus itulah sekretaris Bram menubruk seorang wanita yang langsung jatuh.
Dengan reflek sekretaris Bram menangkap tubuh gadis bermata bening itu, dan untuk sesaat ia kagum dengan wanita cantik yang juga terpana melihatnya.
"Kalau pandang orang itu biasa saja. Lepaskan aku! Apa kau belum pernah melihat wanita cantik?" Hardik wanita itu pada sekretaris Bram.
"Ehmm, maafkan saya nona! Saya tidak sengaja." Ujar sekretaris Bram dengan gagap karena rasa gugup dan mengangkat kedua tangannya tinggi tanda menyerah setelah melepaskan tubuh wanita itu.
"Maaf, maaf! Jauhkan tubuhmu dan jangan menghalangi mataku. Aku mau melihat dimana adikku." Hardik wanita itu sambil terus melongokan kepalanya dan mengamati semua penumpang yang sementara jalan.
Tiba-tiba matanya menangkap sesosok tubuh mungil yang berjalan ke arahnya dengan dipeluk oleh seorang pria.
Wanita itu langsung mendorong tubuh sekretaris Bram yang menghalanginya dan langsung berlari menyongsong wanita itu dengan mata berkaca-kaca.
Yuana yang sambil berjalan dan bergelayut manja di lengan Erik, matanya reflek melihat wanita yang sangat dirindukannya itu berlari ke arahnya.
Maka tanpa kata lagi, Yuana melepaskan diri dari rangkulan Erik dan berlari menyongsong wanita itu.
Setelah berhadapan, keduanya berpandangan untuk sesaat, dan seperti dikomando dengan hitungan, keduanya langsung melakukan gerakan saling memeluk.
__ADS_1
Siapa wanita itu? Kenapa Yuana bisa memeluknya seerat itu? Bram
Saat sekretaris Bram bengong melihat pemandangan di depannya, Yosua muncul dengan seorang pria dan wanita paruh baya yang terlihat sangat serasi.
Erik yang tidak pernah melihat Nita hanya bertanya-tanya dalam hatinya tentang siapa wanita itu.
"Kak Bram! Itu sepupu saya. Namanya Nita. Dan ini, papa dan mamanya Nita."
"Paman Jack adalah adik satu-satunya adik dari papaku." Ujar Yosua memperkenalkan kedua orang tua Nita.
Sekretaris Bram kagum melihat wanita paruh baya di depannya yang terlihat sangat cantik dan masih awet muda.
"Saya kakak dari suami nona Yuana." Ujar sekretaris Bram memperkenalkan diri sambil menjabat tangan kedua orang tua itu dengan sangat sopan.
Yosua berjalan ke arah Yuana dan Nita yang masih berpelukan dalam tangis tanpa berbicara. Erik hanya mematung dan tidak tahu harus melakukan apa.
Sekretaris Bram akhirnya memilih mengikuti Yosua, diikuti oleh paman Jack dan Bu Grace.
"Aku marah padamu, karena kau sama sekali tidak memberi kabar kepadaku."
"Kau tahu, aku sangat merindukanmu. Semua cara sudah aku lakukan, dan aku sama sekali tidak bisa mengetahui keberadaanmu."
"Aku memilih bekerja di Rumah Sakit yang dikelola mami, dengan harapan suatu saat kamu akan kembali dan bertemu dengan kami semua."
"Tetapi rupanya keuntungan tidak pernah berpihak kepadaku, karena kamu seperti hilang ditelan bumi, dan tidak pernah kembali."
"Setiap kali papa dan mami memelukku, aku selalu ingat, bagaimana kamu merampas pelukan itu dariku."
"Dan aku merindukan momen dimana papa dan mami lebih memperhatikanmu, dan aku sama sekali tidak cemburu."
"Kadang aku menangis seorang diri, karena rindu yang sangat besar padamu."
"Cepat katakan! Apa salahku, sehingga kamu sama sekali tidak mengabariku."
"Apa kamu tidak menganggap aku saudaramu lagi?"
"Apa kamu lupa apa yang dikatakan mami, bahwa kamu memang tidak terlahir dari rahimnya, tetapi ia tidak membedakan cinta dan kasih sayang antara aku dan kamu."
"Aku benar-benar takut jika nanti tidak bisa bertemu lagi dengan dirimu. Aku takut!" Ujar Nita sambil kembali memeluk Yuana.
Yuana merasa kerongkongannya seperti tercekat sehingga tidak bisa digunakan untuk bersuara. Ia bingung harus mengatakan apa. Ia hanya menangis di pelukan Nita tanpa berniat mengatakan apapun.
__ADS_1
Erik yang sudah diberi kode dengan mata oleh Yosua, tidak berani memisahkan kedua wanita itu. Mereka membiarkan Nita mengungkapkan kekesalannya.
"Cepat katakan apa salah aku, mami, dan papa sehingga kamu tidak memberi kabar sama sekali." Desak Nita sambil melepaskan pelukannya.
"Kamu tidak akan pernah mengerti apa yang aku hadapi."
"Aku tidak tahu apakah waktu itu harus berjalan mundur atau maju."
"Karena hidupku seperti berada diantara dua ujung tombak yang siap menusuk diriku dari depan dan belakang."
"Aku benar-benar buntu, dan aku tidak ingin agar kamu, mami, dan papa bersedih, karena aku tahu persis kasih sayang kalian kepadaku."
"Aku tidak ingin kalian semua merasakan sakit yang aku rasakan, sehingga aku memilih jalan dimana hanya aku sendiri yang bisa menempuhnya tanpa melibatkan kalian semua."
"Jalan yang aku lalui itu sangat pahit, dan aku tidak ingin kalian merasakan hal itu."
"Aku harap, kita segera melupakan hal itu, karena semua telah jauh aku tinggalkan di belakangku."
"Sekarang aku telah kembali! Lalu, apa lagi yang perlu kau sedihkan kakakku?" Ujar Yuana sambil mencubit hidung Nita, yang dibalas oleh Nita dengan menggelitik tubuh Yuana.
Mereka berdua tertawa tanpa sadar bahwa semua orang sedang memperhatikan mereka.
Andre Wiliam terlihat beberapa kali meneteskan airmata, saat mendengar percakapan antara Nita dan Yuana.
Aku telah sangat berdosa, karena berani membuang seorang wanita yang sangat dicintai oleh banyak orang. Hatinya sungguh lembut! Dia wanita yang layak dipertahankan oleh putraku. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjaga wanita ini, dan menganggapnya seperti putri kandungku sendiri. Andre Wiliam.
"Kamu harus melihat, siapa yang sedang bersamaku." Ujar Nita sambil menunjuk mami dan papanya.
Yuana tertegun saat matanya mengikuti apa yang ditunjuk oleh Nita. Untuk sesaat ia terpaku, dan bibirnya tiba-tiba bergetar melihat dua orang yang sangat mencintai dirinya.
"Mami, papi!" Hanya itu yang sanggup diucapkan Yuana. Karena selebihnya, tubuhnya sudah rubuh dengan sendirinya.
Bersambung
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya๐๐๐๐๐
__ADS_1