Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
158. Kedatangan Sang Ayah


__ADS_3

Cinta selalu menjadi alasan membaik atau memburuknya sebuah keadaan. Dan cinta juga dapat membuat orang mengalami sakit atau sembuh, karena cinta itu sangat kuat menggenggam hati, sehingga ada orang yang merasa bebas atau tertekan karena cinta itu sendiri. Jika cinta dapat mengubah sebuah keadaan, maka jangan pernah berhenti menebarkan cinta. Eda Sally


*****


Dokter ahli yang dijanjikan dokter Stevi pun datang tepat waktu. Ia dengan telaten memeriksa Yuana sambil mengerutkan keningnya. Sesekali ia berhenti dan menatap wajah cantik Yuana yang menikmati tidurnya itu.


Semua kelakuan dokter itu tidak lepas dari pandangan Erik dan yang lainnya. Setelah selesai memeriksa kondisi Yuana, ia menopang dahinya dengan tangannya dan memejamkan mata.


Setelah beberapa saat, dokter tersebut mengalihkan pandangannya kepada Erik dan yang lainnya dengan menyunggingkan senyum sambil menganggukkan kepala.


"Maaf, Dok! Bagaimana kondisi istri saya?" Erik langsung bertanya karena sudah tidak sabar.


"Harusnya istri tuan sudah sadar. Saya tidak menemukan apapun yang perlu ditakutkan, karena kondisinya baik-baik saja." Jawab sang dokter dengan wajah yang masih dipenuhi dengan tanda tanya.


"Lalu, kenapa istri saya belum sadar, Dok?" Tanya Erik.


"Ini kasus langka yang baru saja saya temukan. Saya sendiri juga bingung setelah mengecek hasil pemeriksaan saya."


"Nanti sore akan saya periksa lagi, karena kebetulan saya masih di sini sampai besok pagi."


"Jika nanti hasil pemeriksaan pada sore nanti beda dengan pagi ini, maka kita perlu membawanya ke Rumah Sakit yang lebih baik."


"Tetapi Rumah Sakit inilah yang terbaik di kota ini. Jadi pikirkan lagi, apakah ia akan tetap dirawat di sini sampai sadar, atau tuan-tuan ada rencana untuk membawanya ke negara tetangga yang bisa membantu dalam proses pemulihan nona Yuana."


"Jika dalam satu sampai dua hari tidak ada perubahan, mungkin tuan-tuan bisa membawanya ke Swiss untuk pemeriksaan lebih lanjut." Dokter tersebut menjelaskan dan mengusulkan panjang lebar.


"Terima kasih, Dokter. Kami menunggu hasil pemeriksaan dokter pada sore hari, dan akan kami pikirkan langkah yang harus kami ambil." Jawab sekretaris Bram.


"Baik!" Jawab dokter tersebut singkat sambil menganggukkan kepala, kemudian melangkah keluar diikuti oleh dokter Stevi.


Setelah kedua dokter tersebut keluar, mereka semua diam dengan pikiran masing-masing tanpa ada yang berbicara.


"Bagaimana menurutmu, apa kamu tidak keberatan jika Yuana dibawa ke Swiss?" Tanya sekretaris Bram kepada Erik setelah diam beberapa saat.


"Sedang aku pikirkan, kak. Aku khawatir jika istriku dibawa keluar dalam keadaan seperti ini dan kemudian terjadi sesuatu yang buruk, aku tidak akan sanggup memaafkan diriku sendiri." Jawab Erik sambil memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


"Aku juga memikirkan hal yang sama, dan aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu juga." Ujar sekretaris Bram.


Yosua hanya mampu menarik napas mendengar percakapan kedua kakak beradik itu. Hatinya sangat galau melihat kondisi adik kesayangannya itu. Tanpa sadar, airmatanya menetes dan membasahi wajah pucat adiknya.


Erik yang melihat hal itu segera mengambil tissue dan membersihkan wajah sang istri.


Baru saja ia akan berbalik untuk mengambil tissue lagi, tak sengaja matanya menatap dua sosok yang berdiri di pintu dan menatapnya.


Sang pria menatap Erik dengan wajah kaku, dan sang wanita menatapnya dengan wajah yang dihiasi kekhawatiran.


Untuk sesaat, Erik dan yang lainnya terpaku. Tissue yang dipegang Erik terlepas begitu saja. Erik bingung apakah harus berlari untuk memeluk mereka atau harus tetap berdiri di tempat.


Erik sangat menyadari kesalahannya, dan perasaan bersalahnya seolah menahan kakinya untuk tidak segera mendekat dan memeluk kedua sosok yang menatapnya dengan tajam.


"Apa kau tidak ingin memeluk papa yang sudah datang jauh-jauh ke sini demi melihatmu?" Akhirnya suara bass ayahnya terdengar juga setelah mereka semua terdiam untuk beberapa saat.


Erik melangkah dengan ragu dan takut. Semua rasa bercampur jadi satu, yang membuat langkahnya seolah berat untuk berlari.


Sambil berjalan, pikirannya sudah lari kemana-mana. Ia takut jika akan dipisahkan dengan wanitanya dalam kondisi seperti ini.


Setelah sampai di hadapan kedua orang tuanya, Erik tidak langsung memeluk papanya. Ia berdiri dengan kaku dan menundukkan kepala dengan airmata yang menetes dengan tidak dapat dibendung.


Andre Wiliam yang melihat kelakuan putra semata wayangnya seperti itu, segera meraih tubuh sang putra dan membawanya ke dalam pelukannya.


Dan seumur hidup, ini pertama kalinya dalam hidup Andre Wiliam meneteskan airmata yang membasahi pundak Erik.


Erik yang merasakan pundaknya basah, tidak percaya bahwa pada akhirnya manusia es itu akan menangis. Namun, karena ia juga sedang menangis, ia tidak berniat untuk melepaskan pelukannya dan meyakinkan dirinya bahwa sang ayah juga menangis.


Setelah beberapa saat ayah dan anak itu hanyut dalam kesedihan, perlahan-lahan Andre Wiliam melepaskan pelukannya.


Kedua tangan Andre Wiliam memegang wajah putranya dan menatapnya dengan lekat, seolah ingin memastikan bahwa putranya baik-baik saja.


"Kenapa kau harus membohongi papa, hah?" Tanya Andre Wiliam setelah menatap wajah putranya beberapa saat.


"Karena aku tidak punya pilihan lain." Jawab Erik dengan airmata yang sudah mendesak keluar lagi.

__ADS_1


"Sejak kapan papa mengajarimu untuk berbohong?" Lanjut Andre Wiliam mengejar sang putra dengan pertanyaan.


"Papa tidak pernah mengajariku untuk berbohong. Maafkan aku yang telah mengecewakan papa." Ujar Erik sambil menggelengkan kepala kemudian tubuhnya dengan perlahan turun dan berlutut di hadapan orang yang paling ia hormati itu.


"Bangunlah dan berbicaralah seperti seorang laki-laki. Aku ingin melihat keberanianmu dalam berbicara denganku sebagaimana engkau telah berani menikah tanpa sepengetahuanku." Ujar Andre Wiliam sambil menyentuh pundak Erik yang sementara berlutut.


"Aku akan tetap berlutut dan memohon seperti seorang laki-laki, agar papa berkenan mengizinkan aku hidup dengan wanitaku hingga maut memisahkan kami."


"Jika berlutut adalah cara terbaik sebagai seorang pria sejati untuk mendapatkan restu dari papa, maka aku akan terus berlutut hingga papa memberikan restu."


"Bagaimana jika aku mengatakan bahwa aku tidak merestuimu? Apa kau akan tetap berlutut, putraku?" Tanya Andre Wiliam.


"Jika itu yang terjadi, maka aku akan tetap berlutut, sampai hati papaku condong kepadaku dan memberikan restu." Jawab Erik dengan cepat.


"Dan apa kau akan bersikeras jika aku tetap mengatakan bahwa aku tidak memiliki restu untukmu?" Tanya Andre Wiliam.


"Jika papa tidak memiliki restu lagi tentang wanita yang aku pilih, maka untuk kali ini, aku akan memilih berdiri, bukan untuk memohon restu lagi, tetapi memilih untuk pergi dari kehidupan papa untuk selamanya."


"Aku sadar sepenuhnya, bahwa aku adalah putra papa, tetapi jangan lupa, bahwa hatiku telah menjadi milik wanita yang telah mampu meluluhkan hatiku." Jawab Erik sambil berdiri.


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2