Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
137. Kecurigaan Yuana


__ADS_3

Kita semua pernah mengalami yang namanya rasa curiga terhadap seseorang atau sesuatu. Entah apa yang kita curigai itu benar atau tidak, alangkah baiknya kita belajar untuk selalu berpikir positif. Karena sifat curiga juga bisa menimbulkan perselisihan. Kadang rasa curiga juga di dasari karena iri, dan tidak jarang berakhir dengan fitnah. Karena itu, jangan pernah berlebihan dalam mencurigai orang lain. Eda Sally


*****


Garrick sudah berusia sepuluh bulan. Selama dalam asuhan suster Theres dengan bantuan Yuana, pertumbuhan dan perkembangan Garrick sangat bagus. Ia bahkan sudah bisa berjalan walau masih tertatih.


Hari ini, Yuana merasa pusing sehingga ia menyerahkan Garrick sepenuhnya pada Suster Esy. Esy melakukan rutinitas bersama Garrick seperti biasanya. Sementara Erik tidak jauh dari Yuana karena khawatir dengan Yuana yang pusing.


"Sayang, kita ke rumah sakit saja ya? Aku takut kamu kenapa-napa." Tawar Erik dengan nada khawatir.


"Aku baik-baik saja kak. Biarkan aku istirahat. Mungkin nanti akan lebih baik setelah istirahat." Jawab Yuana.


"Aku akan menemanimu istirahat. Aku sangat khawatir." Ujar Erik.


"Sudah aku bilang aku tidak apa-apa. Kamu selesaikan saja pekerjaan kantor. Jika aku merasakan gejala yang serius, aku akan menelponmu." Balas Yuana sambil tersenyum.


"Kalau begitu aku tidak akan bekerja di ruang kerjaku. Aku akan memindahkan laptop dan beberapa dokumen yang harus aku kerjakan di sini." Ujar Erik tanpa meminta persetujuan Yuana dan langsung keluar.


"Terserah kamu saja tuan Wiliam." Jawab Yuana.


Erik yang sudah berada dekat pintu untuk keluar tersenyum mendengar apa yang dikatakan Yuana. Baginya, semua hal yang dilakukan Yuana selalu membuatnya gemas.


Hmmmmm! Aku benar-benar tidak bisa jauh dari istriku itu. Semua hal yang aku suka dan inginkan ada di dalam dirinya. Apalagi yang kurang? Erik.


Karena jalan sambil melamun, Erik tidak sadar kalau berpapasan dengan suster Esy dan sempat menubruknya.


"Maaf tuan." Ucap Esy sambil tangannya diarahkan untuk menyapu ujung baju Erik.


Erik bergerak ke samping menghindari apa yang akan dilakukan Esy.


"Tolong jangan berlebihan. Saya bisa melakukannya sendiri. Tugasmu adalah mengasuh Garrick, bukan aku! Jadi jangan sekali-kali lancang untuk menyentuhku. Apa kau mengerti? Ujar Erik dengan tegas.


"Mengerti tuan. Tolong maafkan saya." Jawab Esy sambil berusaha menahan air matanya yang sudah menerobos keluar, lalu lari meninggalkan Erik.


Aneh suster ini. Kenapa juga dia menangis di hadapanku? Apa dia pikir aku akan membujuknya? Hanya Yuana Samantha yang berhasil membuat aku membujuknya tanpa di minta.


Setelah mengambil laptop dan dokumen yang akan dikerjakan di kamar, Erik bergegas masuk ke kamar dan mulai bekerja. Ia meminta Yuana meletakkan kepala di pangkuannya agar ia jangan khawatir.


"Aku tidak bisa nyenyak kalau tidur di pangkuanmu. Aku takut kamu juga tidak bisa fokus kerja." Ujar Yuana.


"Hmmm, pangkuan suami sendiri tidak nyenyak, kalau sama bantal nyenyak. Apa hebatnya bantal dibandingkan dengan aku, hah?" Tanya Erik sambil menunduk dan mendaratkan sebuah kecupan di kening Yuana.


"Bantal kan empuk. Beda dengan kamu." Jawab Yuana.

__ADS_1


"Mulai sekarang jangan tidur menggunakan bantal lagi sebagai alas kepala, karena kamu lebih mencintai bantal dibanding aku." Protes Erik dengan wajah cemberut.


"Ih! Sudah tua juga masih cemburu. Cemburunya sama bantal lagi. Yang sering memeluk aku itu kamu, bukan bantal."


Erik melanjutkan kerjanya sambil tersenyum mendengar ocehan istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan. Setelah berhasil mengirimkan ke kantor apa yang ia kerjakan melalui Email, Erik segera membereskan pekerjaannya dan memggendong Yuana ke tempat tidur.


"Aku bisa jalan sendiri." Protes Yuana ketika Erik mengangkat tubuhnya.


"Hei! Orang sakit itu tidak boleh melawan, apalagi sama suami sendiri." Jawab Erik dengan enteng dan kemudian dengan hati-hati sekali membaringkan tubuh istrinya.


Tanpa kata, ia langsung mendaratkan beberapa kecupan di wajah Yuana, dan tangannya sudah mengarah kemana-mana.


"Hei! ! Apa yang kamu lalukan?" Tanya Yuana ketika ia merasakan kecupan yang tidak biasa dari suaminya.


"Aku mau membantumu mengurangi rasa pusingmu." Jawab Erik tanpa dosa dan tetap melanjutkan aktifitasnya.


Tidak selamat aku kalau sudah seperti ini. Kalau aku tahu akan berakhir seperti ini, harusnya aku tidak menuruti keinginannya untuk tidur di pangkuannya. Yuana.


Erik terlalu semangat dengan aktifitasnya hingga pada akhirnya ia kelelahan sendiri di samping tubuh istrinya.


"Kak! Kenapa aroma bajumu tidak seperti biasa?" Tanya Yuana


"Tidak seperti biasa bagaimana?" Erik balik bertanya.


"Oh aku baru ingat." Ucap Erik sambil menepuk dahinya.


"Memangnya ada apa?" Tanya Yuana penasaran.


Erik lalu menceritakan apa yang terjadi ketika ia menuju ke ruang kerja. Tidak ada yang ia lewatkan. Ia tidak ingin istrinya menaruh curiga yang bukan-bukan terhadapnya.


Untuk sesaat, Yuana terdiam mendengar cerita Erik. Walaupun suaminya jujur, namun ia merasakan benih cemburu mulai menjalar di hatinya.


"Maafkan aku sayang! Aku tidak bermaksud menyakitimu." Ujar Erik sambil memeluk dan mencium Yuana ketika ia melihat perubahan di wajah Yuana.


Yuana tidak menanggapi perkataan Erik. Ia memilih memejamkan mata dan menahan emosinya.


"Apa kau pikir aku akan jatuh cinta dengan suster itu? Jika itu yang kamu pikirkan, aku harap kamu segera membuang pikiranmu itu jauh-jauh. Karena sejak awal kamu sudah tahu aku pria seperti apa."


"Kamu lebih dari segalanya. Aku memilihmu karena hanya kamu yang telah membuatku jatuh cinta" Erik menjelaskan panjang lebar untuk menenangkan hati Yuana.


"Aku tidak marah. Hanya saja dua bulan terakhir ini, aku seperti mulai tidak menyukai Esy. Entah kenapa." Jawab Yuana jujur.


"Kalau kamu tidak menyukainya, aku akan memecatnya. Aku akan mengatakan bahwa Garrick tidak membutuhkan suster lagi."

__ADS_1


"Terserah kamu saja, kak!" Jawab Yuana singkat.


"Apa ada hal lain yang membuatmu tidak menyukainya?" Tanya Erik.


"Aku merasa ada yang aneh dengan suster Esy. Kadang aku mendengarnya menerima telepon dengan menyebutkan kata bos. Aku takut Esy adalah suruhan seseorang yang ingin mencelakai kita." Yuana membeberkan alasannya.


"Kan ada cctv, jadi kamu tidak perlu khawatir." Ujar Erik sambil mengelus wajah Yuana.


"Betul, Rik! Tetapi mata kita 24 jam tidak selalu di depan layar cctv." Protes Yuana.


"Ok! Mulai besok aku akan memecatnya. Aku tidak ingin kita berdebat atau saling curiga hanya karena kehadiran orang lain dalam rumah tangga kita." Jawab Erik.


"Maafkan aku jika salah. Aku hanya mulai merasa tidak nyaman dengan suster Esy. Tatapannya kepadaku juga kadang agak aneh. Aku takut." Ujar Yuana dengan jujur.


"Aku paham sayang. Apapun akan aku lakukan, asalkan itu membuatmu senang. Kata Erik sambil menggesekkan hidungnya berkali-kali pada Yuana.


"Kak! Awas!" Ujar Yuana dengan keras.


Erik kaget dan segera memindahkan wajahnya dari wajah Yuana.


Hoek...hoek..hoek..


Yuana memuntahkan semua makanan yang dimakannya tadi siang.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Erik dengan panik.


"Aku juga tidak tahu. Tolong ganti bajumu. Aku tidak suka bau parfum itu." Perintah Yuana kepada Erik.


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2