
Apapun alasannya, jangan pernah melupakan saudara, karena di saat tersulit, hanya merekalah yang akan selalu ada untuk kita. Bersahabat baik dengan orang lain memang sangat baik. Tetapi menjaga keutuhan persaudaraan jauh lebih baik karena merekalah orang-orang yang akan selalu ada di belakang kita ketika kita senang ataupun terpuruk.
Mungkin terkadang ada kesalahpahaman, tetapi semua itu justru semakin membuat rasa persaudaraan itu semakin kuat. Karena yang namanya hubungan darah, tidak akan bisa dipisahkan oleh apapun, kecuali maut. Eda Sally
*****
Yuana dan keluarganya yang telah tiba di rumah. segera turun dari mobil yang mereka tumpangi. Fadly tidak berniat untuk mampir lagi karena ia harus mempersiapkan tenaga untuk nanti menjemput Erik dan harus bolak balik.
"Mampir dulu Fad?"
"Tidak usah non. Ada tugas dari tuan Bram yang harus aku selesaikan. Kalau nanti nona mau pulang, telepon saja. Nanti aku jemput."
"Baik Fad. Terima kasih banyak atas bantuannya."
"Kalau begitu aku mau pergi sekarang. Sampai jumpa non Yuana."
"Iya Fad. Hati-hati di jalan ya?"
Setelah Fady pergi, mereka segera masuk ke dalam dan menyapa beberapa kerabat yang masih ada di dalam rumah menanti mereka.
Isak tangis sudah tidak terdengar lagi. Yuana, Yosua, dan ibunya sudah bisa menerima kenyataan yang ada. Namun, mereka tidak banyak bicara seperti biasa.
Ketika mereka akan membereskan beberapa perabot yang masih berantakan, dari arah luar terlihat paman Jack, tante Grace, dan Nita yang baru saja datang.
Ketika mendengar kabar tentang kematian kakaknya, paman Jack sedang berada di luar kota, dan dari sana langsung menuju bandara untuk menjemput Nita yang baru saja pulang dari Jepang karena sudah menyelesaikan studynya dan hanya menanti wisuda sehingga ia memilih pulang.
"Maafkan aku kak. Tidak bisa hadir di acara pemakaman kak Fino." Kata paman Jack sambil memeluk bu Santy dan menangis sesenggukan. Ia merasa sangat kehilangan karena mendiang pak Fino adalah kakak satu-satunya.
"Tidak apa-apa dek. Semua sudah kehendak Tuhan." Bu Santy mencoba tegar dengan mengatakan kalimat itu, tapi airmatanya tidak dapat di bendung untuk tidak lolos.
Setelah selesai memeluk bu Santy, paman Jack berpindah memeluk Yosua.
Sementara Nita dan maminya masih memeluk dan menenangkan Yuana yang menangis tanpa henti sejak mereka tiba.
"Kamu harus tegar demi ibu dan adikmu. Sekarang, kamulah tempat mereka bersandar. Maka jangan pernah mengecewakan atau menyakiti mereka."
"Terima kasih paman. Aku akan selalu ingat nasehat paman."
Ketika akan memeluk Yuana, paman Jack melihat bahwa ketiga wanita itu masih berpelukan. Yang satu masih menangis, dan yang duanya mengusap punggung dan menghibur.
Setelah tante Grace dan Nita melepaskan pelukannya, Yuana segera berlari dan memeluk paman Jack.
__ADS_1
"Ayah, pa!. Yuana nggak sanggup."
Hanya itu yang bisa dikatakan Yuana. Selanjutnya hanya bahunya yang bergerak pertanda menahan tangis yang tidak bersuara. Ia tidak ingin mengeluarkan suara dalam tangisnya. Namun hatinya sangat pilu menahan semua rasa kehilangan yang ada di hatinya. Paman Jack pun tidak dapat menahan tangisnya
Ketika tangisnya sudah reda, Yuana melepaskan pelukannya dan duduk di samping Nita sambil menyandarkan kepalanya di bahu Nita. Nita dengan sigap mengusap punggung Yuana.
"Apa rencanamu untuk ibu setelah ini Yos?"
"Rumah ini rencananya akan aku kontrakan paman. Sedangkan ibu akan aku bawa untuk tinggal bersamaku di apartemenku."
"Rencana yang bagus, nak!"
"Iya paman. Aku juga sudah membeli sebuah rumah dekat apartemenku. Tapi aku memilih mengontrakkannya karena kalau aku tinggal disana sama ibu, ibu pasti ketepotan mengurus rumah sebesar itu. Ibu pasti tidak mau memakai jasa ART."
"Iya paman sarankan memang sebaiknya begitu. Jadi kamu bisa tetap fokus kerja. Apalagi karirmu yang semakin menanjak. Paman salut dengan kerja kerasmu dan hasil yang kamu peroleh."
"Terima kasih paman. Semua juga berkat doa dan motivasi paman sekeluarga."
"Oya! Dek Nita datang kapan?"
"Baru saja tiba. Paman dari luar kota langsung menjemputnya di bandara dan langsung kesini, makanya kita terlambat."
"Doakan dek Nita ya Yos? Nita tinggal menunggu wisuda. Makanya memilih untuk pulang." Kata tante Grace
"Kak Yosua kok baru sadar kalau aku cantik? Selama ini dimana aja kak? Hehehhe."
"Iya karena baru kelihatan cantiknya. Mungkin karena di Jepang jadi terkontaminasi makanya mulai cantik."
"Ih! Enak aja. Dari dulu juga aku cantik. Aku kan perempuan kak, jadi wajar dong kalau cantik."
"Hahaha. Iya, betul juga sih? Nanti kalau ada waktu kamu sama Yuana main ke tempat kakak ya?"
"Serius kak? Di kantor kakak ada cowok cakep nggak?"
"Hahahhaha. Banyaklah. Tapi ada satu yang paling cakep. Kalau kamu mau, nanti kakak kenalkan!"
"Wah, mau dong kalau begitu. Yang paling cakep itu siapa kak? Kok jadi penasaran?"
"Yang paling cakep pastinya kakak. Iya kan?"
Semua tertawa mendengar jawaban Yosua, kecuali Nita. Yuana yang masih bersandar di bahu Nita pun ikut tertawa dan menegakkan kepalanya.
__ADS_1
"Iya Nit! Akui aja. Kakakku memang paling cakep. Karena dia satu-satunya cowok diantara kita berdua."
"Iya sudah. Kakak adik sama aja. Aku akan buat pengumuman ke semua orang bahwa ada cowok yang sok cakep."
"Oya Yu. Kamu rencana pulang kapan?" Tanya tante Grace mengalihkan pembicaraan.
"Aku diberikan izin tiga hari dari kantor. Jadi aku masih ingin di sini dan membantu ibu membereskan barang-barang dan apa saja yang akan dibawa ibu dan kak Yosua, ma!"
"Ok! Manfaatkan waktu tiga hari ini dengan benar. Anggap aja cuti untuk bersama keluarga." Paman menimpali.
"Oya! Paman, tante, dan Nita akan pulang sekarang juga, karena besok pagi harus masuk kantor dan tante juga bertugas pagi."
"Kok nggak nginap paman?" Tanya Yosua
"Iya, Nginap ya dek?" Bu Santy menimpali.
"Kalau saja pas weekend kita pasti nginap. Tapi kondisinya tidak memungkinkan karena pas hari kerja. Kita juga dari sini mau langsung ke makam kakak. Dari sana kita langsung pulang."
"Nit! Kamu nginap aja ya? Please!" Kata Yuana sambil memgatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Aku nggak bisa nginap Yu. Besok aku mau temani mami di RS. Hitung-hitung belajar magang Yu! Nanti kalau kamu sudah pulang, aku akan menginap di apartemenmu. Aku mau lihat wajah seriusmu kalau lagi kerja. Hehehhee."
"Ok. Nanti kalau pulang aku kabari ya? Janji, Ok?"
"Siap, Ndan! Janji!" Kata Nita sambil mengangkat jarinya membentuk huruf 'O'."
Mereka semua tersenyum melihat kelakuan Yuana dan sikap konyol Nita yang tidak pernah berubah.
"Ok! Kita berangkat sekarang ya? Kalian semua jaga kesehatan. Kalau ada apa-apa jangan lupa memberi kabar."
"Baik paman! Hati-hati di jalan." Yosua yang menjawab mewakili Yuana dan ibunya karena dua wanita di sampingnya hanya bisa diam dengan wajah sedihnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading ya guys? Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya๐๐๐๐๐