
Kata maaf mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi orang yang mengatakannya dengan tulus, akan terdengar indah di telinga si pendengar yang berhak menerimanya. Mungkin maaf tidak dapat memperbaiki sebuah kesalahan yang telah terjadi di masa lalu. Tetapi maaf dapat membalut sedikit luka yang pernah terkoyak karena sebuah kesalahan. Jangan pernah menahan hati untuk memberi dan meminta maaf jika itu dapat mengubah sebuah keadaan. Eda Sally
*****
Yuana bingung melihat ekspresi dua pria yang sama-sama menatap ke arahnya seperti mengharapkan sesuatu. Namun karena ego-nya, ia pura-pura tidak peduli dan berjalan maju dengan langkah pelan.
Erik dan Gail yang mengkhawatirkan Yuana segera mengiring langkah Yuana bak dua pengawal tanpa dikomando. Sekretaris Bram langsung berjalan di samping Yuana tanpa mengatakan apapun. Arthur yang berjalan di belakang kedua pria itu hanya menggelengkan kepala melihat pemandangan yang menurutnya sangat lucu itu.
Sekretaris menepati janjinya dan segera membukakan pintu mobilnya untuk Yuana sebelum dilakukan oleh Arthur, dan kemudian membantu Yuana naik keatas mobil. Ia memberikan kode dengan matanya kepada Erik agar jangan semobil dengan mereka.
Erik hanya mampu menggaruk kepalanya yang memang tidak gatal. Ia semakin gemas melihat istri kecilnya yang ngambek seperti itu. Ingin rasanya ia memeluknya dan menuntaskan semua keinginannya yang ia simpan selama ini.
Tak lama kemudian, kedua mobil itu beriringan meninggalkan rumah sakit.
"Apa kau ingin aku membelikan sesuatu untukmu?" Tanya sekretaris Bram ketika mobil mulai berjalan.
"Tidak usah kak. Terima kasih." Yuana menjawab pertanyaan sekretaris Bram dengan sopan.
"Jika kau menginginkan sesuatu, katakanlah! Jangan sungkan."
"Terima kasih kak!" Yuana menjawab dengan senyum yang terukir di bibirnya.
Hmmm! Jika nona Yuana yang kalem saja tingkahnya sudah seperti ini saat hamil, apalagi Agatha. Itu akan menjadi sebuah bencana bagiku. Arthur.
Lamunan Arthur terhenti ketika ia hampir saja melewati mansion jika sekretaris Bram tidak mengingatkannya.
"Apa kau akan mengantar kami ke kuburan? Kenapa mau melewati rumah?"
"Maafkan saya tuan."
Arthur segera turun dan membukakan pintu untuk sekretaris Bram dan Yuana. Sekretaris Bram memegang tangan Yuana dengan sangat hati-hati dan menurunkannya.
Erik dan Gail yang sudah lebih dulu turun, berlari ke arah mereka dengan wajah penuh khawatir. Dua pria itu memiliki rasa khawatir yang sama terhadap Yuana.
Yuana sama sekali tidak melirik mereka. Ia berjalan disamping sekretaris Bram dan memasuki mansion milik keluarga Wiliam. Para pelayan menatap bingung ke arah tuan-tuan mereka karena pulang dengan membawa seorang wanita.
__ADS_1
Yuana yang merasa mendapat tatapan aneh dari para pelayan menundukkan kepala dalam-dalam. Ia berhenti melangkah ketika mendapat tatapan seperti itu. Sekretaris Bram yang tidak menyadari hal itu berjalan terus tanpa melihat lagi kalau ia sudah meninggalkan Yuana.
Erik yang menyadari situasi itu, segera maju ke depan dan memeluk Yuana dengan mesra.
"Oya, perkenalkan! Ini istri saya." Kata Erik yang merasa memiliki kesempatan berharga dan tanpa malu sedikit pun langsung memeluk dan mengecup kening Yuana dengan lembut dan sangat lama di depan semua orang.
Gail membuang muka karena tidak sanggup menatap pemandangan di depannya yang sangat menyakiti mata dan hatinya itu.
"Maafkan kami yang tidak mengenali nona muda. Selamat datang nona muda." Kata pengurus rumah sambil membungkuk memberi hormat diikuti oleh yang lain.
"Terima kasih." Hanya itu yang bisa dikatakan Yuana. Ia mengangguk dan tersenyum kemudian berjalan masuk bersama Erik yang masih memeluknya.
Sekretaris Bram mengerutkan keningnya tanda heran melihat pasangan yang tadi masih bersitegang tiba-tiba sudah datang dengan berangkulan.
Erik tersenyum dan mengedipkan matanya kepada sekretaris Bram. Sekretaris Bram pura-pura mencari sesuatu di saku jaketnya.
Erik membantu Yuana duduk di sofa kamarnya. Yuana langsung melepaskan pelukan Erik dengan kasar begitu duduk dengan sempurna. Gail dan Arthur yang sejak tadi duduk hanya memperhatikan apa yang akan dilakukan kedua tuan muda itu.
"Ini hadiah yang aku janjikan. Kamu boleh membukanya setelah berada di rumah. Ini hadiah pernikahan dariku untukmu dan Erik. Aku ingin kamu selalu mengingatku setiap kali kamu memandang hadiah itu." Kata sekretaris Bram sambil menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang kepada Yuana.
Yuana menerima kotak hadiah itu dengan air mata yang menetes bgt saja.
Yuana tersenyum menanggapi perkataan sekretaris Bram dan segera menghapus air matanya yang sudah terlanjur keluar.
"Terima kasih kak untuk hadiahnya."
Sekretaris Bram tidak menjawab. Ia segera kembali ke depan meja tempat ia duduk tadi dan membuka laptopnya kemudian menyambungkannya dengan Televisi yang ada di kamar tersebut.
Yuana, Arthur, dan Gail hanya diam melihat apa yang dilakukan oleh sekretaris Bram.
Kalau hanya menonton TV kenapa harus jauh-jauh ke sini? Yuana.
Tak lama kemudian terlihat tampilan gambar di layar televisi. Yuana memicingkan matanya melihat siapa yang ada di layar itu.
Bukannya itu Erik? Yuana.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Yuana melihat satu persatu rekaman itu terpampang dengan jelas. Semua aktifitas suaminya terlihat di situ termasuk Celine.
Yuana menutup mulutnya menahan rasa haru yang sudah menggelitik hatinya. Rasa bersalah dan penyesalan seolah menuduhnya secara terang-terangan.
Tanpa ia sadari, air matanya tumpah begitu saja. Erik yang duduk tidak jauh dari situ segera menyambar tissue dan mengeringkan air mata istrinya.
Yuana merasa malu dengan semua pikiran buruk dan tuduhannya kepada Erik selama ini. Ia sampai menutup wajahnya karena malu, ketika dengan perlahan Erik membawanya dalam pelukannya tanpa mempedulikan orang-orang yang berada di situ dan dengan penuh cinta mengecup kepalanya berkali-kali.
Sekretaris Bram tersenyum melihat Erik yang selama ini terlihat dingin dan kaku begitu mesra terhadap istrinya.
Apakah aku juga akan berubah seperti itu jika menikah? Ah! Seandainya wanitaku waktu itu berumur panjang. Aku membenci maut yang telah mengambil wanitaku dengan cara yang tak layak. Bram.
"Jika sudah tidak ada yang menonton, aku akan mematikan televisinya." Kata sekretaris Bram.
"Jika boleh, saya masih ingin menonton tuan. Saya penasaran dengan endingnya." Kata Arthur.
Sekretaris Bram segera tersadar bahwa ia telah menggabungkan rekaman itu dengan rekaman Celine waktu di klub. Ia tidak menyadari hal itu karena sibuk memperhatikan Yuana dan Erik.
Untung belum sampai adegan itu. Jika tidak, aku akan menodai mata suci kedua perjaka itu. Bram.
Yuana yang sudah mulai tenang, melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah sekretaris Bram kemudian langsung memeluknya dan menumpahkan segala rasa yang ia simpan.
"Jadi selama ini kenyataannya tidak seperti yang aku pikirkan. Maafkan aku kak. Maafkan aku yang bodoh dan tidak mempercayaimu." Kata Yuana di sela-sela isak tangisnya.
Bersambung
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
😍😍😍😍😍