
Seringkali orang mengatakan bahwa kesempatan itu hanya datang sekali dalam hidup, walau pada kenyataannya ada orang yang mengalami beberapa kali kesempatan sebagai sebuah pilihan. Jika kesempatan yang kita tunggu sudah ada di depan kita, maka jangan pernah sia-siakan karena mungkin tidak akan terulang lagi. Kalau pun terulang, itu akan terjadi dalam situasi yang berbeda. Eda Sally
*****
Bu Jessy tertegun mendengar apa yang baru saja dibisikkan oleh sekretaris Bram. Ia tak percaya dan menatap putranya dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Apa kau serius putraku?" Tanya Bu Jessy.
"Apa aku terlihat bercanda?" Sekretaris Bram balik bertanya dan bergegas menuju mobil yang telah menunggu mereka.
Erik mengerutkan keningnya melihat kakaknya berbisik dan membicarakan hal serius dengan sang mami. Namun, rasa penasarannya ia tahan karena lambat atau cepat kakaknya itu akan memberitahunya.
Nita yang membawa mobil sendiri, mendesak Yuana untuk duduk bersamanya di depan. Sementara papa dan maminya serta Erik berada di belakang.
Sepanjang jalan Erik memejamkan mata sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena Nita memonopoli Yuana.
Nita terus berceloteh sepanjang jalan tanpa mempedulikan Erik yang terlihat gusar di belakang. Sementara Yuana hanya mengangguk atau tersenyum, dan sesekali menjawab dengan singkat.
"Rasanya aku harus mengejarmu untuk segera menikah." Ujar Nita sambil tangan dan matanya terus fokus untuk mengemudi.
"Benar nih! Aku tantang. Dalam bulan ini sudah harus ada calon."
"Masa sudah gelar dokter, cantik, baik lagi. Apa yang kurang coba?" Ujar Yuana menggoda Nita.
"Aku kurang ramah dengan pria. Mungkin itu alasan kenapa para pria menghindariku." Ujar Nita dengan mimik serius.
"Jangankan dengan pria. Dengan aku saja kamu kurang ramah." Ujar Yuana sambil menutupi mulutnya dengan tangan.
"Awas kamu! Aku masih dendam, jadi jangan membangkitkan emosiku." Ancam dengan mimik pura-pura marah.
Yuana dan yang lainnya hanya tertawa melihat kelakuan Nita.
Tak lama kemudian, mereka terlihat beriringan dengan mobil lainnya memasuki mansion mewah keluarga Wiliam.
Saat memasuki rumah itulah Yuana kembali diingatkan dengan peristiwa dimana ia dipaksa untuk meninggalkan Erik. Tanpa sadar, airmatanya menetes begitu saja.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Erik dengan khawatir sambil bergerak turun dan langsung membukakan pintu bagi Yuana.
Erik dengan reflek menghapus airmata Yuana dan membawa wanita itu dalam pelukannya.
"Jangan memikirkan apapun lagi! Kini kamu telah kembali ke rumah dari mana kamu terusir, rumah yang akan menjadi milik kita."
__ADS_1
"Dan di rumah inilah, kita akan bersama-sama menua dalam cinta yang tak terpisahkan oleh apapun." Ujar Erik sambil mengecup Yuana berulang kali.
Paman Jack dan tante Grace yang melihat kelakuan Erik, sangat bersyukur bahwa pria itu sangat mencintai putrinya.
Nita yang melihat drama haru di depannya, terlihat perlahan mengangkat tangan dan menghapus airmatanya dengan tangannya.
Sekretaris Bram segera mempersilahkan mereka semua untuk masuk. Baru saja kaki mereka menginjak tangga pertama untuk menuju teras depan pintu utama, terdengar ucapan selamat datang dari mikrofon yang mengarahkan mereka menuju aula pribadi keluarga Wiliam.
Mereka beriringan menuju aula, dan sekali lagi Yuana dibuat kagum dengan ucapan selamat datang yang ditujukan khusus untuk dirinya.
Yuana mengangkat wajah dan memandang Erik yang tersenyum kepadanya.
"Kau lebih berharga dari apapun, dan papaku melakukan semua ini, untuk menebus kesalahannya di masa lalu kepadamu."
"Berterima kasihlah pada papa, karena semua ini rencana papa. Dan bukan aku, atau kak Bram." Ujar Erik.
Yuana perlahan melepaskan pelukannya dan berjalan perlahan menuju pria yang sangat terhormat itu.
Setelah dekat, ia memaksakan diri untuk tersenyum walau bibirnya sedang bergetar.
Andre Wiliam yang tanggap, segera menyerahkan Garrick kepada Erik. Andre Wiliam langsung membuka kedua tangannya dan tersenyum kemudian menganggukkan kepala agar Yuana memeluknya.
Yuana langsung membenamkan kepala di dada pria paruh baya itu. Ia menangis sangat lama sampai Erik sudah tidak tahan melihat ia menangis, dan kemudian menyentuh bahunya.
"Jangan meminta maaf, karena permintaan maafmu membuat papa semakin merasa bersalah."
"Papa yang seharusnya meminta maaf, karena hampir memisahkanmu dengan pria yang sangat mencintaimu."
"Papa hampir saja merusak kebahagiaan putra papa sendiri." Ujar Andre Wiliam sambil membelai rambut Yuana, kemudian dengan perlahan menghapus sisa-sisa airmata di wajah Yuana.
Andre Wiliam kemudian maju ke depan mikrofon dengan tetap menggandeng tangan Yuana.
"Mulai hari ini, nyonya rumah ini adalah putriku Yuana Samantha."
"Semua hal yang ingin kalian koordinasikan, kalian tidak akan lagi membicarakannya dengan nyonya besar, tetapi dengan putriku ini."
"Segala keputusan di rumah ini, semuanya saya serahkan kepada putri saya yang kini telah berstatus Yuana Samantha Wiliam." Ujar Andre Wiliam sambil menyerahkan mikrofon kepada Yuana.
"Terima kasih atas sambutan ini. Saya sangat bersyukur, karena diberi kesempatan untuk boleh merasakan kasih dan cinta tulus dari keluarga Wiliam."
"Mohon bimbingannya, agar saya dapat menjalankan tanggung jawab yang telah dipercayakan kepada saya."
__ADS_1
"Saya tidak tahu apa lagi yang harus saya katakan, karena semua rasa rindu yang selalu saya bawa dalam doa-doa saya sudah terjawab."
"Doa saya, kita semua senantiasa dilindungi Tuhan, dan tetap menjadi keluarga yang utuh tanpa dipisahkan oleh apapun."
"Terima kasih." Yuana mengakhiri sambutannya sambil tersenyum.
Andre Wiliam mengambil tangan Yuana, dan memegangnya sambil berjalan ke arah Erik.
Setelah dekat, ia mengambil tangan Erik dan menyatukannya dengan tangan Yuana sambil tersenyum.
"Kiranya kalian tetap saling mencintai dalam segala kondisi." Ujar Andre Wiliam sambil kembali ke tempatnya.
Yuana dan Erik saling berpelukan dibarengi tepuk tangan dari semua yang hadir.
Sementara itu Jessy Larina terlihat berjalan menuju mikrofon. Setelah di depan mikrofon, ia tersenyum sambil menatap semua orang.
"Saya harap, tidak ada yang kaget dengan posisi saya di sini."
"Sebagai seorang ibu, saya merasa sangat berbahagia, karena kedua putra saya berkumpul dan tetap saling menyayangi."
"Kasih sayang yang telah terjalin diantara mereka sejak kecil, membuat saya sadar bahwa kasih sayang yang ditunjukkan seorang ibu akan membuat anak-anaknya saling menyayangi pula."
"Karena itu, saya juga menginginkan anak-anak saya hidup dalam kasih sayang."
"Saya juga merasa bahwa kebahagiaan saya belum sempurna, jika putra pertama saya Bram Wiliam belum menemukan wanita yang cocok untuknya."
"Dari tempat ini dan dengan hormat, serta sesuai dengan permintaan putra saya, dengan rendah hati saya mewakili putra saya dan keluarga saya untuk melamar nona Nita Samantha menjadi kekasih putra saya."
"Kenapa saya yang melamarnya mewakili putra saya?"
"Karena saya ingin calon menantu saya tahu bahwa saya juga menyukainya sejak pertama kali bertemu."
"Nona Nita Samantha, apakah kamu bersedia menjadi kekasih putra saya?" Tanya Jessy Larina sambil mengakhiri sambutannya.
Semua yang hasir di dalam ruangan itu bengong dan tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
Bersambung
.
.
__ADS_1
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.😍😍😍😍😍