
Saat tangan kita tidak mampu terulur untuk membantu orang lain, maka setidaknya hasil pemikiran kita dapat menjangkau mereka dengan apa yang seharusnya dilakukan. Berandai itu baik, tetapi lebih baik lagi jika mewujudkan apa yang ada di dalam pikiran, sehingga tidak hanya menjadi sebuah ide yang tersimpan tanpa direalisasikan. Eda Sally
*****
Setelah berteriak, Gail berlari dengan sekuat tenaga, bahkan langkahnya menjadi lebih panjang dari sebelumnya. Bangku taman yang berjejer beberapa meter pun dilompati begitu saja seperti sedang melakukan atraksi.
Gail sendiri tidak lagi memikirkan tentang keselamatannya. Yang ada dalam pikirannya saat itu adalah cepat sampai tempat dimana matanya tertuju untuk menyelamatkan bayi itu.
Ketika jarak antara dirinya dan kolam tinggal beberapa meter lagi, Gail dengan sekuat tenaga membuang dirinya ke dalam kolam tanpa memikirkan apapun lagi. Begitu sampai di dalam kolam, dengan cepat ia berenang dan meraih tubuh mungil Garrick yang terapung itu.
Gail sambil berenang mengangkat tubuh Garrick dan menggendongnya dengan satu tangan. Ia kemudian berenang ke sisi kolam membawa tubuh Garrick. Napasnya terengah-engah karena habis berlari dan berenang.
Erik yang baru saja sampai memelototkan mata melihat apa yang terjadi, dan tanpa sadar tubuhnya bergetar hebat. Ia jatuh tersungkur di sisi kolam sambil menangis.
"Anakku." Hanya itu yang terdengar dari mulut Erik.
"Cepat bangun dan bawa Garrick ke rumah sakit. Ini belum terlambat. Ia baru saja jatuh masuk ke dalam kolam saat aku berlari ke sini." Kata Gail sambil membalikkan badan Garrick sehingga air keluar dari mulut dan hidung bayi itu.
Setelah tidak ada air yang keluar lagi, Gail dan Erik langsung berlari menuju ke mobil Gail. Erik cepat tanggap dan langsung masuk ke bagian kemudi, kemudian mengemudikan mobil, sedangkan Gail tetap menggendong Garrick sambil melepas pakaian Garrick yang sudah basah, dan membungkusnya dengan jas kerjanya yang selalu ia gantung di dalam mobil.
"Hallo dok, tolong selamatkan Garrick. Kami sedang dalam perjalanan." Hanya itu yang diucapkan Gail ketika dokter Stevi mengangkat telepon. Setelah mengatakan hal itu, Gail langsung mematikan telepon karena rasa panik.
Sepanjang jalan, ia terus menatap bayi itu yang menutup matanya seolah sedang tidur. Tanpa sadar, ia mendekap bayi itu dengan sangat erat kemudian mengecup keningnya.
Setelah sampai di rumah sakit, Gail menggendong Garrick sambil berlari. Erik terus berlari dari belakang seperti orang kebingungan dan hanya mampu menatap apa yang dilakukan Gail. Pikirannya benar-benar dipenuhi dengan rasa takut melihat keadaan anaknya.
Dua orang perawat yang sudah menanti kedatangan mereka karena telah mendapat perintah dari dokter Stevi, dengan cepat membawa Garrick ke ruang perawatan khusus yang sudah disiapkan, dan langsung membaringkannya di tempat tidur. Dokter Stevi dengan cekatan memeriksa nadi Garrick kemudian melakukan tindakan medis.
"Apa yang terjadi, Gail?" Tanya dokter Stevi.
"Garrick jatuh ke dalam kolam." Jawab Gail.
"Kenapa kalian bisa seceroboh itu? Apa kalian tidak tahu bahwa Garrick sangat aktif?" Tanya dokter Stevi menahan amarah.
Erik memegang kaki bayi itu dan terus menangis di sisi tempat tidur. Dokter Stevi yang melihat Erik seperti itu, mendekatinya dan memegang pundaknya.
__ADS_1
"Jangan khawatir, tuan! Putra tuan baik-baik saja. Untung ditemukan di waktu yang tepat. Jika tidak, entah apa yang terjadi." Ujar dokter Stevi.
"Tolong jangan berbicara seperti itu, dokter!" Pinta Gail sambil meremas rambutnya dan menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Terima kasih Gail." Kata Erik sambil berdiri dan memeluk Gail. Ia menangis di bahu Gail agak lama.
"Aku tidak mau kehilangan anakku." Ujar Erik.
"Berhentilah menangis. Apa tuan pikir saya juga mau kehilangan Garrick? Ia sudah ku anggap seperti anakku sendiri." Jawab Gail sambil menepuk pundak Erik.
"Tuan, coba telepon ke rumah dan cek, apakah Esy sudah berhasil ditangkap atau belum." Ujar Gail ketika Erik melepaskan pelukannya.
"Pinjam handphonemu. Aku tidak membawa handphone." Jawab Erik.
Tanpa mengatakan apapun, Gail segera memberikan handphonenya kepada Erik, yang langsung menghubungi bagian security.
"Tak lama kemudian, Erik menyerahkan handphonenya dan mengatakan bahwa Esy sudah ditangkap.
"Lalu, apa yang akan tuan lakukan kepada wanita iblis itu? Jangan bilang tuan akan membebaskannya." Ujar Gail dengan ketus. Ia masih marah karena Garrick hampir menjadi korban.
"Segera usut tuan dan cari tahu siapa dibalik semua ini." Tegas Gail.
"Seperti cerita yang sudah kamu tahu, wanita itulah yang menyuruh Esy untuk menyamar sebagai baby sitter." Jawab Erik.
"Karena dia ingin bermain-main, maka serahkan dia kepadaku tuan, agar aku yang bermain-main dengannya. Dan aku pastikan ia akan menyesal seumur hidup." Ujar Gail dengan geram.
"Apa kau lupa janjimu kepada Yuana untuk tidak melakukan hal yang konyol lagi?" Balas Erik.
Gail hanya mampu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ingin ia mencabik-cabik tubuh perempuan itu.
Saat mereka asyik mengobrol, tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan celoteh suara bayi. Saat menoleh, bayi itu tertawa dengan gembira melihat kedua orang itu yang ia kenal sebagai dady.
Garrick mengulurkan tangannya untuk menggapai kedua pria dewasa itu. Erik dan Gail bergeser dengan serentak dan sama-sama memeluk bayi mungil itu.
"Are you ok, my baby?" Tanya Gail sambil mengecup pipi Garrick yang disambut dengan tawa oleh Garrick. Sementara Erik hanya memeluk bayi itu dengan air matanya yang mulai menetes lagi.
__ADS_1
Aku hampir kehilangan anakku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku jika aku harus kehilangan putraku. Erik.
Garrick yang menyadari bahwa dadynya hanya memeluknya, memukul-mukul kepala Erik. Erik mengangkat wajahnya dan tersenyum paksa. Ia dengan perlahan mencium bayi mungil itu.
"I love you my son." Hanya itu yang dikatakan Erik. Ia kemudian langsung mengangkat tubuh Garrick dan menggendongnya.
Beberapa saat kemudian, dokter Stevi masuk dan melihat bahwa bayi itu baik-baik saja.
"Tuan ingin langsung pulang atau akan melakukan perawatan dulu?" Tanya dokter Stevi.
"Jika menurut dokter keadaan putraku baik-baik saja, maka sebaiknya kami langsung pulang. Tetapi jika ia butuh perawatan, maka kami akan mengikuti apa yang terbaik menurut dokter." Jawab Erik dengan sopan.
"Dia baik-baik saja. Kalian boleh pulang. Aku akan memberikan beberapa vitamin untuk mencegah putra tuan masuk angin." Balas dokter Stevi.
"Baik dokter. Terima kasih banyak atas bantuannya. Kami mohon pamit." Jawab Erik.
Setelah membayar dan mengambil vitamin yang diberikan oleh dokter, mereka langsung pulang. Kali ini Gail yang mengemudikan mobil.
"Hei baby, apa kamu tahu bahwa sejak tadi aku tidak mengganti pakaianku yang basah ini karena mengkhawatirkanmu?" Ujar Gail sambil melirik Erik dan Garrick dari balik spion.
"Aku baru sadar kalau kamu basah kuyup." Jawab Erik yang tidak bisa menahan tawa melihat penampilan Gail yang acak-acakan seperti itu.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
__ADS_1
😍😍😍😍😍