Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
46. Pergi Dalam Kepedihan


__ADS_3

Tidak ada seorang pun yang dapat melihat dan meramal jalan hidupnya. Kadang ada sebagian orang yang berhasil dalam semua yang direncanakannya seolah tidak ada halangan yang berarti yang akan menghalangi segala jalannya. Sementara itu ada orang yang merencanakan semuanya dengan matang, namun tidak semua berjalan sesuai rencananya dan tidak sedikit yang gagal. Kita hanya perlu memiliki keyakinan bahwa gagal bukan berarti sudah tidak bisa melakukan apapun. Itu hanya suatu jeda waktu untuk beristirahat sejenak. Eda Sally


*****


Yuana telah bangun dan mempersiapkan diri sejak pukul 03.00 pagi, karena pesawat yang ditumpangi akan berangkat pukul 06.00 pagi.


Setelah meyakinkan diri bahwa semua yang dibutuhkannya sudah masuk dalam koper dan tas, Yuana berdiri dan memandangi apartemennya dari semua sudut, kemudian tersenyum paksa.


Aku tak kan bisa melihatmu untuk waktu yang lama. Terima kasih telah memberikan kenyamanan selama satu tahun lebih. Entah sampai kapan aku harus kembali kesini. Jika Tuhan berkenan, Ia pasti membawa aku kembali, dan menginjakkan kali lagi di sini.


Setelah dirasa cukup lama memandangi apartemennya, Yuana memejamkan matanya dan berdoa kemudian turun ke parkiran karena Fadly yang akan mengantarnya ke bandara sudah menunggunya.


Fadly hanya diberitahu oleh tuan Andre bahwa Yuana ada tugas di luar pulau untuk memantau anak cabang Angkasa Grup.


"Hallo Fad! Sudah lama menunggu?"


Yuana berusaha membuat suaranya kedengaran se-ceria mungkin agar Fadly tidak curiga.


"Hallo nona. Selamat pagi. Belum lama non. Aku baru saja sampai." Kata Fadly yang sudah turun dan membukakan pintu untuk Yuana, kamudian mengambil koper milik Yuana dan tas ransel lalu dimasukkan ke mobil.


Kenapa nona Yuana bawa banyak barang? Kalau hanya tugas keluar pulau untuk beberapa hari kenapa harus bawa barang sebanyak ini?


"Terima kasih Fad." Kata Yuana ketika sudah masuk dan duduk dengan manis.


Fadly dikagetkan dengan ucapan Yuana. Ia bingung dan tidak tahu harus berkata apa. Bertanya juga rasanya tidak sopan. Setelah menutup pintu, ia kemudian berbalik arah dan masuk ke dalam mobil.


Dengan santai dan tenang, Fadly menjalankan mobil sambil bermonolog sendiri dalam hati.


Kenapa nona Yuana berangkat sendiri ya? Biasanya selalu bersama tuan Bram. Apalagi keluar pulau. Tuan Bram tidak akan membiarkan nona Yuana pergi sendiri. Kenapa aku juga merasa aneh dengan sikap nona Yuana sejak kemarin pagi selesai bertemu dengan tuan besar?


Fadly mulai curiga kalau ada sesuatu yang tidak beres. Namun ia memilih diam karena kalau bertanya takut akan menyinggung perasaan Yuana.

__ADS_1


Ah, kalau misalkan firasatku benar, aku harus jujur kepada tuan Bram dan tuan muda jika ditanya.


Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit, Fadly dan Yuana sudah sampai bandara. Fadly segera turun dan membukakan pintu untuk Yuana. Tak lupa ia mengambil koper dan tas ransel Yuana dan membawanya.


"Biar aku yang bawa Fad. Kamu langsung pulang saja. Tidak apa-apa."


"Biar aku saja nona! Aku tidak tega melihat nona membawa koper sebesar ini."


Deg!


Yuana langsung kaget ketika Fadly mengatakan 'koper sebesar ini.'


Jangan-jangan Fadly curiga ya?


Fadly tersenyum melihat Yuana kaget dengan apa yang ia katakan. Namun ia pura-pura berjalan terus agar tidak dicurigai Yuana. Ia kemudian mengantar Yuana sampai pintu masuk chek in. Setelah menaruh barang Yuana dalam stroler, ia melihat ke arah Yuana dan tersenyum.


"Baik-baik disana nona. Aku harap tidak ada yang nona sembunyikan. Nona akan membuat tuan muda gila dengan keputusan yang nona ambil."


"Maafkan aku Fad. Sudah tidak ada jalan lagi."


"Kalau pun nona tidak bisa menghubungi tuan muda karena takut, nona bisa menghubungiku. Aku akan menyampaikan apapun yang nona katakan kepada tuan muda."


"Terima kasih Fad."


Hanya itu yang Yuana katakan. Ia tidak mau menangis lebih lama lagi. Setelah mengatakan itu, Yuana langsung membawa strolernya masuk ke dalam untuk chek ini. Fadly hanya melihat kepergian Yuana dengan raut wajah yang sedih. Airmatanya sudah tergenang.


Walaupun laki-laki, ia tahu perjuangan tuan muda dan Yuana sampai sekarang. Cinta yang tak direstui membuat mereka harus berpisah seperti ini.


Sementara Yuana yang sudah selesai chek in, duduk di ruang tunggu dan menanti pesawat yang akan membawanya pergi masih lima belas menit lagi baru take of. Ia memilih memejamkan mata sambil telinganya tetap fokus mendengarkan pengumuman.


Tak lama kemudian telinganya mendengar pengumuman dari petugas bahwa pesawatnya akan segera berangkat. Yuana antri bersama penumpang lainnya untuk dicek oleh petugas, kemudian menuju pesawat.

__ADS_1


Setelah menemukan tempatnya, Yuana segera duduk dan memasang sabuk pengaman. Ia langsung memasang airphone dan memilih mendengarkan lagu, sementara simcard-nya sudah dinonaktifkan.


Yuana tidak terlalu sibuk untuk memperhatikan siapa yang duduk di sampingnya karena ia mendapat tempat dekat jendela. Ia juga tidak mood untuk berkenalan dan memilih tetap memejamkan mata sambil mendengarkan lagu.


Jika aku membuka mata, maka aku pasti akan menangis ketika pesawat take of. Lebih baik aku tetap seperti ini. Ah, Tuhan! Kenapa hidupku harus seberat ini? Aku sudah seperti maling yang kedapatan mencuri emas berton-ton sehingga harus dibuang sejauh ini. Andaikan umurku dipersingkat, mungkin aku tak akan mengalami hal ini.


Pramugari mengumumkan bahwa pesawat akan segera take of. Yuana tidak terlalu memusingkan hal itu. Ia memilih untuk tetap mendengarkan lagu dan jika perlu bisa tidur karena perjalanannya akan memakan waktu yang cukup lama.


Lamanya flight ke Johannesburgh dengan pesawat memakan waktu kurang lebih 20-21 jam. Karena itu Yuana memilih tidur sambil mendengarkan lagu agar tidak bosan.


Pesawat yang membawa Yuana tidak mengalami kendala apapun. Perjalanan yang ditempuh Yuana dengan pesawat sangat lancar.


Yuana pun menikmati semua pelayanan yang disiapkan di pesawat. Ia tetap makan dan minum seperti biasa pada saat jam makan atau ketika pramugari mengantarkan makanan untuk para penumpang. Yuana sangat menikmati perjalanannya seakan-akan tidak terjadi apapun.


Yuana juga mulai berkomunikasi dengan orang di sampingnya yang merupakan mahasiswa yang akan pergi berlibur.


Ah! Enaknya jadi dia. Berlibur dengan tidak memikirkan apapun. Aku tidak tahu apa aku akan berlibur atau akan bertemu dengan banyak tantangan disana. Beruntung dulu aku senang belajar Bahasa Inggris dan beberapa bahasa. Ini akan sangat membantu ketika aku ada di sana. Aku juga perlu berterima kasih pada kakakku yang telah mengajarkan aku ilmu bela diri. Setiap pergi latihan aku selalu dibawa, dan itu membuatku jadi anggota perempuan satu-satunya dan paling kecil. Mungkin semua yang sudah aku pelajari akan bermanfaat disana.


Lamunan Yuana segera buyar ketika pramugari mengumumkan bahwa lima belas menit lagi pesawat mereka akan landing. Yuana segera berkemas dan merapikan rambutnya karena sebentar lagi akan turun.


Kehidupan baru Yuana akan dimulai sebentar lagi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading ya? Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2