
Mengagumi seseorang adalah mengakui dan percaya sepenuh hati bahwa orang yang kita kagumi merupakan sosok yang dapat dipercaya dan diandalkan dalam segala hal.
Mungkin kita akan di bilang terlalu naif karena terlalu mempercayai seseorang. Tetapi kita perlu ingat bahwa sikap mempercayai merupakan bentuk tindakan nyata dalam memberikan sebuah penghormatan. Eda Sally
*****
"Tentu saya percaya padamu, tuan." Jawab Habib tanpa mengerti sama sekali maksud pertanyaan sang tuan.
"Jika kau percaya padaku, maka jangan khawatir jika kita tidak menyewa bodyguard karena aku percaya padamu, dan aku hanya menginginkan agar kau menjaga istriku dengan baik." Kata Erik menjelaskan.
"Saya akan menjaga nona muda dengan seluruh hidup saya, tuan." Habib berkata dengan penuh keyakinan.
"Aku tidak meragukan rasa sayangmu pada istriku. Aku tahu kau menyayanginya. Dan aku melihat itu sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Karena itu, tidak ada pria yang akan aku percaya untuk menjaga istriku selain engkau. Aku tahu kau sangat tulus. Jadi, jangan pernah berniat menolak permintaanku ini, dan jangan pernah kecewakan aku." Kata Erik.
"Hari ini, di depan tuan aku berjanji, bahwa aku akan menempatkan nona muda diatas segala hal yang berhubungan dengan urusan pribadiku." Kata Habib sambil membungkuk dan memberi hormat.
"Tidak usah terlalu formal seperti itu, beb. Aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri. Jadi kalian tidak harus memanggil tuan dan nona kepada kami." Kata Erik.
"Tidak tuan! Saya merasa lebih nyaman jika memanggil tuan. Dengan panggilan seperti itu, akan membuat saya untuk selalu sadar bahwa saya tidak boleh main-main dalam menjaga dan melindungi nona muda dan tuan muda." Habib menjelaskan maksudnya.
"Jika seperti itu, aku tidak akan menghalangi niatmu. Tetapi aku berharap, agar kamu dan Alika tidak merasa sungkan kepada kami. Apa yang kalian inginkan, jangan malu untuk mengatakannya." Kata Erik.
"Baik tuan muda. Aku akan mengingat apa yang tuan katakan." Kata Habib.
Alika yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya di dapur segera bergabung dengan mereka.
"Maafkan saya jika mengganggu. Saya hanya ingin mengatakan bahwa makan malamnya sudah siap." Kata Alika dengan sopan.
"Terima kasih Alika." Kata Erik tersenyum kepada Alika.
__ADS_1
Mereka kemudian menuju meja makan dengan tangan Erik masih merangkul istri kecilnya seolah takut kehilangan.
Mereka makan dengan tidak ada yang berbicara. Alika dan Habib memilih untuk makan tanpa suara karena sang tuan tidak mengajak untuk berbicara.
Selesai makan, mereka berempat duduk di ruang keluarga sambil membicarakan kejadian yang terjadi sore tadi.
"Tuan! Menurut tuan, orang yang tadi datang itu suruhannya siapa?" Tanya Habib masih penasaran.
"Aku tidak bisa memastikan itu siapa. Tetapi jika dilihat dari cara mereka bertanya, artinya mereka bukan orang suruhan ayahku, atau tuan Zain. Mungkin ada orang lain yang melakukan ini." Kata Erik.
"Mengapa tuan yakin bahwa itu bukan suruhan tuan besar atau tuan Zain?" Tanya Habih heran.
"Karena ayahku tipikal orang yang tidak pernah memberikan ampun. Jika tadi itu orang suruhan ayahku, tentu saja sudah terjadi sesuatu dengan nona muda. Dan aku tidak menginginkan itu terjadi pada istriku." Kata Erik sambil mengeratkan pelukannya pada Yuana. Ia benar-benar takut jika terjadi sesuatu pada istri kecilnya.
"Bagaimana kalau itu orang suruhan tuan Zain?" Tanya Habib penasaran dengan analisa tuannya. Menurutnya tuannya ini terlalu cerdas.
"Aku belum pernah bertemu secara langsung dengan tuan Zain. Tetapi dari cerita kalian yang sempat aku dengar, tuan Zain hanya merupakan pion yang dijalankan ayahku, tetapi ia masih memiliki belas kasihan. Seandainya tadi itu orang suruhannya tuan Zain, mereka tentu akan langsung mengenalimu karena tuan Zain pasti sudah memberitahukan ciri-cirimu. Ditambah lagi, mereka tentu sudah membawamu pergi." kata Erik.
"Sangat yakin. Ayahku tidak suka membuang-buang waktu. Dan ia tidak akan melepaskan musuhnya jika sudah ditemukan." Jawab Erik.
"Kalau begitu, siapa orang yang berani mengincar kita? Apa ada orang lain yang tuan curigai?" Tanya Habib.
"Aku belum memastikan orang yang aku curigai. Tetapi aku akan mencari tahu sendiri. Kalian tidak usah khawatir. Karena besok setelah pulang kantor, aku akan memasang cctv di seluruh sudut rumah ini. Jadi aku juga bisa mengawasi kalian dari kantor." Kata Erik.
"Aku takut." Hanya itu yang bisa Yuana katakan setelah berdiam cukup lama dan menyimak.
"Tidak perlu takut sayang. Ada Habib yang akan selalu melindungimu. Kamu juga bisa beladiri kan? Habib dan Alika juga akan menjaga kamu. Jangan menyepelekan Alika. Walaupun ia selalu berada di dapur, tetapi aku tahu bahwa dia punya kemampuan beladiri yang cukup bagus, tidak kalah dengan Habib." Kata Erik.
Yuana, Habib, dan Alika membelalakkan mata tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Erik. Karena mereka belum pernah menceritakan pada Erik tentang kemampuan yang mereka miliki.
__ADS_1
"Dari mana tuan tahu kalau saya bisa beladiri? Bukannya kami tidak pernah bercerita pada tuan?" Tanya Alika heran.
"Tidak usah terlalu heran Alika. Aku harus benar-benar tahu latar belakang orang yang akan senantiasa bersamaku dan istriku. Aku tidak akan mudah mempercayai orang untuk tinggal di rumahku jika ia tidak ku percayai." Kata Erik mantap.
"Lalu dari mana kamu tahu tentang aku yang bisa beladiri?" Tanya Yuana heran. Di saat seperti itu, otak Yuana yang cerdas tidak mampu berpikir jernih.
"Kamu lupa bahwa aku sahabat karib kakakmu di bangku kuliah? Tidak ada hal yang tidak diceritakan kakakmu tentang engkau saking sayangnya dia kepadamu." Kata Erik sambil mencubit hidung mungil istrinya.
"Jadi, kamu sudah tahu selama ini?" Tanya Yuana.
"Kenapa kamu heran? Orang lain saja aku cari tahu, apalagi istriku. Apa kamu pikir aku tidak akan penasaran dan mencari tahu tentang istriku? Aku bahkan sudah mencari tahu dengan detail tentang kebiasaan dan kesukaanmu." Kata Erik tanpa mempedulikan keberadaan Habib dan Alika karena ia sudah menyusuri wajah Yuana dengan aktifitasnya.
Yuana yang malu karena ada Habib dan Alika, segera menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Namun, Erik mengunci kedua tangannya dan terus melanjutkan aktiftasnya.
Habib dan Alika yang paham dengan situasi di depan mereka, segera bangun dan menuju kamar ke masing-masing. Mereka tidak ingin menjadi nyamuk yang akan mengganggu kegiatan yang sementara berjalan.
Aku benar-benar kagum dengan tuan muda. Ia benar-benar cerdas. Ia bahkan tahu dengan detail tentang latar belakangku dan Alika. Walaupun cerdas, tetapi ia sangat rendah hati. Aku bersyukur karena diizinkan untuk tinggal di rumah ini. Rumah yang dipenuhi dengan kebahagiaan tanpa mempedulikan masalah yang sedang dihadapi. Habib
Bersambung
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
😍😍😍😍😍