Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
11. Di Hukum Karena Lancang


__ADS_3

Di dunia ini, tidak ada sesuatu yang di dapatkan dengan cuma-cuma. Ada harga yang harus dibayar untuk setiap hal yang kita dapatkan. Terkadang mungkin kita menerima sesuatu tanpa perlu melakukan pengorbanan, tapi tidak sedikit hal juga yang di dapatkan dengan harus melakukan pengorbanan yang besar. Eda Sally


*****


Sering juga pengorbanan karena mendapatkan keuntungan atau hal baik itu menyakitkan, tapi percayalah ; Hidup itu butuh proses, dan tidak ada proses hidup yang mudah untuk seorang anak manusia.


Begitu juga yang dialami Yuana, ketika ia berhasil mengajak pak Erik makan siang di kantin kampus. Yuana berpikir bahwa tidak akan ada konsekuensi karena toh orang yang di ajak juga tidak keberatan.


Sepanjang waktu makan, pak Erik terlihat dingin dan tak sekalipun menatap ke arah Yuana. Ia lebih fokus menghabiskan makanannya tanpa suara.


Ih! Mentang-mentang kakak tingkat ya, sombong sekali. Sudah diajak makan, malah cuek seperti ini. Ah biarkan saja. Dari pada di suruh membersihkan toilet. Kan jadi ribet nanti. Yuana


"Kamu yang bayarkan? Makasih ya?" Kata pak Erik.


"Oya! Habis ini, kamu ikut ke ruanganku." Lanjutnya sambil berdiri dan pergi meninggalkan Yuana yang masih bingung dengan perkataan pak Erik.


"Ke ruangannya? Memangnya dia siapa, sampai ada ruangan segala? Ah bodoh amat. Lebih baik aku selesaikan makananku." Gumam Yuana.


Ia segera melanjutkan makannya tanpa terlalu memikirkan perkataan pak Erik tadi.


Yuana yang sudah selesai makan, segera berdiri dan menuju kasir untuk membayar makanan yang dia pesan untuk dia dan pak Erik.


Setelah bayar, Yuana bingung karena tidak tahu ruangan pak Erik dimana. Ia lantas menghampiri salah satu mahasiswa yang terlihat duduk sendiri di sebuah meja dan berniat untuk tanya.


"Permisi kak! Perkenalkan nama saya Yuana. Maaf mau tanya." Kata Yuana memperkenalkan diri.


Pria tersebut terlihat agak ragu melihat Yuana, tapi kemudian mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Yuana kemudian berkata ;


"FELIX." Katanya singkat kemudian segera menarik kembali tangannya.


"Kak, Yuana mau tanya." Lanjut Yuana.


Pria tersebut menganggukkan kepala.


"Kak, kakak senior yang tadi makan bareng saya namanya siapa ya kak,? Tanya Yuana.


"Oh itu! Itu bukan kakak senior. Itu dosen Mata Kuliah Manajemen Bisnis." Kata Felix.


Hah? Dosen? Muda sekali? Tidak kelihatan seperti dosen. Lebih cocok jadi mahasiswa."Kata Yuana.


"Tapi jangan salah. Itu dosen paling galak. Oya tadi aku dengar katanya kamu di suruh ke ruangannya. Lebih baik kamu cepat ke sana. Karena jika kamu terlambat satu detik saja, urusannya akan ribet." Kata Felix.


"Oya? Thank's ya? Kalau begitu saya langsung ke sana.


Oya, lupa! Ruangannya di mana kak." Tanya Yuana.

__ADS_1


"Kamu lurus, terus belok kiri. Di situ nanti ada lift. Kamu naik ke lantai tiga. Ruangan pak Erik di sebelah kanan pintu lift." Kata Felix menjelaskan.


"Ok thank's ya Lix? Aku langsung kesana." Kata Yuana sambil berjalan dengan tergesa-gesa.


Yuana berjalan sesuai dengan petunjuk dari Felix dan kini ia sudah berada di lantai tiga. Ia melihat ke kanan dan di situ ada sebuah pintu yang bertuliskan 'Erik Wiliam'.


Yuana mendekat ke arah pintu dan memencet bel yang berada disamping pintu.


"Masuk."


Terdengar suara perintah dengan nada tegas dari dalam ruangan.


Yuana agak gugup membuka pintu. Begitu berhasil membuka pintu, Yuana susah payah menahan tubuhnya agar tidak gemetar sampai lupa mengucap salam.


"Mana sopan santunmu kalau masuk ke ruangan orang." Kata pak Erik dengan ketus dan dingin tanpa menoleh sedikit pun pada Yuana.


"M,,,ma,,maaf pak. selamat siang. Mohon maaf mengganggu." Kata Yuana sambil mengatur nafasnya yang tidak beraturan saking gugupnya.


Duh! Pakai acara gugup lagi. Mana orangnya sama sekali tidak ada wajah familiarnya. Yuana


"Hei! Mau apa kamu ke sini!" Tanya pak Erik.


"Ahm, bukannya tadi bapak yang suruh saya ke sini?" Kata Yuana.


Yuana hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak sedang bicara dengan tembok. Jadi jangan pernah menjawab pertanyaanku dengan anggukan atau gelengan kepala. Kamu tidak bisu kan?" Kata pak Erik.


"Maafkan saya pak." Kata Yuana.


Kamu sudah melakukan beberapa kesalahan yang tidak aku sukai.


"Pertama, kamu sudah memanggil aku dengan sebutan kakak waktu meminta tolong, dan aku tidak suka."


"Kedua, kamu mengajak aku makan siang seolah-olah aku teman kamu."


"Ketiga, kamu terlambat 15 menit datang ke ruanganku. Padahal aku menyuruh kamu 'ikut' ke ruanganku, bukan 'menyusul' ke ruanganku."


"Keempat, kamu tidak langsung memberi salam ketika masuk. Aku paling tidak suka dengan orang yang tidak ada sopan santun."


"Kelima, kamu menjawab pertanyaanku dengan menggelengkan kepala." Kata pak Erik.


Mata Yuana terbelalak ketika pak Erik menyebutkan kesalahan-kesalahannya. Ia bingung harus berkata apa.


Ya Tuhan, cobaan apalagi yang seperti ini. Kenapa hari aku harus bertemu dan berurusan dengan orang-orang aneh. Mana ada daftar dosa yang menurutku tidak masuk akal. Aku seperti sedang berdiri di depan malaikat yang membacakan daftar dosaku. Dia manusia apa bukan ya? Yuana

__ADS_1


"Kenapa diam. Cepat berikan alasan kenapa kamu melakukan lima kesalahan yang aku sebutkan tadi." Kata pak Erik.


Yuana kaget karena kedapatan melamun.


"Maafkan saya pak. Tadi saya dapat hukuman dan di suruh untuk merayu kakak senior untuk makan siang bersama. Dan kakak senior yang di maksud adalah bapak. Saya benar-benar tidak tahu kalau bapak itu dosen. Karena kakak senior itu menunjuk bapak sehingga saya langsung menuju bapak dan mengajak makan siang bareng. Sekali lagi maaf pak." Kata Yuana panjang lebar.


"Hmmmm,! Boleh juga. Tapi ingat! Jangan pikir bahwa kamu sudah traktir aku makan dan kamu tidak akan dapat hukuman. Kamu akan tetap aku hukum karena sudah lancang dengan aku." Kata pak Erik.


"Maafkan saya pak." Kata Yuana memohon dengan bersedekap tangan di dada.


"Hukumannya tidak sulit. Dan aku yakin kamu pasti senang." Kata pak Erik dengan senyum licik.


"Kamu hanya perlu merapikan ruanganku setiap pagi dan siang selama seminggu, dan jika kerja kamu bagus, hukuman itu akan selesai. Jika tidak, maka hukumannya akan diperpanjang menjadi satu bulan." Kata pak Erik.


"Tap,,,,,Yuana belum selesai bicara ketika pak Erik berkata:


"Tidak ada tapi-tapian. Atau kamu tidak akan ikut mata kuliah yang aku asuh."


Yuana menarik nafas panjang dan dengan berat menjawab :


"Baik pak, akan saya lakukan". Kata Yuana.


Ok! Sekarang kamu boleh meninggalkan ruanganku. Dan ingat hukumannya mulai besok pagi." Kata pak Erik.


"Baik pak! Akan saya ingat." Kata Yuana.


"Dan satu lagi. Aku tidak suka orang yang tidak disiplin. Aku biasanya jam 07.00 sudah ada di kampus. Dan di saat aku tiba di kampus, ruanganku sudah harus rapi dan bersih." Lanjut pak Erik.


"Baik pak. Kalau begitu saya permisi." Kata Yuana kemudian keluar meninggalkan ruangan pak Erik.


Hufffttt. Apes apa hari ini, sampai harus berurusan dengan manusia yang tidak ada hati. Ah aku mau pulang biar bisa istirahat. Kalau pak Erik datang jam 07.00 berarti jam 06.30 aku sudah harus tiba di sini.


Hmmmm harus bangun lebih pagi. Yuana bergumam sendiri, kamudian menuju gerbang untuk segera pulang karena pasti pak Ady sudah menunggu di gerbang.


,


,


,


,


,


Hai kakak-kakak, happy reading ya. Jangan lupa tersenyum, karena sebentar lagi Kisahnya akan semakin seru. Tetap baca untuk mengetahui kisah selanjutnya.😇😇😍😍

__ADS_1


__ADS_2