Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
128. Cinta Tanpa Syarat


__ADS_3

Cinta yang tak bersyarat adalah cinta yang mau melakukan apapun demi orang yang telah menjadi milik kita seutuhnya. Cinta tidak mewajibkan sebuah pengorbanan. Tetapi sebuah pengorbanan walau sekecil apapun dapat membuktikan bahwa cinta lebih kuat dari apapun jika kita tetap setia dengan keputusan hati kita untuk tetap memegang cinta itu sendiri. Eda Sally


*****


Erik Tersenyum sambil memeluk tubuh mungil istrinya dengan napas yang masih memburu. Ia berulang kali menghujani wajah istrinya dengan kecupan sambil tak puas-puasnya memandang wajah wanita yang sangat dicintainya itu.


Rasanya ia tak percaya kalau wanita yang selalu dirindukannya itu kini ada dalam pelukannya. Ia tak berhenti mengucap syukur karena telah dipertemukan dengan wanita yang sangat dicintainya itu.


"Terima kasih sayang telah menjaga hati dan cintamu untukku." Kata Erik sambil mengecup perut Yuana.


"Kenapa kamu berterima kasih? Aku wajib menjaga diriku untuk suamiku walaupun hatiku sakit." Jawab Yuana.


"Jangan pernah membenciku. Aku tidak akan pernah mengkhianatimu karena aku hanya akan mencintai dirimu seorang. Jadi aku harap kamu juga memiliki pikiran dan perasaan yang sama denganku."


"Memang kamu pikir aku tidak menjaga perasaanku untukmu?" Yuana balik bertanya dengan sewot.


"Bukan begitu. Aku hanya takut ada pria lain yang mencintaimu dan kamu tergoda dengan cinta pria lain." Kata Erik dengan cemas.


"Kenapa kamu harus berpikir seperti itu?"


"Karena aku tahu bahwa pria yang selalu bersama denganmu itu menaruh hati padamu. Aku itu pria dan bisa tahu dari tatapan dan bahasa tubuhnya yang menunjukkan perhatian yang tidak hanya sebatas teman tetapi lebih dari teman." Kata Erik dengan jujur.


Yuana diam mendengar apa yang dikatakan suaminya. Ia bukan tidak tahu tentang perasaan Gail padanya. Ia sadar akan hal itu, tetapi ia sendiri tidak menaruh hati pada Gail.


"Hmmmm, tapi aku sama sekali tidak mencintainya. Aku hanya mengaguminya sebatas kakak."


"Kamu bisa berbicara seperti itu karena aku meninggalkanmu hanya empat bulan. Bagaimana kalau empat sampai lima tahun, kamu pasti akan luluh juga."


"Kamu ini sedang datang untuk memperbaiki hubungan atau mengajak aku untuk bertengkar sama kamu?" Tanya Yuana dengan ketus sambil memiringkan badannya dan membelakangi Erik.


"Maafkan aku sayang. Aku hanya tidak ingin ada pria lain yang dekat denganmu, karena itu membuatku cemburu." Kata Erik sambil pindah posisi dan menghadap Yuana.


Yuana yang sudah terlanjur marah, segera menutup matanya.


"Keluar dan tinggalkan aku sendiri. Aku ingin tidur." Kata Yuana masih dengan mata tertutup.


"Hei nyonya Wiliam! Bagaimana bisa kamu mengusir aku dari kamarku?" Kata Erik menahan tawa.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau kamu tidak mau keluar biar aku saja karena ini bukan kamarku. Aku akan meminta Gail mengantar aku pulang." Kata Yuana hendak bangun.


Erik segera memeluk tubuh Yuana dengan erat. Ia tahu istrinya sedang marah. Namun hal itu justru membuatnya semakin gemas.


"Jika kamu ingin keluar, aku akan meminta jatahku sekali lagi. Karena aku sudah menahan diri selama empat bulan, jadi jangan membuatku menghukummu dengan cara itu." Kata Erik dengan tegas yang membuat Yuana mengurungkan niatnya untuk keluar.


"Bagaimana kamu bisa sebegitu sukanya melakukan hal itu sementara aku dalam kondisi hamil seperti ini?"


"Karena kamu istriku dan aku meminta hakku sebagai seorang suami. Tentu saja aku tidak akan memaksa kamu, tetapi jika aku menginginkannya tolong jangan menghalangi aku. Aku berjanji akan melakukannya dengan lembut." Kata Erik sambil semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh sang istri.


"Boleh aku minta sekali lagi?" Tanya Erik dengan senyum nakalnya setelah beberapa lama membenamkan wajah di dada sang istri.


"Tadi katanya kalau aku tidak keluar kamu tidak akan minta. Kenapa sekarang malah minta?" Tanya Yuana dengan heran.


"Karena aku merindukan istriku dan ingin melakukannya." Jawab Erik tanpa dosa.


"Tapi merindukan bukan berarti harus melakukan hal itu kan?" Protes Yuana.


"Pokoknya semua rasa akan menyatu di dalam rindu, termasuk rasa mengenai hasrat yang harus dituntaskan." Kata Erik sambil sibuk melakukan gerakan wajibnya ketika ia menginginkan istrinya.


Tak lama kemudian terdengar napas berat yang dibuang berulang-ulang akibat kelelahan karena aktifitas wajib yang menguras tenaga.


Erik dengan telaten dan hati-hati menggendong tubuh istrinya dan memandikannya.


"Aku bisa mandi sendiri."


"Aku tahu, tetapi aku tidak ingin kamu banyak bergerak dan kemudian kelelahan. Karena mulai sekarang kita akan banyak melakukan senam di tempat tidur, jadi kamu tidak boleh kelelahan. Biar aku saja!" Kata Erik dengan senyum nakalnya dan kemudian dengan lembut memandikan istrinya.


Erik lama menatap perut yang sudah mulai menonjol itu dan dengan perlahan mengecup perut mungil itu berulang-ulang. Ia menempelkan wajahnya di perut sang istri seolah sedang melakukan kontak dengan anaknya.


Saking lamanya menikmati hangatnya perut sang istri, Erik kembali menginginkan istrinya. Namun ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri. Tetapi apalah daya, karena pada akhirnya keinginannyalah yang tercapai. Yuana sampai gerah dibuatnya karena suaminya tidak hanya memandikan tetapi melakukan hal yang lebih dari seledar mandi.


"Ini terakhir kali kamu memandikan aku." Yuana berkata sambil meraih sabun mandi.


"Maafkan aku sayang, tapi aku tidak bisa menahan diri jika berada dekatmu." Erik berkata sambil menyabuni badan Yuana.


"Jika begitu, jangan pernah dekat-dekat dengan aku lagi."

__ADS_1


"Aku akan semakin gila jika jauh darimu, dan aku akan semakin meminta lebih jika sudah bertemu. Apa itu yang kau inginkan?" Jawab Erik sambil menggendong istrinya keluar dari bathtub.


"Dekat menakutkan, jauh juga menakutkan kalau sudah dekat. Aku membencimu." Kata Yuana pura-pura sambil memonyongkan bibirnya.


Erik yang merasa gemas, langsung meraih bibir mungil itu dengan bibirnya sambil berjalan.


"Jangan membuatku gemas lagi dengan bibir monyongmu itu, atau aku akan semakin menggila." Kata Erik.


Setelah selesai mengganti pakaian, Erik dengan lembut mengeringkan rambut Yuana dan menyisirnya sambil sesekali memandang wajah Yuana dari balik kaca dan tersenyum tanpa lupa memberikan kecupan lembut di kepala sang istri.


Yuana hanya tersenyum melihat kelakuan suaminya. Sesungguhnya dalam hati kecilnya ia sangat merindukan semua perlakuan manis suaminya.


"Oke, sudah selesai! Ayo kita keluar dan temui kak Bram! Gara-gara adik kecilku mereka sudah pada keluar tanpa pamit."


"Makanya kontrol adik kecilmu itu agar jangan sampai mengusir orang lain dengan cara yang tidak sopan." Jawab Yuana dengan ketus.


"Tapi aku tidak bisa menyalahkan adik kecilku, karena aku harus memperlakukan dia dengan baik karena dialah yang telah membuat aku semakin mencintai istri kecilku ini." Erik berkata dengan senyum nakal sambil mengecup pipi sang istri berulang kali.


Yuana yang sudah merasakan firasat buruk akan terjadi sesuatu lagi, segera berdiri dan meraih remot untuk membuka pintu. Ia sudah hafal dengan senyum licik suaminya.


Tubuhku bisa tercabik-cabik jika aku duduk terus. Jadi lebih baik aku segera keluar dari kamar untuk mencari posisi aman sebelum adik kecilnya mengamuk lagi. Yuana


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2