Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
51. Meminta Restu Sang Ayah


__ADS_3

Orang tua adalah segalanya, karena mereka selalu memikirkan serta melakukan yang terbaik untukmu. Kadang jalan dan keputusan yang diambil orang tua mungkin tidak sesuai dengan apa yang diinginkan anaknya. Namun mereka selalu punya pertimbangan sendiri ketika melakukan sesuatu untuk anaknya.


Sementara, ada keputusan orang tua yang tidak bisa diterima anak, karena menurut mereka, apa yang dilakukan orang tua tidak sesuai dengan keinginan mereka.


Tidak peduli siapa yang benar dalam hal ini. Yang jelas, orang tua maupun anak tidak bisa disalahkan, karena mereka melihat sesuatu yang mereka hadapi dari sudut pandangnya masing-masing. Eda Sally


*****


Setelah berkata demikian, Erik lalu pamit pada Yosua dan ibunya untuk pulang. Ia tidak ingin menginap walaupun lelah. Selagi belum menemukan Yuana, ia tidak mau beristirahat sedikit pun.


"Ini sudah larut dan hampir pagi. Tidur sebentar ya?" Pinta Yosua pada Erik.


"Sudah tidak ada waktu lagi, Yos! Aku tidak mau membuang-buang waktu. Jadi biarkan aku pulang sekarang juga."


"Baiklah. Kalau ada apa-apa, tolong hubungi aku secepatnya."


"Iya, Yos! Aku akan memberi kabar jika ada informasi baru yang aku dapat. Kamu juga harus memberiku informasi jika ada perkembangan."


"Ok!" Kata Yosua sambil mengangkat jarinya membentuk 'O'.


"Aku berangkat dulu ya? Terima kasih bu untuk bekalnya. Nanti aku makan di jalan saja."


"Iya! Hati-hati di jalan ya?" Kata Yosua sambil memeluk Erik dengan erat.


Erik kemudian meninggalkan Yosua dan ibunya, dan nekat untuk pulang. Ia ingin secepatnya bertemu dengan ayahnya.


Erik melajukan mobilnya dengan sangat kencang karena ingin cepat sampai. Ia tidak ingin berlama-lama dalam menyelesaikan masalah ini. Erik bahkan sedikit pun tidak mempedulikan kesehatannya. Ia lupa bahwa ia belum beristirahat sama sekali.


Ketika mendekati kota tempat tempat tinggalnya, Erik berhenti sejenak dan menikmati bekal yang diberikan ibunya Yosua. Ia reflek berhenti untuk makan karena perutnya sudah memberikan kode berupa irama yang tidak beraturan.


Selesai makan, Erik segera melanjutkan perjalanannya yang hanya tinggal beberapa menit. Ia masuk gerbang rumahnya ketika waktu menunjukkan pukul 05.00 pagi. Erik memilih untuk beristirahat sejenak sambil menunggu ayahnya bangun.


Ketika melihat bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 07.00, Erik segera menuju ruang ayahnya. Biasanya jika ayahnya tidak ke kantor, ia akan seharian berada di ruang kerjanya untuk memeriksa setiap dokumen yang dikirimkan sekretaris Bram atau Yuana.


Erik memencet bel ruang kerja ayahnya, kemudian masuk setelah mendengar perintah dari ayahnya untuk masuk. Ayahnya terlihat duduk dengan gagah di kursi kebesarannya, yang tanpa diceritakan pun orang akan mengetahui bahwa ia sangat berwibawa.


"Ada apa pagi-pagi sudah kesini!" Tanya tuan Andre tanpa basa basi.


"Pa! Aku mohon! Tolong kembalikan Yuana kesini. Aku tidak bisa hidup tanpanya, pa!"


"Buktinya sekarang kamu hidup. Lalu kenapa kamu bilang tidak bisa hidup tanpanya?"


"Aku mohon pa!" Erik turun dari sofa tempat ia duduk, dan berlutut di bawah kaki ayahnya.

__ADS_1


"Papa boleh menghukumku atau melakukan apa saja. Asal jangan pisahkan aku dengan Yuana. Aku tidak pernah jatuh cinta dengan wanita manapun."


"Siapa yang menyuruhmu untuk tidak jatuh cinta dengan wanita lain. Kau berhak jatuh cinta dengan siapa pun. Tapi masalah jodoh, papa yang akan menentukannya."


"Apa dulu papa sama mami juga dijodohkan?"


"Tidak!"


"Lalu kenapa papa memaksaku menikah dengan wanita yang tidak aku cintai?"


"Karena papa menginginkan yang terbaik untukmu."


"Apa Yuana tidak baik menurut papa?"


"Dia sangat baik. Dan dia dia baik-baik saja, karena memang dia tidak sakit."


"Kalau dia baik, kenapa aku tidak boleh menikahinya?"


"Karena papa mau kau menikah dengan wanita yang sudah papa kenal dengan baik."


"Apa papa belum mengenal Yuana dengan baik?"


"Papa mengenalnya dengan sangat baik di satu tahun terakhir ini, karena dia bekerja dengan papa."


"Jika papa sudah mengenalnya dengan sangat baik, apa yang salah dengannya sehingga aku tidak boleh menikahinya?"


"Alasannya apa pa?"


"Alasannya masih sama. Karena papa tidak memilihnya."


"Kalau begitu aku mohon pada papa agar memilihnya." Kata Erik mengatupkan tangan di dada tanda memohon.


"Bangunlah! Jangan berlutut seperti itu terus. Kamu putraku, bukan pelayanku. Kamu tidak akan pernah tahu dengan apa yang papa lakukan. Suatu saat kamu akan mengerti."


"Tapi aku akan sakit hati seumur hidup jika papa tidak mengizinkanku menikah dengan wanita yang aku cintai."


"Siapa bilang? Kamu tidak akan sakit hati."


"Cepat keluar dari sini. Jangan menggangguku. Ada yang harus aku selesaikan."


"Aku tidak akan beranjak sebelum mendapatkan restu dari papa."


"Mau beranjak atau tidak, aku tidak akan merestuimu."

__ADS_1


"Baik! Jika papa tidak merestuiku, maka aku akan melakukan apa yang baik menurutku. Karena aku sudah meminta restu dengan baik-baik tetapi tidak di gubris."


"Jika kamu berani, cobalah untuk lakukan apa yang kamu katakan. Aku mau lihat sejauh mana kamu berusaha."


"Aku tidak ingin menantang papa dan berlaku tidak sopan. Tapi karena papa menantangku, maka aku akan melakukan apa yang baru saja aku katakan."


"Coba saja dan kamu akan lihat akibatnya."


"Papa mau ambil semua yang sudah papa berikan padaku? Aku ikhlas pa! Semua itu tidak ada artinya dengan wanita yang sudah mampu mencairkan hatiku."


"Ok! Kita lihat saja. Cepat keluar dari sini. Aku tidak ingin berdebat lagi. Apa yang sudah aku putuskan, itu yang harus dilakukan. Tidak ada yang boleh membantahku."


"Dan sepanjang umurku, aku mohon maaf untuk kali ini pa. Aku akan membantah apa yang papa mau untuk aku lakukan."


"Aku sudah bilang. Lakukan saja apa yang ingin engkau lakukan. Tetapi pada akhirnya, keinginan papa yang akan terlaksana."


"Ok! Aku terima tantangan papa. Dan aku pastikan bahwa keinginanku yang akan terlaksana! Bukan papa!"


"Tidak usah terlalu percaya diri putraku. Aku lebih tua darimu, dan aku tahu serta bisa melakukan segala hal!"


"Termasuk memaksa anaknya sendiri untuk menikah dengan wanita yang tidak dicintai?"


"Iya! Itu salah satu hal yang bisa papa lakukan! Karena papa memiliki hak atasmu sebagai putra tunggal dari seorang Andre Wiliam. Catat itu baik-baik!"


"Kalau begitu, berikanlah hakku sebagai putra tunggal seorang Andre Wiliam yang terhormat untuk memilih dan menentukan jalan hidupku sendiri."


"Tidak anakku! Tidak! Dalam hal ini pun, papa tidak akan memberikan hakmu!"


"Dan aku juga akan menggunakan hakku sendiri tanpa memohon lagi pada papa."


"Karena kamu terlalu banyak bicara dan berkata seperti itu pada papa, maka pernikahanmu dimajukan dan akan kita langsungkan minggu depan."


Deg!


Erik langsung lunglai mendengar jawaban papanya. Ia langsung keluar dari ruang kerja ayahnya, tanpa mengatakan apapun lagi.


Bersambung!!!


.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading ya guys? Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya. 😍😍😍😍😍


__ADS_2