Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
112. Obrolan Erik dan Sekretaris Bram


__ADS_3

Terkadang, ketika semua rasa telah menyesakkan dada, ada baiknya kita mengungkapkan hal-hal yang mengganjal di dalam hati, sehingga kita tidak harus terbeban karena memikirkan sesuatu seorang diri. Sebab: "Lebih baik berdua daripada seorang diri, dan lebih baik mencoba dan berbicara, daripada tidak sama sekali." Eda Sally


*****


Setelah sekretaris Bram membereskan semua peralatan yang digunakan Celine, ia duduk dan menatap Celine dengan tatapan tajam tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Celine yang ditatap seperti itu, merasa risih dan hanya tertunduk. Ia tidak berani menatap wajah pria yang telapak tangannya telah dua kali mendarat di pipinya. Baginya, pria di depannya sangat menakutkan sekarang.


Erik yang tidak lagi mendengar suara percakapan dan teriak-teriak, perlahan membuka pintu dan keluar dari kamar, tidak bisa menahan tawanya melihat sekretaris Bram yang menatap Celine tanpa berkedip, sementara yang ditatap menundukkan kepala sedalam-dalamnya.


Celine yang merasakan kehadiran Erik dan sudah merasa canggung dengan suasana kaku di hadapannya, segera bangun, menyambar tasnya dan hendak berjalan tanpa pamit sama sekali.


"Bawa kembali makananmu, karena adikku sudah sarapan. Harusnya kau tahu, bahwa aku tidak akan membiarkan adikku kelaparan." Kata sekretaris Bram dengan tatapannya yang belum beralih dari Celine.


"Dasar anak pungut." Gumam Celine perlahan, namun itu terdengar sangat jelas di telinga Erik.


Plak! Plak! Plak!!


Seketika darahnya mendidih mendengar kata 'anak pungut' dari Celine yang ditujukan untuk sekretaris Bram. Maka tanpa menunggu sampai beberapa detik, Erik telah menghadiahi Celine dengan tamparan yang lebih menakutkan dari apa yang telah dilakukan oleh sektetaris Bram.


"Kau boleh memakinya dengan kata apapun yang lebih kasar dari itu, tetapi jangan mengatai kakakku dengan kata yang baru saja kau ucapkan, karena aku akan merobek mulut bodohmu itu."


"Aku tidak ingin menyakitimu, tetapi kau yang telah membangkitkan amarahku. Bahkan papaku yang telah membesarkannya pun tidak pernah terdengar kata itu keluar dari mulutnya untuk kakakku."


"Karena bagi papaku, kakakku adalah anak pertamanya. Mungkin sikap mereka sangat formal di dalam berbicara, tetapi mereka sadar dengan status diantara mereka sebagai ayah dan anak walau tidak diungkapkan sama sekali."


"Dan jika aku mendengar kata itu keluar dari mulutmu lagi, maka jangan salahkan aku jika aku melakukan hal yang lebih hebat dari apa yang baru saja kau terima."


Celine memegang pipinya dengan air mata yang sudah mengalir seperti anak sungai. Ia menatap tajam kepada Erik dan sekretaris Bram secara bergantian. Setelah menguasai hatinya, ia mengumpulkan segenap kekuatannya dan mengeluarkan semua yang mengganjal di hatinya.

__ADS_1


"Jika aku tidak membuat kalian menerima balasan dari apa yang telah aku terima hari ini, maka jangan panggil aku Celine. Dan jika kalian tidak berlutut di hadapanku untuk mengemis setitik maaf dariku, maka aku akan mengatakan bahwa kalian benar-benar hebat. Kalian tidak pernah tahu siapa orang yang selalu berdiri di belakangku." Kata Celine dengan mantap.


"Aku sudah tahu siapa yang selalu berdiri di belakangmu. Jadi tidak perlu dipamerkan karena aku sudah membuktikan bahwa dia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan orang-orangku." Kata Erik dengan senyum sinis.


Celine yang sudah tersulut emosi, segera menendang meja di hadapannya, kemudian membanting kotak makan yang tadi dibawanya sehingga isinya berhamburan keluar, lalu tanpa rasa bersalah sedikit pun ia segera berjalan keluar dengan melontarkan kata-kata makian yang tidak jelas.


"Simpan tenagamu adikku. Jangan menghabiskannya untuk hari ini. Karena masih banyak hal yang harus kita lakukan untuk memberi pelajaran kepada perempuan itu." Kata sekretaris Bram ketika melihat Erik hendak mengejar Celine untuk menghajarnya lagi.


"Kau selalu begitu. Harusnya kau marah karena dia mengatakan bahwa kau anak pungut." Kata Erik dengan geram dan menendang sofa yang ada di hadapannya.


"Aku tidak perlu membela diriku, karena aku tahu bahwa adikku tidak akan membiarkan siapa pun mengatakan hal itu kepadaku. Caramu masih sama seperti 20 tahun yang lalu saat kita masih kecil. Aku merindukan saat-saat itu adikku."


"Duduklah dahulu. Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu."


Erik segera duduk setelah mendengar permintaan sektetaris Bram. Walau ia sangat dihormati oleh sektetaris Bram, namun ia akan langsung menurut ketika sekretaris Bram memintanya untuk melakukan sesuatu. Baginya, permintaam sektetaris Bram adalah sebuah perintah baginya.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" Tanya Erik dengan ketus.


"Cepat katakan apa yang ingin kau tanyakan. Jangan membuatku makin kesal denganmu." Jawab Erik


Sekretaris Bram tersenyum mendengar apa yang dikatakan Erik. Ia merasa lucu melihat wajah Erik jika dalam keadaan marah seperti itu.


"Darimana kamu tahu bahwa Yuana sedang hamil ketika kamu bertengkar dengan Celine?"


"Oh! Aku hanya mengatakan itu dengan asal. Tetapi aku yakin bahwa saat ini istriku sedang hamil Bram, karena pernikahan kami sudah sebulan lebih. Bantu aku menemukannya Bram, kalau tidak aku bisa gila." Kata Erik sambil meremas rambutnya dengan kasar.


"Aku juga memiliki keyakinan yang sama. Aku akan coba meminta orang-orangku untuk mencarinya. Jika ia tidak bisa ditemukan, maka aku yang akan turun tangan mencarinya."


"Singkirkan Celine terlebih dahulu sebelum mencari Yuana, agar jangan ada masalah lagi karena aku tidak ingin perempuan gila itu terus menerus mengganggu hidupku."

__ADS_1


"Ok! Kenapa saat Celine mendekatimu tanpa busana kau tidak bergerak untuk menghindar? Bagaimana jika terjadi sesuatu di luar pemikiran kita?"


"Kau pikir aku akan sebodoh itu membiarkan dia menyentuhku? Aku melihat GPS di handphone dan tahu bahwa kau sudah memasuki lobby apartemen dengan mobil, makanya aku memilih diam agar kau yang membereskannya."


"Dasar." Gerutu sekretaris Bram kesal.


"Apa saat dia membuka pakaiannya kau sempat melihatnya?"


" Jangankan melihatnya. Melirik dengan ekor mata saja tidak. Cukup sudah aku melihat tubuh istriku yang sekarang entah ada di mana. Aku tidak ingin melihat tubuh wanita lain. Aku benar-benar sudah buta dengan cintaku kepada Yuana. Jadi, aku pastikan bahwa tidak ada wanita yang akan menggoyahkanku."


"Terus jaga hatimu seperti itu. Jangan pernah mengkhianatinya. Dia wanita yang baik."


"Aku tahu itu kak! Jadi entah dia ada di sini atau tidak, aku akan tetap mencintainya. Bantu aku temukan wanitaku kak! Aku mohon!" Pinta Erik dengan air mata yang sudah mulai tergenang.


"Aku tahu! Berhentilah bersedih! Jangan membuatku terbeban dengan permohonanmu!"


Adikku sudah dewasa dan sudah tahu siapa wanita yang pantas mendampinginya. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mempersatukan mereka, walau itu harus membuat tuan besar mengeluarkanku dari daftar keluarga. Sekretaris Bram.


Bersambung


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍


__ADS_2