Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
37. Rindu dari Negeri Seberang


__ADS_3

Sejauh apapun kamu berjalan, dan setinggi apapun kamu terbang, ingatlah untuk selalu menoleh ke belakang, karena mungkin masih ada banyak hal yang harus kamu selesaikan di belakangmu. Eda Sally


*****


Erik yang sudah melewati satu semester untuk strata duanya tidak mengalamai hambatan apapun. Sejauh ini ia memilih untuk tidak pulang. Ia sudah bertekad untuk menyelesaikan kuliahnya hanya dalam satu tahun. Jika libur, ia memanfaatkan waktu libur untuk fokus di kantor.


Selama ini ia hanya masuk kantor jika ada yang mendesak. Harry Walker, sang CEO, ayah dari Arthur Walker, sangat kagum dengan kecerdasan Erik dalam menangani berbagai permasalahan yang ada di kantor. Sejak kedatangan Erik, ia bisa lebih santai, karena Erik mampu mengatasi semuanya dalam waktu yang singkat.


Itulah alasan kenapa Harry Walker sangat menghormati sang tuan, pewaris tunggal dari Angkasa Grup.


"Selamat pagi tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Harry Walker ketika Erik tiba di kantor dan memanggilnya ke ruangan.


"Tolong gantikan aku menghadiri metting karena ada beberapa laporan keuangan yang agak ganjil dan aku harus menyelesaikannya."


Setelah berkata demikian, Erik langsung duduk di kursinya dan sibuk sendiri dengan laptopnya. Harry Walker segera meninggalkan ruangan tersebut dan kembali ke ruangannya. Mereka memang sudah merancang satu ruang privat untuk tuan Andre Wilson jika sewaktu-waktu akan datang. Hanya Harry Walker, selaku CEO yang boleh masuk ke ruangan itu. Dan saat ini, Erik yang menempati ruangan itu.


Erik bekerja dengan sangat serius dan tersentak ketika handphonenya berbunyi. Ternyata sekretaris Bram yang menelpon.


"Hallo Bram! Ada apa?" Tanya Erik tanpa basa basi ketika mengangkat telepon.


"Apakah tuan muda baik-baik saja?"


"Iya aku baik-baik saja. Ada apa Bram? Jangan membuatku panik."


"Sepertinya anda harus menelpon nona Yuana. Ia terlihat tidak baik-baik saja dan aku sudah menyuruhnya pulang untuk istirahat. Apakah Anda sering menghubunginya?"


"Aku sudah tiga hari tidak memberikan kabar karena ada yang salah dengan laporan keuangan perusahaan jadi aku sibuk mengatasinya. Hari ini akan selesai."


"Mungkin itu alasannya sehingga ia terlihat tidak semangat pagi ini. Bahkan waktu makan siang pun ia tidak makan sama sekali."


"Ok. Segera matikan. Aku mau melakukan panggilan Video Call dengannya. Terima kasih sudah mengingatkan aku Bram." Kata Erik kemudian mematikan ponselnya.


Erik segera mencari nama kontak Yuana yang ia tulis dengan kata MY Bunny. Setelah menemukan nama tersebut, Erik langsung melakukan Video Call.


Yuana yang tidur dan menangis sejak pulang kantor karena sudah tiga hari tidak mendapat kabar, tersentak mendengar bunyi handphonenya. Ia segera meraih handphone dan cepat-cepat menyambar tissue dan menghapus airmatanya setelah melihat siapa yang menelpon.

__ADS_1


Setelah mengangkat telepon, Yuana malu dan menyembunyikan wajahnya karena takut ketahuan oleh Erik kalau ia habis menangis.


"Hei, mana wajahmu. Aku ingin melihatnya. Sudah tiga hari tak melihat wajahmu membuat rinduku semakin memuncak."


"Kalau kau rindu kenapa tidak menghubungiku sama sekali." Yuana segera menghadapkan wajahnya kepada layar handphone dan airmatanya tumpah tanpa dapat dicegah lagi.


"Jangan menangis sayang. Apa kamu lupa dengan janjiku? Mungkin kamu lupa, tapi tidak denganku."


"Tapi aku takut kamu tidak menepati janjimu dan membuatku kecewa." Katanya sambil sesenggukan.


"Aku sudah bilang. Aku tidak akan pernah mengecewakanmu. Percaya padaku. Kamu mungkin sudah mendengar cerita tentangku dari Yosua. Dan aku yakin kamu sudah tahu aku tipe pria seperti apa. Jadi aku harap, kamu tetap percaya dan menungguku sekalipun aku tidak memberikan kabar berbulan-bulan."


Yuana tersenyum sambil menghapus airmatanya.


"Bagaimana kalau aku percaya dan menunggu berbulan-bulan tapi ternyata kamu benar-benar mengkhianatiku?"


"Dan kalau sampai terjadi hal seperti itu, aku akan pastikan bahwa itu bukan aku. Karena aku mengenal diriku sendiri, dan aku pastikan bahwa aku tidak akan melakukan hal seperti itu untuk orang yang aku sayangi."


"Percayalah sayang. Aku tidak akan menyakitimu. Aku tidak hanya berjanji, tapi aku juga bersumpah, bahwa sampai kapan pun, kamu tetap pilihanku. Jadi berhentilah menangis dan memboroskan airmatamu. Simpanlah airmatamu untuk menyambut kepulanganku."


"Tidak lama lagi sayang. Aku berjanji. Orang pertama yang aku temui saat pulang adalah kamu. Aku ingin melihat ekspresimu saat menyambutku." Erik berkata sambil tertawa menggoda Yuana.


"Aku akan memasang wajah marah karena kamu meninggalkanku terlalu lama." Kata Yuana pura-pura marah.


"Hei wanitaku sayang? Jangan cemberut. Aku ingin kamu selalu terlihat cantik, jadi berhentilah memasang wajah cemberutmu. Apakah kamu ingin menyiksaku menahan rindu disini dengan wajah cemberutmu itu?"


"Aku tidak menyiksamu. Aku hanya ingin kamu merasakan rindu yang menyesakkan seperti yang aku rasakan.


"Hahahhaha. Kamu tidak pernah tahu betapa aku sangat tersiksa menahan rindu. Aku lebih tersiksa dari yang kamu tahu. Tapi aku berani melakukan ini agar kita bisa tetap bersatu."


"Setiap hari aku menyibukkan diri dengan kegiatan kampus dan perusahaan agar bisa mengimbangi rasa rindu ini sehingga aku tidak terlalu tersiksa. Sampai di sini kamu bisa paham honey?" Kata Erik dengan lembut sambil mendekatkan wajahnya di layar handphone.


"Aku kangen kak." Kata Yuana dengan suara manjanya.


"Berhentilah menyiksaku dengan suara manjamu itu. Atau aku akan pulang dan bertemu denganmu secara terang-terangan." Ancam Erik karena dadanya hampir meledak dan ia tidak dapat menahan gelora di dadanya ketika Yuana berkata dengan suara manjanya yang sangat menggelitik hatinya.

__ADS_1


"Maaf kak! Tapi aku benar-benar kangen." Katanya dengan memonyongkan bibirnya.


"Berhentilah merajuk. Jangan membuatku gila di sini sayang?" Erik berkata dengan frustasi sambil memegangi kepalanya.


Yuana yang memang belum paham tentang perasaan pria dalam cinta tidak mengerti apa yang Erik katakan. Karena baginya bermanja dan mengucapkan kata-kata itu sudah biasa ia lakukan kepada kakaknya Yosua.


"Nanti pulang kantor aku telepon lagi ya sayang? Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Kata Erik sambil mengarahkan layar handphone ke laptopnya.


"Iya kak. Baik-baik disana ya?"


"Iya sayang. Aku akan baik-baik saja di sini demi kamu. Ayo makan dulu. Aku tahu kamu belum makan siang. Jangan pernah menyiksa diri lagi seperti ini. Atau aku akan pulang dan melakukan apa yang tadi aku bilang."


"Iya kak. Aku mau makan." Kata Yuana dengan wajah ceria sambil menuju ke dapur dan mengambil makan. Erik tersenyum melihat tingkah Yuana yang seperti anak-anak dan itu membuatnya gemas.


Hmmm. Pantas saja kakakmu selalu membanggakanmu karena kamu sangat manja, lucu, dan menggemaskan.


"Sudah dulu ya sayang? Makannya dihabiskan ya? Nanti aku telpon lagi. Ok?"


"Iya kak." Kata Yuana dengan tersenyum.


Erik segera memutuskan sambungan telepon dan memegangi dadanya yang bergemuruh. Ia benar-benar merasakan bahwa dadanya hampir meledak ketika melihat tingkah Yuana.


Hmmmm. Gadis kecil pembawa rindu. Erik


.


.


.


.


.


Happy reading ya? guys? Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2