Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
60. Alasan Tuan Zain


__ADS_3

Ada saat dimana sebuah alasan tidak harus dikatakan, walaupun itu sangat penting untuk sebuah hubungan. Dan ada saat dimana alasan menjadi batu loncatan yang digunakan untuk menuju kepada kehidupan yang diimpikan selama ini. Karena itu, katakanlah alasanmu jika memang itu sudah waktunya. Eda Sally


*****


Sudah Tiga minggu Yuana, Alika, dan Habib mengurus tanaman yang ada di belakang rumah mereka. Sayuran dan buah-buahan serta palawija sudah tumbuh dengan sangat subur dan membuat suasana di belakang rumah mereka nampak asri seperti sebuah taman yang sangat luas.


Mereka selalu bekerjasama dalam merawat tanaman mereka. Yang paling antusias adalah Alika karena ia yang bertanggung jawab di dapur untuk urusan memasak. Ia sudah tidak sabar untuk segera mengolah sayuran dari usaha mereka sendiri dalam menanam.


"Nona! Berapa lama lagi sayuran hasil tanaman kita akan di panen?"


"Kurang lebih dua minggu lagi Alika."


"Wah! Berarti dua minggu lagi aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli sayuran."


"Iya. Kira-kira seperti itu."


"Sebaiknya begitu agar uangku jangan diminta terus sama dia." Habib pura-pura marah.


"Siapa juga yang meminta uangmu."


"Pantas saja di depan tidak ada orang. Ternyata semuanya berkumpul di sini."


Habib, Alika, dan Yuana terkejut dengan kedatangan tuan Zain dan dua anak buahnya secara tiba-tiba. Padahal, jadwal kedatangan mereka untuk mengantar makanan harusnya masih dua hari lagi.


"Tuan?"


Habib seolah tak percaya sehingga hanya sanggup mengucapkan kata itu.


"Kalian sedang bertani rupanya. Ide siapa ini?" Tanya Zain


"Nona Yuana yang telah mengusulkan dan mengajak kami untuk menanam agar mengisi waktu luang." Habib mewakili dua adiknya menjawab pertanyaan tuan Zain.


"Tak ku sangka nona sehebat itu sampai ilmu pertanian pun dipelajari."


"Tuan terlalu berlebihan. Saya hanya sedang mengisi waktu. Ini juga tidak saya lakukan seorang diri. Kami bertigalah yang telah mengerjakan semua ini."


"Iya tuan. Ini usaha kamu bertiga." Kata Alika dengan bangga.

__ADS_1


"Sebaiknya kita berbincang di depan saja tuan." Habib berkata kemudian bergegas mencuci tangan diikuti oleh Yuana dan Alika.


Mereka kemudian berjalan beriringan menuju ke depan rumah untuk berbincang.


"Apa selama di sini kamu mengalami kendala atau perlakuan buruk dari orang lain?" Tanya Zain saat mereka sudah duduk di depan.


"Sejauh ini semua baik-baik saja tuan. Kak Habib dan kak Alika memperlakukanku dengan sangat baik. Penduduk di sini juga sangat ramah, dan saya merasa diterima di sini."


"Syukurlah kalau begitu. Jika ada kendala atau hal lain yang kamu butuhkan atau ada usulan apapun, jangan sungkan untuk mengatakannya kepadaku."


"Sebenarnya tidak ada kendala tuan. Hanya, jika tuan berkenan, izinkan adik saya memakai handphone untuk menghubungi keluarganya."


Habib langsung to point karena ia merasa kasihan dengan Yuana yang sudah sebulan tidak menghubungi keluarganya sama sekali.


Zain terdiam, seolah tengah memikirkan sesuatu. Ia bingung harus tetap taat pada tuannya atau harus menolong gadis cantik di depannya, yang menurut dugaannya tidak bersalah sama sekali dan merupakan korban keganasan dari keegoisan sang tuan.


"Bukan aku tidak ingin menolong nona Yuana. Aku bisa merasakan dan melihat dari sorot mata nona Yuana bahwa ia tidak bersalah dan seharusnya tidak berada di sini."


"Jika demikian, itu berarti bahwa adikku diperbolehkan untuk menelpon keluarganya?" Tanya Habib.


Alika, Habib, dan Yuana seperti terbius mendengar kalimat terakhir tuan Zain. Mereka tidak menyangka bahwa tuan Zain akan memikirkan segala sesuatu sejauh itu.


"Kami tidak menginginkan itu tuan. Kami sudah menyayangi nona Yuana seperti adik kami sendiri. Kami juga tidak mau terjadi sesuatu yang lebih buruk padanya, apalagi sampai harus kehilangan. Keberadaannya di sini benar-benar membawa banyak perubahan dalam hidup kami." Alika ikut bicara sambil memeluk Yuana dengan airmata yang sudah menetes.


"Dan kedatangan kami kesini juga karena aku ingin mengajak nona Yuana untuk membantu kami di perusahaan. Aku percaya dengan kecerdasan nona Yuana, dan karena itu aku memilih untuk lebih cepat kesini."


"Maaf tuan. Saya sudah merasa nyaman di sini. Saya tidak ingin terlibat lagi dengan kehidupan dunia bisnis dan kantor yang pada akhirnya akan seperti ini. Saya tidak seharusnya menerima hukuman ini, tetapi pada kenyataannya saya sedang berada di sini dan sebagai orang yang terbuang."


"Bersabarlah nona. Saya percaya tuan muda orang yang cerdas. Lambat atau cepat tuan muda akan menemukan nona di sini. Saya memang sengaja mengajak nona bekerja di kota Johannesburg agar akses nona dengan tuan muda lebih gampang diatur."


"Saya tetap pada pendirian saya tuan. Saya tidak mau sesuatu yang lebih buruk terjadi lagi pada saya hanya karena saya gegabah dalam bertindak. Biarkan saya seperti ini untuk sementara waktu sampai hati saya benar-benar siap tuan."


"Baiklah jika itu memang keputusanmu. Maafkan saya yang tidak bisa membantumu untuk berkomunikasi dengan tuan muda, karena nona pasti tahu bahwa jika itu sampai terjadi, maka pekerjaan saya taruhannya."


"Saya mengerti tuan."


"Kalau menurut saya, nona telepon saja. Tuan besar pasti tidak tahu." Habib mengusulkan.

__ADS_1


"Jangan Beb! Karena kemungkinan handphone tuan muda, handphone kalian, atau handphone saya sudah disadap. Jangan sampai kita saling menyeret dan kemudian sama-sama jatuh." Tuan Zain langsung menolak usulan Habib.


"Saya juga berpikir seperti itu tuan! Saya tidak mau karena ingin menolong saya, kalian ikut merasakan dampaknya. Saya sangat mengenal tuan besar, dan ia tidak pernah main-main dengan ancamannya. Buktinya saya ada di sini." Yuana menutup mata dan menahan airmatanya yang mendesak untuk keluar.


"Tidak usah bersedih nona. Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membantu nona. Semoga saja ada jalan."


"Amin. Aku doakan yang terbaik buat nona Yuana." Ariando, sang tangan kanan tuan Zain menimpali.


"Terima kasih Ar."


"Karena bahan makanan yang kalian butuhkan sudah diangkut semuanya, maka kami akan segera kembali. Pikirkan kembali tawaranku dan berikan jawaban yang pasti bulan depan saat kami datang lagi."


"Baik tuan. Akan saya pertimbangkan tawaran tuan."


"Oya! Sepertinya bulan depan ketika datang, kami sudah bisa membawa sayuran dari sini."


"Dengan senang hati tuan. Akan kami sisakan untuk tuan, karena kami akan menanam terus dan berencana untuk memperluas lahan yang telah ada." Habib yang menjawab.


"Aku salut dengan ide dan usaha kalian. Sampai bertemu bulan depan."


Setelah berkata demikian, tuan Zain bersama kedua anak buahnya menuju jet dan segera melakukan penerbangan. Airmata Yuana menetes mengiring kepergian mereka.


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya guys, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2