
Tidak ada yang dapat menyelami jalan pikiran seorang anak manusia, kecuali Tuhan. Dan kelemahan manusia adalah cepat mempercayai apa yang dilihat dengan mata dan didengar dengan telinga. Bijaklah ketika berhadapan dengan seseorang yang licik, agar kau tahu bagaimana harus keluar dari situasi yang diciptakan si pendusta. Karena mulut si pendusta lebih licin daripada mentega. Eda Sally
*****
"Hamil?" Guman semua orang di dalam ruangan itu secara serempak.
"Kaget? Harusnya tidak perlu kaget. Tanyakan kepada putra tuan yang terhormat, kenapa ia mau menghamili aku." Kata Celine dengan angkuhnya.
"Aku tidak perlu menanyakan kepada putraku tentang urusan kehamilan dan lainnya. Karena bagiku, kau hamil atau tidak keputusanku tidak akan pernah berubah." Balas Andre Wiliam tak mau kalah.
"Oya? Lalu, bagaimana kalau saya melaporkan anak tuan karena telah menghamili saya dan tidak mau bertanggung jawab?" Tantang Celine.
"Kau pikir pihak pengadilan akan menghabiskan waktu mereka untuk memeriksa perkaramu jika lawanmu itu adalah aku? Apa kau tidak tahu siapa yang sedang kau ancam?" Balas tuan Andre dengan perkataan yang lebih tajam.
"Saya tidak sedang mengancam tuan. Saya hanya menuntut hak saya agar tidak dibuang begitu saja setelah saya dilecehkan."
"Oh! Jadi rupanya kau berani menantang seorang Andre Wiliam."
"Bram! Lakukan sekarang sebelum wanita ini bergerak. Aku malas menghabiskan waktuku hanya untuk meladeni seekor tikus seperti dia." Kata Andre Wiliam sambil melipat tangan dan hanya memperhatikan sekretaris Bram.
"Tenang tuan. Saya sudah menelpon tiga dokter dari rumah sakit yang berbeda untuk ke sini dan mereka sudah ada di depan pintu. Mereka akan memeriksa nona Celine sekarang untuk memastikan kehamilannya."
Setelah berkata demikian, sekretaris Bram memerintahkan pelayan dan membawa ketiga dokter itu masuk. Ketiga dokter itu terlihat gugup dan pucat karena baru kali ini mereka melihat secara langsung wajah pemilik Angkasa Grup dan sekretarisnya.
"Cepat lakukan tugas kalian. Tolong kalian periksa wanita ini sekarang. Apakah ia benar-benar hamil atau tidak. Aku siap membayar mahal untuk hasil yang lebih cepat dan akurat." Kata sekretaris Bram.
"Aku tidak mau diperiksa di sini oleh orang-orang ini. Aku mau pergi ke rumah dokter pribadiku saja." Kata Celine.
"Apa kau takut kebohonganmu akan terbongkar? Terlihat sangat jelas kau pucat setelah ketiga dokter ini masuk. Aku sarankan kau juga harus tensi, karena tekanan darahmu pasti menurun akibat stress.
Celine tidak dapat mengelak lagi ketika sekretaris Bram mengatakan hal itu. Ia bersungut-sungut tidak jelas. Entah apa yang dikatakannya.
Ketiga dokter itu tidak mengatakan apapun. Mereka segera melakukan pemeriksaan dan mengambil sample darah secara bergantian.
__ADS_1
Celine terlihat kikuk karena di situ ada banyak orang. Namun, tatapan sekretaris Bram membuatnya tak berkutik. Ia akhirnya pasrah saat diperiksa oleh ketiga dokter itu. Untungnya ketiga dokter itu semuanya wanita.
Nampak ketiga dokter itu menyeka keringat setelah selesai dengan tugas mereka. Mereka menghabiskan waktu kurang lebih dua jam karena mereka tidak hanya menggunakan tespek, tetapi mengambil darah juga.
Setelah selesai, dokter-dokter itu baru bernapas lega dan bisa duduk dengan tenang.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya sekretaris Bram.
Dokter-dokter itu saling berpandangan dan kemudian tanpa komando mereka menjawab dengan serempak.
"Nona hamil benar tuan. Usia kandungannya sudah delapan minggu." Kata ketiga dokter itu seperti dikomando.
Sekretaris Bram nampak kaget dan memandang kepada Erik. Erik memelototkan matanya kepada sekretaris Bram. Tetapi kemudian ia berdiri dan berjalan ke arah Celine.
"Aku tidak heran jika kamu hamil. Karena itu bukan hal yang mengejutkan bagiku. Entah kita menikah atau tidak, kamu tetap akan hamil." Kata Erik sambil berdiri di depan Celine sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Apa maksudmu Erik?" Tanya Andre Wiliam penasaran.
"Kenapa kau tak mengatakannya kepada papa sebelum kalian menikah?" Tanya Andre Wiliam dengan kasar.
"Sejak kapan papa mendengarkanku jika aku bicara tentang wanita pilihan papa?" Erik balas bertanya dengan ketus.
"Kak! Tolong putarkan semua rekaman sejak malam pertama kali kami menikah dan tidur sekamar hingga sekarang, agar semua orang di sini tahu kebenarannya, dan agar papaku tahu, bahwa aku adalah pria yang terhormat dan tidak akan pernah memilih seorang wanita hanya berdasarkan kecantikan dan ketenaran."
Erik sengaja menyindir papanya karena papanya yang bersikeras menikahkannya dengan Celine.
Tanpa mengatakan apapun, sekretaris Bram segera menyalakan laptop dan menyambungkannya dengan cctv tersembunyi yang selama ini dipakai untuk memantau Celine.
Semua seperti sebuah film yang nyata karena rekamannya berawal dari kamar waktu di hotel hingga kamar Erik di rumah utama. Tuan Andre terlihat kaget dengan apa yang ada di rekaman.
Jadi sejak menikah anakku tidak pernah tidur dengan wanita ini. Dia hebat karena bisa menahan diri. Andre Wiliam.
Rekaman terakhir yang ditonton adalah rekaman waktu kejadian di apartemen sekretaris Bram. Sekretaris Bram sudah memotong percakapan Erik tentang pernikahannya dengan Yuana sehingga mereka tidak tahu sama sekali.
__ADS_1
Kurang ajar! Ternyata selama ini mereka memakai cctv tersembunyi. Pantas saja semua percakapanku diketahui oleh manusia bodoh itu, sehingga setiap gerakanku selalu gagal. Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan dengan anak di perutku ini? Celine
Setelah menyaksikan semua rekaman itu, tanpa komando Andre Wiliam berjalan ke arah Celine. Urat-urat wajahnya terlihat membesar karena menahan amarah.
Plak! Plak! Plak!
"Jangan sekalipun kau menuduh anakku bahwa ia yang menidurimu. Kau hamil karena memang kau wanita yang murahan. Setelah menyaksikan rekaman ini, apa kau masih punya nyali untuk menuduh putraku? Apa kau pikir anakku serendah itu?"
"Aku heran! Kau masih berani berdalih di hadapanku padahal kau adalah wanita yang sangat murahan. Cepat tinggalkan rumahku ini, dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku."
"Tinggalkan kota ini malam ini juga. Orang-orangku akan membawa semua barang kalian dan mengantar kalian di tempat yang sudah aku siapkan. Ingat baik-baik untuk tidak boleh melihat wajahku lagi." Setelah berkata demikian, Andre Wiliam segera meninggalkan ruang rapat keluarga diikuti oleh istrinya yang sejak pertama tidak berani mengatakan apapun.
Celine menangis dan memohon dengan berteriak-teriak, namun sang tuan seolah tidak mendengar sama sekali dengan teriakannya. Ia tetap berjalan dengan angkuhnya diikuti oleh wanitanya yang selalu ada di belakangnya.
Akhirnya anakku lepas dari wanita itu. Mata hati seorang ibu memang tidak pernah salah menilai. Dari awal aku sudah tidak setuju dengan wanita itu. Tetapi aku tidak bisa melawan keputusan suamiku. Syukurlah! Akhirnya semuanya terungkap dengan jelas. Nyonya Jessy.
"Kalian boleh pulang. Orangku akan mentransfer upah kalian karena telah bekerja dengan jujur." Kata sekretaris Bram kepada ketiga dokter itu.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
😍😍😍😍😍
__ADS_1